NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Pria itu belum pergi.

Ia masih berdiri di ujung lorong, tegak dan tenang, seolah rumah sakit itu hanyalah wilayah yang sedang ia singgahi, bukan tempat yang bisa mengatur langkahnya. Tatapannya tetap tertuju pada Marsha, tajam namun sulit dibaca.

Marsha berniat melewatinya, tetapi suara pria itu kembali menghentikannya. “Kalau dia sadar, hubungi saya.” Nada suaranya datar, rendah, dan terdengar seperti kebiasaan seseorang yang terbiasa memberi instruksi.

Marsha menoleh perlahan. “Rumah sakit punya prosedur. Kami tidak memberikan informasi pasien kepada sembarang orang.”

Tatapan pria itu berubah tipis, bukan tersinggung, melainkan seperti tertarik. “Saya bukan sembarang orang.”

Marsha menyilangkan tangan di dada, wajahnya tetap tenang. “Semua orang penting selalu mengatakan hal yang sama.”

Keheningan singkat tercipta.

Bukan keheningan yang canggung, melainkan seperti dua orang yang sama-sama sedang saling menilai, Lalu pria itu mengulurkan sebuah kartu nama berwarna hitam. Sederhana, tanpa logo mencolok, hanya sebuah nama yang terukir dengan huruf perak.

Marsha menerima kartu itu, membaca sekilas, lalu mengangkat pandangan. “Reinhard?”

“Adik saya.” Jawaban itu membuat Marsha terdiam sesaat.

Jadi pria di hadapannya bukan pasien yang baru ia operasi, namun anehnya, aura dingin dan tekanan yang ia rasakan justru jauh lebih kuat dari pria yang terbaring di ruang ICU.

Sebelum percakapan mereka berlanjut, suara langkah tergesa memecah suasana.

Seorang perawat berlari dari arah ICU, napasnya memburu. “Dokter Marsha, pasien mengalami peningkatan tekanan intrakranial!”

Ekspresi Marsha berubah seketika.

Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan melangkah cepat menuju ICU. Namun belum beberapa langkah, suara langkah lain mengikuti di belakangnya.

“Area ini steril. Anda tidak bisa masuk,” ujar Marsha tegas tanpa menoleh.

Namun pria itu tetap berjalan.

“Kalau adik saya mati, tidak ada seorang pun di rumah sakit ini yang bisa tidur tenang.”

Kali ini Marsha berhenti.

Ia berbalik, menatap Leon lurus dengan sorot dingin yang tak kalah mengintimidasi. “Kalau Anda mengganggu saya bekerja,” ucapnya tenang, “justru adik Anda yang akan mati.”

Untuk pertama kalinya, Leon terdiam benar-benar diam tak berani membantah, seolah belum pernah ada yang berbicara padanya dengan nada seperti itu.

Marsha mendorong pintu ICU dan segera masuk bersama tim medis, Monitor berbunyi cepat, ritmenya tak beraturan.

Suasana mendadak menegang.

Reinhard yang semula tak sadar kini menunjukkan reaksi tak stabil, jemarinya bergerak samar, kelopak matanya bergetar, Marsha mendekat untuk memeriksa pupilnya.

Namun tiba-tiba tangan Reinhard terangkat lemah.

Dalam satu gerakan nyaris refleks, jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Marsha, semua orang di ruangan itu membeku.

Kelopak mata pria itu terbuka sedikit, tatapan gelap dan samar, seperti terjebak di antara sadar dan mimpi, jatuh tepat ke wajah Marsha.

Bibir pucat itu bergerak pelan. “H… akhirnya aku menemukanmu.” kalimat itu nyaris hanya berupa bisikan.

Namun cukup membuat udara di ruangan terasa berhenti dan di detik berikutnya monitor menjerit keras.

BEEEEEP—

“Code blue!”

Ruangan mendadak kacau.

Sementara di balik pintu kaca ICU, Leon yang menyaksikan semuanya untuk pertama kalinya tampak kehilangan kendali. Dan tanpa seorang pun menyadari, malam itu bukan hanya menyelamatkan nyawa Reinhard, melainkan juga membuka awal dari takdir yang jauh lebih rumit.

---

“Code blue!”

Suara itu memecah udara, namun di dalam ruang ICU tak ada kepanikan yang benar-benar lepas kendali. Semua bergerak cepat, terukur, seperti mesin yang bekerja di bawah satu komando.

Dan pusat dari semua itu adalah Marsha.

“Epinephrine.”

Tangannya terulur tanpa menoleh, menerima alat yang diberikan asistennya. Tatapannya tak lepas dari monitor, membaca setiap perubahan ritme jantung dengan fokus yang nyaris dingin.

