NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pantas

Pas hujan gerimis turun di malam Sabtu, tiba-tiba aja gadis itu nongolin wajahnya di celah pintu.

Tak lama, ia pun bersuara. Memanggil nama seseorang di depan matanya.

"Om Varo... apakah boleh saya ke situ?" desisnya lirih.

Sengaja emang diimut-imutkan, dan meskipun begitu, suaranya tetap terdengar jelas di telinga Alvaro.

Sudah sejak dua jam lalu, laki-laki itu kelihatan duduk anteng di kursi balkon nggak pindah-pindah.

Seolah, bokongnya itu udah nempel banget nggak bisa lepas.

Entah, di sana Alvaro sedang sibuk apa, Dena sih nggak tahu. Dan jujur saja, Dena mendatanginya juga bukan untuk mencari tahu.

Sesudah sisa batang panjang tembakau itu Alvaro sesap hingga habis, ia buang sisanya ke dalam asbak di atas meja kecil berbentuk bundar.

Di sana berdiri satu cangkir bening, dengan sisa kopi di dalamnya yang nyaris dingin.

"Sini aja," panggil Alvaro melambai pelan.

Dena pun melangkah, sambil kedua tangannya membawa secangkir kopi hangat di atas baki.

Niatnya, buat gantiin kopi Alvaro yang sudah tidak layak diminum. Padahal, Alvaro sendiri nggak merasa pernah meminta dibuatkan kopi—makanya Alvaro jadi agak heran.

Tumben sekali istrinya itu perhatian. Atau jangan-jangan memang lagi ada maunya?

Alvaro jadi curiga.

Cangkir kemudian Dena letakan perlahan, sambil gadis itu berucap manis.

"Silakan diminum, Om."

"Lo yang bikin?" tanya Alvaro.

Dena menggeleng cepat, memeluk baki itu erat sambil tersenyum kecut.

"Mbak Anis yang bikin. Saya cuma bawain aja kok!" sahutnya sinis. Gengsi aja, padahal kopi itu emang dia yang menyeduhnya. Dan Mbak Anis sengaja di kambing hitamkan.

"Oh."

Alvaro agaknya kecewa berat. Menghela napas panjang, tapi secangkir kopi itu tetap disikat.

Kebetulan, tenggorokannya emang udah lumayan kering tergilas asap.

Dan menghabiskan secangkir lagi sepertinya masih boleh, pikirnya kemudian.

"Duduk!" ujar Alvaro begitu sedikit meneguk.

Namun, Dena lebih memilih bersandar pada tepian balkon, seperti enggan duduk.

"Nggak ah, Om!" tolaknya sambil melepas ikatan di rambutnya.

"Saya mau langsung masuk aja," lanjut Dena.

"Mau langsung tidur?"

"Iyalah. Ini kan udah malem banget, Om," sahut Dena sembari menatap ke arah langit.

Di atas sana, guntur mulai terdengar bergemuruh. Kilatan petir juga mulai menyambar-nyambar, sesekali bikin Dena spontan kedip. dan mungkin, dalam sebentar waktu hujan gerimis itu akan berganti menjadi deras.

"Ya udah, sana tidur," kata Alvaro tak lama.

Dena mengangguk. "Iya, Om."

Namun, selang beberapa menit kemudian, Dena masih aja berdiri di sana. Bukannya beranjak masuk ke dalam kamar segera.

Alvaro langsung meliriknya.

"Katanya mau tidur?"

"Iya, ini mau tidur kok!" sahut Dena agak ketus.

"Ya udah, masuk!"

"Ayo!" ajak Dena.

"Gue belum ngantuk." Alvaro menjawab tanpa menoleh, sembari satu tangannya sibuk menggulir ponsel. Satu tangannya lagi menjepit sebatang rokok yang belum dinyalakan.

Tanpa sadar, jawaban itu justru membuat Dena mendadak tersenyum.

"Oh..."

