NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Potongan Informasi

Hening kembali turun. Hujan masih jatuh deras di luar, seolah memukul kaca mobil tanpa henti. Hana menatap ke luar jendela.

Lampu jalan tampak kabur, terdistorsi oleh aliran air yang terus turun. Segala sesuatu di luar terlihat samar—seperti pikirannya sendiri yang belum benar-benar tenang.

Pesan itu. Kata-kata itu. Dan semua kemungkinan yang belum punya jawaban.

Kenzo tetap fokus ke depan. Tangannya stabil di setir. Ekspresinya kembali datar—terbaca, tapi tidak terbuka.

Beberapa detik berlalu. Lalu—

“Kak" suara Hana pelan.

“Iya?”

Hana ragu sebentar. “Boleh nanya?”

Kenzo melirik sekilas. “Nanya aja. Nggak usah izin.”

Hana menarik napas kecil. “Kenapa?”

Kenzo sedikit mengernyit. “Kenapa apa?”

“Kenapa kakak bantu aku sampai segitunya?”

Hening. Pertanyaan itu menggantung di kepala. Tidak langsung dijawab oleh Kenzo.

Hana menatapnya lebih lama. “Dari awal,” lanjutnya pelan. “Kakak ikut campur… terus sekarang juga…”

Kenzo tidak menoleh. Matanya tetap ke jalan.

"Sebenarnya nggak perlu sejauh ini,” tambah Hana.

Beberapa detik berlalu. Suara hujan terdengar lebih jelas. Kenzo akhirnya menghela napas pelan.

“Aku juga sempet mikir gitu,” katanya.

Hana diam. Kenzo melanjutkan,

“Harusnya aku bisa aja cuek. Anggap ini bukan urusanku."

“Terus?” tanya Hana pelan.

Kenzo tersenyum tipis. “Tapi nggak bisa.”

Hana menunggu. Kenzo melirik ke arahnya sebentar. Tatapannya tidak setajam biasanya.

Lebih… tenang. Lebih dalam.

“Kamu mirip seseorang,” katanya.

Hana sedikit mengernyit. “Siapa?”

Kenzo kembali menatap jalan. “Seseorang yang dulu… penting bagiku."

Nada suaranya stabil. Tapi jedanya—terasa. Halus. Tapi cukup untuk membuat suasana berubah. Hana memperhatikan wajahnya. Ada sesuatu di sana. Lebih sunyi. Lebih berat.

“Mirip?” tanyanya pelan.

Kenzo mengangguk kecil. “Iya.”

“Dalam hal apa?”

Kenzo diam sebentar. Seolah memilih kata.

"Cara kamu nahan sesuatu,” katanya akhirnya. “Cara kamu keliatan biasa aja… padahal nggak.”

Hana menunduk sedikit. Kenzo melanjutkan, suaranya lebih pelan, “Dan cara kamu tetap bertahan… walaupun harus sendirian.”

Hening. Hana merasakan sesuatu di dadanya. Hangat. Tapi juga menyisakan nyeri kecil yang tidak jelas asalnya.

Ia melirik Kenzo lagi.

“Orang itu sekarang di mana?” tanyanya hati-hati.

Kenzo tidak langsung jawab.

Mobil terus bergerak. Hujan belum reda. Beberapa detik berlalu.

“Nggak di sini,” katanya singkat.

Cukup. Hana tidak bertanya lagi. Ia bisa melihatnya. Dari cara Kenzo menatap jalan sedikit lebih lama. Dari genggaman tangannya di setir yang sedikit menguat. Dan dari jeda yang terlalu panjang untuk sekadar jawaban biasa.

"Oh,” gumam Hana pelan.

Hening kembali turun. Kali ini bukan karena tegang. Tapi karena ada sesuatu yang memang tidak perlu dipaksa keluar.

Kenzo menghembuskan napas kecil.

“Jadi ya… mungkin itu alasanku,” katanya, mencoba kembali santai. “Kamu apes aja mirip orang itu.”

Hana tersenyum tipis. “Apes?”

“Iya,” jawab Kenzo. “Jadi aku jadi nggak bisa cuek.”

Hana menggeleng kecil. "Makasih.”

“Jangan makasih dulu,” kata Kenzo. “Masalahnya belum selesai.”

