Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi ini udara terasa segar karena semalam hujan.
Melina merasa ringan dan terbebas dari rasa takutnya, karena tak ada suaminya di rumah.
Karena hatinya masih terbayang rasa trauma atas perlakuan Ishan, hari ini tidak ke kampus karena dosen menginginkan kelas online.
Jadi dirinya hari ini tidak ke kampus, namun pagi ini Adisti mengajaknya untuk melakukan kegiatan sosial di Panti Asuhan Kasih Bunda.
Panti Asuhan Kasih Bunda.
Sebuah Panti Asuhan dimana Melina Khairunnisa menghabiskan masa kecilnya, Melina hari ini sangat bahagia.
Adisti selain mengajaknya ke panti asuhan tempat dimana Melina tumbuh besar sebagai kegiatan bakti sosial, dirinya juga bisa bertemu dengan adik-adik panti yang dirinya bimbing dulu.
Pertama kalinya senyum manis terbit di bibir Melina, karena dirinya akan kembali mengenang masa kecilnya.
Tak ada lagi tekanan, dan tak adalagi pemukulan.
Melina hari ini mengenakan pakaian yang menurutnya nyaman, meski dirinya istri seorang selebriti tetap saja Melina lebih nyaman berpakaian sederhana.
Hanya mengenakan kaos berwarna biru tua menambahkan kardigan hitam sebagai luaran, bawahnya di padukan dengan celana kulot panjang warna hijau tua.
Rambutnya diikat setengah dengan membiarkan sisanya terurai alami.
Terlihat Melina amat ceria, meski sudah menjadi istri seorang bintang----dirinya tak akan pernah lupa darimana dirinya berasal.
Di sisi lain, Adisti tampil elegan seperti biasanya. Bisa terlihat jika Adisti adalah ibu-ibu kalangan sosialita.
Terlihat wanita berwajah Turki dan Pakistan itu, mengenakan gaun berwarna ungu sampai lutut dengan pita besar di bagian dada.
Rambutnya di cepol rapi, memberikan kesan wanita kelas atas yang dermawan.
"Mama makasih ya, Mel seneng...Akhirnya bisa ketemu lagi sama adik-adik Mel di panti," jawabnya.
"Iya sayang, mama juga makasih ama kamu. Karena kamu mau berhubungan badan sama Ihsan dan mama juga bersyukur dapat menantu yang masih perawan."
Adisti merangkul menantunya, nampak hangat dan penyayang.
Melina memejamkan matanya, akhirnya dirinya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu selain kasih sayang Bunda Pipin.
Tak lama kemudian.
Mobil yang di kendarai para wanita di keluarga Ganendra tengah memasuki halaman panti asuhan.
Tangan Melina memegang dadanya, seolah degup jantungnya berdetak dengan cepat.
Panti yang menjadi saksi bisu masa kecilnya, tempat dimana dirinya tumbuh besar membawa kesan damai.
Berbanding terbalik saat dirinya menikah dengan Ishan Ganendra, meski dirinya menikah dengan seorang selebriti---tak pernah sekalipun Melina merasa bahagia.
Semenjak berumah tangga dengan Ishan yang di rasakan Melina, adalah rasa trauma dan sakit yang tak ada ujung.
"Ingat Melina, jaga sikapmu."
Adisti memperingatkan menantunya, untuk menjaga sikap karena keluarga Ganendra adalah keluarga terpandang.
Melina hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Begitu melangkah kakinya melewati pintu utama, teguran Adisti menguap rasa rindunya sebagai seorang anak saat pulang ke rumah mulai terasa.
Aroma khas panti asuhan dengan aroma masakan sederhana, mampu membangkitkan kenangan lama.
"Hallo semuanya!" sapa hangat Melina yang mendekati adik-adik pantinya.
"Ah kakak Melina kesini!" ucap anak-anak panti itu dengan serempak.