"Berarti Om belum mau tidur sekarang?" tanyanya. Agaknya Dena yang dari tadi nggak masuk-masuk cuma buat mastiin itu.

Mastiin Alvaro, apa masih lama laki-laki itu begadangnya.

"Iya. Nanti gue nyusul," sahut Alvaro.

"Jam berapa?"

Alvaro mengangkat bahu, "Belum tau."

Dena tersenyum makin lebar.

"Jam satu?"

"Jam dua?"

"Apa jam berapa?" kejar Dena.

"Pokoknya nanti," balas Alvaro.

Dena menghela napas panjang. "Iya... Tapi nanti tuh kapan, Om?"

"Lo kira-kira aja sendiri!" ketus Alvaro.

"Ya udah deh, intinya masih lama kan?"

Akhirnya Alvaro menoleh. Heran.

Kenapa istrinya itu jadi cerewet banget, nanya-nanya mulu.

"Kalau iya, kenapa?"

Senyum sinis Alvaro tersungging tipis.

"Lo takut tidur sendirian? Mau gue kelonin?"

Dena langsung cemberut, bibirnya maju-maju. Tubuhnya, hampir bergidik menggelinjang geli.

"Ih, apa sih, Om!"

"Ya enggak lah!" bantahnya sengak.

Alvaro langsung tertawa. Lagian pun ia cuma bergurau—suka aja dia menggoda Dena.

Dena jadi tambah manyun.

"Terus kenapa nanya-nanya?"

Sekarang Dena meringis, kali ini sambil dagunya otomatis mengarah pada ranjang.

Di dalam kamar itu yang lagi dianggurin yang punya.

"Tempat tidurnya..." ujar Dena, canggung.

Alvaro ikut melirik arah yang sama. "Tempat tidurnya kenapa?"

Dena tersenyum lagi, tapi kali ini makin canggung, masih ragu juga buat lanjut ngomong.

Tapi Alvaro menunggu.

Setelah menunduk agak lama, Dena akhirnya menatap Alvaro, seperti hendak bicara serius.

Suaranya terdengar.

"Jadi gini, Om..."

"Berhubung Om udah saya bawakan kopi lagi nih, ya kan?" tunjuknya pada cangkir itu.

"Iya, terus kenapa, lo mau minta upah?" sergah Alvaro.

Dena spontan menggeleng.

"Bukan, Om!" bantahnya cepat.

"Lalu?"

"Cuma gini... gimana kalau selama Om masih duduk di sini dan belum pengen tidur..." ujarnya lagi sambil kembali melirik ke arah kasur.

"...tempat tidurnya saya pake dulu aja?" Dena berkedip manja.

Alvaro menghela napas pendek, kemudian nyender agak cuek, "Jadi, intinya lo cuma mau tidur di kasur gue?"

Dena langsung nyengir.

"Kalau boleh aja si..."

...***...

Beberapa jam kemudian.

Di luar hujan masih turun. Ya walaupun emang udah nggak deres-deres banget, tapi cukup buat bikin suasana makin layu dan jadi agak males buat banyak gerak.

Di dalam kamar, lampu sudah diredupkan.

Dan di atas kasur itu, Dena udah tidur.

Beneran, setelah Alvaro memperbolehkan, gadis itu akhirnya tidur di situ. Di ranjang Alvaro, dan tidurnya pun nyenyak, bukan yang pura-pura.

Posisinya miring memeluk guling, selimutnya ketarik naik sampai hidung mungilnya tertutup setengah. Dan rambutnya yang sedikit basah, terlihat agak berantakan ke mana-mana.

Tapi wajahnya terlihat tenang.

Kayak orang yang nggak punya beban masalah.

Damai.

Padahal, kalau pas lagi bangun—ya ampun.

Saat itu juga Alvaro berdiri di dekat pintu. Diam-diam, di sana dia merhatiin Dena. Seolah lagi memastikan sesuatu, atau memang cuma sekadar ngecek aja.

Pokoknya Alvaro udah berdiri di situ agak lama.

