NovelToon NovelToon
Antara Batas Dan Nafas

Antara Batas Dan Nafas

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

​“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”

​Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Amarah dan Ultimatum Medis

Deru mesin mobil SUV hitam milik dr. Raditya membelah jalanan protokol yang padat di siang menjelang sore itu.

Kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih, menyalurkan ketegangan yang mendera seluruh saraf tubuhnya.

Di kursi penumpang sebelah kiri, sebuah map medis tebal berlambang Rumah Sakit Medika Utama tergeletak, seolah menjadi satu-satunya senjata yang dia miliki untuk meruntuhkan keangkuhan seorang Narendra Pradipta.

Sebagai dokter spesialis, pikiran Raditya dipenuhi skenario klinis mengerikan mengenai kondisi Alika.

Menghentikan obat imunosupresan dan kortikosteroid secara mendadak pada pasien Lupus sistemik seperti mencabut sumbat dari bendungan yang sedang meluap.

Tubuh Alika kini sedang mengalami rebound phenomenon—kondisi di mana sistem imun yang sempat diredam bangkit kembali dengan kekuatan berkali lipat lebih destruktif, menyerang setiap jaringan sehat yang bisa ditemukannya.

Kalau pleuritisnya sudah kambuh, bukan tidak mungkin cairan mulai menumpuk di rongga parunya, mencekik pernapasannya perlahan.

"Bertahanlah, Alika. Sedikit lagi," bisik Raditya di sela deru napasnya yang memburu.

Dia menginjak pedal gas lebih dalam, mengabaikan lampu kuning yang berkedip di persimpangan jalan, melesat menuju kawasan perumahan elite tempat sangkar emas Alika berdiri.

Di lantai atas kediaman Pradipta, waktu seolah berjalan melambat di dalam kamar utama yang terkunci.

Alika berbaring telentang di atas kasur dengan tubuh yang terus menggigil hebat, meskipun Rasti sudah menyelimutinya dengan dua lapis selimut tebal sebelum mengunci pintu dari luar.

Suhu tubuhnya kian meroket, menembus angka tiga puluh sembilan derajat Celsius. Efek dari demam tinggi itu mulai membuat kesadarannya berfluktuasi, menyeretnya ke dalam delusi dan halusinasi yang menyiksa.

Di dalam kepalanya yang terasa pening dan berdenyut parah, Alika seolah mendengar kembali suara tawa Narendra dari masa lalu—masa di mana pria itu bakal panik setengah mati hanya karena melihat telapak tangannya tergores kertas.

Namun, bayangan indah itu segera pecah, digantikan rasa perih yang luar biasa tajam yang tiba-tiba menghentak ulu hatinya.

Pil zat besi yang dipaksakan masuk ke dalam lambungnya yang kosong kini mulai memicu reaksi inflamasi akut.

Asam lambungnya bergolak, naik ke kerongkongan membawa rasa pahit dan membakar.

Alika mengerang lirih, memegangi perutnya dengan kedua tangan yang membengkak parah. Dia ingin muntah, tapi egonya menolak. Kalau dia memuntahkan makanan dan vitamin itu di atas kasur, Rasti akan tahu, dan Narendra akan menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan baru.

Dengan sisa tenaga yang nyaris habis, Alika memiringkan tubuhnya, membiarkan kepalanya terkulai di pinggiran ranjang.

Air mata dingin mengalir melewati pipinya yang panas membara, membasahi bantal sutra di bawahnya.

Setiap detak jam dinding kristal di kamarnya terdengar seperti dentang lonceng kematian yang kian mendekat. "Mas Radit... Tolong..." rintihnya dalam bisikan yang terputus-putus, sebelum kegelapan kelam kembali menarik kesadarannya ke dasar jurang yang tak berdasar.

Tepat pukul tiga sore, mobil Raditya berhenti dengan decit ban memekakkan telinga tepat di depan gerbang besi hitam menjulang setinggi tiga meter milik kediaman Pradipta.

Dua petugas keamanan berbadan tegap yang mengenakan seragam hitam langsung keluar dari pos penjagaan, menghalangi jalannya dengan tatapan waspada.

