NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Ketika Hati Sudah Cukup Kuat"

Di pagi hari berikutnya, sinar matahari baru mulai menyebar lembut di atas rumah kontrakan kecil mereka. Dewi bangun lebih awal dari biasanya, lalu mengeluarkan ember berisi air untuk membersihkan wajah dan tangan. Dia mengenakan daster lama dengan motif bunga melati putih yang sudah sedikit pudar, kemudian mengambil tas belanja dari sudut kamar. Hari ini dia perlu pergi ke pasar untuk membeli sayuran segar—bayam, kubis, dan cabai merah—untuk membuat lauk yang cukup bagi mereka berdua selama dua atau tiga hari ke depan.

Setelah memastikan Arif masih tertidur nyenyak di dalam kamar, Dewi keluar rumah dengan hati-hati agar tidak membuat suara berisik. Jalan menuju pasar Pasar Wajo yang tidak jauh dari rumah mereka sudah mulai ramai dengan pedagang yang sedang menata dagangannya dan pembeli yang mencari barang murah dan berkualitas. Udara pagi yang segar bercampur dengan aroma berbagai makanan dan rempah-rempah yang khas pasar tradisional.

Dewi berjalan dengan langkah yang tenang dan mantap, kadang mengucapkan sapaan singkat kepada beberapa pedagang yang sudah dikenalnya. Dia berhenti sebentar di warung tahu petis untuk membeli seporsi tahu isi sebagai camilan pagi, kemudian melanjutkan perjalanannya ke blok sayuran. Namun ketika dia hendak berbelok ke arah lorong yang biasanya dia lalui, matanya tertuju pada sekelompok ibu-ibu yang sedang berkumpul di depan warung teh yang terletak di sudut pasar.

Di tengah kelompok itu, duduk Bu Siti dengan wajah yang masih merah dan bengkak akibat menangis. Dia mengenakan kebaya hitam dengan renda emas yang sama seperti ketika bertemu Dewi kemarin, namun kali ini penampilannya terlihat lebih kusut—rambutnya yang biasanya rapi dikuncir sedikit berantakan, dan matanya tampak lelah. Beberapa ibu-ibu teman-temannya yang mengenakan kebaya dan kain batik berwarna-warni sedang mengelilinginya, memberikan sapuan tangan dan kata-kata penghiburan sambil sesekali mengangguk dengan ekspresi simpati.

“Betapa menyakitkan hati aku, Bu Sri,” ucap Bu Siti dengan suara yang bergetar dan penuh dengan tangisan. “Aku telah merawat Arif dengan sebaik-baiknya sejak dia kecil, mengorbankan segalanya agar dia bisa hidup layak. Tapi sekarang istri nya ingin meninggalkannya hanya karena beberapa masalah kecil yang jelas bisa diselesaikan!”

“Tentu saja menyakitkan hati, Bu Siti,” jawab salah satu ibu-ibu dengan nada penuh simpati. “Kamu sudah terlalu baik bagi anakmu, padahal istri nya tidak menghargainya. Mungkin kamu harus membicarakan ini dengan keluarga besar lagi agar bisa menemukan solusi yang tepat.”

Dewi hanya berdiri diam di kejauhan, menyaksikan seluruh adegan itu dengan wajah yang tetap kosong dan ekspresi yang tidak berubah sedikit pun. Seperti yang dia duga—Bu Siti sedang menjual kesedihannya tentang kejadian kemarin kepada semua orang yang mau mendengarkan. Ini adalah cara Bu Siti yang sudah sangat akrab baginya: membuat diri sendiri menjadi korban agar orang lain merasa kasihan dan berdiri di pihaknya. Dewi tidak merasa marah atau tersinggung—dia hanya melihatnya seperti melihat ombak yang datang dan pergi di pantai, sesuatu yang sudah terlalu biasa dan tidak memiliki pengaruh apapun terhadap dirinya.

