NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Rahasia Terakhir Mia

# BAB 31: Rahasia Terakhir Mia

Aisha merasa dunia berhenti berputar. Kata-kata Mia masih menggantung di udara, membeku, seolah menunggu untuk diserap oleh akal sehat yang mulai goyah.

“Apa?” bisik Aisha, hampir tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Mia menunduk, tangannya yang memegang ujung selimut mulai gemetar. “Cahaya... dia tidak mati karena sakit. Aku yang membunuhnya.”

Aisha mundur selangkah, punggungnya menyentuh dinding ruangan. Ia merasa dadanya sesak, napasnya terasa berat. “Mia, apa maksudmu? Bagaimana mungkin kau...”

Mia mengangkat wajahnya, air mata mengalir deras di pipinya yang pucat. “Bukan sengaja, Aisha. Aku tidak sengaja. Aku tidak pernah bermaksud...”

“Cerita dari awal, Mia. Aku harus tahu semuanya.”

Mia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Tangannya meraih gelas air di samping tempat tidur, meneguknya pelan, lalu meletakkannya kembali dengan tangan yang masih gemetar.

“Setelah Sari meninggal, aku yang merawat Cahaya. Aku tinggal bersamanya di kontrakan kecil di Bandung. Aku bekerja serabutan, kadang jualan kue, kadang jadi asisten rumah tangga. Aku tidak punya banyak uang, tapi aku berusaha.”

Aisha duduk di kursi di hadapan Mia, mendengarkan dengan saksama.

“Cahaya sakit-sakitan sejak lahir, Aisha. Dia sering masuk angin, sering demam, sering kejang. Dokter bilang dia butuh perawatan intensif, tapi aku tidak punya uang. Aku sudah minta tolong pada keluarga angkat Arka. Mereka bilang mereka tidak peduli. Mereka bilang biarkan anak itu mati.”

“Dan kau?”

“Aku tidak bisa menerima itu. Aku berusaha. Aku bekerja lebih keras, aku berhutang ke sana-sini. Tapi uang tidak pernah cukup. Suatu malam, Cahaya kejang-kejang. aku panik. Aku tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit. Aku tidak punya telepon untuk minta tolong. Aku sendirian, Aisha. Tidak ada yang membantu.”

Suara Mia pecah. Ia terisak, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku gendong Cahaya, aku lari ke luar rumah, aku cari rumah sakit. Tapi jalannya gelap, aku jatuh, dan Cahaya... kepalanya terbentur aspal.”

Aisha menutup mulutnya dengan tangan.

“Dia tidak langsung mati, Aisha. Dia menangis, lalu diam, lalu kejang lagi. Aku bawa dia ke rumah sakit, tapi dokter bilang sudah terlambat. Pendarahan di otak. Tidak bisa diselamatkan.”

“Mia...”

“Aku bunuh dia, Aisha. Aku yang bunuh dia. Kalau saja aku tidak jatuh, kalau saja aku lebih hati-hati, mungkin dia masih hidup.”

Mia terisak histeris. Aisha duduk di sampingnya, memeluknya. Tidak ada kata-kata yang bisa menghibur. Hanya kehadiran, hanya pelukan yang mencoba menenangkan badai di dalam diri Mia.

“Kenapa kau tidak pernah cerita pada Arka?” tanya Aisha lembut.

“Karena aku takut, Aisha. Aku takut Arka akan membenciku. Aku takut dia akan menganggapku pembunuh. Aku sudah kehilangan segalanya. Aku tidak mau kehilangan kakakku juga.”

“Tapi kau menyembunyikan kebenaran selama bertahun-tahun, Mia. Arka berhak tahu.”

“Aku tahu. Tapi aku tidak punya keberanian. Hingga sekarang, ketika aku hampir mati di rumah sakit ini, aku sadar bahwa aku tidak bisa membawa rahasia ini ke liang kubur. Aisha, tolong... jangan bilang Arka. Aku belum siap.”

Aisha menghela napas panjang. “Mia, aku tidak bisa berjanji. Arka adalah suamiku. Kami tidak punya rahasia lagi. Tapi aku juga tidak akan memaksamu. Kau yang harus bicara padanya, ketika kau siap.”

