Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Menuju Kota Fengyu
Waktu berlalu, mentari pagi mulai naik, perlahan menuju siang.
Wang Hao berjalan pelan menyusuri jalur setapak yang dikelilingi oleh padang rumput liar dan pepohonan tua. Ia menikmati setiap tarikan napas, setiap desir angin yang menerpa wajahnya, setiap kicau burung yang terdengar dari kejauhan.
Ruo Li mengikuti di sampingnya, tubuh transparannya melayang tanpa suara di atas tanah. Ia memiringkan kepalanya, mengamati Wang Hao yang tampak sangat santai saat berjalan. Tidak ada ketergesaan, tidak ada kekhawatiran. Pemuda ini berjalan seolah-olah seluruh dunia adalah tamannya sendiri, dan semua bahaya hanyalah angin yang tidak perlu dipedulikan.
"Ceritakan pengalaman dan ingatan yang kau miliki," Wang Hao akhirnya berbicara, matanya masih menatap ke depan. "Apa pun yang bisa kau ingat."
Ruo Li mengangguk pelan, lalu mulai bercerita. "Aku... tidak begitu yakin kapan pastinya. Yang paling kuingat pertama kali, aku terbangun di bawah akar pohon. Saat itu semuanya gelap, aku cuma diam, tidak mengerti apa-apa. Sampai suatu waktu, ada manusia yang datang berburu bersama temannya. Setelah hari itu, semakin sering aku melihat manusia lalu-lalang. Dan tanpa kusadari, entah sejak kapan... aku tiba-tiba sudah paham bahasa mereka."
Wang Hao mendengarkan tanpa memotong.
"Pernah sekali aku memberanikan diri untuk menyapa. Tapi percuma! Mereka tidak bisa melihatku, tidak bisa mendengarku juga. Aku coba lagi dan lagi, tetap sama. Sampai akhirnya aku bertemu Tuan Muda."
Wang Hao mengangguk pelan. "Cukup bagus. Itu artinya kau tidak benar-benar kosong. Setidaknya percakapan dari orang-orang yang pernah memasuki hutan ini memberikanmu sedikit pengetahuan."
"Benar, Tuan Muda," sahut Ruo Li.
"Tuan muda?" Wang Hao melirik sekilas ke arahnya.
"Ya, Tuan Muda. Itu julukan yang kuketahui dari manusia. Mereka sering memanggil satu sama lain seperti itu."
"Tidak buruk."
Wang Hao terus melangkah.
Di atas mereka, empat burung hitam terbang berputar-putar, mengikuti dari ketinggian. Wang Hao bisa melihat bahwa burung-burung itu bukan burung biasa. Mata mereka memantulkan cahaya yang tidak alami, dan gerakan mereka terlalu teratur, terlalu terkoordinasi untuk sekadar burung liar.
Itu adalah burung roh yang memiliki fungsi untuk memantau, seperti mata kedua bagi pemiliknya, mengirimkan gambar dan lokasi langsung ke orang yang mengendalikannya.
Wang Hao mengangkat tangannya tanpa menghentikan langkahnya. Dari ujung jarinya, niat pedang berwarna putih bersih muncul, mengambang sejenak di udara, lalu melesat cepat ke atas.
Wush!
Jleb! Jleb!
Burung-burung itu mati sebelum sempat menghindar. Tubuh mereka jatuh berputar-putar dari langit, lalu menghilang di balik pepohonan di kejauhan. Wang Hao bahkan tidak menoleh untuk melihat hasilnya. Ia terus melangkah seperti tidak ada yang terjadi.
'Pengintai,' pikirnya datar. 'Mungkin dari Kerajaan Wuxia, mungkin juga dari sekte lain yang sudah mendengar tentangku.'
Tiga jam kemudian, matahari terasa panas di atas kepala. Wang Hao memutuskan untuk beristirahat di bawah sebatang pohon besar yang daunnya cukup lebat untuk menahan sebagian besar sinar. Ia mengeluarkan kursi rotannya, meletakkannya di tempat yang teduh, lalu duduk bersandar dengan mata terpejam.
