Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 My elite lover
"JAUHKAN TANGAN KOTORMU DARINYA! JIKA TIDAK, AKU PASTIKAN TANGAN ITU AKAN TERLEPAS DARI TUBUHMU!!"
Teriakan yang mengguncang seluruh ruangan gudang itu membuat rak-rak besi sekelilingnya bergema keras. Tubuh pria bertubuh besar yang tengah mencengkeram pergelangan tangan Rena itu seketika membeku. Ia tahu betul siapa pemilik suara yang sedang murka itu. Dengan gerakan yang sangat lambat, ia menoleh ke arah pintu yang kini sudah terbuka lebar.
Saat melihat sosok tinggi tegap yang berdiri di sana dengan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat udara jadi terasa sesak, kedua lutut pria itu terasa lemas seketika. Keringat dingin membanjiri pelipisnya meskipun gudang itu sangat dingin.
Bagaimana tidak, sekarang di hadapannya yang berdiri bukan seorang pria biasa, tapi harimau yang sedang kelaparan dan siap menerkam mangsanya!
"K-Kau ...! Kenapa bisa ada di sini?" suara pria itu tercekat, ketakutan menyelimuti dirinya.
Tanpa banyak kata, Saga melesat bagai kilat yang menyambar cepat! Gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, bahkan Rena yang berada di dekatnya hanya bisa melihat kilatan kemeja putihnya yang melintas.
BYUUUSH!!
Satu tendangan keras dari kaki Saga mendarat tepat di tengah wajah pria itu, kekuatan yang luar biasa membuat tubuh besar pria itu seperti boneka yang terlempar jauh hingga menghantam rak besi baja di belakangnya dengan suara BAM!! yang mengguntur.
Rak besi itu langsung sedikit membengkok, dan benda-benda yang tersusun rapi di atasnya berjatuhan ke lantai dengan suara berisik yang memenuhi ruangan.
Pria itu meringis kesakitan yang luar biasa, darah segar mulai mengalir deras dari hidung dan bibirnya yang pecah. Ia mencoba mengangkat tubuhnya dari lantai, tapi sebelum kakinya sempat menapak dengan kuat, Saga sudah berada tepat di hadapannya dengan langkah yang tidak terbaca.
BRUGKK!!
BRUGKK!!
Saga tidak main-main sedikitpun. Tinju kanannya yang besar melayang bertubi-tubi menghantam wajah dan perut pria itu dengan kekuatan yang luar biasa, tanpa ampun, tanpa rasa iba. Setiap pukulan membawa seluruh rasa takut, amarah, dan kepanikan yang ia rasakan sejak tadi.
"KAU BERANI MENYENTUHNYA?!" geram Saga di antara hantaman tinjunya, napasnya berat dan penuh kemarahan. "KAU TAHU SIAPA DIA?! DIA ADALAH WANITA YANG KU JAGA. DAN KAU TELAH LANCANG MENYENTUHNYA DENGAN TANGAN KOTOR ITU?!"
"A-Ampun ... Tuan ... ampun ..." rintih pria itu sudah tak berdaya, wajahnya sudah babak belur tak berbentuk.
"AMPUUN?! SUDAH TERLAMBAT BRENGSEK?!" Saga mencengkeram kerah baju pria itu, mengangkatnya sedikit hingga kaki pria itu melayang. Tatapan mata Saga sedingin es.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?! Bram?! Atau Rizky?!" desis Saga pelan namun sangat mengerikan.
"Sa-saya hanya disuruh ... jangan bunuh saya! Saya tidak tahu apa-apa!" pria itu menangis tak terkendali, air matanya bercampur dengan darah di wajahnya.
"Sayang sekali ... aku tidak terima penyesalan orang seperti mu," bisik Saga dingin, lalu dengan satu pukulan terakhir yang sangat kuat tepat ke arah rahang, pria itu pingsan tak sadarkan diri. Tubuhnya ambruk ke lantai yang dingin.
Hening.
Hanya suara napas Saga yang memburu yang terdengar di ruangan itu. Kemeja putihnya sedikit berantakan, dan ada sedikit noda darah di tangannya, namun ia tidak peduli.
Dengan langkah cepat dan sedikit gemetar karena emosi yang masih memuncak, Saga berbalik badan dan menatap ke arah Rena.
Rena berdiri mematung di sudut ruangan. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca melihat kekasihnya yang tadi berubah menjadi sosok yang begitu mengerikan dan mematikan. Namun di balik ketakutan itu, ada rasa lega yang luar biasa.
Saga berjalan mendekat perlahan. Aura galaknya perlahan luntur, berganti dengan kekhawatiran yang mendalam.
"Ren ..." panggil Saga parau, suaranya bergetar.
Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah, Rena tidak tahan lagi. Ia langsung berlari kecil dan menerjang masuk ke dalam pelukan hangat Saga.
Hup!!
"KAK SAGAAAA!!" tangis Rena meledak seketika. Ia memeluk pinggang Saga seerat mungkin, membenamkan wajahnya di dada bidang itu, mencari rasa aman yang hilang sejak tadi.
