Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Perlahan langkah Adinda maju, terukur dan hati-hati. Udara di lorong itu terasa dingin, merayap sampai ke kulit, tapi tidak sedikit pun mengurangi tekadnya.
Ia melirik ke arah Naya. Alisnya terangkat tipis, memberi isyarat tanpa suara.
“Sekarang.”
Satu kata. Pendek. Tapi cukup untuk mengubah segalanya.
Adinda kembali melangkah, menyusuri lorong yang gelap. Cahaya redup dari ponsel Naya membantu menerangi jalan di depan mereka, meski hanya sebatas cukup untuk melihat pijakan.
“Sepertinya pintunya di ujung sana,” bisik Adinda pelan.
Naya mengangguk. “Hati-hati. Jangan gegabah.”
Langkah mereka semakin pelan saat lorong mulai berbelok. Suasana makin sunyi. Bahkan suara napas sendiri terasa terlalu jelas.
Adinda memutar di tikungan—
Dan langsung berhenti.
Dua pria duduk di balik meja. Kepala mereka tertunduk, bertumpu di atas permukaan kayu. Seperti tertidur.
“Kurangi cahayanya,” bisik Adinda cepat. “Nanti mereka bangun.”
Tanpa banyak gerakan, Naya langsung meredupkan layar ponselnya. Mereka melangkah lagi. Pelan. Nyaris tanpa suara.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga—
Tiba-tiba salah satu penjaga bergerak. Bahunya bergeser. Kepalanya terangkat sedikit.
“Jangan… bergerak,” gumamnya samar.
Langkah Adinda dan Naya langsung terhenti.
Napas mereka tertahan.
Adinda menoleh sedikit ke belakang. Tatapannya bertemu Naya. Tidak ada kata—hanya satu pesan yang sama: diam.
Beberapa detik terasa lebih lama dari biasanya. Penjaga itu mengerang pelan… lalu kembali menjatuhkan kepalanya ke meja.
Suasana sunyi kembali. Adinda menghembuskan napas pelan, hampir tak terdengar.
“Astaghfirullah…” bisiknya lirih, tangannya refleks memegang dadanya. “Cuma ngelindur.”
Naya menatap ke depan lagi, suaranya sangat pelan. “Kita lanjut.”
Dan kali ini— Langkah mereka terasa lebih berat, hingga tanpa sadar kakinya berhenti di depan pintu ruangan itu.
"Kita masuk sekarang?" tanya Naya hati-hati.
Adinda terdiam sejenak, seperti menyiapkan strategi berikutnya, lalu tanpa menjawab tangannya mulai memegang gagang pintu itu.
Prok ... prok ... prok ....
Tepukan Adinda menggema di udara, seketika suasana hening mendadak, wanita mudah di hadapan Pak Arbani itu mengangkat bibirnya sedikit, seolah ini yang dia nantikan.
Berbeda dengan Sintia yang sedikit terkejut, tatapannya sedikit menunduk karena dibalik rahasia besar ini ada sebagian rahasia besar yang tidak diketahui oleh anaknya.
"Ka-mu...," nada suaranya gugup.
Adinda mendekat tanpa ragu, beberapa penjaga langsung bergerak seolah ingin menghadang Adinda namun tangan Tiara segera menghadangnya.
"Biarkan saja, aku hanya ingin tahu sampai dimana keberaniannya," ucapnya sedikit menyeringai.
Sementara Adinda langsung mendekat kearah keduanya. Tiara juga Ibu Sintia.
"Oh, jadi semua ini ulah kalian berdua," ucapnya dengan suara cukup tenang.
Adinda berdiri tegak di hadapan mereka. Tidak tergesa, dan cukup tenang. Tatapannya berpindah dari wajah Tiara… lalu berhenti pada Sintia.
“Akhirnya,” ucapnya pelan, “semuanya kelihatan jelas.”
Tiara tersenyum tipis. Tidak terkejut. Justru seperti sudah menunggu momen itu. “Kamu lebih cepat dari yang aku kira,” balasnya santai.
Sintia tidak langsung bicara. Wajahnya menegang, tapi ia berusaha tetap terlihat tenang.
“Kamu gak seharusnya ada di sini, Dinda.”
Adinda terkekeh pelan. Hampa.
“Lucu sekali,” katanya. “Orang yang nyulik… malah bilang aku gak seharusnya datang.”
Kalimat itu langsung memotong suasana.
