Pacar Palsu, Jodoh Asli
Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Rahasia Para Ayah
Langit Jakarta mulai dipenuhi awan kelabu ketika Reynard melangkah memasuki halaman rumah keluarganya.
Rumah besar yang selama ini selalu terasa akrab mendadak terlihat berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih asing.
Seolah bangunan itu sedang menyimpan sesuatu yang selama bertahun-tahun sengaja disembunyikan.
Gerbang besi menutup perlahan di belakangnya.
Suara logam yang bergesekan terdengar jauh lebih keras daripada biasanya.
Di dalam mobil yang terparkir beberapa ratus meter dari sana, Almira memperhatikan melalui teropong kecil yang dibawa Dimas.
Perasaannya tidak tenang.
Sangat tidak tenang.
"Masih bisa melihatnya?"
tanya Dimas.
"Ya."
"Bagus."
"Aku tidak suka kata bagus lagi."
gumam Almira.
Dimas hampir tertawa.
"Kenapa?"
"Karena setiap kali seseorang mengatakan semuanya baik-baik saja, lima menit kemudian hidup kami berubah menjadi bencana."
"Itu argumen yang masuk akal."
Namun meskipun bercanda, Almira tidak benar-benar bisa bersantai.
Tatapannya tetap mengikuti sosok Reynard sampai pria itu menghilang ke dalam rumah.
Dan tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya.
Dimas memperhatikan hal itu.
Lalu tersenyum kecil.
"Kamu khawatir."
"Aku tidak khawatir."
jawab Almira cepat.
"Tentu."
"Aku serius."
"Ya."
"Dimas."
"Aku tidak mengatakan apa-apa."
"Itu justru masalahnya."
Dimas akhirnya tertawa pelan.
Sementara itu, di dalam rumah keluarga Mahardika.
Reynard memasuki ruang kerja ayahnya.
Ruangan yang sudah dikenalnya sejak kecil.
Rak buku besar.
Meja kayu tua.
Jendela lebar yang menghadap taman belakang.
Dan aroma kopi yang selalu ada.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Arman Mahardika terlihat jauh lebih tua.
Tidak secara fisik.
Melainkan dari sorot matanya.
Seolah pria itu telah memikul beban yang terlalu lama.
"Ayah."
sapa Reynard.
Arman mengangguk pelan.
"Duduklah."
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada obrolan ringan.
Dan itu membuat Reynard langsung tahu bahwa pertemuan ini penting.
Sangat penting.
Ia duduk di kursi di depan meja kerja.
Kemudian mengeluarkan foto lama yang mereka temukan.
Dan meletakkannya di atas meja.
"Aku ingin jawaban."
katanya.
Arman menatap foto tersebut.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian perlahan menutup mata.
Seolah melihat benda itu saja sudah cukup untuk membangkitkan kenangan yang tidak ingin ia ingat.
"Aku tahu hari ini akan datang."
katanya pelan.
Jantung Reynard langsung berdegup lebih cepat.
Karena itu bukan jawaban seseorang yang tidak tahu apa-apa.
"Itu berarti Ayah mengenal mereka."
Arman membuka mata.
"Aku mengenal sebagian dari mereka."
"Termasuk pria yang berdiri di sini?"
Reynard menunjuk sosok pria misterius yang muncul dalam foto.
Untuk pertama kalinya, ekspresi Arman berubah.
Bukan takut.
Melainkan sesuatu yang lebih dekat pada penyesalan.
"Ya."
jawabnya.
Hening.
Siang itu terasa mendadak lebih berat.
"Siapa dia?"
tanya Reynard.
Arman tidak langsung menjawab.
Ia berdiri.
Berjalan ke arah jendela.
Menatap taman yang diterpa angin.
"Namanya Aldebaran."
katanya akhirnya.
Nama itu menggantung di udara.
"Aldebaran siapa?"
"Tidak banyak orang yang tahu nama belakangnya."
"Itu tidak membantu."
"Aku tahu."
Reynard menahan diri untuk tidak mendesak terlalu keras.
Namun kesabarannya mulai menipis.
"Ayah."
"Kami sudah dibuntuti."
"Kami menerima ancaman."
"Dimas hampir terbunuh."
"Dan sekarang aku menemukan foto ini."
"Jadi tolong berhenti melindungiku."
"Katakan yang sebenarnya."
Ruangan mendadak sunyi.
Arman menatap putranya cukup lama.
Kemudian mengangguk pelan.
"Baik."
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai...
tirai masa lalu mulai terbuka.
"Dua puluh tiga tahun lalu."
kata Arman.
"Aku, Pradipta, dan beberapa orang lainnya mendirikan sebuah kelompok."
Reynard langsung menegang.
Kelompok.
Kata yang sama yang terus muncul sejak awal.
"Kami bukan organisasi rahasia."
lanjut Arman.
"Kami bukan kriminal."
"Kami hanya sekelompok anak muda yang percaya bahwa dunia bisnis bisa dibuat lebih bersih."
Reynard mengerutkan kening.
"Itu Aurora?"
Arman mengangguk.
"Versi awalnya."
Hening.
Karena jawaban itu benar-benar di luar dugaan.
Selama ini mereka menganggap Aurora adalah organisasi bayangan yang berbahaya.
Namun ternyata awalnya justru sebaliknya.
"Kami ingin menciptakan sistem."
lanjut Arman.
"Sistem yang memungkinkan para pengusaha saling membantu tanpa korupsi."
"Saling mengawasi."
"Saling menjaga."
"Dan memastikan kekuasaan tidak jatuh ke tangan yang salah."
"Itu terdengar idealis."
kata Reynard.
