menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 : di lembah keabadian
Setelah acara penyerahan dan penerimaan seserahan berakhir dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan, Elara memegang tangan Xavier dengan lembut, menatapnya dengan pandangan yang penuh makna.
"Ada satu tempat lagi yang ingin aku tunjukkan padamu, tempat yang sangat istimewa bagiku dan bagi seluruh sejarah kerajaanku," ucapnya dengan suara yang lembut namun berat. "Tempat ini belum pernah aku perlihatkan kepada siapa pun selama ribuan tahun lamanya. Tapi sekarang, karena kau adalah orang yang paling berharga dalam hidupku, aku ingin kau ikut denganku ke sana."
Xavier menatapnya dengan rasa ingin tahu dan rasa hormat yang mendalam. "Aku akan ikut ke mana pun kau ajak, Elara. Apapun tempat itu, aku akan menghormatinya sepenuh hati."
Elara tersenyum mendengarnya. "Baiklah, ayo kita berangkat. Kita akan pergi hanya berdua saja."
Keduanya lalu membentangkan sayap mereka masing-masing. Sayap Elara berwarna gelap namun bercahaya lembut bagaikan langit malam yang dipenuhi bintang, sedangkan sayap Xavier bersinar terang bagaikan sinar matahari pagi. Bersama-sama mereka terbang meninggalkan istana, melintasi wilayah kerajaan yang kini tampak begitu indah dan damai.
Selama perjalanan, Xavier terus memandangi pemandangan di bawah mereka, namun rasa ingin tahunya terus bertambah. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya.
"Elara, kau belum memberitahuku, apa sebenarnya Lembah Keabadian itu? Mengapa tempat itu begitu istimewa bagimu?"
Elara terbang berdampingan dengannya, dan menoleh sedikit menatapnya. Suaranya menjadi lebih lembut dan penuh perasaan saat ia menjawab.
"Lembah Keabadian adalah tempat yang tersembunyi di bagian paling dalam dan paling terlindungi dari wilayah kerajaanku. Di sanalah tinggal jiwa-jiwa orang-orang terkasih yang telah tiada, dan yang paling penting... di sanalah tempat tinggal jiwa ayah dan ibuku. Mereka meninggal saat aku masih sangat kecil, meninggalkanku sendirian memikul tanggung jawab memimpin kerajaan ini. Dan ke mana pun aku pergi, mereka selalu menjagaku dari sana."
Elara berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit berat.
"Kau tahu, dalam adat dan kepercayaan kita, seseorang tidak bisa benar-benar menjadi bagian dari keluarga dan kerajaan ini sebelum mendapatkan restu dari mereka yang telah mendahului kita. Dan karena kau ingin bersatu denganku, kau juga harus meminta restu dari mereka, dari orang tuaku. Mereka adalah orang yang paling berhak memberikan izin atau menolaknya."
Xavier mendengar penjelasan itu dengan perasaan yang serius dan penuh rasa hormat. Ia mengangguk perlahan. "Terima kasih telah membawaku ke sini, Elara. Aku akan melakukan yang terbaik, dan aku akan berbicara dengan mereka dengan sepenuh hati dan kesungguhan."
Setelah terbang cukup lama, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Lembah itu ternyata sangat luas, terbentang sejauh mata memandang. Dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, di dalamnya terdapat padang rumput yang berwarna keperakan dan sungai-sungai kecil yang airnya memancarkan cahaya lembut. Di langit di atas lembah itu, terlihat bintang-bintang yang bersinar terang meskipun hari masih siang, dan suasana di sana terasa damai, hening, dan penuh dengan energi yang menenangkan. Semua hal di tempat ini terlihat abadi, tidak berubah dan tidak akan pernah hilang.
Begitu mereka mendarat di tanah yang tertutup rumput halus, tiba-tiba dari segala arah muncul makhluk-makhluk kecil yang terbuat dari batu dan kristal. Tubuh mereka bulat-bulat dan berukuran tidak lebih tinggi dari lutut orang dewasa, dengan mata yang berkilau dan gerakan yang lincah. Mereka bergerak mendekati Xavier dan Elara, berputar-putar di sekitar kaki mereka seolah menyambut kedatangan mereka.