Mia mengangguk. “Aku akan bicara. Aku janji. Tapi beri aku waktu.”

---

Aisha keluar dari ruang Mia dengan perasaan campur aduk. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, kepalanya dipenuhi oleh pengakuan Mia. Cahaya mati karena kecelakaan. Mia yang menjatuhkannya. Mia yang tidak sengaja membunuhnya.

Apakah ini yang dimaksud Ren dengan "kebenaran tentang kematian Cahaya"? Apakah ini yang selama ini disembunyikan Mia? Lalu mengapa Sari menulis surat bahwa keluarga angkat Arka yang membiarkan Cahaya mati? Apakah Sari tidak tahu kebenarannya? Atau Sari sengaja menutupi Mia?

Terlalu banyak pertanyaan. Terlalu sedikit jawaban.

Aisha duduk di bangku taman rumah sakit, membuka ponselnya. Arka sudah mengirim beberapa pesan, menanyakan kabarnya. Ia membalas singkat, *“Aku baik-baik saja. Mia juga baik. Aku akan pulang sekarang.”*

Ia tidak menceritakan pengakuan Mia. Bukan karena ia ingin menyembunyikan, tapi karena ia ingin Mia yang bicara langsung pada Arka. Itu adalah hak Mia. Itu adalah bagian dari proses penyembuhannya.

---

Di rumah, Arka sudah menunggu dengan cemas. Begitu Aisha masuk, ia langsung berdiri. “Bagaimana Mia? Apa yang dia bilang?”

Aisha duduk di sofa, meletakkan tasnya di samping. “Mia baik-baik saja. Dia sudah mulai mau bicara. Tapi dia belum siap bertemu denganmu.”

“Kenapa?” Arka mengerutkan kening.

“Dia... dia punya banyak beban, Arka. Beban yang harus dia lepaskan. Tapi dia butuh waktu.”

“Apa beban itu?”

Aisha menatap Arka lama. Ia ingin berkata jujur, tapi ia juga ingin menghormati permintaan Mia. “Aku tidak bisa bilang, Arka. Itu rahasia Mia. Tapi aku janji, suatu hari nanti dia akan memberitahumu. Langsung darinya.”

Arka terdiam. Ia duduk di samping Aisha, meraih tangannya. “Aku percaya padamu, Aisha. Jika kau bilang Mia butuh waktu, aku akan memberinya waktu.”

“Terima kasih, Arka.”

Mereka berdua diam, saling menggenggam tangan. Di luar, langit mulai gelap, hari berganti malam.

---

Dua minggu berlalu. Mia menunjukkan kemajuan yang signifikan. Ia sudah tidak perlu di ruang isolasi lagi. Ia sudah bisa berjalan-jalan di taman rumah sakit, berbicara dengan pasien lain, bahkan tertawa kecil ketika perawat bercanda.

Aisha menjenguknya setiap dua hari sekali. Kadang sendirian, kadang dengan Baskara. Mia sangat senang ketika Baskara datang. Ia memeluk keponakannya erat-erat, menangis haru, dan berjanji akan membuatkan kue kering untuknya begitu keluar dari rumah sakit.

“Bibi Mia, cepat sembuh ya,” kata Baskara polos. “Aku kangen kue kering bibimu.”

“Iya, Nak. Bibi akan cepat sembuh. Bibi janji.”

Aisha tersenyum melihat interaksi mereka. Mia benar-benar berubah. Wanita yang dulu penuh amarah dan kebencian, kini menjadi pribadi yang lebih lembut. Mungkin karena terapi, mungkin karena obat, atau mungkin karena ia akhirnya melepaskan beban yang selama ini ia pendam.

Tapi Aisha tahu, beban terbesar Mia—pengakuan tentang Cahaya—belum ia lepaskan. Mia masih memendamnya, masih takut untuk mengaku pada Arka.

---

Suatu sore, ketika Aisha sedang menjenguk Mia sendirian, Mia berkata, “Aisha, aku sudah siap.”

“Siap untuk apa?”

“Siap bicara dengan Arka. Aku sudah tidak bisa menyimpan rahasia ini lebih lama lagi.”

