Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Tatapan keduanya begitu dekat dan dalam, begitu sulit untuk menghindar. Sazi menahan nafasnya sesaat, hembusan nafas Fadli yang menyapu lembut wajahnya saat itu membuat jantungnya berlompatan tak menentu.
"Zi,.." Suara Fadli lirih, hampir berbisik ditelinganya "Jangan jauh lagi dari Abang ya." Sazi menatapnya lama seolah ia memastikan apakah kata kata yang terucap begitu tulus, atau cuma sementara saja begitulah pikirnya meskipun begitu ia tidak menghindar. "Fadli enggak janji langsung sempurna Zi, tapi Fadli janji enggak akan lari lagi.
Degh! Sazi hanya mengangguk kecil dan itu sudah cukup membuat Fadli langsung menarik Sazi ke dalam pelukannya dan kali ini lebih erat dari sebelumnya seolah takut kehilangan sosok istri kecilnya itu.
Angin malam itu yang begitu menusuk sampai ke tulang membuat suasana malam itu begitu hangat, melonggarkan pelukannya lalu kedua tangannya memegang pipi Sazi mengajaknya masuk ke dalam "Masuk yuk udaranya makin dingin." bisik Fadli lalu mengecup keningnya sebentar.
Sazi pun langsung mengikuti langkah kaki Fadli, keduanya berjalan bersama menuju kamar mereka dan menutup pintunya pelan. Dunia diluar sana seolah berhenti sejenak hanya ada keduanya yang masih sama sama beradaptasi, lampu kamar dibuat redup hanya menyisakan cahaya yang temaram nan lembut.
Sazi duduk ditepi ranjang masih berbalutkan selimut yang disampirkan oleh Fadli dipundaknya, Fadli berdiri beberapa langkah didepannya, sambil menatap lekat wajah istrinya itu.
"Zi,.." panggilnya lembut.
"iya bang." sahut Sazi mendongak ke arahnya.
"nanti sebentar lagi Abang abang ada kejuaraan renang tingkat dunia, Abang mewakili Indonesia Zi, nanti kamu temani Abang ya?."
"Iyalah bang pasti, masa suami sendiri enggak ditemani, semangat semoga Abang menang."
"Terimakasih Zi, yaudah yuk tidur, besok Abang antar kamu ke sekolah, Oia tinggal dua bulan lagi kamu kelulusan ya Zi, kamu mau. Dilanjut kuliah kemana?."
"Zi lagi kejar beasiswa buat lanjut di Oxford university bang?."
"Hah, seriusan Zi, kalo dapet beasiswa itu kamu tunggu disana dong, terus Abang gimana?."
"Ya enggak gimana gimana bang, ini kan masih rencana, kalo dapet syukur enggak dapet ya harus dapet hehe."
Seketika Fadli membeku, antara siap dan tidak siap jika harus berpisah secepat itu, tapi memikirkan Nadia iya malah jadi berpikir ini adalah peluangnya untuk mengambil celah.
Namun entah mengapa perasaannya begitu campur aduk saat ini, disisi lain ia seolah ada rasa yang berbeda pada Nadia tidak seperti sebelumnya. Disisi lain pada Sazi seperti tidak rela jika berjauhan meski hanya sebentar saja ada rasa ketergantungan jika tidak melihatnya walau sebentar.
Apalagi terlintas wajah sepupunya Sadewa membuat Fadli mengepalkan tangannya erat. "Enggak, enggak bisa, kalo Sazi sampai pergi ke Amerika, bisa saja kan si dewa nyusul ke Amerika juga dan mereka enak enakan berduaan disana, oh tidak tidak tidak!."
"Tapi kalo dia ke Amerika gue kan bisa banyak waktu buat Nadia, dan gue juga bisa lebih mudah ceraikan dia.' ucap bayangan Fadli yang memakai pakaian merah seolah memberikan saran yang menyesatkan.
"Fadli apasih yang elo pikirin, elo mau sama Nadia tapi sama Sazi juga please lah jangan serakah." ucap Fadli 2 yang menjadi bayangan memakai pakaian serba putih yang menegur bayangannya sendiri.
Sementara Fadli asli menatap keduanya menolah ke arah kanan dan kiri lalu membayangkan hal hal yang akan terjadi ketika dia tidak bersama Sazi, dan tak lama "Tidaaak!."