Hana mengangguk. “Iya…”

Hening lagi. Lebih ringan dari sebelumnya. Tidak sepenuhnya nyaman. Tapi juga tidak dingin. Beberapa detik kemudian, ponsel Hana bergetar. Refleks, jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Tangannya bergerak ke arah tas— lalu berhenti. Ia teringat sesuatu.

Perlahan, ia menoleh ke Kenzo. “…bareng,” katanya pelan.

Kenzo langsung mengangguk. “Iya. Buka.”

Hana menarik napas. Mengambil ponsel. Layar menyala. Pesan dari nomor yang sama.

Ia membuka. “Enak ya nebeng sama kakel?"

Hening. Kenzo menghembuskan napas pelan. “Dia tahu.”

Hana menatap layar. "Dia tahu kita bareng."

“Dan dia nggak suka,” tambah Kenzo.

Hana menggigit bibir bawahnya sebentar. Lalu—ponselnya bergetar lagi. Bukan dari nomor itu. Grup. Ia membuka cepat.

| Arga: “Denger. Gue ada rencana.”

Hana langsung fokus. Kenzo melirik sekilas. “Dari Arga?”

Hana mengangguk. Ia membaca.

| Arga: “Besok. Jam 4. Setelah semua pulang, kita kumpul di lobby sekolah, jangan bilang siapa-siapa.”

Hana mengernyit sedikit. Mengetik.

|“Ngapain?”

Beberapa detik. Arga membalas.

|"Kita pancing pelakunya. Kalau dia emang di sekitar kita, maka bisa tarik dia keluar.”

Hana menelan ludah pelan. Kenzo memperhatikan ekspresinya. “Apa?”

Hana menoleh sedikit. “Besok… kita kumpul jam 4. Di lobby.”

Kenzo mengangkat alis. “Itu aja?”

Hana menggeleng kecil. “Katanya… mau mancing pelakunya.”

Kenzo diam sebentar. Ada jeda kecil—lebih lama dari biasanya. Lalu ia tertawa pendek.

“Heh." Nada suaranya ringan. Tapi ada sesuatu di baliknya—seperti ia tidak benar-benar terkejut.

Hana kembali melihat layar.

| Arga: “Kamu ikut, kan?”

Hana mengetik pelan. “Iya.”

Ia berhenti sebentar. Lalu menambahkan—

“Tapi aman?”

Beberapa detik.

| Arga: “Selama kita hati-hati.”

Kenzo menyandarkan sedikit punggungnya.

“Dia punya rencana lebih dari itu.”

Hana menoleh. “Maksudnya?”

Kenzo tersenyum tipis. “Arga bukan tipe yang asal ngajak kumpul.”

Hana memperhatikannya. Cara Kenzo ngomong— terlalu yakin. Bukan sekadar menebak. Seperti… sudah tahu.

“Kakak kayak ngerti banget,” kata Hana pelan.

Kenzo tidak langsung jawab. Matanya tetap ke depan. Beberapa detik.

“Cukup,” katanya singkat.

Hana mengernyit sedikit. “Cukup… maksudnya?”

Kenzo mengangkat bahu kecil. “Orang kayak dia keliatan polanya.”

Hana tidak langsung percaya. Tatapannya masih tertahan di Kenzo.

“Kenal dia dari dulu ya?” tanyanya pelan.

Hening. Kenzo tidak menjawab. Tidak menyangkal. Tidak juga membenarkan. Hanya diam. Tangannya tetap di setir. Matanya tetap ke jalan. Seolah pertanyaan itu… tidak pernah diucapkan.

Beberapa detik berlalu. Hana akhirnya mengalihkan pandangan.

“Oh,” gumamnya pelan.

Tidak memaksa. Tidak mengulang. Hening kembali turun. Mobil terus melaju. Hujan masih turun. Dan di antara suara air yang tidak berhenti— sebuah rencana mulai terbentuk.

Dengan potongan informasi yang belum lengkap. Dengan orang-orang yang belum sepenuhnya terbuka. Dan dengan satu hal yang semakin jelas— bahwa permainan ini… tidak hanya tentang seseorang yang mengirim pesan. Tapi juga tentang hal-hal yang belum mereka ketahui satu sama lain.

1
Bunga Ros
maaf thoooorrr kurang berbobot judulnya apa isinya apa 😄😄😄
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!