Raditya menurunkan kaca mobilnya, menatap kedua penjaga itu dengan sorot mata berapi-api. "Buka gerbangnya. Saya harus bertemu dengan Narendra sekarang juga," ujarnya tegas, tanpa basa-basi.

Salah seorang penjaga, yang tampaknya mengenali wajah Raditya dari daftar cekal yang diberikan Narendra, menggelengkan kepala dengan sikap kaku. "Mohon maaf, dr. Raditya. Tuan Narendra sudah memberikan perintah tegas bahwa Anda tidak boleh menginjakkan kaki di area properti ini. Silakan Anda meninggalkan tempat ini sebelum kami melakukan tindakan tegas."

Raditya membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Dia berdiri tegak di hadapan kedua penjaga tersebut, memegang map medis di tangan kanannya dengan kokoh. "Dengarkan saya baik-baik," suara Raditya merendah, tapi sarat tekanan yang mengintimidasi.

"Saya datang ke sini bukan sebagai urusan pribadi. Saya datang sebagai dokter penanggung jawab Alika Pradipta. Di dalam map ini ada bukti medis otentik bahwa istri majikan kalian sedang dalam kondisi kritis akibat kelalaian medis yang disengaja. Kalau kalian menghalangi saya masuk, dan sesuatu yang buruk terjadi pada Nyonya Alika dalam satu jam ke depan, saya pastikan kalian berdua dan Narendra Pradipta akan terseret ke jalur hukum dengan pasal percobaan pembunuhan!"

Kedua penjaga itu saling berpandangan, tampak gentar mendengar gertakan yang dilayangkan dengan penuh otoritas medis tersebut.

Istilah "percobaan pembunuhan" bukan sesuatu yang bisa mereka abaikan begitu saja, apalagi mereka tahu bahwa beberapa hari terakhir kondisi Alika memang tampak sangat memprihatinkan saat pulang dari kantor.

"Tunggu di sini. Saya harus menghubungi Tuan Narendra dulu," ucap penjaga yang lebih senior, berjalan mundur menuju pos untuk menggunakan telepon interkom.

Di dalam ruang kerja bawah, Narendra masih terduduk di balik meja kerjanya saat suara interkom berbunyi, memecah keheningan ruangan. Dia menekan tombol jawab dengan gerakan malas. "Ada apa?"

"Mohon maaf mengganggu, Tuan. Di luar ada dr. Raditya. Beliau memaksa masuk dan membawa berkas medis Nyonya Alika. Beliau mengancam akan membawa masalah ini ke jalur hukum dan kepolisian kalau kami tidak membukakan gerbang," lapor penjaga itu dengan suara yang sedikit bergetar.

Mendengar nama Raditya disebut, rahang Narendra seketika mengeras.

Amarah yang sejak pagi dia bendung kini kembali menyalak. Pria itu berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke arah gerbang depan.

Dari kejauhan, dia bisa melihat siluet Raditya yang berdiri kokoh di depan mobilnya.

Berani-beraninya bajingan ini datang ke rumahku dan mengancam dengan hukum, batin Narendra murka.

Egonya merasa tertantang di tanah kekuasaannya sendiri. Tapi di balik kemarahan itu, sebersit rasa ingin tahu yang aneh menyelinap masuk. Berkas medis apa yang dia bawa? Apakah ini bagian dari rencana Alika untuk menipuku?

Narendra menarik napas dalam, menekan gejolak emosinya agar tetap terlihat tenang dan memegang kendali penuh. "Buka gerbangnya," perintah Narendra dingin melalui interkom. "Bawa dia langsung ke ruang kerjaku. Jangan biarkan dia berkeliaran ke lantai atas atau menemui Alika."

"Baik, Tuan."

Gerbang besi raksasa itu perlahan terbuka dengan derit berat.

Raditya tidak membuang waktu, dia kembali ke dalam mobil dan melajukannya melewati halaman rumput yang luas menuju lobi utama rumah mewah tersebut.

Dua menit kemudian, dengan dipandu seorang penjaga, Raditya melangkah menyusuri koridor rumah yang megah tapi terasa mati, sampai akhirnya dia tiba di depan pintu kayu jati kokoh ruang kerja Narendra.