Gdebugh!
Sazi yang tertidur pulas benar benar terkejut ketika mendengar suaminya berteriak tiba tiba sampai pada akhirnya kaki Sazi secara reflek menendang tubuh Fadli sampai terjatuh ke lantai.
"Aduh Sazi sakit tau pake acara nendang segala."
"Astaghfirullah reflek bang, Abang ikh ngagetin aja, kenapa sih bang sampe teriak teriak kayak gitu?."
Fadli langsung membeku, agak gengsi untuk menceritakan kejadian dalam mimpinya itu. "Enggak,..enggak kenapa napa."
"Yaudah diminum dulu bang…" Sazi menyodorkan segelas air putih pada Fadli, yang langsung Fadli minum hingga tandas tak tersisa.
"Zi,,.."
"Hmm, kenapa Bang?."
"Enggak, enggak jadi deh, udah yuk tidur lagi."
"Ish."
"Zi,.."
"Apalagi bang, Zi ngantuk."
"Thanks ya masih mau bertahan sama Abang."
"Hmm."
"Kalo ada yang bikin kamu nggak nyaman bilang ya?."
"Hmm."
"Zi,.."
"Naon deui, ini Sazi mau tidur nggak jadi jadi bang ngantuk banget ini."
"Hahah udah jago bahasa sundanya ya sekarang wkwkw, enggak cocok tapi kamu Zi, yaudah yuk lanjut tidur." sahut Fadli yang tak bisa lagi menahan tawanya akan celetukan Sazi yang membuatnya sangat menggemaskan menurutnya, Fadli langsung mendekat sedikit agresif pada Sazi seolah ingin lebih dekat dan memeluknya lagi menjadikan hobi barunya saat ini, seolah tidak bisa tidur jika tidak memeluk istri kecilnya itu, menjadi candu untuk Fadli.
"Arek naon deui deket deket, sempit atuh Sazi, sonoan bang ikh."
"Ya Alloh Sazi, Abang cuma pengen deket Bobonya sama istri Abang, ya,..".
"Hilih tumben?."
"Jangan macem macem, Sazi masih sekolah Bang?." ancam Sazi sudah menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Iya iya, Abang janji, cuma peluk doang, tapi khilaf dikit mah enggak apa apa kan Zi."
"No!."
Pada akhirnya Sazi membuat jarak diantara keduanya, Sazi membalikkan tubuhnya dan melihat lemari sebuah ide langsung terlintas di otaknya. Ia langsung membuka lemari dan mengeluarkan beberapa sweater yang pada akhirnya ia pakai berlapis lapis, Fadli hanya mengernyitkan dahinya heran.
Dan celana panjang pun Sazi pakai berlapis lapis juga, tak lama guling dan bantal menjadi pembatas antara keduanya.
Fadli langsung auto tepok jidat melihat kelakuan istrinya itu. "Minggir, sonoan tidurnya jangan sampai kelewat batas ini denda 10 milyar awas aja kalo sampe melanggar, ini demi masa depan Sazi inget ya bang."
"Buseeet buju buneng 10M mahal bener dendanya, kalo kamu yang langgar gimana?."
"10 ribu."
"Dih enggak adil, semurah itu kah harga diri Abang oh tidak bisa, kalo kamu yang langgar, seketika Fadli langsung melipat kedua tangannya dan bergaya tengil, tak lama ia membuka kancingnya satu persatu mendekati istrinya dengan tatapan nakal, membuat Sazi bergidik ngeri dan langsung lari ngibrit, berteriak "Ayaaaah, bang Fadlii mesum."
"SAZIII."
Pada akhirnya baik Fadli maupun Sazi malah saling berkejaran sampai menuruni anak tangga, dan Sazi yang melihat ayah mertuanya ada di bawah ia berlindung di balik badan ayah mertuanya itu.
Seketika Fadli langsung membeku dan suasana menjadi hening dalam sekejap dan penuh ketegangan.
"Fadli, apa maksudnya ini, kamu mau ngapain Sazi hmm?."
Ayah Fadli langsung pasang badan untuk melindungi anak menantunya yang sudah ia anggap anak sendiri. "Astaga, gue kayak tersangka dirumah gue sendiri." celetuk Fadli tepok jidat seraya elus dada melihat kelakuan ayahnya yang lebih membela menantunya dibanding anaknya sendiri.