"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taktik Mengisi Kuota dan Sensasi Baru di Rumah Bordil
Pengumuman mengenai pembukaan Alam Rahasia Kuno dalam tiga bulan ke depan seketika mengubah atmosfer di Sekte Bangau Abadi. Namun, alih-alih bersemangat, Puncak Kesembilan justru dilanda kepanikan yang luar biasa. Perintah Tetua Duanmu Rong sangat mutlak: Masing-masing dari sembilan puncak wajib mengirimkan sepuluh murid berbakat.
Masalahnya, Puncak Kesembilan adalah faksi buangan. Selain Lin Ling dan Wang Ba, sisa anggotanya hanyalah para sesepuh yang sudah jompo, tukang kebun yang sering encok, dan murid-murid malas yang sudah kehilangan harapan dalam kultivasi.
"Saudara Lin, bagaimana ini?!" rengek Wang Ba sambil menatap papan daftar nama di pondok mereka dengan frustrasi. "Baru ada nama kita berdua yang otomatis masuk karena tidak ada orang lagi. Kurang delapan orang! Apa kita perlu mendaftarkan nama bangau spiritual penjaga gerbang?"
Lin Ling yang sedang bersandar santai di dekat jendela hanya mendengus konyol. Dia mengambil kuas, lalu dengan santai mulai menuliskan nama-nama secara asal.
"Tulis saja nama Tetua jompo di puncak kita, lalu tambahkan nama murid malas yang sering membolos. Dan... di sini..." Lin Ling menyeringai licik saat menuliskan nama Jian Chen di urutan ketiga.
"Hei! Kau gila?!" Sebuah suara dingin mendadak terdengar dari balik pintu saat Jian Chen melangkah masuk. Sang murid dalam dari faksi pedang dengan ranah Foundation Establishment itu langsung melotot menatap namanya tertera di papan faksi tukang sapu. "Aku adalah murid inti dari Puncak Kedua! Berani-beraninya kau menjebakku masuk ke dalam daftar faksi sampahmu?!"
"Tenang, Saudara Jian," jawab Lin Ling santai tanpa dosa. "Ini hanya taktik di atas kertas agar Puncak Kesembilan tidak dihukum karena kekurangan kuota. Lagipula, bukankah kita sudah seperti keluarga setelah insiden kolam pil itu?"
Jian Chen mendengus ketus, wajahnya kaku menahan jengkel. "Hapus namaku sekarang, atau pedangku yang akan menghapusnya!" Ditandai dengan penolakan mentah-mentah dari sang jenius, Lin Ling akhirnya terpaksa mencoret nama Jian Chen sambil terkekeh konyol, lalu menggantinya dengan nama samaran acak yang tak kalah aneh demi memenuhi kuota faksi.
Setelah urusan kuota kertas selesai, fokus mereka beralih ke persiapan logistik dan persenjataan. Lin Ling memang memiliki modal ratusan ribu pil Kondensasi Qi hasil rampokan bulan lalu di dalam cincin penyimpanannya, tetapi mereka tetap membutuhkan barang-barang taktis lain seperti jimat pertahanan, senjata, dan baju pelindung untuk masuk ke alam rahasia.
Demi mencairkan aset gelap tersebut, Trio Sengklek menyelinap keluar sekte menuju Pasar Gelap di Kota Kaki Gunung. Jian Chen, meskipun terus mengomel, terpaksa diseret ikut serta sebagai pelindung bayangan agar transaksi rahasia mereka tidak dicegat oleh faksi penegak hukum.
Di dalam pasar gelap yang remang-remang, Lin Ling mendatangi seorang pedagang licik bermata satu yang terkenal suka memeras pembeli. Lin Ling diam-diam memicu cincin penyimpanannya, mengeluarkan beberapa ribu butiran pil Kondensasi Qi secara massal ke atas meja. Di saat sekte sedang memperketat keamanan dan pasokan obat di luar sedang langka, melihat ribuan pil murni terpampang nyata membuat mata si pedagang langsung berbinar serakah.
Si pedagang licik mencoba menawar dengan harga murah, namun Lin Ling hanya tersenyum konyol sambil memberikan isyarat mata kepada Jian Chen.
Jian Chen yang paham situasi ini menghela napas pasrah, lalu maju selangkah. Dia melepaskan sedikit tekanan aura ranah Foundation Establishment miliknya dikombinasikan dengan aura pedang yang dingin, membuat suhu di toko itu mendadak turun drastis. Sementara itu, Wang Ba berdiri di belakang sambil melipat tangan di dada, memberikan tatapan mengintimidasi ala mafia gempal.
Merasakan tekanan dari seorang jenius faksi pedang dan keserakan tak kasat mata dari Lin Ling, nyali si pedagang licik langsung ciut. Alhasil, alih-alih diperas, mereka justru berhasil memeras balik si pedagang dan menukarkan pil-pil tersebut dengan gunungan Batu Roh serta puluhan jimat pelindung tingkat tinggi.
KLING! KLING! KLING!
Kantung penyimpanan Wang Ba kini dipenuhi oleh kepingan batu roh yang berkilauan. Memiliki uang yang sangat banyak dalam sekejap membuat sifat sombong si Gendut mendadak bergejolak. Dengan wajah mesum yang konyol, Wang Ba menyenggol lengan Lin Ling sambil berbisik licik.
"Saudara Lin, kita sudah kaya raya! Bagaimana kalau malam ini kita mencoba sensasi baru yang belum pernah dirasakan oleh murid kultivator biasa? Mari kita bersenang-senang di Rumah Bordil kota!"
