"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Beberapa saat kemudian...
Bu Esta akhirnya tiba di kantor polisi. Ia melangkah memasuki gedung itu dengan wajah merah padam. Tanpa memedulikan tatapan petugas piket atau pemuda-pemuda lain yang duduk berjajar, langkah kakinya langsung tertuju pada Kaisar.
"Kaisar!" suara Bu Esta menggelegar, membuat Kaisar spontan berdiri meski tubuhnya terasa remuk.
Buk!
Buk!
Buk!
Tas tangan Bu Esta langsung mendarat di bahu Kaisar, memperlihatkan luapan rasa frustrasi seorang ibu. "Kamu benar-benar mau bikin Mama mati muda, hah?! Berapa kali Mama bilang, berhenti jadi preman! Lihat muka kamu hancur begini. Ini aset!"
"Ma, malu..." bisik Kaisar sembari menahan serangan tas ibunya. Ia melirik Bisma yang menyeringai kecil di pojokan. Jelas mengejek dirinya tanpa kata.
"Malu? Kamu punya rasa malu?!" bentak Bu Esta lagi, tangannya menunjuk tepat ke hidung Kaisar. "Kalau kamu punya malu, kamu nggak akan ada di kantor polisi untuk ketiga kalinya! Kamu nggak mikir gimana perasaan Mama? Mama gak mau disebut punya anak preman!"
"Maaf, Ma," ucap Kaisar menyesal.
Bu Esta tampak jengkel sekali. Ia ingin terus marah-marah, tapi ia juga kini merasa malu karena tatapan semua orang di dalam sana tertuju padanya.
Bu Esta menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri dan meredam emosinya sendiri.
"Bikin malu!" ujarnya kesal. Suaranya tidak sekencang tadi.
Bu Esta pun berlalu dari hadapan putranya menghadap polisi. Ia harus segera menyelesaikan masalah putranya dan keluar dari tempat itu.
Tak lama kemudian, suasana kantor polisi semakin gaduh. Orang tua Aris, Irfan, Faiz, dan Edwin berdatangan hampir bersamaan. Suara omelan dalam berbagai nada memenuhi ruangan.
"Kalian ini mau jadi apa sih? Mau jadi preman, hah?!" teriak salah satu orang tua mereka.
"Kalau begini terus, lebih baik kalian diam di rumah dan duduk manis seperti anak perempuan saja!" timpal salah satu orang tua, membuat para polisi hanya bisa menggelengkan kepala.
Mereka tahu apa yang orang tua para pemuda itu masakan. Jengkel, marah, kecewa dan khawatir menjadi satu di hati mereka saat ini. Karena sejatinya setiap orang tua pasti tak mau anaknya terluka.
_____
Setelah proses administrasi yang melelahkan dan ceramah panjang dari polisi senior (yang intinya mengancam akan menahan mereka lebih lama jika terulang lagi), para orang tua akhirnya menandatangani surat penjaminan.
"Kalian boleh bawa anak-anak kalian pulang," ujar polisi itu sambil menyerahkan berkas kepada orang tua masing-masing. "Tapi untuk motor-motor mereka, semuanya kami tahan sementara di gudang barang bukti. Meskipun surat-suratnya lengkap, kendaraan ini berada di lokasi kejadian dan menjadi bagian dari barang bukti."
Polisi itu menatap Kaisar dan teman-temannya satu per satu. "Ini juga supaya kalian tidak langsung kembali lagi ke jalanan untuk melakukan hal serupa besok. Silakan ambil motor kalian minggu depan."
Kaisar dan teman-temannya hanya bisa tertunduk lesu. Motor bagi mereka adalah harga diri, dan kini "kaki" mereka telah dirantai oleh prosedur hukum.
"Ayo pulang! Lama-lama di sini bikin Mama malu!" tarik Bu Esta pada lengan Kaisar, menyeretnya keluar dari kantor polisi.