Tanpa berhenti lama, Dewi melanjutkan perjalanannya ke blok sayuran. Dia memilih sayuran yang segar dan masih segar dengan hati-hati, menawar harga dengan sopan namun tegas seperti biasanya. Setelah semua barang belanjaannya terkumpul di dalam tas kain, dia berjalan pulang dengan langkah yang tetap teratur, melewati kelompok ibu-ibu tersebut tanpa memberikan pandangan atau sapaan apapun. Beberapa dari mereka melihatnya pergi, namun Bu Siti yang sedang fokus bercerita tidak menyadari keberadaannya.

Ketika Dewi sampai di rumah, Arif sudah bangun dan sedang duduk di teras sambil minum teh sambil melihat ke arah jalan. Dia telah membersihkan meja makan dan menyediakan secangkir teh tawar hangat untuk Dewi. “Sudah belanja ya?” tanyanya dengan suara yang santai ketika melihat Dewi masuk membawa tas belanja.

Dewi mengangguk dan mulai mengeluarkan barang-barang belanja dari tasnya, menyimpannya dengan rapi di rak dapur yang sudah dia bersihkan kemarin malam. Setelah selesai, dia mengambil gelas teh tawar dan duduk di sebelah Arif di teras. “Saat tadi pergi ke pasar, aku melihat Bu Siti,” ucapnya dengan suara yang tenang dan datar, seolah sedang menceritakan hal yang tidak penting. “Dia sedang menangis dan dikerumuni beberapa ibu-ibu teman-temannya. Sepertinya dia sedang bercerita tentang kejadian kemarin kepada mereka.”

Arif menghela napas panjang dan mematikan rokoknya yang sudah hampir habis. Dia melihat ke arah jalan dengan wajah yang penuh dengan kelelahan yang dalam—kelelahan yang sudah ada jauh sebelum kejadian kemarin terjadi. “Aku tahu bagaimana ibuku, Dewi,” ucapnya dengan nada yang sedikit lemah namun tegas. “Dia selalu seperti itu ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dia suka bercerita kepada orang lain agar mereka merasa kasihan padanya dan menganggap kamu yang salah. Jangan terlalu memikirkan hal itu ya.”

Dewi mengangguk perlahan sambil meminum teh tawarnya. “Aku tidak pernah memikirkan hal itu, Arif,” jawabnya dengan suara yang tetap tenang. “Untukku, itu hanya seperti angin lalu saja. Tidak ada pengaruh apapun terhadap hidupku atau terhadap keputusanku yang sudah pasti.”

Arif terdiam sejenak mendengar kata-kata Dewi. Dia tahu bahwa Dewi bukan orang yang suka berbicara banyak, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu memiliki makna yang dalam dan tidak bisa diubah. Dia merasa rasa bersalah yang semakin dalam—rasa bersalah karena tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya sebagai suami, karena selalu membela ibunya tanpa pernah memikirkan perasaan Dewi, karena tidak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi istri nya. Namun dia tidak tahu bagaimana cara untuk mengubah segalanya—dia terjebak di antara cinta kepada ibunya dan rasa tanggung jawab kepada Dewi.

Setelah beberapa saat, Arif berdiri dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil ember air untuk membersihkan lantai teras. Dewi tetap duduk di tempatnya, melihat bagaimana sinar matahari mulai semakin tinggi dan membuat permukaan tanah menjadi panas. Dia memikirkan hal-hal yang tidak terlalu penting—kapan dia harus membuat kue lagi untuk dijual, bagaimana cara membuat lauk hari ini agar lebih enak. Untuknya, masalah dengan Bu Siti dan keputusannya untuk bercerai dengan Arif sudah menjadi sesuatu yang sudah pasti dan tidak perlu dipikirkan terlalu dalam lagi.

Ketika Arif sedang sibuk membersihkan lantai, suara dering telepon genggam Dewi yang terletak di atas meja kecil tiba-tiba terdengar dengan keras. Bunyi deringnya yang terus-menerus membuat kedua nya berhenti sejenak dan melihat ke arah telepon. Dewi berdiri perlahan dan mengambil teleponnya, melihat nama yang muncul di layar hp nya, Arif menatap Dewi dengan penasaran siapakah yang menelpon istrinya itu?,

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!