Lin Ling, yang memiliki watak bodo amat dan memang ingin mencicipi arak premium di luar sekte, langsung menjentikkan jarinya. "Taktik yang bagus, Gendut. Ayo berangkat."
"Kalian... benar-benar keterlaluan!" potong Jian Chen dengan wajah yang mendadak memerah menahan rasa malu dan marah. "Tempat kotor dan penuh hawa duniawi seperti itu hanya akan mengotori batin pedangku! Aku menolak pergi!"
Jian Chen berbalik untuk pergi, namun sebuah tangan kurus bergerak secepat kilat. KEP-! Lin Ling merangkul pundak sang jenius pedang dengan cengkeraman fisik ranah Mahayana-nya yang tak bisa digoyahkan.
"Jangan kaku begitu, Saudara Jian. Ini adalah bagian dari latihan untuk menguji keteguhan batin pedangmu di tengah godaan duniawi," seringai Lin Ling konyol, sambil setengah menyeret tubuh kaku Jian Chen melintasi jalanan menuju gedung yang dipenuhi lampion merah dan wewangian pekat tersebut.
Suasana di dalam Rumah Bordil Langit Merah luar biasa ramai. Begitu masuk, Wang Ba yang memegang kantung penuh batu roh langsung menjadi pusat perhatian. Dengan tawa heboh yang konyol, si Gendut langsung dikerumuni oleh tiga wanita cantik yang merayu lemak tubuhnya demi mendapatkan kepingan batu roh.
Sementara itu, pemandangan di sudut ruangan utama menjadi sangat tidak masuk akal.
Jian Chen duduk dengan punggung tegak lurus di atas kursi kayu. Dia menutup matanya rapat-rapat, dan memeluk pedang pusakanya erat-erat seolah-olah para wanita di sekitarnya adalah iblis gunung yang ingin menghisap esensi kehidupannya.
"Tuan muda yang tampan, minumlah cawan arak ini~" seorang wanita cantik mendekat dengan gerakan menggoda, mencoba menuangkan arak ke cawan Jian Chen.
"Menjauh dari batin pedangku!" desis Jian Chen dengan suara sedingin es, tubuhnya gemetar menahan kaku.
Mendegar gertakan dingin itu, para wanita di sana justru saling berbisik penuh semangat. "Wah, lihat murid faksi pedang ini. Dia tampan sekali saat sedang memperagakan permainan peran (roleplay) sebagai pria polos yang suci!" Bukannya menjauh, mereka justru semakin gencar menggoda Jian Chen.
Lin Ling yang duduk di sebelah Jian Chen dengan santai mengunyah kacang goreng hasil perasan dari pasar gelap tadi, menertawakan penderitaan mental sang murid dalam dengan sangat puas. Dia menuangkan arak ke cawannya sendiri, lalu berbisik jahat ke telinga Jian Chen.
"Tenang saja, Saudara Jian. Batin pedangmu mungkin tidak akan ternoda malam ini... tapi aku jamin, reputasimu sebagai jenius suci di faksi pedang sudah resmi tamat di tanganku."
Jian Chen membuka sebelah matanya, melirik Lin Ling dengan tatapan masam yang luar biasa tajam. Wibawa agung ranah Foundation Establishment miliknya malam itu benar-benar menguap bersama aroma wewangian rumah bordil.
......................
Ranah Kultivasi Dunia.
Ranah Dasar (Lower Realms)
Body Tempering (Ranah Penempaan Fisik) — Fokus pada kekuatan otot, tulang, dan ketahanan fisik murni.
Qi Condensation (Ranah Kondensasi Qi) — Mulai mengumpulkan energi spiritual alam ke dalam tubuh/Dantian. (Lin Ling saat ini ada di Lapisan 9 Puncak).
Foundation Establishment (Ranah Pembangunan Fondasi) — Memadatkan Qi menjadi cairan spiritual, membangun fondasi kultivasi yang kokoh. (Ranah milik Jian Chen).
Ranah Menengah (Middle Realms)
Core Formation (Ranah Pembentukan Inti / Golden Core) — Cairan spiritual mengkristal menjadi sebuah Inti Emas di dalam Dantian.
Nascent Soul (Ranah Jiwa Baru) — Inti Emas pecah dan melahirkan manifestasi jiwa bayi spiritual di dalam tubuh, meningkatkan rentang hidup secara drastis.
Soul Formation (Ranah Pembentukan Jiwa) — Jiwa batin mulai bisa dilepaskan keluar dari tubuh fisik untuk mengendalikan energi alam secara masif.
Ranah Atas (Upper Realms)
Void Refinement (Ranah Pemurnian Kekosongan) — Kultivator mulai menyatu dengan hukum alam dan memahami ruang.
Body Integration (Ranah Integrasi Tubuh / Unity) — Menyatukan jiwa spiritual dengan tubuh fisik secara sempurna, membuat fisik menjadi sangat tangguh.
Crossed Treshold / Tribulation Transcendence (Ranah Melewati Kesengsaraan) — Fase kritis di mana kultivator harus bertahan dari sambaran petir kesengsaraan surgawi (Heavenly Tribulation).
Mahayana (Ranah Mahayana / Great Perfection) — Puncak tertinggi kultivasi fana sebelum naik ke alam dewa (Ascension). (Ranah kekuatan fisik tersembunyi milik Lin Ling).