"Ya udah tidur sih," gumam Alvaro setelah hampir lima belas menitan merhatiin.

Dan Dena yang tidur, sama sekali nggak ada pergerakan.

Habis itu Alvaro menarik napas pelan, kemudian berbalik badan. Pintu lalu ditutupnya.

Glek...

Di luar, Alvaro duduk lagi di kursi yang sama. Masih di kursi yang dari tadi dia tempatin. Kursi yang kalau bisa ngomong, mungkin udah protes dari dua jam lalu.

Begitu duduk, Alvaro langsung mengambil ponsel di saku.

Layar itu kemudian menyala redup, tapi cukup yang nggak bikin silau.

Dan setelah beberapa kali Alvaro menggulir daftar kontak. Satu nama Alvaro pilih.

Dicky.

Alvaro kemudian menelponnya. Nggak lama, Dicky langsung menjawab.

"Ya?"

Suara Dicky di seberang sana terdengar santai, kayak yang udah biasa banget ditelpon Alvaro malem -malem.

"Lo lagi di mana?" tanya Alvaro langsung, begitu suara Dicky terdengar menyaut dari seberang.

"Di jalan."

"Jaga?"

"Nungguin orang yang mau gue eksekusi!"

"Udah dari sejam lalu orangnya nggak datang-datang, lo malah nelpon!" dengus Dicky tanpa sadar.

"Maksud lo gue ganggu?" sergah Alvaro.

Di sana Dicky langsung bengong, nyesel banget udah salah ngomong.

Sekarang laki-laki itu nyengir.

"Enggak, Bos," kekehnya.

"Ada perlu apa?"

Alvaro nyender, pandangan matanya tertuju pada hujan. Nggak mau langsung jawab, maunya bakar rokok dulu.

Lalu begitu bara api menyala, langsung sebatang rokok itu diisapnya cukup panjang.

Dicky masih menunggu.

Huh...

"Dick!" panggil Alvaro.

"Ya?"

"Lo inget, dulu waktu kita masih cari makan di terminal ... pernah ada satu jalur angkot yang sekarang udah nggak beroperasi?" tanya Alvaro.

"Inget." Dicky langsung jawab. "Jalur angkot yang lewat daerah rumah lo kan?"

"Iya."

"Kenapa dengan jalur itu?" tanyanya.

Alvaro sejenak diam, sambil satu tangannya masih sibuk muter-muterin batang rokok. Sesekali diisapnya pelan tapi panjang.

Alvaro terlihat cukup tenang.

Asap berhembus pelan.

"Gue ada pesen buat siapa pun dia yang sekarang pegang terminal!" ujar Alvaro kemudian.

"Rangga?"

"Bilang aja ke dia. Beberapa supir angkot yang males narik di jalur itu, paksa mereka buat narik lagi seperti dulu!" ujar Alvaro.

"Ini bukan perintah! Gue cuma minta tolong," imbuhnya.

Dicky langsung mendelik, biar pun Alvaro nggak liat, tapi jeda itu membuat Alvaro tau. Di sana Dicky cukup kaget mendengarnya.

"Bisa?!" tekan Alvaro setelah beberapa detik.

Di sana Dicky masih diam. Ia tau ini memang terdengar seperti bukan perintah, tapi bukan juga sekadar permintaan biasa, untuk hanya sekadar menghidupkan jalur angkot yang sudah lama tiada.

Tapi, Alvaro pasti memiliki tujuan di balik itu.

Dicky tidak meragukan pikirannya sendiri.

"Bisa. Nanti coba gue hubungin Rangga," sahutnya.

"Terima kasih!"

"Iya..."

Kemudian hening. Namun, panggilan itu masih terhubung.

"Tapi, buat apa, Var?" Dicky jadi penasaran.

"Apa tujuan lo hidupin jalur angkot itu lagi?" tanyanya.

"Lo nggak perlu tau!" jawab Alvaro langsung.

