NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Panggilan Pelabuhan Ratu

​Della mengucek mata kirinya berkali-kali. Anehnya, warna abu-abu keperakan yang tadi memenuhi retinanya perlahan memudar, kembali menjadi hitam kecoklatan yang normal seperti mata cewek pada umumnya. 

Namun, Della tahu ini bukan sembuh. Mata itu hanya "beristirahat", siap berubah kembali menjadi radar gaib jika ada sosok yang mendekat dengan niat jahat.

​"Alhamdulillah, mata loe normal lagi, Del. Gue ngeri liatnya, kayak dapet filter horor permanen," celetuk Sasha sambil membenarkan letak helm Bogo-nya.

​Geri yang baru saja selesai mengecek tekanan ban Si Creamy hanya mendengus. "Ulah seneng dulu, Sha. Eta mata cuma istirahat. Kita harus gerak sekarang sebelum matahari makin tinggi. Cikidang kalau siang aja angker, apalagi kalau kita kemalaman di sana."

​Geri menyerahkan sebuah jaket tambahan buat Sasha. "Pake. Jalur Cikidang itu anginnya beda, dinginnya nusuk ke tulang."

​Mereka mulai memacu motor meninggalkan Cisaat menuju arah Barat. Si Creamy melaju dengan suara mesin yang sangat halus, tapi setiap kali Della melewati pohon beringin besar di pinggir jalan, stang motornya terasa ditarik ke kiri secara mendadak.

​Memasuki gerbang jalur Cikidang, suasana berubah drastis. Pohon-pohon karet raksasa berjejer rapat di kiri-kanan jalan, dahan-dahannya saling bertautan menutupi sinar matahari, menciptakan lorong hijau yang remang dan lembab.

​"Del, pelan-pelan! Tikungannya tajam pisan!" teriak Sasha dari belakang motor Geri.

​Della melirik spion kiri. Tiba-tiba, mata kirinya berdenyut panas. Warnanya berubah menjadi abu-abu perak dalam sekejap. Di dalam spion, Della melihat di setiap tikungan tajam, ada sosok wanita berbaju merah yang duduk di atas pembatas jalan, kakinya yang pucat menjuntai, mengayun-ayun seolah sedang menunggu seseorang jatuh.

​"Ger! Jangan liat ke pembatas jalan!" teriak Della melalui intercom helm.

​Saat mereka melewati tanjakan yang dikenal sebagai "Tanjakan Jeritan", Sasha mendadak merasa lehernya sangat berat. Ia mencoba menoleh ke belakang, tapi kepalanya seperti dikunci.

​"Ger... berat... pundak gue berat banget..." bisik Sasha, suaranya mulai gemetar.

​Geri melirik dari kaca spion motornya, Jantungnya nyaris berhenti. Di atas pundak Sasha, terlihat dua tangan mungil yang keriput sedang melingkar di leher Sasha. Tangan itu milik sesosok anak kecil berkulit abu-abu dengan lidah yang menjulur panjang, sedang menjilat-jilat kaca helm belakang Sasha.

​Sreeek... sreeek...

​"Jangan panik, Sha! Terus pegangan sama gue!" Geri menggeber gas motornya, mencoba mengusir makhluk itu dengan getaran mesin.

​Karena merasa tidak tenang, Della memutuskan untuk berhenti di sebuah warung kopi di pinggir hutan karet untuk beristirahat sejenak. Warung itu terlihat tua, dengan lampu kuning yang berkedip dan seorang nenek tua yang sedang menyeduh kopi.

​"Mangga, Calik heula, Néng... (Silakan, Duduk dulu, Neng...)" sapa nenek itu dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

​Della turun dari motor, tapi mata kirinya tetap berwarna perak. Ia melihat ke arah gelas kopi yang disodorkan nenek itu. Di mata normal, itu adalah kopi hitam biasa. Tapi di mata kiri Della, gelas itu berisi darah hitam yang penuh dengan ulat bangkai.

​"Kita nggak bisa berhenti disini, Ger. Ayo pergi!" Della menarik tangan Geri dan Sasha.

​"Lho, kenapa Del? Gue laper..." protes Sasha.

​Della tidak menjawab.

 Ia segera menyalakan Si Creamy. Saat motor mulai bergerak, Della menoleh ke belakang. Warung kopi tadi mendadak hilang. Yang ada hanyalah sebuah kuburan tua tanpa nisan di bawah pohon karet, dengan gelas kopi pecah yang berserakan di atas tanah merah.

