NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Penampakan Pintu Rahasia Yang Mengejutkan

Barang itu… rasanya mustahil jika ia membawanya ke mana-mana. Tempat paling logis untuk menyimpannya tentu saja di dapur, agar mudah dijangkau setiap kali hendak digunakan.

Tanpa ragu, aku mulai membongkar satu per satu bungkusan obat herbal yang belum sempat direbus. Sambil membukanya, aku mencermati isinya dengan saksama, bahkan membandingkan komposisi tiap bungkus. Dugaan awalku terbukti semuanya sama persis, tidak ada perbedaan sedikit pun.

Namun, rasa curiga di dalam hatiku belum juga mereda. Ada sesuatu yang terasa janggal, seolah ada bagian penting yang luput dari pengamatanku.

Dengan langkah mantap, aku berjalan menuju kamar Zhiyi Pingkan. Sejujurnya, aku jarang sekali menginjakkan kaki di sana. Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalamnya membuatku sedikit tertegun barang-barangnya begitu banyak, memenuhi hampir setiap sudut ruangan. Lemari pakaiannya bahkan tampak penuh sesak, seakan tak menyisakan ruang lagi.

Aku mulai memeriksa secara singkat, membuka laci demi laci, menyibak pakaian demi pakaian. Namun, tak satu pun benda milik Dean Junxian yang kutemukan di sana.

Sudah terlalu lama dia tinggal di rumah ini… sampai-sampai ia bertingkah seolah-olah benar-benar bagian dari keluarga. Lebih dari itu, ambisinya pun semakin jelas ia ingin mengambil alih posisi sebagai nyonya rumah.

Pandangan mataku lalu jatuh pada meja rias. Di atasnya tersusun rapi berbagai kosmetik bermerek mahal. Di antara semua itu, ada sebotol parfum yang begitu familiar persis sama dengan milikku.

Aku menyipitkan mata, kecurigaanku semakin menguat. Barang-barang ini jelas tidak muncul begitu saja. Pasti ada seseorang yang menyediakannya.

Dan tanpa perlu berpikir panjang, aku sudah tahu siapa dalangnya.

Dean Junxian.

Namun, aku tidak punya cukup waktu untuk menelusuri semua itu lebih dalam. Prioritasku saat ini adalah menemukan sesuatu apa pun yang bisa menjadi bukti. Aku pun kembali menggeledah kamar itu dengan lebih teliti, memeriksa setiap sudut, setiap celah, seakan tak ingin meninggalkan satu inci pun tanpa diperiksa.

Sayangnya, semua usahaku berakhir sia-sia. Tidak ada satu pun hal mencurigakan yang berhasil kutemukan.

Rasa lelah perlahan menggerogoti tubuhku. Pandanganku mulai berkunang-kunang, langkahku goyah. Jangankan berjalan, untuk berdiri tegak saja rasanya hampir mustahil. Detak jantungku berpacu tak karuan, seolah hendak meloncat keluar dari dada.

Akhirnya, aku terduduk lemas di lantai, mencoba mengatur napas yang semakin tidak teratur.

Apa mungkin… obat itu sudah habis?

Jika memang begitu, lalu bagaimana dengan hasil tes laboratorium pada jamu tersebut? Mengapa tidak ditemukan jejak zat kimia apa pun di dalamnya?

Pikiran-pikiran itu berputar liar di kepalaku, menolak untuk diam.

Dilihat dari situasi dua hari terakhir, tampaknya mereka belum menyadari bahwa aku sudah sepenuhnya sadar. Selama ini aku bertindak sangat hati-hati, menutupi setiap gerak-gerikku. Seharusnya tidak ada celah yang cukup mencolok untuk menimbulkan kecurigaan.

Demi memastikan semuanya, aku akhirnya memberanikan diri mengambil ponselku. Dengan sedikit ragu, aku menghubungi Dean Junxian.

Nada sambung terdengar cukup lama, membuat jantungku semakin gelisah. Hingga akhirnya, panggilanku diangkat.

Tanpa basa-basi, aku langsung menanyakan kondisi Sonika. Dari seberang, ia menjawab dengan nada datar bahwa Sonika mengalami pneumonia akut dan saat ini sedang menjalani infus.

Mendengar itu, dadaku seketika terasa sesak.

Aku segera melanjutkan pertanyaan, menanyakan kapan infusnya akan selesai dan apakah ia perlu dirawat inap.

Dean Junxian mengatakan bahwa dokter menyarankan Sonika untuk diobservasi terlebih dahulu. Nada suaranya terdengar tenang, seolah ingin meyakinkanku bahwa tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Ia bahkan berulang kali menegaskan agar aku tidak terlalu cemas.

Setelah panggilan itu berakhir, aku menatap layar ponselku yang perlahan meredup. Entah kenapa, hatiku justru terasa campur aduk. Di satu sisi, aku sedikit lega karena kini bisa memperkirakan situasinya mereka tidak akan pulang dalam waktu dekat. Namun di sisi lain, ada perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Aku sendiri tidak tahu, apakah harus merasa bersyukur atau justru semakin gelisah.

Aku terdiam beberapa saat, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan. Lalu, dengan sisa tenaga yang kupaksakan, aku bangkit berdiri. Gigiku terkatup rapat, menahan rasa lemah yang terus menyerang tubuhku.

