Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Setelah merasa cukup, pasukan dari kantor administrasi segera bergerak keluar. Mereka memilih lewat belakang gedung, sebagian bahkan gemetar setiap kali menoleh ke arah pagar yang berbatasan langsung dengan hutan gelap.
Begitu berhasil masuk lewat pintu belakang asrama, mereka buru-buru menyembunyikan semua temuan di salah satu kamar kosong, lalu mengunci dan menyembunyikan kuncinya.
Desi dan Febi berjaga di asrama, sementara yang lain menyusul ke pos depan- sumber keributan yang kini terdengar makin riuh.
"Kim! Dibilangin jangan ikut!" seru Janu setengah berlari.
"Tapi aku kepo!" jawab Kimi dengan semangat membara.
Sampai di pos, mata mereka langsung membelalak. Gerbang utama terbuka lebar, beberapa staf keamanan berkeliaran sambil membawa senter. Pak Budiman tampak sibuk menjelaskan sesuatu ke para pembimbing.
"Pak Budiman!" panggil Kimi sambil melangkah cepat.
Melihat sorot mata menyala khas kimi, Pak Budiman langsung merinding.
"Neng Kimi ngapain di sini? Bukannya udah jam tidur?" katanya, berusaha tetap tenang padahal jantungnya ikut deg-degan.
"Itu ada apaan, Pak? Kenapa gerbang kebuka?" Kimi menunjuk ke luar.
Pak Budiman garuk-garuk kepala. "Ada peserta yang kabur keluar, Neng. Udah ya, jangan tanya tanya lagi. Sekarang balik ke asrama."
" Siapa, Pak?"
"Belum tau. Asrama belum dicek, jadi gak ketahuan siapa yang kabur."
"Kim, udah lewat tengah malam. Balik ke kamar, ajak yang lain juga," perintah Clarissa yang datang karena terbangun oleh suara ribut para staf.
Kimi terdiam, wa.jahnya mendadak pucat. Ia menoleh ke segala arah mencari seseorang.
"Uby..." gumamnya pelan. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari.
"Sep! Uby mana?" teriak Kimi begitu melihat Septi di dekat gerbang.
"Nah itu dia, gw juga bingung! Ruby, Nove, sama Agus gak ada! Kayaknya mereka yang kabur keluar!" jawab Septi panik.
Kimi melotot. Mulutnya terbuka, tapi tak satu kata pun keluar. Bukan cuma Ruby yang ia khawatirkan, tapi yang lainnya juga. Hampir tiga bulan bersama, semua orang di tim itu sudah terasa seperti keluarga kecilnya.
"Semua peserta kembali ke kamar masing-masing!" suara berat Pak Deden terdengar dari luar gerbang.
Tubuhnya basah oleh keringat, wajahnya elah. Di belakangnya, tiga orang yang kabur tadi berjalan santai. Ruby, Nove, dan Agus dengan ekspresi tenang seolah tidak baru saja membuat satu area gempar tengah malam.
Kimi baru mau menghampiri, tapi Marey cepat-cepat menahan lengannya dari belakang. Tanpa sepatah kata pun, gadis itu menarik Kimi kembali menuju asrama bersama peserta lain,
Di ruang keamanan, Ruby, Agus, dan Nove duduk berjejer di hadapan Pak Deden yang tampak setengah frustasi.
"Jadi kalian bisa jelasin gak, kenapa nekat keluar gerbang tengah malam?" tanyanya dengan nada datar.
Agus mendesah berat. "Astaga, Pak.. saya kan udah bilang, saya tuh mimpi. Disuruh keluar buat ngambil sesuatu di bawah pohon gede di luar sana.
"Terus mana barangnya?" tanya Pak Deden, jelas mulai kehilangan kesabaran.
"Ya gak sempet diambil lah, Pak. Kan langsung disusulin!" Agus menatap Pak Deden dengan ekspresi 'tolonglah pahami'. "Itu harus pake ritual dulu. Bapak percaya begituan gak? kalau enggak, ya percuma saya jelasin, Sampe tahun depan juga gak bakal nyambung."