Penjaga itu mengetuk pintu sekali, lalu membukanya. "Silakan masuk, Dok."

Raditya melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna-warna gelap dan aroma cerutu mahal.

Di ujung ruangan, di balik meja kaca hitamnya, Narendra sudah menunggu dengan posisi duduk bersandar, kedua tangannya saling bertaut di atas pangkuan, menatap kedatangan Raditya dengan binar mata elang yang penuh permusuhan dan keangkuhan mutlak.

"Suatu kejutan yang tidak menyenangkan melihat seorang dokter terhormat bertingkah seperti kriminal yang mencoba menerobos rumah orang lain," sindir Narendra, suaranya tenang tapi setajam sembilu.

Dia sama sekali tidak bangkit dari kursinya untuk menyambut tamunya.

Raditya tidak memedulikan sindiran tersebut.

Dia berjalan lurus ke depan meja kerja Narendra, lalu dengan gerakan kasar, melemparkan map medis tebal yang dibawanya tepat ke hadapan pria itu. Map itu mendarat dengan bunyi debukan keras di atas permukaan kaca.

"Cukup dengan topeng arogansimu, Narendra," ujar Raditya dengan suara yang bergetar menahan amarah yang luar biasa.

"Aku tidak punya waktu untuk melayani delusi paranoidmu tentang perselingkuhan atau manipulasi. Di dalam map itu ada hasil tes laboratorium Alika yang sesungguhnya. Hasil yang selama ini kau sembunyikan di bawah kebodohan dr. Hendrawan!"

Narendra melirik map itu sekilas, lalu kembali menatap Raditya dengan senyum meremehkan yang mengesalkan.

"Aku sudah bilang padamu di rumah sakit waktu itu, Dokter. Hasil tes darah Alika normal. Dia cuma kelelahan. Jangan coba menggunakan taktik medis murahan ini untuk menakut-nakutiku agar aku melepaskan pengawasanku terhadap istriku sendiri."

"Buka dan baca, Narendra!" bentak Raditya, kehilangan kesabarannya.

Dia mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap lurus ke dalam manik mata Narendra dengan intensitas yang mengerikan. "Lihat hasil titer ANA (Antinuclear Antibody) dan kadar komplemen C3 dan C4 milik Alika di sana! Hasilnya positif kuat dengan pola homogeneous, yang berarti sistem imunnya sedang aktif menghancurkan organ tubuhnya sendiri. Angka laju endap darahnya meroket, dan leukositnya menunjukkan tanda inflamasi sistemik yang parah!"

Raditya menarik napas sejenak, suaranya kini merendah tapi terdengar jauh lebih mengerikan. "Kau tahu apa artinya itu? Tindakanmu yang menyita obat imunosupresan miliknya dan menghentikan terapinya secara paksa sudah memicu serangan flare-up yang mematikan. Tubuh Alika saat ini sedang membakar dirinya sendiri dari dalam. Kalau kau terus mengurungnya di atas tanpa perawatan, dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, dia akan mengalami gagal ginjal akut atau pendarahan paru-paru. Dan saat hari itu tiba, tidak ada jumlah uang atau kekuasaan Artha Group yang bisa menghidupkannya kembali dari kematian!"

Kata-kata Raditya bergaung di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, menghantam dinding-dinding ruangan dan menyisakan keheningan yang mencekam.

Untuk pertama kalinya, senyum meremehkan di wajah Narendra perlahan memudar, digantikan ekspresi kaku yang diliputi rasa terkejut yang amat sangat.

Tatapannya perlahan turun, tertuju pada map medis yang tergeletak di hadapannya—sebuah lembaran kertas putih yang kini terasa seperti bom waktu yang siap meledakkan seluruh dunia keangkuhannya.

1
falea sezi
kapok kau narendra😒
SecretS
Penyesalan memang selalu di akhir kalau di awal itu pencegahan 👍
SecretS
Lanjut kak, Alika bakal selama apa enggak itu.. 😯😯
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor☺👈✍️
ilmuwankecil
seru kalk, update lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!