"Kami memang idealis."
jawab Arman.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
Senyum yang cepat menghilang.
Karena bagian berikutnya jauh lebih kelam.
"Masalahnya..."
"Idealisme tidak selalu bertahan ketika uang mulai berbicara."
Jantung Reynard berdegup lebih keras.
Karena ia sudah bisa menebak ke mana arah cerita ini.
"Beberapa anggota mulai berubah."
"Mereka menyadari bahwa informasi memiliki nilai."
"Bahwa jaringan yang kami bangun bisa digunakan untuk keuntungan pribadi."
"Bahwa kekuasaan jauh lebih menguntungkan daripada integritas."
Ruangan kembali sunyi.
Dan Reynard akhirnya memahami.
Aurora tidak lahir sebagai monster.
Aurora berubah menjadi monster.
"Dan Aldebaran?"
tanyanya.
Arman menghela napas panjang.
"Aldebaran adalah orang paling cerdas di antara kami."
"Lalu?"
"Dan itulah masalahnya."
Hening.
"Dia selalu selangkah lebih jauh daripada yang lain."
"Melihat peluang yang tidak kami lihat."
"Memikirkan kemungkinan yang tidak kami pikirkan."
"Pada awalnya itu membantu."
"Tapi kemudian..."
Arman berhenti sejenak.
"Dia mulai percaya bahwa tujuan apa pun bisa dibenarkan selama hasil akhirnya benar."
Kalimat itu membuat bulu kuduk Reynard meremang.
Karena sejarah selalu dipenuhi orang-orang seperti itu.
Orang-orang yang yakin bahwa mereka sedang menyelamatkan dunia.
Dan karena itulah mereka menjadi berbahaya.
"Apa yang terjadi setelah itu?"
"Kami berpisah."
"Begitu saja?"
"Tidak."
Tatapan Arman mengeras.
"Itu jauh lebih buruk."
Reynard menunggu.
"Ada konflik."
"Pertengkaran."
"Pengkhianatan."
"Dan seseorang meninggal."
Dunia seakan berhenti sesaat.
"Apa?"
Suara Reynard hampir tidak terdengar.
Arman memejamkan mata.
"Seorang anggota pendiri."
"Namanya Fajar."
Hening.
"Kecelakaan?"
tanya Reynard.
Arman tidak menjawab.
Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Untuk pertama kalinya, Reynard benar-benar memahami mengapa ayahnya selama ini diam.
Karena rahasia ini bukan sekadar tentang bisnis.
Ini tentang rasa bersalah.
Tentang masa lalu.
Tentang sesuatu yang mungkin menghancurkan banyak kehidupan.
Di sisi lain, Almira dan Dimas masih menunggu di dalam mobil.
Sudah hampir satu jam.
Dan semakin lama mereka menunggu, semakin besar kegelisahan Almira.
Ia sudah memeriksa ponselnya puluhan kali.
Mungkin ratusan.
Dimas memperhatikannya dengan ekspresi geli.
"Kamu sadar dia hanya bertemu ayahnya, kan?"
"Aku tahu."
"Kamu melihat ponselmu setiap tiga puluh detik."
"Aku sedang memastikan sinyalnya bagus."
"Tentu."
"Dimas."
"Aku diam."
"Bagus."
Namun beberapa detik kemudian Dimas kembali berbicara.
"Kamu menyukainya."
Almira hampir tersedak.
"Apa?!"
"Kamu menyukainya."
ulang Dimas santai.
"Itu kesimpulan yang sangat liar."
"Justru sangat jelas."
"Dari mana?"
Dimas menghitung dengan jari.
"Kamu khawatir saat dia pergi."
"Kamu marah kalau dia dalam bahaya."
"Kamu tersenyum ketika dia bercanda."
"Kamu memeriksa ponselmu setiap tiga puluh detik."
Almira membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Karena untuk pertama kalinya...
ia tidak punya bantahan yang bagus.
Sial.
Di rumah keluarga Mahardika, pembicaraan belum selesai.
Arman membuka laci meja.
Lalu mengeluarkan sebuah map tua berwarna cokelat.
Map yang terlihat sangat usang.
Ia meletakkannya di depan Reynard.
"Apa ini?"
"Sesuatu yang seharusnya sudah kuhancurkan sejak lama."
Reynard membuka map tersebut.
Dan langsung membeku.
Karena di dalamnya terdapat puluhan dokumen.
Catatan rapat.
Nama-nama anggota.
Transaksi.
Surat.
Dan satu halaman yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir.
Karena di bagian paling atas tertulis:
DAFTAR PENDIRI AURORA
Di bawahnya terdapat beberapa nama.
Arman Mahardika.
Pradipta Valencia.
Fajar Wiratama.
Aldebaran.
Dan beberapa nama lain.
Namun bukan itu yang membuat Reynard membeku.
Karena di bagian bawah halaman terdapat sebuah catatan tulisan tangan.
Tulisan yang terlihat terburu-buru.
Tulisan yang tampaknya dibuat dua puluh tahun lalu.
Dan hanya terdiri dari satu kalimat.
JIKA SESUATU TERJADI PADAKU, PERCAYALAH BAHWA ALDEBARAN TIDAK BEKERJA SENDIRIAN.
Jantung Reynard langsung berdetak keras.
Karena kalimat itu ditandatangani oleh satu nama.
Fajar Wiratama.
Pria yang meninggal dua puluh tahun lalu.
Dan tiba-tiba misteri Aurora menjadi jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.
Karena monster yang mereka kejar mungkin bukan satu orang.
Melainkan seluruh jaringan yang telah bersembunyi selama dua dekade.