Kaisar menurut. Tapi sebelum pergi, ia melirik teman-temannya untuk pamit. Setelah itu, ia mengikuti langkah sang ibu menuju parkiran.
Bu Esta dan Kaisar masuk ke mobil. Dalam beberapa detik mobil itu sudah melesat pergi meninggalkan area kantor polisi, menerobos kegelapan malam yang dingin.
Di dalam mobil itu suasana hening. Bu Esta tidak marah-marah lagi. Ia tampaknya sudah cukup meluapkan kemarahannya tadi, kini diganti denagn sikap dinginnya.
Kaisar tak berani bicara. Ia hanya menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan menatap kosong ke depan. Sadar dirinya kembali membuat sang ibu kecewa dan marah besar, membuatnya memilih diam meresapi kesalahannya sendiri.
*****
Mobil Bu Esta berhenti di depan gerbang rumah yang ditempati Kaisar dan Raline.
Ia mematikan mesinnya dan diam sebentar sebelum akhirnya menatap Kaisar tajam.
"Ini peringatan terakhir dari Mama buat kamu. Jangan pernah melakukan hal-hal yang bodoh lagi, atau Mama akan mencabut semua fasilitas yang kamu miliki," ancam Bu Esta serius.
Kaisar hanya bisa menunduk, tak berani membalas tatapan tajam mamanya. Kata-kata Bu Esta barusan terasa lebih tajam daripada hantaman tas tangannya di kantor polisi tadi.
"Iya, Ma. Sekali lagi maaf," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
"Turun," perintah Bu Esta dingin tanpa menoleh lagi. "Mama mau langsung pulang. Besok pagi Mama ada rapat penting, dan Mama nggak mau wajah Mama kelihatan kusam cuma gara-gara ngurusin anak yang nggak tahu diri kayak kamu."
"Minta Raline obati lukamu," lanjut Bu Esta. "atau obati sendiri. Kamu kan sudah biasa sok jago seperti ini."
Kaisar menghela napas panjang, lalu membuka pintu mobil. Begitu kakinya memijak aspal, suara deru mesin mobil sang ibu langsung terdengar menjauh, meninggalkan Kaisar dalam keheningan malam di depan gerbang rumah tuanya.
Ia berdiri diam sejenak, memandangi lampu teras yang temaram. Badannya terasa remuk, sudut bibirnya berdenyut nyeri, dan hatinya terasa kosong. Tak ada motor kesayangannya, tak ada lagi tenaga untuk sekadar merasa hebat.
Dengan langkah gontai, Kaisar membuka gerbang dan masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam begitu sunyi, persis seperti saat ia meninggalkan Raline tadi.
Ia berjalan ke dapur, merasa haus setelah perkelahian yang hebat tadi. Namun, ketika ia melewati depan kamar Raline, ia melihat secercah cahaya masih mengintip dari bawah celah pintu.
Kaisar berhenti. Ia teringat pesan terakhirnya pada Raline agar mengunci pintu. Ia mendekat, mencoba memutar kenop pintu itu pelan, dan ternyata benar, pintu itu terkunci rapat dari dalam.
"Dia dengerin omongan gue juga," batin Kaisar dengan senyum kecut.
Bukannya pergi, Kaisar justru malah berdiri di sana, lalu bersandar di daun pintu kamar Raline, menyandarkan kepalanya yang terasa berat. Ia ingin mengetuk, ingin bercerita betapa kacaunya malam ini, atau sekadar ingin mendengar suara Raline yang galak tapi menenangkan. Namun, ia urungkan. Ia tak mau Raline melihat wajahnya yang babak belur dan membuatnya cemas di tengah malam begini.
"Gue pulang, Lin," bisiknya dalam hati.
Kaisar kemudian menyandarkan punggungnya yang letih pada daun pintu kamar Raline, memejamkan mata sejenak untuk menetralisir rasa perih di wajahnya. Namun, tepat di saat ia menghela napas panjang, suara kunci diputar terdengar.
😌
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya