NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26. Deep talk ayah dan anak

Ketegangan yang menguras energi itu akhirnya bermuara pada keputusan yang sunyi. Imam menatap Rayhan, lalu beralih ke pintu kamar Habibah yang tertutup, dan terakhir pada putri tunggalnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Imam meraih tas kerjanya dan melangkah berat menuju pintu depan.

Namun, sebelum Imam sempat memutar kenop pintu, Ameera bergerak cepat. Ia menyambar tas tas kecilnya yang tergeletak di sofa.

"Ameera...?" Rayhan tertegun melihat pergerakan calon istrinya.

Ameera menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh ke belakang. Bahunya masih sedikit berguncang, namun suaranya terdengar bulat walau serak. "Maaf, Ray. Aku... aku tidak bisa di sini dulu untuk sekarang. Aku mau menemani Papa."

"Meer, rumah kalian jauh, dan kondisi Papa kamu lagi tidak stabil untuk menyetir," Rayhan mencoba menahan, melangkah maju satu tapak.

"Justru karena itu aku harus ikut, Ray," potong Ameera, kini ia membalikkan badan, menatap Rayhan dengan mata yang sembab namun penuh keyakinan. "Papa tidak punya siapa-siapa lagi selain aku. Seperti kamu yang ingin melindungi Tante Bibah, aku juga harus menjaga Papaku. Kita berdua sama-sama butuh waktu dan jarak untuk berpikir, kan? Tolong jaga Tante Bibah ya."

Tanpa menunggu jawaban Rayhan, Ameera membuka pintu dan menyusul Imam yang sudah lebih dulu berjalan lesu menuju mobil. Rayhan hanya bisa mematung di ambang pintu, menatap mobil SUV itu perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah kontrakan, membawa separuh hatinya pergi di tengah ketidakpastian.

*

*

Perjalanan menuju rumah lama terasa begitu panjang dan melelahkan. Di dalam mobil, keheningan yang tercipta terasa sangat pekat. Hanya ada suara deru mesin dan gesekan ban dengan aspal. Imam mencengkeram kemudi dengan erat, matanya lurus menatap jalanan, namun pikirannya jelas terbang entah ke mana. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya pagi ini.

Ameera yang duduk di kursi penumpang samping kemudi terus memperhatikan profil samping ayahnya. Hatinya perih. Pria yang selama ini menjadi pilar kokoh dalam hidupnya, yang selalu terlihat tegap dan berwibawa, kini tampak begitu rapuh dan hancur.

Setelah hampir tiga puluh menit saling membisu, Ameera perlahan mengulurkan tangan, menyentuh lengan kiri ayahnya yang berada di atas persneling.

"Papa..." panggil Ameera lembut.

Imam tersentak kecil, lalu melirik putrinya sekilas sebelum kembali menatap jalan. "Iya, Meer? Kamu haus? Kita mampir ke minimarket depan ya?" Suara Imam terdengar berusaha biasa saja, namun getaran di ujung kalimatnya tidak bisa membohongi naluri seorang anak.

"Nggak, Pa. Ameera nggak haus," Ameera menggeleng pelan. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menanyakan apa yang sejak tadi menyumbat dadanya.

"Papa... apa yang sebenarnya Papa rasakan sekarang?" tanya Ameera lirih. "Tolong jangan berpura-pura kuat di depan Ameera, Pa. Di rumah tadi... setelah semuanya terbongkar, dan setelah kata-kata Rayhan yang seperti itu... apa yang Papa rasakan?"

Pertanyaan tulus dari Ameera seolah meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang mati-matian Imam bangun sepanjang jalan. Cengkeraman tangan Imam pada kemudi perlahan melonggar. Pria paruh baya itu menarik napas panjang yang terasa begitu berat, seolah udara di dalam mobil tiba-tiba menipis.

"Papa merasa... Papa adalah laki-laki yang paling gagal di dunia ini, Meer," bisik Imam akhirnya. Suaranya terdengar sangat parau, pecah oleh rasa bersalah yang teramat dalam.

Ia menepikan mobilnya ke bahu jalan yang agak sepi, mematikan mesin, lalu menumpukan kedua tangannya di atas kemudi sambil menundukkan kepala.

"Papa gagal mengubur masa lalu Papa sampai akhirnya itu mengorbankan kebahagiaan kamu. Melihat kamu menangis seperti tadi, melihat pernikahan yang kamu impikan sekarang terancam... rasanya dada Papa seperti dihantam batu besar, Meer. Papa rela menerima kemarahan Rayhan, Papa rela diusir, tapi Papa tidak sanggup kalau harus melihat anak perempuan Papa satu-satunya kehilangan kebahagiaannya hanya karena dosa masa lalu Papanya."

Air mata Imam kembali luruh di atas setir mobil, menunjukkan seluruh kerapuhan seorang ayah yang terlanjur basah oleh penyesalan di hadapan putrinya.

Ameera bergeser mendekat. Ia menggenggam erat tangan Imam yang terasa dingin di atas kemudi, mencoba menyalurkan kehangatan yang tersisa dari dalam dirinya.

"Mencintai itu bukan dosa, Pa," bisik Ameera, air matanya sendiri ikut luruh melihat kerapuhan ayahnya. "Karena bukan Papa yang sengaja mempertahankan rasa itu untuk merusak masa depan kami. Rasa itu datang tanpa permisi di masa lalu Papa."