Melina menyambar mereka semua, dan langsung gadis itu mengajak main adik-adik panti yang ada disana.
Sementara Adisti mulai menjalankan perannya, untuk memberikan bantuan dan bingkisan kecil.
Senyum wanita itu amat tulus, ia membagikan paket bantuan dan beberapa buku untuk anak-anak panti.
Tubuhnya berdiri dengan anggun, sesekali tangannya membelai kepala anak-anak panti, saat asistennya membidik kamera ponsel.
Bagi Adisti ini hanya panggung sandiwara, untuk menarik popularitas agar bisnisnya lancar.
Tapi bagi Melina ini adalah rumahnya, kehidupan dan kenangan yang tak akan pernah di lupakan seumur hidupnya.
Melina tak mempedulikan soal kegiatan sosial ini, dirinya hanya peduli dengan adik-adik panti yang baginya sudah seperti saudara baginya.
Nampak gadis ini duduk bersila dengan buku gambar di tangannya yang sudah agak usang, lalu Melina mulai bercerita mengenai cerita legenda.
Melina duduk dengan sekelompok anak-anak kecil di atas lantai, sambil bermain bersama.
"Kak Melina! Cerita roro Jonggrang dong!" seru seorang anak perempuan kecil bernama Nina.
"Jangan kak cerita soal tangkuban perahu aja," ucap anak yang lain dengan menyodorkan bukunya.
Melina bisa tertawa lepas yang sudah tak terlihat semenjak menikahi Ihsan, gadis ini tertawa saat bersama adik panti yang sudah seperti saudara baginya.
"Sabar ya, satu-satu," ucap Melina mengambil buku berjudul cerita 'dua belas putri yang menari'.
"Kita baca cerita ini dulu ya," lanjutnya.
Seketika, suasana ruangan berubah menjadi keceriaan.
Melina membaca cerita dengan ekspresi yang membuat adik-adik panti tertawa terpingkal-pingkal.
Sesaat dirinya melupakan rasa sakit fisiknya yang tersisa dari kejadian dan kenangan bersama Ishan.
Seolah pikirannya melupakan tatapan tajam Ishan yang selalu mengawasinya, disini di tengah adik-adik panti yang menjadi bagian hidupnya di masa lalu, Melina merasa di terima seutuhnya.
Dari kejauhan, Adisti menatap menantunya dengan tatapan tak suka---melihat Melina begitu akrab dengan "anak-anak panti" yang menurut berbeda kasta.
Jadi, Adisti terpaksa menahan dirinya karena banyak pasang mata yang melihatnya.
Sedikit saja dirinya melakukan kesalahan, maka sudah di pastikan popularitas dan rencana yang di bangunnya akan sirna dalam sekejab.
Tangan Adisti terus membagikan hadiah dengan gerakan manis dengan penuh kepalsuan, berbeda dengan menantunya---Melina.
Melina yang sedang bersenda gurau dengan anak-anak sambil di pangku.
Melina menatap dinding panti yang disana penuh coretan gambar anak-anak, dirinya ingat dulu disana sering menggambar.
Dirinya membayangkan seorang putri yang menikahi seorang pangeran yang menjemputnya, dan membawanya ke Istana dan hidup bahagia.
Tapi kenyataannya setelah dewasa Melina bukan mendapati seorang pangeran yang tinggal di istana megah, melainkan drakula yang selalu menumpahkan darahnya setiap hari.
"Kakak kenapa sedih?" tanya Nina kecil, menyentuh pipi Melina dengan tangan mungilnya.
Melina tersentak, lalu tersenyum hangat meski matanya berkaca-kaca.
"Kakak tidak sedih, Sayang. Kakak cuma senang bisa pulang ke rumah," ucap Melina dengan menggunakan alibi.
Dirinya berusaha menutupi rasa sakit dan kecewanya dengan membuat alibi, momen ini menjadi pelarian singkat bagi Melina.