NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Biaya

"Calon suaminya, dok," sahut Collins.

Pria itu mengerucutkan mulutnya. "Pantas aku tak mengenalmu. Kalau gak salah, pasien ini punya bibi. Bukan begitu?" Ia menurunkan sedikit kacamatanya menatap pria di hadapan.

Collins mengerut dahi. "Apa dokter mengenal bibinya?"

"Eh, bukan begitu. Aku ingat pasien ini dulu pernah ke dokter dengan keluhan yang sama tapi tidak diambil tindakan. Apa kali ini tindakannya akan sama? Ini kesempatan terakhirnya lho!"

Collins semakin penasaran hingga duduknya bergeser maju. "Kesempatan apa ya, dok?" Tiba-tiba pikiran buruk terlintas di kepala. "Jangan bilang dia ...."

"Tidak, justru sebaliknya!" Namun, dokter itu terlihat ragu-ragu mengatakannya. "Eh, apa aku katakan saja? Mungkin kamu bisa membantunya."

"Mengenai apa, dok? Katakan apa saja. Kalau bisa akan aku usahakan!" Rasanya Collins melihat harapan walau tak yakin. Mengetahui Aida buta karena dirinya saja ia sudah stres, apalagi bila mendengar wanita itu akan punya penderitaan lain karena efek samping perbuatannya. Kalau ia tak sanggup membantu, rasanya Collins ingin mati saja saat itu juga.

"Ini kesempatan terakhirnya. Dia harus dioperasi atau akan buta selamanya."

"Apa!?" Antara senang dan gundah Collins terdiam sejenak. 'Operasi? Tapi ....'

"Harus segera, sebab ia tak punya banyak waktu lagi!"

"Kapan itu, dok?"

"Paling lambat, tiga hari lagi. Aku harus mempersiapkan ruang operasi dan menyediakan dokter ahli." Dokter itu menyebutkan biaya operasi yang fantastis. Uang yang tidak mungkin bisa dikumpulkan oleh seorang tukang ojek bahkan ditambah dengan gaji Aida sebagai guru sekalipun. Siapa pun takkan bisa membantunya kecuali satu orang saja, yaitu Hardyn Grow—sang ayah. Mau tidak mau Collins harus menukarnya dengan kembali ke rumah. Itu jalan satu-satunya. Mungkin dengan ini mereka bisa saling melupakan dan tidak perlu bertemu lagi.

Mungkin ini satu-satunya cara Collins menembus dosa-dosanya. Kalau bukan karena sang ayah, Collins sudah di penjara sejak dulu dan kalau bukan ayahnya juga, ia tak bisa menolong Aida kembali ke kehidupannya yang terdahulu yang sehat dan normal kembali. Kini, hanya kepada ayahnya ia harus kembali. Terpasung dalam penjara emas yang sudah lama miliknya itu. Namun kini Collins lebih pasrah, demi kebahagiaan Aida, ia rela. "Aku akan menyiapkan uangnya, dok!"

***

Collins terkejut, saat membuka pintu, Aida telah siuman. "Mbak?"

Aida menatap Collins dengan dahi berkerut.

Pria itu merasakan keanehan. Ia mendekat. "Mbak bisa melihatku?"

"Eh, tak jelas. Seperti keadaan rumah di malam hari saat mati lampu. Aku melihatmu tapi tak jelas. Gelap."

Collins mencoba duduk di tepi ranjang. "Kenapa Mbak gak bilang kalau Mbak bisa sembuh?"

"Eh, itu terlalu mahal. Kami tidak mampu." Aida yang tengah duduk di atas ranjang brankar berusaha fokus menatap Collins. Ingin rasanya ia melihat wajah pria itu tapi apakah ia punya kesempatan?

Collins seperti bisa membaca pikiran Aida. "Kamu ingin melihat wajahku 'kan, Mbak?"

"Eh, untuk apa berkhayal terlalu jauh. Yang begini saja sudah sangat bersyukur," kata Aida, mengelak. "Kapan aku bisa pulang?" Ia mulai gelisah.

Collins meraih tangannya. Di satu sisi, ia ingin Aida tak pernah bisa melihat lagi agar wanita itu tak mencari dirinya saat sembuh, tapi di sisi lain ia juga ingin wanita ini bisa melihat agar Aida mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk jadi manusia normal dan memperbaiki hidupnya. Lalu ia harus pilih yang mana? "Mbak, aku bisa membantu Mbak kembali melihat."

"Apa?" Mata Aida lekat menatap Collins yang terlihat kabur. "Bagaimana caranya? Abang gak melakukan hal-hal yang buruk, 'kan?" Ia mulai khawatir.

"Oh, gak."

"Lalu?"

Collins sempat tenggelam dalam beningnya kedua mata jernih dan teduh milik Aida. Betapa ia sebentar lagi akan kehilangan kedua mata ini. Wanita ini bukan tercipta untuknya. Ia hanya singgah dan berhasil meruntuhkan semua bangunan hati. Runtuh bersama air mata darrah. Apa wanita ini menyadarinya?