Ameera menjeda kalimatnya. Ia menatap lekat mata sang ayah, mencari jawaban dari pertanyaan paling tabu yang selama ini tersimpan rapat di keluarga mereka.

"Tapi... Meera mau tanya satu hal, Pa. Tolong jujur sama Meera. Apakah sepanjang hidup Papa... Papa selalu mencintai Tante Bibah? Dan kalau benar begitu, bagaimana dengan almarhumah Mama? Apa Papa tidak pernah mencintai Mama?"

Imam menegakkan punggungnya perlahan. Ia menatap lurus ke depan, menembus kaca mobil yang mulai buram oleh embun AC. Pertanyaan Ameera seperti pisau bedah yang membuka luka lama yang sudah berkerak puluhan tahun di hatinya.

"Kalau Papa bilang Papa tidak selalu mengingat tante Bibah, Papa berbohong, Meer," ucap Imam, suaranya terdengar kosong dan lelah.

"Tiga puluh tahun lalu, cinta Papa pada Ibunya Rayhan itu begitu besar, tapi diputus paksa oleh keadaan. Luka yang diputus paksa tanpa pernah selesai itu... selalu meninggalkan bekas. Ada ruang kecil di sudut hati Papa yang memang tidak pernah bisa diisi oleh siapa pun, karena ruang itu terkunci bersama kenangan masa muda Papa dengan Bibah."

Imam menoleh, menatap Ameera dengan tatapan yang sangat bersalah.

"Tapi demi Allah, Meer... jangan pernah meragukan cinta Papa pada almarhumah Mamamu."

Imam meraih kedua tangan Ameera, menggenggamnya erat-erat seolah ingin meyakinkan putrinya bahwa ia tidak sedang bersandiwara.

"Cinta Papa pada Mamamu adalah cinta yang tumbuh dari rasa syukur, ketulusan, dan perjuangan bersama. Mamamu adalah wanita luar biasa yang menemani Papa dari titik nol, yang menerima Papa dengan segala kekurangan Papa, dan yang melahirkan kamu ke dunia ini. Papa sangat, sangat mencintai Mamamu."

Imam mengusap air mata yang menetes di pipinya sendiri.

"Jenis cintanya berbeda, Meer. Kepada tante Bibah, itu adalah cinta masa muda yang penuh ambisi tapi berakhir tragis. Sementara kepada Mamamu, itu adalah cinta sejati yang matang, yang diikat oleh sakralnya pernikahan dan takdir hidup. Papa tidak pernah mengkhianati Mamamu selama beliau hidup. Pikiran untuk kembali pada Bibah pun tidak pernah terlintas di otak Papa... sampai takdir dengan kejamnya mempertemukan kami lagi sebagai calon besan di rumah kontrakan itu."

Imam menarik napas dalam, mencoba meredakan debar dadanya yang ngilu.

"Pertemuan kemarin itu... seperti membangunkan raksasa yang sudah tidur selama tiga puluh tahun, Meer. Papa ketakutan. Bukan karena Papa ingin merebut tante Bibah kembali, tapi Papa takut sisa rasa canggung dan bersalah di masa lalu itu justru merusak kesucian pernikahan kamu dan Rayhan. Dan ketakutan Papa... terbukti hari ini.”

“Jadi, sampai sekarang Papa masih mencintai tante Bibah?”

Imam terdiam. Pertanyaan Ameera yang begitu lurus menembus bagian paling personal dalam hidupnya membuat pria paruh baya itu tertegun lama. Ia melihat gurat kesedihan dan kebingungan yang mendalam di wajah anak perempuannya.

Imam menggelengkan kepala perlahan, lalu menghembuskan napas panjang.

"Bukan mencintai dalam artian Papa ingin memilikinya lagi sekarang, Meer. Bukan begitu," ujar Imam, mencoba meluruskan agar Ameera tidak salah paham.

"Rasa yang tersisa itu bukan lagi cinta yang menggebu-gebu seperti waktu Papa muda. Rasa itu sudah berubah bentuk menjadi rasa bersalah yang amat besar, rasa sesal, dan rasa canggung yang luar biasa. Tiga puluh tahun yang lalu, kami berpisah dengan cara yang tidak baik, meninggalkan banyak pertanyaan yang tidak pernah ada jawabannya. Jadi ketika mendadak takdir mempertemukan kami lagi dalam jarak sekat kamar seperti di kontrakan itu... semua memori lama itu berputar lagi secara paksa."

Imam menggenggam jemari Ameera dengan kedua tangannya, meyakinkan putrinya.

"Jika kamu tanya apakah Papa ingin kembali atau hidup bersama Tante Bibah sekarang? Jawabannya tidak, Meer. Sama sekali tidak. Fokus hidup Papa sekarang hanya kamu. Kebahagiaan kamu. Papa rela tidak pernah bertemu dengan Tante Bibah lagi seumur hidup Papa, asalkan pernikahan kamu dan Rayhan tidak hancur."

Imam menatap lekat mata Ameera, menyapu sisa air mata di pipi anaknya. "Bagi Papa dan Tante Bibah, cerita kami sudah selesai dan dikubur sejak tiga puluh tahun lalu. Yang tersisa sekarang hanyalah ketakutan orang tua yang tidak ingin masa lalunya yang kelam justru merenggut masa depan anak-anaknya. Itu saja, Meer. Demi Allah, hanya itu.”

****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!