NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — Diana Kembali

Pagi di Sydney terasa berbeda kali ini. Matahari menembus tirai tipis apartemen Bella, memantul di lantai kayu yang hangat. Bella bangun dengan kepala sedikit pening karena kurang tidur, tapi bayi dalam kandungannya sudah mulai aktif bergerak, membuat hatinya tersenyum tipis.

Ia mencoba menenangkan diri sambil duduk di sofa, menatap secangkir teh hangat. Tapi tak lama kemudian, suara ketukan di pintu membuatnya terkejut.

“Bella…”

Suara itu familiar, membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dominic.

Bella menahan napas sejenak sebelum membuka pintu. Dominic berdiri di sana, senyum tipisnya menenangkan sekaligus bikin hatinya campur aduk. Di tangannya ada tas besar berisi perlengkapan bayi—popok, mainan, dan baju mungil yang sudah dicuci rapi.

“Pagi,” katanya ringan. “Aku pikir aku bisa bantu sedikit hari ini. Kau butuh aku?”

Bella menatap Dominic datar, mencoba menahan diri. “Aku nggak minta…”

Dominic melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, meletakkan tas itu di meja dengan hati-hati. “Aku nggak akan memaksa. Tapi aku mau kau tahu aku ada. Untukmu… dan untuk bayi kita.”

Hari itu, Dominic mulai ikut membantu hal-hal kecil—menyiapkan sarapan sehat untuk Bella, memastikan perutnya hangat, bahkan membaca buku bayi keras-keras agar bayi dalam kandungan bisa mulai mendengar suaranya. Bella tetap menjaga jarak, tetap jual mahal, tapi sedikit demi sedikit, senyum tipis muncul saat Dominic bercanda ringan.

Suatu sore, Dominic duduk di samping Bella di sofa, memegang perutnya lembut. “Lihat, kecil… ayahmu di sini. Aku nggak akan ninggalin kamu atau mama-mu.”

Bella menahan napas. Suara Dominic lembut, tapi ada kesungguhan yang membuat hatinya mulai goyah. Ia ingin marah, tapi setiap kali melihat Dominic, ada rasa hangat yang sulit ia tolak.

Dominic menatap Bella dalam-dalam. “Aku tahu kau takut, Bella. Takut terluka lagi. Tapi aku mau kau percaya, aku nggak akan buatmu menangis lagi. Aku mau kita berdua utuh lagi, perlahan-lahan.”

Bella menunduk, menahan air mata. Ia tahu Dominic benar-benar berubah. Ia bukan lagi pria yang sama yang pernah menghancurkan hatinya. Ia pria yang sabar, penuh cinta, dan tulus.

Hari-hari berikutnya, Dominic semakin masuk ke rutinitas Bella. Ia menyiapkan sarapan pagi, membantu merapikan rumah, bahkan sesekali ikut berbelanja kebutuhan bayi. Bella masih menjaga jarak, tapi hatinya perlahan-lahan mulai terbuka.

Suatu malam, saat hujan turun lembut di luar jendela, Dominic menatap Bella dengan tatapan penuh arti. “Aku nggak minta kau memaafkan aku sekarang. Aku cuma ingin kau tahu aku akan selalu ada. Aku nggak akan menyerah, Bella. Biarpun kau jual mahal, aku tetap di sini. Untukmu. Untuk bayi kita.”

Bella menutup mata, menahan air mata. Ia mulai menyadari satu hal—Dominic bukan hanya pria yang menyesal. Ia adalah pria yang siap bertanggung jawab, yang siap mencintai mereka tanpa syarat.

Di tengah hujan Sydney yang menetes lembut, satu hal jelas: Dominic tidak akan menyerah. Bella, meski masih jual mahal, hatinya mulai menerima kehadiran pria yang menyesal dan tulus mencintainya.

---

Senja Sydney menutup hari dengan langit berwarna jingga keemasan, namun hati Bella terasa berat. Ia sedang menyelesaikan beberapa dokumen kerja, mencoba fokus, tapi rasa gelisah tak bisa diusir. Ada sesuatu yang berbeda hari ini—sebuah pesan masuk di ponsel Dominic yang ia lihat sekilas: nama yang membuat darahnya hampir membeku.

“Diana”.