Ruo Li secara alami berdiri di sampingnya, tubuh transparannya hampir tidak terlihat di bawah bayangan pohon. Ia tidak lelah, dan ia tidak ingin menjauh dari sisi Wang Hao. Pemuda ini adalah satu-satunya makhluk yang bisa melihatnya, menyentuhnya, dan berbicara dengannya. Kehilangan itu bukan pilihan.
Dua jam kemudian, Wang Hao membuka matanya. Energi spiritualnya sudah kembali pulih, dan panas matahari sudah sedikit mereda. Ia bangkit, menyimpan kursinya, lalu melanjutkan perjalanan.
Saat sore, ia menemukan sungai besar. Airnya jernih, mengalir perlahan di antara bebatuan besar. Pinggirannya dipenuhi pasir putih yang halus, seperti pasir pantai yang terbentuk dari pelapukan batu karang selama ribuan tahun. Wang Hao mengeluarkan kursinya dan duduk bersandar di tepi sungai, menikmati angin sore yang berhembus pelan.
"Ruo Li," katanya sambil menatap air yang berkilau diterpa sinar jingga senja. "Aku akan mengajarkan teknik pemadatan. Ini cukup membantu, sebelum kau memiliki tubuh sejati."
Ruo Li memiringkan kepalanya. "Aku tidak begitu mengerti. Tapi aku percaya pada Tuan Muda."
Wang Hao tidak menanggapi lebih lanjut. Dia langsung mengajarkan teknknya. Teknik itu adalah teknik yang sederhana, teknik yang hanya bisa digunakan oleh kultivator hantu. Dengan cara memadatkan energi spiritual di sekitar titik-titik tertentu pada tubuh spiritual, untuk menciptakan efek sentuhan sementara.
Sekitar setengah jam kemudian, Ruo Li berhasil memahaminya. Setelah itu ia melihat batu kecil bulat di dekat kakinya. Perlahan, dengan tangan gemetar, ia meraih batu itu. Jemarinya menyentuh permukaannya yang dingin, lalu menggenggamnya.
Dan...
Ia berhasil memegang batu itu.
"Tuan Muda, lihat ini!" Suaranya bergetar oleh emosi yang tidak bisa ia jelaskan. "Aku bisa menyentuhnya!"
Ini pertama kalinya ia menyentuh sesuatu selain Wang Hao. Sensasinya begitu asing, begitu nyata, begitu berbeda dari semua yang pernah ia alami selama ribuan tahun. Ia memutar batu itu di tangannya, dan ia merasakan berat baru kecil itu.
Wang Hao mengangguk. "Jika sudah selesai dengan kebahagiaanmu itu... sekarang kumpulkan ranting untuk membuat api unggun nanti."
Ruo Li mengangguk dengan antusias, lalu melayang menjauh dari pinggiran sungai, menuju ke arah pepohonan besar. Ia mulai mengumpulkan ranting-ranting kering yang jatuh di tanah, menggunakan teknik pemadatan yang baru ia pelajari untuk menggenggamnya satu per satu.
Setelah selesai, ia kembali dan meletakkan tumpukan ranting di dekat Wang Hao. Namun kemudian ia sadar sesuatu. Manusia butuh makan. Ia telah melihat para pemburu melakukannya berkali-kali, memasak ikan di atas api unggun, memakannya dengan nikmat.
Tanpa diminta, Ruo Li melayang sedikit ke tengah sungai. Ia berhenti di atas air, mengamati dengan saksama. Air sungai itu sangat jernih, dan ia bisa melihat ikan-ikan berenang di bawah permukaannya. Setelah mengamati cukup lama, ia melihat seekor ikan cukup besar yang berenang perlahan di dekat permukaan.
Tanpa ragu, ia masuk ke dalam air.
Byur!
Beberapa detik kemudian, ia muncul dengan ikan besar di kedua tangannya. Namun karena ikan itu masih di permukaan air, hal itu menyebabkan dia hanyut. Secara tiba-tiba ia berteriak, suaranya berubah panik.
"Tuan! Tolong aku! Aku terbawa arus sungai!"
Wang Hao membuka sedikit matanya, memandang Ruo Li yang terbawa arus karena ikan besar, bukan karena tubuhnya. Melihat itu ia memejamkan matanya lagi.
"Hantu tidak bisa hanyut di sungai biasa. Angkat ikan itu dari air."
