Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Malam itu hujan turun cukup deras di London. Titik-titik air menghantam jendela besar rumah keluarga Rutherford, menciptakan suara samar yang membuat suasana terasa semakin dingin. Kilatan petir sesekali menyambar langit, menerangi halaman mansion megah itu hanya dalam hitungan detik sebelum kembali tenggelam dalam gelap.
Di salah satu ruangan pribadi di lantai atas, Regina duduk diam di depan meja kerjanya. Cahaya dari layar laptop memantul di wajah cantiknya yang tampak serius. Jemarinya bergerak perlahan membuka beberapa laporan yang baru saja dikirim seseorang secara rahasia.
Semakin lama ia membaca, semakin berubah pula ekspresinya. Rahangnya mengeras. Tatapannya perlahan menjadi dingin.
“Jadi benar dugaanku,” gumamnya lirih.
Ia menutup salah satu file dengan gerakan lambat, tetapi pikirannya justru semakin kacau. Selama beberapa hari terakhir, ia merasa ada yang tidak beres dengan Cameron.
Pria itu memang masih menjawab pesan-pesannya, masih berbicara seperlunya, tetapi semuanya terasa berbeda D
dan seolah tidak lagi benar-benar mempedulikannya seperti sebelumnya.
Awalnya Regina mencoba menganggap semua itu hanya karena tekanan pekerjaan dan keluarga. Namun kini ia sadar bahwa firasatnya benar sejak awal. Cameron belum kembali ke London.
Padahal pria itu mengatakan sedang mengurus pekerjaan penting di Indonesia. Akan tetapi berdasarkan laporan yang ia terima malam itu, Cameron justru lebih sering berada di sebuah rumah tersembunyi yang dijaga cukup ketat.
Dan Regina tidak bodoh. Ia tahu dengan jelas siapa yang berada di sana dan Cameron lindungi dengan begitu hati-hati.
“Wanita si*lan itu lagi. Apa sebenarnya keistimewaannya hingga Cameron begitu menjaganya?”
Regina menutup laptopnya sedikit keras hingga suara benturannya memecah keheningan ruangan. Dadanya terasa panas oleh emosi yang semakin sulit ia kendalikan.
Selama ini ia masih mencoba berpikir bahwa Cameron hanya merasa bertanggung jawab pada bayi itu. Bahwa semua yang dilakukan pria itu hanyalah rasa kasihan biasa.
Namun sekarang semuanya mulai terlihat jauh berbeda.
Dari cara Cameron melindungi Giana dan sikap pria itu saat meninggalkan London dan mengabaikan pertunangan mereka dan bagaimana ia bahkan berani menentang keluarganya demi wanita tersebut. Semua itu terlalu berlebihan jika hanya sekadar rasa iba.
Ponsel Regina tiba-tiba berdering di atas meja. Nama Damien muncul di layar. Regina langsung mengangkat panggilan itu tanpa membuang waktu.
“Ada perkembangan apa?” tanyanya cepat tanpa basa-basi.
Suara Damien terdengar santai dari seberang sana, kontras dengan emosi Regina yang mulai tidak stabil. “Orang-orang suruhanku sudah berhasil menemukan lokasi tempat wanita itu tinggal.”
Tatapan Regina langsung berubah tajam. “Di mana?”
Damien menyebutkan sebuah alamat singkat sebelum melanjutkan dengan nada santai, “Tempatnya cukup tersembunyi. Cameron benar-benar menjaganya.”
Regina menggenggam ponselnya semakin erat hingga ujung jarinya memutih karena terlalu kuat menahan emosi. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang semakin membuat dadanya panas.
“Kalau begitu, kita datangi saja sekarang juga. Aku harus memberi wanita itu pelajaran.”
Damien tertawa kecil mendengar nada suara Regina yang penuh amarah. “Kau yakin akan bertindak gegabah seperti ini?”
“Aku sudah terlalu lama bersabar dengan Cameron, tapi kali ini tidak bisa lagi,” jawab Regina dingin. “Aku ingin menghancurkan sendiri wanita yang membuat Cameron berubah seperti orang lain.”
Di sisi lain panggilan, Damien terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Kau mulai terdengar cemburu.”
“Aku memang cemburu.” Regina tidak menyangkalnya kali ini. “Karena pria itu seharusnya menjadi milikku.”
Sementara itu, ribuan kilometer dari London, suasana di rumah persembunyian terasa jauh lebih tenang. Hujan tipis juga turun di kota itu, tetapi justru membuat udara malam terasa nyaman. Lampu-lampu hangat di dalam rumah menyala lembut, menciptakan suasana damai yang sudah lama tidak dirasakan Giana.
Cayden sedang tertidur pulas di sofa kecil ruang keluarga setelah cukup lama bermain sore tadi. Bayi kecil itu tampak nyaman dengan selimut tipis yang menutupi tubuh mungilnya. Sesekali bibir kecilnya bergerak pelan seperti sedang bermimpi.
Giana duduk di dekat sofa sambil membaca buku perlahan. Namun fokusnya sebenarnya tidak sepenuhnya tertuju pada halaman buku tersebut. Sesekali ia mengangkat kepala untuk memastikan Cayden masih tidur dengan nyaman.
Sementara itu, Cameron berada di meja makan sambil membuka laptop kerjanya. Namun seperti beberapa hari terakhir, fokus pria itu kembali buyar. Tatapannya tanpa sadar terus mengarah pada Giana.