"Ini adalah penjaga lembah," bisik Elara. "Mereka selalu ada di sini, menjaga tempat ini dari gangguan apa pun."
Tidak lama kemudian, di tengah lembah itu, cahaya yang terang namun lembut mulai muncul. Dari cahaya itu, perlahan-lahan terbentuk dua sosok manusia yang terlihat jelas dan nyata, meskipun mereka adalah jiwa-jiwa yang telah meninggal.
Yang pertama adalah seorang wanita yang sangat cantik, dengan wajah yang lembut dan tatapan mata yang penuh kebaikan. Ia mengenakan gaun yang berkilauan bagaikan cahaya bulan, dan rambutnya yang panjang berwarna hitam pekat terurai indah. Itu adalah Valentina, ibu kandung Elara.
Di sampingnya berdiri seorang pria yang tampan dan gagah, dengan postur tubuh yang tegap dan wajah yang tegas namun penuh kehangatan. Pakaiannya terbuat dari bahan yang kuat dan berkilau, dan tatapan matanya memancarkan kebijaksanaan dan kekuatan. Itu adalah Lucian, ayah Elara.
Keduanya berjalan mendekat dengan langkah yang ringan dan anggun. Saat sampai di hadapan mereka, mereka menatap Elara dengan pandangan yang penuh kasih sayang, lalu mengalihkan pandangan ke arah Xavier dengan tatapan yang menyelidik dan serius.
"Anakku..." ucap Valentina dengan suara yang lembut dan merdu, sama seperti suara Elara. "Sudah lama sekali kita tidak bertemu denganmu. Kita senang melihat bahwa kau kini terlihat begitu cerah dan bahagia, jauh berbeda dari saat-saat sebelumnya."
"Terima kasih, Ibu... Ayah..." jawab Elara dengan suara yang sedikit bergetar karena haru. "Aku juga sangat merindukan kalian."
Kemudian Lucian menatap Xavier, dan bertanya dengan nada yang tegas dan penuh wibawa.
"Dan siapa pemuda yang ada di samping putri kita ini? Apa maksud kedatangan kalian ke tempat yang suci ini?"
Xavier segera membungkukkan badan dengan dalam, sebagai tanda penghormatan yang setinggi-tingginya. Ia berdiri tegak kembali, dan menjawab dengan suara yang jelas, tegas, dan penuh kesungguhan.
"Yang Mulia Lucian dan Yang Mulia Valentina, saya adalah Xavier, Raja dari Kerajaan Cahaya. Saya datang ke sini bukan tanpa alasan, dan saya datang dengan sepenuh hati dan kesungguhan. Saya mencintai putri kalian, Elara, lebih dari apa pun di dunia ini. Cinta saya padanya bukanlah perasaan yang timbul sebentar saja, tapi adalah perasaan yang tumbuh semakin dalam dan kuat seiring berjalannya waktu. Saya datang ke sini untuk meminta izin dan restu dari kalian, agar saya diperbolehkan untuk menikahinya dan mendampinginya seumur hidup saya."
Mendengar perkataan itu, kedua orang tua Elara saling bertukar pandangan. Mereka kembali menatap Xavier, menatap matanya dalam-dalam seolah ingin melihat isi hatinya yang sebenarnya. Mereka bisa merasakan kejujuran dan ketulusan yang terpancar dari dalam diri pemuda itu, dan mereka juga bisa melihat betapa dalamnya perasaan yang ia miliki untuk anak mereka.
Namun kemudian, Valentina menoleh ke arah Elara, dan melihat bagaimana pandangan anaknya itu tertuju pada Xavier. Di mata Elara terlihat cinta, kepercayaan, dan kebahagiaan yang tulus, sesuatu yang belum pernah mereka lihat selama bertahun-tahun lamanya.
Valentina kembali menatap Xavier, dan suaranya menjadi lebih lembut namun tetap berat dan penuh makna.