Ruo Li terdiam. Ia menatap dirinya sendiri, lalu menatap ikan yang masih menyentuh air. Memang benar. Air sungai menghantam ikan, bukan dirinya.
"Benar kata Tuan Muda."
Ia segera melayang, lalu mendekati Wang Hao sembari menunjukkan ikan besar di tangannya. Ikan itu masih menggelepar, ekornya memukul-mukul udara.
"Tuan muda, lihat ikan ini. Besar sekali kan?!"
Wang Hao menghela napas pendek, lalu bangkit dari kursinya. Kemudian mengambil ikan itu, membersihkannya, membuang sisik dan isi perutnya ke pinggir sungai.
Sementara itu Ruo Li berbaring lemas di atas pasir, tubuh spiritualnya berkedip-kedip pelan. Ia terlalu membebani diri dengan menggunakan teknik pemadatan bentuk secara berlebihan.
Setelah selesai membersihkan ikan, Wang Hao menyalakan api unggun dengan percikan energi spiritual, lalu memanggang ikan di atas bara. Aroma ikan bakar perlahan memenuhi udara di sekitar sungai.
Malam telah tiba sepenuhnya. Bulan dan bintang memantulkan cahayanya di permukaan sungai, menciptakan pemandangan yang tenang dan damai.
Wang Hao duduk di kursi rotannya, menikmati ikan bakar sambil meminum arak dari kendi. Suapan demi suapan ia kunyah perlahan, menikmati setiap rasa yang ada.
Ruo Li hanya mengamati dari samping. Ia tidak bisa makan, dan ia tahu itu. Tetapi ada sesuatu dalam pemandangan ini yang membuatnya merasa... hangat. Mungkin itu adalah perasaan memiliki teman, sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama ribuan tahun.
"Nanti saat kau memiliki tubuh," kata Wang Hao sambil meneguk araknya, "kau akan merasakan nikmatnya makanan. Sekarang tidak bisa, dan percuma saja jika menggunakan teknik pemadatan. Karena kau tidak memiliki indra perasa."
"Aku tak begitu paham. Tapi aku percaya Tuan Muda."
Wang Hao tersenyum tipis, lalu melanjutkan menikmati makanannya.
...*****...
Waktu berlalu...
Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Mereka melewati hutan-hutan lebat, menyeberangi sungai-sungai kecil, mendaki bukit-bukit rendah, dan beristirahat di bawah langit malam yang dipenuhi bintang.
Ruo Li semakin mahir menggunakan teknik pemadatan. Ia kini bisa memegang benda lebih lama, mengangkat ranting lebih banyak, dan bahkan membantu Wang Hao mengumpulkan tanaman obat yang ditemukan di sepanjang jalan.
Wang Hao terus berkultivasi setiap malam. Fondasi lapis ketujuhnya semakin kokoh, semakin padat, semakin tak tergoyahkan. Ia bisa saja menerobos lapis kedelapan, tetapi ia tidak terburu-buru. Setiap langkah harus sempurna, setiap tetes energi harus dimurnikan, setiap pemadatan harus mencapai batas maksimal.
Setelah dua minggu perjalanan, tepat saat matahari terbenam, mereka tiba di depan sebuah kota.
Kota Fengyu.
Berbeda dengan Kota Lanyu yang kecil dan terpencil, Kota Fengyu jauh lebih besar. Gerbang batunya menjulang setinggi sepuluh meter, dihiasi oleh ukiran harimau dan burung phoenix yang sudah mulai terkikis oleh waktu. Dua menara batu berdiri di kedua sisi gerbang, masing-masing dijaga oleh dua kultivator berjubah merah dengan simbol pedang dan perisai di dada mereka.
Kota ini masih berada di wilayah barat daya, namun sudah di bagian tengahnya, bukan di wilayah pinggiran lagi. Sudah pasti banyak orang, dan banyak kultivator mumpuni di dalamnya.
"Ini tempat yang ramai," gumam Ruo Li sambil mengamati kerumunan dengan mata berbinar. "Aku belum pernah melihat tempat seperti ini."
Wang Hao menatap gerbang kota itu dengan ekspresi datar, kedua tangannya di belakang tubuh. "Kita akan masuk. Tapi kau perlu ku sembunyikan."