Aisha menghela napas lega. “Baik. Aku akan beri tahu Arka. Kapan kau ingin bertemu?”

“Besok. Aku mau bicara dengannya di sini, di taman rumah sakit. Aku tidak mau di dalam ruangan. Terlalu pengap.”

“Baik. Aku akan atur.”

---

Keesokan harinya, Arka datang ke rumah sakit dengan wajah tegang. Aisha sudah memberitahunya bahwa Mia ingin bicara, tapi tidak menjelaskan tentang apa. Arka tidak banyak bertanya. Ia hanya mengangguk dan berkata, “Aku siap.”

Mereka bertiga duduk di taman rumah sakit, di bawah pohon rindang yang menaungi bangku kayu. Burung-burung berkicau di kejauhan, angin berhembus pelan. Suasana yang tenang, kontras dengan badai yang akan segera pecah.

Mia duduk di hadapan Arka, tangannya gemetar memegang ujung bajunya. Aisha duduk di samping Mia, memberinya dukungan moral.

“Arka,” Mia memulai, suaranya bergetar. “Aku mau cerita sesuatu. Tentang Cahaya.”

Arka menegang. “Apa tentang Cahaya?”

“Cahaya... dia tidak mati karena sakit.”

Arka mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Mia menunduk. Air matanya jatuh. “Cahaya mati karena aku. Aku yang menjatuhkannya. Aku yang tidak sengaja membunuhnya.”

Arka membeku. Wajahnya berubah dari tegang menjadi pucat, dari pucat menjadi hancur. “Apa?”

“Waktu itu, Cahaya kejang-kejang. Aku panik. Aku gendong dia, aku lari ke luar rumah, aku cari rumah sakit. Tapi jalannya gelap, aku jatuh, dan Cahaya... kepalanya terbentur aspal.”

Arka tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Mia dengan mata kosong.

“Aku bawa dia ke rumah sakit, tapi dokter bilang sudah terlambat. Pendarahan di otak. Tidak bisa diselamatkan.” Mia terisak. “Aku bunuh dia, Arka. Aku yang bunuh dia. Maafkan aku. Maafkan aku.”

Arka berdiri. Ia berjalan menjauh, beberapa langkah, lalu berhenti. Bahunya naik-turun, napasnya memburu. Aisha ingin menghampiri, tapi Mia menarik tangannya.

“Biarkan, Aisha. Dia butuh waktu.”

Arka berbalik. Wajahnya basah, tapi tidak marah. Matanya penuh luka, tapi juga penuh kasihan.

“Mia,” suaranya parau. “Kenapa kau tidak pernah bilang?”

“Karena aku takut, Arka. Aku takut kau akan membenciku. Aku takut kau akan menganggapku pembunuh.”

“Kau bukan pembunuh, Mia. Kau hanya manusia yang sedang panik. Kau tidak sengaja. Itu bukan salahmu.”

“Tapi kalau saja aku lebih hati-hati, mungkin Cahaya masih hidup.”

“Kita tidak akan pernah tahu, Mia. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang adalah kau mau mengaku. Itu sudah lebih dari cukup.”

Mia terisak, berdiri, dan berlari memeluk Arka. Kakak beradik itu berpelukan di taman rumah sakit, menangis bersama, melepaskan semua beban yang selama ini mereka pendam.

Aisha menangis juga, menyaksikan mereka dari kejauhan.

---

Setelah tangis mereka mereda, Mia dan Arka duduk kembali di bangku. Aisha bergabung, duduk di samping Arka.

“Arka, aku minta maaf untuk semuanya,” kata Mia. “Untuk kebohonganku, untuk ketakutanku, untuk semua yang aku sembunyikan.”

“Kau sudah minta maaf, Mia. Dan aku sudah memaafkanmu. Sekarang, fokus pada kesembuhanmu. Aku tidak mau kehilangan adikku lagi.”

Mia tersenyum, air matanya masih mengalir. “Terima kasih, Arka. Terima kasih, Aisha. Kalian sudah banyak membantuku.”

“Itu tugas kami sebagai keluarga,” kata Aisha. “Keluarga saling menjaga.”

