Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.
Season 2 : 11. Darah di Jalan Tol
Pukul 13.15 WIB. Parkiran Inap Bandara Soekarno-Hatta.
Arya Baskara melemparkan koper kecilnya ke kursi belakang mobil sedan hitam miliknya. Ia menolak fasilitas jemputan VIP dari bandara. Instingnya—insting prajurit yang baru bangkit—jangan percayai siapapun hari ini.
Ia menyalakan mesin. Suara derum halus mobil Eropa itu terdengar. Arya melirik ponselnya. Ada 20 panggilan tak terjawab dari Dyandra. Ia melempar ponsel itu ke kursi penumpang dengan muak.
“Aku pulang, Na,” gumamnya sambil memutar setir, keluar dari area parkir menuju Jalan Tol Prof. Dr. Sedyatmo (bisa langsung menuju Cengkareng, Kapuk, Penjaringan, atau menuju gerbang tol terdekat lainnya: Grogol/Slipi).
Langit Jakarta mendung pekat. Awan hitam menggantung rendah, seolah alam tahu akan ada pertumpahan darah.
KM 25 Tol Sedyatmo (Arah Jakarta).
Arya memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyalip kendaraan-kendaraan lambat. Pikirannya hanya satu: sampai di rumah Dimas, memastikan Kirana aman.
Ia melihat spion tengah.
Sebuah mobil SUV hitam besar dengan kaca film gelap—tanpa pelat nomor belakang—sedang melaju agresif di belakangnya. Mobil itu menyalip zig-zag, memotong truk, dan kini menempel ketat di bumper belakang Arya.
Mata Arya menyipit. “Mau main-main rupanya.”
Arya menginjak gas, mobilnya melesat. SUV hitam itu ikut mempercepat lajunya, mesin dieselnya menderu kasar.
Di depan, jalanan sedikit lenggang. Arya membanting setir ke kiri untuk pindah jalur. Tiba-tiba, SUV itu menyusul dari sisi kanan, lalu memotong tajam ke kiri tepat di depan hidung mobil Arya.
BRAK!
Bumper belakang SUV itu menghantam bumper depan mobil Arya.
“Sialan!” Umpat Arya. Ia berusaha menyeimbangkan setir, tapi SUV itu melakukan manuver (menabrak sisi belakang mobil untuk membuatnya berputar).
Hantaman kedua jauh lebih keras. Sisi kanan belakang mobil Arya dihajar.
Mobil sedan mewah itu kehilangan kendali. Ban berdecit memekakkan telinga, beradu dengan aspal basah. Mobil Arya berputar 360 derajat di tengah jalan tol, tak terkendali seperti gasing.
Dunia Arya berputar. Langit. Aspal. Langit. Aspal. Beton pembatas jalan.
BRAAAKKK!!!
Mobil itu menghantam pembatas beton dengan suara dentuman logam yang mengerikan. Kaca depan pecah berhamburan seperti hujan berlian. Airbag meledak keluar, menghantam wajah Arya dengan keras.
Mobil itu terguling sekali, lalu berhenti dalam posisi terbalik di bahu jalan. Kap mesinnya berasap. Klakson berbunyi terus-menerus tanpa henti.
Lalu, hening.
Di Dalam Mobil Yang Terbalik.
Darah segar mengalir dari pelipis Arya, menetes ke atap mobil (yang kini ada di bawah). Pandangannya kabur. Telinganya berdengung panjang…ngiiingg…
Rasa sakit yang luar biasa menghantam sekujur tubuhnya. Tulang rusuknya serasa remuk.
Namun, di tengah ambang kematian itu, gerbang ingatan di kepalanya jebol sepenuhnya.
Bukan lagi sekadar kilasan mimpi atau deja vu. Ini adalah banjir memori.
FLASHBACK :
Ia melihat dirinya berbaju zirah, berdiri di tengah mayat-mayat prajurit. Ia melihat Kirana menangis di hutan larangan saat gerhana bulan. Ia merasakan bibir Kirana di keningnya.
Ia melihat dirinya yang tua dan renta, berbaring sekarat memegang jepit rambut merah muda.
“Aku pulang, Kirana…”
Dan ia melihat Dyah Ayu Sekar…wajahnya berubah menjadi Dyandra…tersenyum licik sambil menuang racun.
FLASHBACK BERAKHIR.
Mata Arya terbuka lebar. Napasnya tersengal.