Pak Deden memijat pelipis. "Baik. jadi itu reaksi spontan kamu ya? Karena... spiritual." Ia menatap Ruby dan Nove. "Dan kalian berdua cuma ngejar dia, takut kenapa-napa di luar?"
Ruby dan Nove mengangguk kompak, nyaris tanpa ekspresi.
"Terus... Agus, kamu tekan tombol buat buka gerbang pas penjaga lagi ngambil kopi?"
"Iya, Pak! Lah, itu aja masih ditanyain lagi," balas Agus kesal.
Pak Deden menghela napas panjang, lalu menatap mereka satu per satu. Entah alasan itu masuk akal atau tidak, tapi ia tahu tak bisa menahan peserta lebih lama lagi. Malam ini terlalu melelahkan untuk sekedar membuat keputusan.
~
Semua peserta yang gelisah menunggu di teras asrama langsung berdiri saat tiga orang yang ditunggu akhirnya muncul.
Kimi langsung maju tanpa aba-aba. "Kayak gini keributan kecil yang kalian maksud? Kayak gini? Kabur keluar gerbang?"
"Tenang dulu, Kim, Ini reaksi refleks," ujar Agus, mengangkat tangan dengan gaya sok bijak.
"Kamu gak bakal ngomong gitu kalau ketemu beruang di luar, Gus," omel Kimi sambil mendelik.
Janu menunjuk ke arahnya. "Tolong, anak siapa itu, amankan sebelum ngamuk."
Marey dan Desi langsung maju, menarik Kimi mundur sebelum mulutnya makin lepas kontrol.
Ruby hanya mendesah lelah. "Kita masuk dulu aja. Nanti diomelin lagi kalau kedengeran satpam."
Mereka pun masuk ke ruang santai. Meski semua sudah kelelahan, suasananya tetap tegang dan agak absurd, karena Agus masih sempat bercerita soal mereka yang sengaja bersembunyi di balik pohon.
"Tadi ditanyain macem-macem gak? Ada yang nyangkut soal kantor administrasi?" tanya Juli penasaran,
"Enggak lah. Percuma dong kita ngambil resiko kalau kalian malah dicurigai," balas Agus sok santai.
"Udah deh, besok aja bahasnya," ujar Ruby setelah melirik jam dinding. Pukul dua lewat.
"Setuju," gumam 0kta sambil menguap. "Tapi gw laper."
"Gas, masak mie," kata Juni ringan.
"Mentang-mentang abis ngerampok dapur," timpal Marey tertawa.
Akhirnya malam itu sebagian dari mereka memilih tidur, sebagian lagi begadang dan makan mie instan hasil misi dapur rahasia.
Suasana tenang lagi, meski jelas semua belum benar- benar tenang.
**
Pagi harinya Kimi terbangun di pelukan Ruby. Tiga detik pertama ia masih tenang, tapi di detik keempat matanya langsung melebar. Ia langsung terduduk sambil menatap Ruby lekat-lekat.
Tadi malam ia berniat menginterogasi sang pacar, tapi malah ketiduran setelah bersih-bersih, Ia bahkan tak sadar kapan Ruby masuk ke kamarnya.
Ruby menggeliat pelan, menatap Kimi dengan mata setengah terbuka. "Jam berapa, sayang?" gumamnya serak.
Kimi melirik jam. " Jam tujuh lewat."
Ruby mengerjap malas. "Lewat berapa?"
"Lima lima "
Ruby langsung terduduk. Napas panjangnya keluar sambil menggaruk kepala. "Kamu tuh.. lebih masuk akal kalau bilang jam delapan sekalian," gerutunya, lalu turun dari kasur. "Aku ke kamar dulu ya. Sarapan bareng nanti."
Ruby mengecup kepala kimi singkat, lalu pergi begitu saja.
Kimi masih diam di tempat dengan tatapan kosong. Tapi lima detik kemudian, rasa penasaran menang.
"Awas kamu, By. Aku interogasi sampe botak," gumamnya sebelum meluncur ke kamar mandi.
.
Ayo lanjut agi thor jngn lama upnya🙏
Lanjut ya thor
Aku padamu