"Xavier, kita bisa melihat dan merasakan ketulusan hatimu. Kita juga bisa melihat bagaimana perasaan anak kita padamu. Selama ribuan tahun ini, kita selalu mengawasinya dari sini, melihat apa yang ia alami dan rasakan."
Suara Valentina menjadi sedikit bergetar saat ia melanjutkan.
"Kau harus tahu, Elara adalah satu-satunya putri kita, satu-satunya yang kita miliki. Sejak kita tiada, ia harus tumbuh dan hidup sendirian. Ia seringkali terluka, disakiti, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya ada di sisinya. Ia harus menanggung beban yang berat, dan ia harus hidup dalam kesepian dan ketakutan selama ini. Hatinya telah tertutup rapat, karena ia takut akan terluka lagi."
Lucian kemudian melanjutkan kata-kata istrinya, dengan nada yang tegas namun juga penuh perasaan.
"Karena itu, jika kau benar-benar ingin bersatu dengannya, kau harus berjanji padamu, dan berjanji pada kami. Kami menitipkan satu-satunya putri kami ini padamu. Jagalah ia, sayangilah ia, dan hargailah ia dengan sepenuh hatimu. Jangan pernah menyakiti perasaannya, jangan pernah membuatnya merasa kesepian atau ditinggalkan lagi. Ia telah cukup menderita, dan ia pantas mendapatkan kebahagiaan yang sejati dan abadi."
Xavier mendengar semua itu dengan perasaan yang terharu dan penuh tanggung jawab. Ia menatap kedua orang tua Elara dengan pandangan yang teguh dan tulus, dan menjawab dengan suara yang jelas dan tak tergoyahkan.
"Aku berjanji pada kalian, dan aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan menjaganya seumur hidupku, aku akan selalu ada di sisinya dalam keadaan apa pun, dan aku akan melakukan apa saja untuk membuatnya selalu bahagia dan merasa dicintai. Aku tidak akan pernah menyakiti hatinya, dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun pun menyakitinya. Cintaku padanya akan selalu ada, dan ia tidak akan pernah merasa sendirian lagi, karena aku akan selalu menemaninya sampai akhir waktu."
Mendengar janji itu, dan melihat ketulusan yang terpancar dari seluruh sikap dan perkataan Xavier, wajah Lucian dan Valentina pun dipenuhi senyum yang lega dan bahagia. Mereka kembali menatap Elara, dan melihat air mata bahagia yang mengalir di pipi anak mereka.
"Kalau begitu..." ucap Lucian dengan suara yang hangat. "Kami memberikan restu kami padamu, Xavier. Kami percaya padamu, dan kami percaya bahwa kau adalah orang yang tepat untuk mendampingi putri kami. Semoga cinta dan ikatan kalian ini selalu terjaga, dan semoga kalian hidup dalam kebahagiaan dan kedamaian selamanya."
"Terima kasih... terima kasih banyak..." ucap Xavier dengan suara yang penuh rasa syukur dan haru.
Valentina lalu berjalan mendekat, dan dengan lembut ia menaruh tangannya yang bercahaya di atas kepala Elara dan juga di atas kepala Xavier.
"Semoga berkah dan perlindungan kami selalu menyertai kalian berdua, dan menyertai kedua kerajaan yang akan kalian persatukan. Jalani hidup bersama dengan saling mengerti, saling menghormati, dan saling mencintai, sebagaimana seharusnya."
Cahaya yang memancar dari tangan Valentina menyelimuti mereka berdua, memberikan rasa damai, kekuatan, dan ikatan yang semakin erat di antara mereka. Di sekeliling mereka, makhluk-makhluk batu kecil itu berputar-putar dengan riang, seolah ikut merayakan momen yang suci dan bahagia ini.
Mereka pun berdiri bersama di tengah lembah yang indah itu, ditemani oleh jiwa orang-orang terkasih yang selalu melindungi dan mendoakan mereka. Dan kini, tidak ada lagi hal yang kurang. Semua restu telah didapatkan, semua persiapan telah selesai, dan saat yang ditunggu-tunggu sudah benar-benar ada di depan mata.
Bersambung...