Beberapa penjaga saling melirik. Pak Arbani yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya langsung mencari Adinda—dan saat menemukannya, ada kelegaan yang tak bisa disembunyikan.
“Mbak Dinda...” suaranya serak.
Langkah Adinda maju satu lagi. “Tenang, Pak. Saya di sini.”
Tiara bertepuk tangan pelan, sekali… dua kali.
“Manis sekali,” sindirnya. “Sampai sekarang masih pura-pura jadi penyelamat.”
Adinda menoleh. Tatapannya tajam lalu bibirnya terangkat sedikit.
“Pura-pura?” ulangnya. “Atau kamu yang terlalu lama hidup dalam kepalsuan?”
Senyum Tiara memudar sedikit. “Jangan sok suci, Dinda,” balasnya lebih dingin. “Kalau bukan karena ayahmu, kamu gak akan punya apa-apa.”
"Justru karena aku anak Papa," potong Adinda cepat. “Dan kamu pikir semua itu jadi milikmu?”
Adinda melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah, tatapanya santai tidak tajam tapi dingin.
“Sejak kapan jadi anak sambung berarti berhak mengambil semuanya?” lanjutnya.
Nada suaranya tetap rendah. Tapi setiap kata terasa menekan. Tiara tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras.
Sintia akhirnya ikut bicara. “Kamu gak ngerti posisi kami,” ucapnya. “Selama kamu hilang ingatan, siapa yang jaga kamu? Siapa yang kasih tempat?”
Adinda menoleh pelan. Tatapannya berubah.
Bukan marah, lebih seperti kaget.
“Jaga?” ulangnya pelan. “Atau manfaatin?”
Sintia terdiam, jari-jemarinya perlahan mengepal kuat, seolah tidak terima. Ingin melawan tapi ... semua kedoknya sudah dikuliti.
Sementara Adinda tidak berhenti.
“Kalau benar menjaga… kenapa semua aksesku ditutup?” lanjutnya. “Kenapa semua keputusan selalu diambil tanpa aku tahu?”
Suasana mulai berubah. Para penjaga tidak lagi setenang tadi. Dan di sudut ruangan, Naya yang sejak tadi diam, perlahan menurunkan ponselnya.
Tatapannya singkat ke arah Adinda. Isyarat kecil. Semuanya… sudah siap.
Tiara menyadarinya. “Jangan sok menang dulu,” ucapnya tajam. “Kamu datang cuma berdua.”
Adinda mengangkat sudut bibirnya sedikit.
“Siapa bilang?”
Kalimat itu baru saja selesai— Suara langkah kaki terdengar dari luar. Cepat dan teratur.
Pintu belakang terbuka keras. Beberapa pria masuk. Gerakannya tegas, langsung menguasai posisi.
Para penjaga yang tadi berdiri mulai panik. Sebagian mencoba bergerak, tapi sudah terlambat.
“Turun!” bentak salah satu dari mereka.
Situasi berubah dalam hitungan detik. Tiara mundur satu langkah.
“Ini apa—”
“Selesai,” potong Adinda. Tidak keras. Tapi mutlak.
Sintia terlihat pucat, kakinya bergetar hebat seolah tidak mampu lagi memijak ke bumi. “Dinda… kamu—”
“Kali ini gak ada yang bisa ditutupin lagi,” balas Adinda, dan anakmu harus tahu tentang ini," ucap Adinda sedikit mengancam.
"Jangan....," suaranha tercekat.
Adinda tidak menanggapi. Ia berjalan ke arah Pak Arbani. Tangannya dengan cepat melepaskan ikatan di pergelangan pria itu.
“Maaf, Pak. Saya telat.”
Pak Arbani menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca.
“Mbak Dinda, akhirnya…”
Adinda membantu beliau berdiri. Di belakangnya, suara gaduh mulai mereda. Semua sudah terkendali.
Tiara masih berdiri di tempatnya. Tatapannya berubah. Tidak lagi meremehkan.
“Kamu pikir ini selesai?” ucapnya pelan.
Adinda menoleh. Tatapannya lurus.
“Bukan pikir,” jawabnya. “Ini memang selesai.”
Ia berhenti sejenak. Lalu menambahkan—
“Dan setelah ini… semuanya akan terbuka. Termasuk siapa aku sebenarnya.”
Kalimat itu menggantung di udara—dan tidak ada satu pun yang berani mematahkannya.
Bersambung.....