Wanita itu terlihat sangat sederhana malam ini. Rambutnya diikat asal tanpa riasan apa pun di wajahnya. Ia hanya mengenakan pakaian rumah longgar dengan warna-warna lembut. Tetapi justru kesederhanaan itu yang membuat Cameron semakin sulit mengalihkan pandangan.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menemukan ketenangan dari sesuatu yang tidak pernah ia cari sebelumnya. Rumah, keluarga kecil yang sederhana dan kehangatan. Semua hal yang selama ini terasa asing dalam hidupnya terasa begitu nyata sejak Giana hadir dalam hidupnya.
Pikiran itu muncul begitu saja dan membuat Cameron mengernyit kecil. Ia tidak seharusnya berpikir sejauh itu. Namun setiap kali melihat Giana bersama Cayden, perasaan aneh itu selalu muncul kembali. Seolah mereka memang seharusnya berada di sana bersamanya.
Giana yang merasa diperhatikan akhirnya mengangkat kepala. “Kenapa Anda melihatku seperti itu, Tuan? Apakah ada yang salah dengan penampilanku? Apakah aku mengganggumu di sini?” tanyanya pelan.
Cameron tersadar lalu segera mengalihkan pandangan ke layar laptopnya. “Tidak. Tidak ada apa-apa.”
Giana mengernyit kecil, jelas tidak percaya pada jawaban itu. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara kecil Cayden terdengar pelan dari sofa.
Bayi itu mulai bergerak sambil menangis perlahan. Giana buru-buru bangkit dari duduknya.
“Nanti dia terbangun,” gumamnya sambil hendak menggendong Cayden.
Tetapi Cameron lebih dulu berdiri. “Biar aku saja yang menggendongnya.”
Giana sedikit terdiam melihat Cameron berjalan mendekati sofa. Pria itu mengangkat Cayden dengan sangat hati-hati, lalu menepuk-nepuk punggung kecil bayi tersebut dengan gerakan yang masih terlihat agak kaku, tetapi jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.
Dan hal yang paling mengejutkan adalah, Cayden tidak menangis. Bayi kecil itu justru diam di dalam pelukan Cameron sambil memandangi wajah pria tersebut dengan mata setengah mengantuk.
Giana tanpa sadar tersenyum kecil melihat pemandangan itu. “Dia merasa nyaman dengan Anda,” katanya pelan.
Cameron menatap Cayden beberapa saat sebelum menjawab lirih, “Mungkin karena dia sering melihatku.”
Suasana mendadak berubah hangat. Lampu redup di ruang keluarga, suara hujan dari luar rumah, serta Cayden yang perlahan tertidur kembali di pelukan Cameron menciptakan suasana yang terlalu damai.
Terlalu mirip keluarga sungguhan. Dan justru itulah yang membuat dada Giana perlahan terasa sesak. Karena semakin lama semua ini berlangsung, semakin sulit baginya mengingat bahwa hubungan mereka sebenarnya hanya sementara.
Cepat atau lambat Cameron akan kembali ke London.
Kembali pada Regina dan saat hari itu tiba, Giana tidak yakin dirinya mampu melepaskan Cayden begitu saja.
“Kenapa kau terdiam?” tanya Cameron tiba-tiba.
Giana tersentak kecil lalu buru-buru menggeleng. “Tidak ada apa-apa, Tuan. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu, jika saja anakku masih hidup. Dia seharusnya seperti Cayden, kan?”
Pria itu menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Kau terlalu sering menyimpan semuanya sendiri.”
Kalimat itu membuat Giana membeku sesaat. Karena tidak ada seorang pun yang pernah benar-benar memperhatikan hal kecil seperti itu sebelumnya. Ia buru-buru memalingkan wajah agar Cameron tidak melihat perubahan ekspresinya.
“Aku hanya merasa sedikit sedih saja,” jawabnya pelan.
Cameron tampak ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun sebelum sempat berbicara, ponselnya tiba-tiba berdering.
Tatapan pria itu langsung berubah dingin begitu melihat nama Abraham muncul di layar.
Ia segera menjawab panggilan tersebut setelah meletakkan Cayden kembali.
“Ada apa? Cepat katakan! Aku sangat sibuk.”
Suara Abraham terdengar serius dari seberang sana. “Tuan, orang-orang kami melihat seseorang mulai mengawasi rumah ini sejak sore.”
Ekspresi Cameron langsung berubah tajam. “Siapa?”
“Kami belum tahu pasti. Tapi kemungkinan besar mereka bukan orang biasa.”
Jantung Cameron langsung menegang. Tatapannya refleks beralih pada Giana dan Cayden.
Giana yang menyadari perubahan ekspresi Cameron mulai terlihat cemas. “Kenapa? Apakah ada masalah serius?” tanyanya pelan, setengah berbisik.
kami aman bersama cay (cucu rutherford family). jangan cari kami. kami akan pulang jika ayah sudah memahami.
abis tu...lost contact ke siapapun. kec org2 yg dipercaya. buat regina makin terpuruk krn obsesinya. menghilang smp cay blajar berdiri dan regina udh bangkrut bin rada waras😄😄😄krn...saham dibeli kelg giana yg baru ditemukan stl sekian lama. alias.. konglo ketemu konglo dan...remahan...hrus minggir lah😄😄😄