Saga langsung memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya sedetik pun. Tangan besarnya mengusap punggung dan kepala Rena berulang kali, menenangkan isak tangisnya.
"Shhh... sudah ... sudah ... aku di sini ..." bisik Saga lembut, mencium puncak kepala Rena berkali-kali. "Sekarang tidak akan ada yang berani menyakiti kamu lagi! Maafkan aku sedikit terlambat menyelamatkan kamu."
"T-Tadi ... tadi dia jahat banget Kak ... tangannya kasar ... sakit ..." rintih Rena sambil memperlihatkan kedua lengannya yang kemerahan bekas cengkeraman kuat tadi.
Melihat bekas merah itu, mata Saga kembali menyala murka. Namun ia segera menenangkan diri demi Rena. Ia mengambil tangan kecil itu, memandangnya dengan hati perih, lalu menciumnya dengan sangat lembut dan penuh sayang di area yang memerah itu.
"Sakit ya ... nanti aku obatin ya. Aku janji, tidak akan ada orang yang berani menyakiti kamu lagi. Kalau ada yang berani, aku pastikan ia menyesali hari lahirnya!" ucap Saga tegas, matanya menatap tajam ke arah tubuh pria yang sudah tergeletak tak sadar itu.
"Hu hu hu ... Kak ... Rena takut banget tadi ... kalau Kakak tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku ..." Rena mendongak menatap wajah Saga dengan mata yang masih berkaca-kaca, wajahnya basah oleh air mata yang terus mengalir, hidungnya merah, namun bagi Saga, dia tetap terlihat sangat menggemaskan dan berharga seperti permata paling mahal di dunia.
Saga tersenyum tipis, lalu mengusap air mata di pipi Rena dengan ibu jarinya dengan sangat lembut.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian dalam keadaan seperti ini. Bahkan saat aku mati pun, jiwaku akan tetap berada di sisimu dan menjagamu dari segala bahaya," janji Saga dengan sangat tulus, setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh dengan komitmen yang tak terbantahkan.
Tiba-tiba Rena memukul pelan dada Saga berkali-kali dengan tinju kecilnya.
"Ih! Kok ngomong mati-mati segala sih Kak! Jangan gitu dong! Aku sangat tidak suka mendengarnya!" omel Rena dengan nada yang manja meski suaranya masih terdengar sesenggukan karena baru saja menangis. Namun kemudian wajahnya berubah menjadi sedikit cemberut tapi penuh kagum, "Tapi Kak Saga tadi kamu keren banget loh ... aku seperti melihat adegan film laga yang sangat seru tapi ini versi nyata! Mataku bahkan sampai tidak berkedip karena pemeran utamanya sangat tampan dan keren!" serunya penuh rasa kagum.
Saga terkekeh pelan mendengar ocehan gadisnya yang mulai kembali cerewet, tanda dia sudah mulai lebih tenang.
"Oh ya! Jadi sekarang dokter cantik ini mengakui kalau kekasihnya ini tampan dan keren!" jawab Saga menggoda lalu mencubit hidung mancung itu dengan gemas.
"He he! Pacar siapa dulu, Rena gitu loh!" sahut Rena sambil nyengir lebar.
Saga ikut tersenyum mengusap lembut kepala wanita cantik di hadapannya dengan sayang. "Ayo kita keluar dari sini!"
"Iya," Rena mengangguk patuh, lalu kembali memeluk lengan Saga erat-erat, bersandar di bahu kekar itu seolah mencari perlindungan maksimal.
Saga melangkah keluar dari gudang itu dengan langkah tegap, membawa Rena menjauh dari tempat yang menyeramkan itu. Di luar, Kevin dan dua anak buahnya baru saja sampai, gegas ia menyapa dengan wajah lega melihat Rena dan Saga baik-baik saja.
"Apa semua aman! Gak ada yang terluka kan?" tanya Kevin perhatian pada sahabat sekaligus komandannya itu.
"Urusi sampah yang ada di dalam. Pastikan dia bicara dan memberitahu semua yang dia tahu. Kalau dia tidak mau bicara ... habisi saja," jawab Saga dengan nada yang dingin tanpa menoleh ke arah Kevin, matanya hanya fokus menatap jalanan di hadapan demi keselamatan gadis di sisinya.
"Siap Komandan! Serahkan padaku! Aku akan pastikan dia memberi semua informasi yang kita butuhkan!" sahut Kevin dengan suara yang tegas dan penuh kesetiaan.
Setelah itu, Saga dan Rena melanjutkan langkah mereka menuju mobil Saga yang terparkir di depan sana.
Kevin berdiri diam melihat kepergian mereka berdua, kemudian tersenyum dengan lega.
"Hati-hati di jalan ..." bisiknya pelan sebelum berbalik badan untuk menangani tugasnya.
Matahari siang mulai bersinar terik, namun bagi Rena, hangatnya matahari tidak sebanding dengan hangatnya pelukan dan perlindungan yang diberikan oleh Saga saat ini.
Bersambung ...
😡😡😡😡😡😡