"Intinya gue cuma mau jalur itu jalan lagi, itu aja!" lanjut Alvaro seperti enggan memberitahu alasannya.

Dan biar pun begitu. Dicky tidak memaksa. Cukup sampai di situ saja, Dicky mengulum rasa ingin tahunya.

"Untuk berapa lama?" tanya Dicky lagi, kali ini lebih serius.

"Sampai gue bilang cukup," jawab Alvaro.

Dicky mengangguk, langsung jawab dengan nada siap. "Oke!"

"Gue tunggu!"

Tut!

Alvaro langsung mengakhiri panggilan itu tanpa penjelasan lagi, sambil masih ngeliatin hujan di luar—sepanjang bara di batang rokok itu masih menyala.

Lalu tak lama Alvaro nyengir tipis, ketika mendadak teringat sosok Dicky beberapa tahun lalu—di terminal.

Dulu, Dicky cuma bocah gelandangan bego yang nggak pernah punya rasa takut, yang mungkin tergolong beruntung, karena Alvaro pungut untuk dijadikan salah satu anak buahnya.

Sekarang, setelah beberapa tahun berlalu. Dicky telah menjadi salah satu sosok penguasa besar. Namanya terkenal sebagai pemegang kekuasaan penuh di beberapa ruas jalanan.

Tapi, hingga sekarang, laki-laki itu masih saja menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap Alvaro.

Setelah bernostalgia sejenak. Alvaro kemudian berdiri, lalu masuk ke dalam kamar.

Setibanya di dalam, Alvaro langsung merhatiin Dena. Entah kenapa wajah terlelapnya itu selalu bikin Alvaro gemes.

Di mata Alvaro, Dena itu tidurnya lucu, kayak bayi.

Alvaro aja sampai senyum-senyum sendiri.

Lalu Alvaro jatuhin badannya ke sofa itu, pelan, dan di sana matanya masih tak bisa lepas dari Dena.

Alvaro masih memandangnya lama.

Dan semakin lama, Dena malah semakin terlihat cantik di matanya.

Apalagi di bagian pipinya, mulus. Kulitnya seakan benar-benar bersih seperti kertas tak pernah tergores tinta.

Cantiknya juga nggak dibuat-buat—alami. Seperti wajah manis itu sudah dari sananya ditakdirkan begini.

Alvaro jadi mikir, ketika wajah Dena tiba-tiba mengingatnya pada seseorang.

"Dargo..." gumamnya sekarang.

"Gue masih nggak nyangka, orang seperti dia punya anak semanis ini."

Ia terhenyak sesaat, masih sambil ngelihatin Dena.

Nama itu, yang baru Alvaro sebut adalah mendiang ayah Dena. Orang yang Alvaro tau bagaimana sejarahnya semasa pria itu masih hidup.

Wajah bengisnya terbayang.

Dargo yang berwatak keras, sikapnya beringas macam binatang buas.

Dan dari orang yang seperti itu, lahirlah seorang anak yang begitu indah bak permata.

Alvaro masih menatap Dena, lalu tersenyum. Tak lama, pandangan matanya perlahan berpindah ke langit-langit di atas.

"Pantas..." Alvaro bergumam lagi.

"Dargo tidak pernah berbicara apapun tentang putrinya..."

"Bahkan... sampai sekarang. Masih tidak banyak orang yang tau Dena itu anak siapa."

Lalu tenang.

Suasana kembali jatuh ke dalam lubang keheningan.

Dan hanya suara rintik hujan di luar, mendominasi malam itu.

Alvaro tersenyum lagi.

"Menarik juga..."

1
Ppinkykhaenafk_
lanjut kak sampe eps 45 😁
dan semangat buatnya 💪
Ppinkykhaenafk_
lanjut dong kak, kalo bisa segera ya udah ga sabar nih 🤭
Ppinkykhaenafk_
keren plotnya tuh dar der dor banget
Ppinkykhaenafk_
aku kasih gift nih 🌹
Ppinkykhaenafk_
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!