Aku tidak boleh menyerah.

Anakku tidak boleh jatuh sakit tanpa alasan yang jelas.

Aku harus memanfaatkan waktu ini sebanyak mungkin, secepat mungkin.

Tatapanku kembali menyapu setiap sudut ruangan dengan lebih teliti. Tidak ada satu pun tempat yang luput dari perhatianku. Semua area yang sekiranya bisa digunakan untuk menyimpan cairan atau benda mencurigakan sudah kuperiksa berulang kali. Namun hasilnya tetap sama kosong. Nihil.

Napas ku mulai memburu. Dengan tubuh yang semakin terasa berat, aku menyandarkan diri di sisi lemari pakaian, mencoba mengumpulkan tenaga sejenak.

Namun tiba-tiba

Lemari itu bergeser.

Hanya sedikit, tapi cukup untuk membuatku tersentak kaget. Jantungku langsung berdebar keras.

Aku menatapnya lekat-lekat, keningku berkerut. Lemari sebesar dan seberat ini… bagaimana mungkin bisa bergerak hanya karena sandaran ringan dariku?

Rasa penasaran perlahan mengalahkan rasa lelah.

Dengan hati-hati, aku mengulurkan tangan dan mendorong permukaan lemari itu. Dan yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaanku lemari itu meluncur dengan sangat ringan, seolah-olah memang dirancang untuk digeser.

Di baliknya…

Sebuah pintu rahasia tersembunyi.

Aku terpaku di tempat, napasku tertahan. Otakku seakan berhenti bekerja sejenak, tak mampu mencerna apa yang baru saja kulihat.

Bagaimana mungkin… selama ini aku tidak pernah menyadari keberadaan pintu ini?

Apa sebenarnya yang disembunyikan di rumah ini?

Pandangan mataku terpaku pada celah sempit itu. Pintu tersebut berbentuk pintu geser, cukup untuk dilewati satu orang. Perlahan, aku mencoba menenangkan diri, memaksa pikiranku kembali bekerja.

Denah rumah ini…

Kamar pembantu ini seharusnya bersebelahan dengan—

Ruang kerja.

Jantungku kembali berdegup lebih cepat.

Dengan tangan sedikit gemetar, aku menggeser pintu itu. Namun alih-alih langsung menemukan ruangan di baliknya, yang terlihat justru hanyalah dinding lain. Aku sempat mengernyit bingung, hingga akhirnya menyadari sesuatu.

Itu bukan dinding.

Melainkan bagian belakang sebuah rak buku.

Keheningan kembali menyelimuti, kali ini terasa jauh lebih mencekam.

Mengumpulkan keberanian yang tersisa, aku mendorong permukaan tersebut. Seketika, rak buku itu bergerak—berputar perlahan seperti pintu tersembunyi, membuka akses menuju ruangan di sisi lain.

Sebuah ruang kerja.

Aku melangkah masuk dengan hati-hati, mataku langsung menyapu sekeliling. Dugaan yang tadi sempat terlintas kini terkonfirmasi ini memang ruang kerja milik Dean Junxian. Dan “pintu” tadi… adalah rak buku yang terletak tepat di belakang kursinya. Jika tertutup rapat, tidak akan ada siapa pun yang menyangka bahwa ada jalan rahasia di sana.

Aku berdiri mematung di tempat, menatap rak buku itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Perlahan, semua kepingan kecurigaan yang selama ini berserakan di benakku mulai tersusun rapi.

Kini, semuanya terasa masuk akal.

Dan pada saat itu juga, aku tahu

Ada sesuatu yang besar sedang disembunyikan di balik semua ini.

Pantas saja malam itu aku sempat dibuat bingung. Aku melihat dengan jelas Dean Junxian melangkah masuk ke kamar Zhiyi Pingkan, tetapi tak lama kemudian, ia sudah berada di dalam ruang kerja, seolah berpindah tempat dalam sekejap. Saat itu aku mengira hanya salah lihat, namun kini semuanya terasa begitu terang.

Sekarang aku mengerti… itulah alasan mengapa pintu ruang kerja itu selalu terkunci rapat. Bukan semata-mata untuk menjaga privasi, melainkan untuk menutupi keberadaan jalur tersembunyi ini. Semua kepingan yang sebelumnya terasa janggal, kini perlahan tersusun menjadi satu penjelasan yang utuh.

Sepertinya, kebiasaannya mengunci setiap laci di ruangan ini juga bukan tanpa alasan. Mungkin itu bentuk kewaspadaannya terhadap Zhiyi Pingkan atau bahkan terhadap siapa pun yang berpotensi masuk tanpa sepengetahuannya.

Namun, satu hal masih mengganjal di pikiranku.

Untuk apa ia sampai bersusah payah membuat pintu rahasia seperti ini?

Apa sebenarnya yang ingin ia sembunyikan?

Dan yang lebih membuatku gelisah… bagaimana jika selama ini ia sudah memperhitungkan segalanya?

Bagaimana jika dia sudah tahu atau setidaknya menduga bahwa suatu hari aku akan menemukan tempat ini?

Pikiran itu membuat tengkukku meremang dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!