Dia ingat.
Dia ingat semuanya. Setiap detik, setiap janji, setiap rasa sakit. Dia ingat aroma terasi sambal Kirana. Dia ingat bagaimana ia memarahi Kirana soal kamar mandi. Dia ingat bagaimana ia mati dalam kerinduan.
“Kirana…” suaranya parau, bercampur darah.
Arya mencoba bergerak. Sabuk pengaman menahan tubuhnya yang terbalik. Dengan sisa tenaga, ia merogoh saku celananya, mencari pisau lipat kecil yang selalu ia bawa.
Ia memotong sabuk pengaman itu.
BRUK!
Tubuhnya jatuh ke atap mobil. Arya mengerang kesakitan, tapi ia memaksakan diri merangkak keluar melalui jendela yang pecah.
Kaca-kaca tajam menggores lengan dan wajahnya, tapi Arya tidak peduli. Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit 500 tahun menunggu.
Arya berhasil keluar. Ia tergeletak di aspal basah, di bawah gerimis yang mulai turun. Orang-orang mulai menepi, berteriak-teriak memanggil bantuan.
“Pak! Pak! Jangan bergerak! Ambulans lagi jalan!”
Arya mengabaikan mereka. Tangannya yang gemetar dan berlumuran darah meraba saku jasnya yang robek. Ia mencari ponselnya. Layarnya letak parah, tapi masih menyala.
Ia menekan speed dial nomor 1. Nomor yang baru ia simpan kemarin.
Safe House Menteng.
Kirana dan Dimas sedang duduk tegang di ruang tengah. TV menyala menampilkan berita siang.
Tiba-tiba ponsel Kirana berdering. Nama Arya Baskara muncul.
Kirana menyambar ponsel itu. “Halo? Ar? Kamu di mana? Kok lama banget?”
Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara napas berat yang basah dan suara sirine samar di kejauhan.
“Na…”
Suara itu.
Bukan suara Arya Baskara yang modern dan logis. Itu suara berat, dalam, dan penuh wibawa yang sangat dirindukan Kirana. Suara yang dulu memanggilnya di dapur istana.
Kirana membeku. “M-mas Arya?”
“Maaf…” suara Arya terputus-putus menahan sakit. “Aku…membuatmu menunggu lagi.”
Air mata Kirana tumpah seketika. Dia tahu. Dia tahu ingatan itu telah kembali.
“Mas Arya…kamu kenapa? Suara kamu kenapa?”
“Mobilku hancur, Na. Dyandra…dia benar-benar reinkarnasi iblis,” Arya tertawa kecil, tawa yang menyakitkan. “Tapi aku masih hidup. Jangan nangis lagi. Ingat…aku nggak suka air mata.”
“Kamu di mana?! Shareloc sekarang!” Teriak Kirana histeris. Dimas langsung siaga, menyambar kunci mobil.
“Tol Sedyatmo. KM 25,” bisik Arya, suaranya makin lemah. “Na…dengar aku. Kali ini…aku nggak akan mati konyol karena sakit tua. Aku bakal bertahan. Aku bakal pulang ke kamu.”
“Janji?”
“Demi Hyang Widhi…aku janji.”
Sambungan terputus.
Dimas menatap Kirana tajam. “Kecelakaan?”
Kirana mengangguk sambil menangis, tubuhnya bergetar hebat. “Dyandra nyelakainn dia, Mas. Dyandra mau bunuh dia!”
Wajah Dimas berubah dingin. Sangat dingin. Aura Pangeran Dipa yang ahli strategi perang keluar.
“Ayo,” Dimas menarik tangan Kirana. “Kita jemput Panglima kita. Dan setelah itu…kita balas Dyandra. Kali ini, tidak akan ada pengampunan.”
Kembali ke TKP.
Arya terbaring menatap langit kelabu. Hujan mulai turun deras, membasuh darah di wajahnya.
Ia melihat mobil SUV hitam yang tadi menabraknya sempat berhenti jauh di depan, memastikan ia celaka, lalu kabur.
Arya mengepalkan tangannya yang terluka. Di jarinya, ia merasakan hampa karena tidak ada cincin (cincinnya ada di Kirana).
“Tunggu saja, Dyan,” desis Arya pada rintik hujan.
Matanya perlahan terpejam karena kehabisan tenaga, tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis.
Sang Panglima telah bangun dari tidur panjangnya. Dan dia sangat, sangat marah.