Mereka bertiga duduk di taman, menikmati sore yang semakin senja. Langit berwarna jingga kemerahan, burung-burung terbang pulang ke sarangnya.

“Mia,” kata Arka setelah beberapa lama. “Aku sudah melaporkan keluarga angkatku ke polisi. Mereka akan diproses hukum. Aku tidak tahu hasilnya, tapi setidaknya ada keadilan untukmu dan Sari.”

“Terima kasih, Arka. Itu sudah lebih dari cukup.”

---

Aisha dan Arka pulang saat malam mulai turun. Di mobil, mereka tidak banyak bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Sesampainya di rumah, Baskara sudah tidur. Aisha dan Arka duduk di ruang tamu, ditemani secangkir teh hangat.

“Aisha, terima kasih sudah membantu Mia menemukan keberanian untuk bicara.”

“Aku hanya melakukan yang benar, Arka. Mia butuh waktu, dan kita memberinya waktu.”

“Aku bersyukur Mia masih punya kita.”

“Aku juga bersyukur, Arka.”

Mereka berdua tersenyum.

---

Dua minggu kemudian, Mia keluar dari rumah sakit. Kondisinya sudah stabil, dan dokter mengizinkannya untuk rawat jalan. Arka menjemputnya, membawanya ke rumah perlindungan yang baru—sebuah apartemen kecil di kawasan Jakarta Selatan, dekat dengan rumah Aisha dan Arka.

Mia menangis haru ketika melihat apartemen itu. “Ini terlalu bagus untukku, Arka.”

“Kau pantas mendapat yang bagus, Mia. Kau sudah cukup menderita.”

Aisha membantu Mia membersihkan apartemen, menata perabotan, dan memasak makanan pertama di dapur barunya. Mia tersenyum, untuk pertama kalinya, senyum yang tulus tanpa beban.

“Aisha, terima kasih untuk semuanya. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.”

“Kau tidak perlu membalas apa pun, Mia. Cukup bahagia. Itu adalah balasan terbaik untuk kami.”

Mia memeluk Aisha, tidak mau melepaskan.

---

Malam harinya, di rumah, Aisha dan Arka berbaring di tempat tidur. Lampu kamar hanya satu yang menyala, memberikan cahaya temaram.

“Aisha, apa kau bahagia?” tanya Arka.

“Bahagia, Arka. Aku tidak pernah sebahagia ini.”

“Aku juga. Meskipun banyak masalah, banyak luka, banyak air mata... aku bahagia karena aku punya kamu. Punya Baskara. Punya Mia.”

“Kita bahagia karena kita memilih untuk bahagia, Arka. Bukan karena hidup kita sempurna.”

Arka tersenyum, meraih tangan Aisha, dan menciumnya.

“Aku mencintaimu, Aisha.”

“Aku juga mencintaimu, Arka. Sampai kapan pun.”

Mereka berdua memejamkan mata, berdoa dalam hati untuk masa depan yang lebih cerah.

Di kejauhan, bintang-bintang bertaburan, bulan tersenyum tipis.

Badai telah berlalu. Luka telah sembuh.

Dan mereka, yang pernah hancur, kini utuh kembali.

Bersama.

---

Pukul dua dini hari, ponsel Aisha berdering. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkat dengan suara masih mengantuk.

“Halo?”

“Selamat pagi, Bu Aisha. Maaf mengganggu di tengah malam. Ini Suster Dewi dari Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa.”

Aisha duduk, jantungnya berdegup kencang. “Ada apa, Suster?”

“Pasien Mia... dia kembali ke rumah sakit tadi malam. Dia datang sendiri, dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. Dia bilang ada yang mengejarnya. Kami sudah merawatnya, tapi dia tidak mau bicara. Dia hanya terus mengulang satu nama.”

“Nama siapa?”

“Sari. Dia bilang, 'Sari tidak mati. Sari masih hidup. Aku harus menyelamatkannya sebelum mereka membunuhnya lagi.'”

Aisha membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir.

1
Nesya
kapok aisha
M F91: hai ka makasih sudah meramaikan komen dari hasil karyaku yang masih pemula
total 1 replies
Agus Tina
Tetap semangat thor ..
M F91: siap kaka
terimakasih untuk suportnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!