“Siapkan ventilasi.” Instruksi demi instruksi keluar singkat dan tegas, tak ada keraguan untuk kesalahan.

Di balik pintu kaca ICU, Leon berdiri membeku, wajahnya tetap keras, namun tangan yang mengepal di sisi tubuhnya perlahan menegang, buku-buku jarinya memutih.

Pria itu mungkin terbiasa menghadapi ancaman, terbiasa mengendalikan situasi. Namun melihat Reinhard, adik satu-satunya, kembali berada di ambang kehilangan, ada sesuatu yang bahkan tak mampu ia kuasai.

Sementara di dalam ruangan, Marsha seolah menutup seluruh dunia di luar dirinya, baginya, di atas ranjang itu tak ada Reinhard dengan segala misterinya.

Tak ada pria yang sebelumnya menggenggam tangannya dan mengucapkan kata-kata aneh sebelum kolaps yang ada hanya seorang pasien dan ia belum mengizinkan pasiennya mati.

“Sekali lagi.”

Defibrilator ditempelkan.

“Clear.”

Tubuh Reinhard terangkat sesaat monitor itu kembali melonjak naik dan turun, lalu hening sepersekian detik yang terasa begitu panjang, semua orang menahan nafas dan kemudian.

Bip.

Bip.

Bip.

Irama itu kembali dengan stabil, seolah kehidupan yang tadi nyaris terlepas, akhirnya dipaksa pulang ke tubuh yang masih menolak menyerah.

Di dalam ruang operasi, monitor kembali memantulkan ritme yang teratur, menghadirkan bunyi yang sejak tadi dinanti semua orang.

Seketika ruangan dipenuhi helaan napas lega yang tertahan begitu lama, seolah seluruh tim baru berani bernapas setelah berdiri di tepi jurang kehilangan.

Namun Marsha belum mundur, Ia tetap menatap monitor beberapa saat, memastikan setiap angka bertahan pada jalurnya, baru setelah tekanan darah mulai stabil dan saturasi perlahan naik, ia melepas sarung tangannya.

“Pasien berhasil distabilkan,” ucapnya tenang. “Observasi ketat. Jangan tinggalkan dia sendirian.”

Setelah itu, ia melangkah keluar.

Pintu ICU terbuka.

Dan Leon masih berdiri di sana, seolah sejak tadi tak pernah bergeser sedikitpun, tatapan pria itu langsung jatuh padanya.

Marsha berhenti di hadapannya. “Adik Anda selamat,” katanya datar, meski lelah samar mulai terlihat di wajahnya. “Setidaknya untuk malam ini.”

Leon tidak langsung menjawab, Ia hanya menatap Marsha lama, terlalu lama, seolah sedang menilai sesuatu yang baru saja berubah, ketika akhirnya bicara, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Anda menyelamatkan nyawa Reinhard dua kali malam ini.”

Marsha tak menanggapi pujian itu, baginya itu hanya bagian dari pekerjaannya.

Namun kalimat Leon berikutnya membuat suasana berubah. “Saya tidak melupakan utang.”

Marsha mengangkat alis tipis. “Saya tidak bekerja untuk menagih utang, Tuan Leon.”

Ia hendak berlalu, namun suara Leon kembali menahannya. “Reinhard tidak pernah menyentuh siapa pun saat tak sadar.”

Langkah Marsha terhenti perlahan ia menoleh. “Apa maksud Anda?”

Tatapan Leon bergeser ke balik kaca ICU, ke arah adiknya yang kini kembali terbaring tenang.

“Kalau dia menggenggam tangan Anda…”

ia berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan kata-katanya sendiri. “…berarti dia mengenali sesuatu.”

Marsha tidak menjawab.

Namun entah kenapa, kalimat itu tak bisa begitu saja ia abaikan, karena di dalam ruang ICU, seolah menjawab percakapan yang tak seharusnya didengar itu, jari Reinhard bergerak samar sangat lemah.

Nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat perawat yang berjaga membeku. “Dokter…” Suara itu memanggil pelan.

Marsha dan Leon menoleh bersamaan, perawat itu menatap monitor, lalu menatap tangan Reinhard yang bergerak sekali lagi, seolah bahkan dalam setengah sadar, pria itu masih mencari tangan yang tadi sempat ia genggam.

1
Nesya
apakah liam jodohnya marsha 😁
Forta Wahyuni
gk slh thor, tapi marsha anak bungsu n koq manggil adik sama archio.
羽菜 Hana: iya kak ada kesalahan, Terimakasih banyak untuk koreksinya.
total 1 replies
Nesya
ahh mewek 😭
Nesya
ngeriii kok ada y ibu yang hatinya seperti iblis binatang aja g tega membuang anaknya loh miris kali
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!