Bella menelan ludah. Mata Dominic yang tadinya cerah kini sedikit gelap saat membaca pesan itu. Ia menutup laptopnya dan menatap Dominic dengan hati-hati.

“Dominic… siapa dia?” suaranya pelan tapi penuh waspada.

Dominic menghela napas panjang, menatap Bella tanpa berkedip. “Dia… mantanku dulu. Tapi kau tahu aku sudah memilihmu, Bella. Aku nggak lagi ada hubungannya dengan dia.”

Bella menunduk, menahan napas. Ia ingin percaya, tapi bayangan masa lalu Dominic selalu mengintai. “Kau yakin?” tanyanya akhirnya, suara bergetar tipis.

Dominic mengangguk. “Aku yakin. Tapi Diana… dia tiba-tiba muncul lagi di hidupku. Aku nggak tahu maksudnya apa. Aku cuma ingin kau tahu sebelum kau dengar dari orang lain.”

Bella merasakan amarah dan rasa takut bercampur. Ia menatap Dominic, mencoba membaca ekspresi pria itu. Ia tahu Dominic tulus, tapi bayangan perselingkuhan itu masih membekas dalam hatinya.

Malam itu, Diana muncul di lobi apartemen Dominic. Bella, yang sedang ikut Dominic ke luar sebentar, melihat wanita itu dari kejauhan. Rambut pirang Diana, senyum tipis yang menantang, membuat Bella langsung menegang.

Dominic melihat reaksi Bella. “Bella… jangan khawatir. Aku nggak mau dia mengganggu kita. Aku di sini untukmu, bukan untuknya.”

Tapi Bella tetap cemas. Ia merasakan sesuatu yang asing—kombinasi antara marah, takut, dan… iri. Dominic yang biasanya hangat dan menenangkan, kini tampak sedikit tegang.

Diana tersenyum dingin. “Dominic… lama tak bertemu. Aku dengar kau sudah punya… wanita baru.” Suaranya manis tapi ada nada sinis yang tajam.

Dominic menatap Diana tanpa membiarkan emosinya terpancing. “Aku sudah memilih jalanku, Diana. Aku tidak ingin masa lalu menghancurkan apa yang aku miliki sekarang.”

Bella berdiri di belakang Dominic, merasa campur aduk. Ia ingin memeluk Dominic, tapi juga ingin menatap langsung Diana dan menegaskan bahwa Dominic miliknya.

Diana menatap Bella dengan senyum dingin. “Oh… aku mengerti. Kau istri kecilnya sekarang. Tapi jangan lupa, masa lalu kadang datang tanpa diundang.”

Bella menelan ludah. Hatinya bergejolak, tapi ia mencoba tenang. Dominic meraih tangannya dengan lembut, seolah memberinya kekuatan. “Jangan takut, Bella. Aku nggak akan biarkan dia mengganggu kita. Aku di sini untukmu, untuk bayi kita, dan untuk masa depan kita.”

Diana menatap mereka sebentar, lalu pergi meninggalkan lobi dengan langkah anggun tapi penuh arti. Bella tetap menatap, jantungnya berdebar. Dominic memeluknya dari belakang, menaruh tangan di perutnya.

“Lihat, kecil… ayahmu ada di sini. Tidak ada yang akan menggantikan tempat kita,” bisik Dominic.

Bella menutup mata, merasakan campuran marah dan lega. Ia tahu konflik ini baru dimulai, tapi satu hal jelas: Dominic memilihnya. Dan ia harus tetap kuat untuk mempertahankan cinta mereka, meski bayangan masa lalu terus mengintai.

1
Dian Sary
ceritanya menarik
Secilia Cindy
lanjuttttttt thor.. 👍
mimief
ayoo Thor
kasih gebrakan yg gimana
ini...kyk masih ada ditempat setelah ber bab bab
pergi atau tinggal?
putuskan segera
mimief
teruuuussss
mimief
aku galau...
aku sebal
aku....aakhh bingung mau apa ya 🙄😜🤣
mimief
ini orang ga kerja kerja apa yaaa🙄
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
mimief: wkwkwkwkwkwk
apa makelar tanah kali KA
ga laku laku tanahnya🤣🤣
total 2 replies
mimief
jadi...luluh kah?.
tapi siapa yg ga yaaa🫣
mimief
aku juga kalau jadi dia... bakalan goyah
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!