Ia tak siap kehilangan karena kali ini perasaan ini ternyata telah berurat dan berakar dengan cepat tanpa ia sadari. Bisakah ia mengulang kisah hidupnya di lima tahun yang lalu?

Namun memang Collins tengah kehilangan pegangan saat ini, dan bila waktu terulang kembali, tetap saja hal yang sama akan terjadi. Mungkin seperti itulah yang namanya takdir. Mereka memang tidak ditakdirkan bersama. "Aku akan minta tolong pada ayahku. Bukankah kamu ingin agar Abang berbaikan kembali dengannya?"

Aida terkejut. "Oh, apa ayahmu akan membantu?"

"Ya, tentu saja." Collins berusaha meyakinkan, padahal ia sendiri ragu.

Aida tampak mengerut kening. "Tapi bukannya Abang tidak mau pulang? Eh ... apakah ayahmu benar mau membiayai operasiku?" Aida baru ingat bahwa biaya operasinya sangat mahal. Apa orang tua Collins sanggup membiayai operasi mata di rumah sakit ini?

"Eh, maaf, Abang belum cerita. Orang tuaku kaya. Untuk biaya operasi ini, itu bukan hal yang sulit."

"He?" Aida sulit mencerna. Orang tua Collins kaya? Bisakah ia mempercayainya? "Kamu tidak bohong 'kan, Bang?" Aida masih melongo.

"Masa Abang bohong sih?"

Aida hampir tak percaya ia mendapat calon suami orang kaya. 'Apa ini sungguhan?' Namun ia menyadari, pria itu tengah menggenggam tangannya cukup lama. Aida menarik tangannya pelan.

"Oh, maaf."

"Tapi ini, beneran, 'kan, Bang?" Aida memastikan. Mulutnya belum tertutup sepenuhnya.

Collins tersenyum lebar. "Mbak ngak percaya? Nanti setelah mata Mbak bisa melihat lagi, Mbak bisa melihat sendiri kebenarannya." Mata Collins terlihat sayu. 'Dan bila saat itu tiba, Abang sudah tak ada lagi di sisimu, Mbak.'

"Jadi?"

"Operasi ya?" Collins kembali meraih kedua tangan Aida yang berada di atas pangkuan. "Abang ingin kamu bisa sembuh dan menjadi orang normal."

Aida mengangguk dengan sudut bibir melengkung. Pria itu mendekatkan wajah dan mencium kening Aida.

"Abang! Ih!" Sontak Aida mendorong tubuh Collins ke belakang. Pria itu hampir saja jatuh terjengkang ke belakang.

"Eh ...?" Collins tersadar. Ia telah berani mencium kening Aida padahal itu tidak seharusnya. Mereka belum menikah. Collins jadi teringat lagi ucapan Babe soal ini. 'Yang ketiga adalah setan'. Wanita muslim yang baik seperti Aida, pasti merasa sudah melakukan hal yang tercela. "Eh, maaf, Mbak. Aku tak bermaksud ...." Ia melihat Aida merengut. "Iya, aku salah." Collins mengakui sambil menghela napas pelan.

"Jadi, kapan aku harus operasi? Apa ayahmu beneran akan membiayai operasi ini?"

'Aku harus bisa membujuk ayah. Atau aku pikirkan cara lain. Pinjam pada temanku mungkin, tapi operasi ini harus terjadi.' "Coba Mbak telepon paman dan bibimu dulu agar bisa menemanimu di sini. Aku diberi waktu tiga hari oleh dokter, jadi kamu terpaksa tinggal di sini."

Aida kemudian menelepon pamannya. "Katanya, mereka akan ke sini," sahutnya ketika menutup telepon.

Collins sempat berfikir sejenak ketika Aida menelepon sang paman. "Mbak, bila kita menikah, kamu ingin melakukan apa?"

"Mmh? Maksudmu, untuk masa depan?"

"Iya."

Pikiran Aida menerawang. "Sebenarnya aku ingin meneruskan pekerjaan orang tuaku yang dulu, membuat peralatan keramik. Piring dan mangkuk, kalau aku bisa melihat lagi."

"Kamu tidak mau mengajar?"

"Aku masih tetap ingin mengajar, tapi aku ingin punya usaha sampingan. Punya toko yang jual hasil karya keramikku, seperti toko piring dan mangkuk porselen."

"Tapi kalau tinggal di sini kurang laku. Bagaimana kalau tinggal di kota?"

Bersambung ....

1
Wiwi Sukaesih
bara.dh ky dtelan bumi Thor g ad kabar nya
Baby_Miracles: next ya
total 1 replies
Sri Jumiati
bara gmn thor keadaanya?
Baby_Miracles: di bab selanjutnya ya
total 1 replies
elief
jangan biarin miranda yang pertama ketemu thor, biar collins bahagia
Sri Jumiati
lanjut thor
Wiwi Sukaesih
up LG Thor 😍
Sri Jumiati
lanjut thor
Sri Jumiati
lanjut thor
Wiwi Sukaesih
aida sakit apa Thor
Baby_Miracles: sakit mata
total 1 replies
Sri Jumiati
semangat thor.
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Wiwi Sukaesih
babe ganggu aj ni 🤣
elief
lanjut thor
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!