​Mereka terus memacu motor hingga melihat patokan kilometer di pinggir jalan. Angka-angka itu seolah berjalan mundur dengan cepat.

​KM 25... KM 24...

​Tepat sebelum memasuki KM 23, Si Creamy mendadak mati total. Remnya terkunci otomatis, membuat Della nyaris terpelanting. Di tengah jalan yang sepi dan berkabut itu, muncul suara tawa Bibi Mei dari knalpot motor.

​"Sampai... urang geus sampai, Della... (Sampai... kita sudah sampai, Della...)"

​Dari balik kabut, muncul sebuah bayangan besar yang menghalangi jalan. Bukan pria berbaju pangsi, melainkan sesosok wanita raksasa yang tubuhnya terbuat dari kawat-kabel motor, dengan wajah yang sangat mirip dengan Della.

​"Itu... itu siapa, Del?" Sasha menunjuk dengan jari gemetar.

​Della turun dari motor, mata peraknya bersinar terang di tengah kegelapan kabut Cikidang. "Itu bukan Bibi Mei, Sha. Itu Dendam yang selama ini dikunci Buyut Tan. Dan dia minta wadah baru malam ini juga."

​Della turun dari motor, mata peraknya perlahan meredup kembali menjadi normal setelah warung gaib tadi menghilang. 

Namun, hawa dingin di KM 23 ini beda. Dinginnya bukan karena angin malam, tapi seperti ada es yang ditempelkan langsung ke tulang punggung.

​"Del, mending kita cabut sekarang. Perasaan gue nggak enak pisan," bisik Geri sambil memegang kunci pipanya. Logat Cisaat-nya makin kental kalau lagi ketakutan.

​Sasha cuma bisa diam, mukanya sudah pucat pasi. Dia nggak lagi sibuk sama HP-nya. 

Di jalur Cikidang yang gelap ini, sinyal HP memang mati total, menyisakan mereka bertiga dalam kesunyian yang mencekam.

​Kreeek... kreeek...

​Suara dahan pohon karet di atas mereka berderit hebat, Della secara refleks mendongak. Di salah satu dahan yang melintang tepat di atas Si Creamy, duduk sesosok wanita berpakaian kain kafan yang sudah cokelat terkena tanah.

​Wajahnya tertutup rambut panjang yang sangat gimbal dan kotor. Yang mengerikan, dia tidak diam; dia sedang mengayun-ayunkan kakinya yang hanya tinggal tulang, dan dari celah rambutnya, terdengar suara isak tangis yang berubah jadi tawa cekikikan.

​"Geura uih... bilih teu tiasa mulang... (Cepat pulang... takutnya nggak bisa balik...)"

​Sasha yang melihat itu langsung teriak histeris. "DEL! ITU APAAN DI ATAS?!"

​Tiba-tiba, lampu depan Si Creamy berkedip kuning, lalu berubah menjadi merah darah. 

Di tengah jalan yang berkabut, muncul kepulan asap putih yang baunya wangi melati menusuk hidung.

​Dari balik kabut, muncul seorang wanita cantik yang mengenakan kebaya pengantin Sunda kuno, lengkap dengan siger perak di kepalanya. Tapi, siger itu tidak terpasang di kepala yang utuh, melainkan di kepala yang hanya menempel pada sisa-sisa urat leher.

​Wanita itu melayang pelan, mendekati Della. Setiap langkah gaibnya diikuti oleh suara gamelan yang sayup-sayup dan sangat menyayat hati.

​"Néng Della... hatur nuhun tos sumping... (Neng Della... terima kasih sudah datang...)" ucap sang Sinden. Matanya hitam pekat tanpa putih sama sekali. "Bibi Mei nunggu di handap... di handap aspal ieu... (Bibi Mei nunggu di bawah... di bawah aspal ini...)"

​Della merasakan motor Si Creamy bergetar hebat. Spion kirinya kembali mengeluarkan darah kental yang menetes ke aspal. Anehnya, darah itu tidak mengalir ke pinggir, tapi terserap masuk ke dalam pori-pori aspal jalanan KM 23.

​"Ger, ambil linggis di bagasi loe!" perintah Della. Mata kirinya kembali berubah menjadi perak berkilat.

​"Buat apaan, Del?" Geri bingung.

​"Ada yang dikubur di sini. Bukan cuma tumbal, tapi 'nyawa' dari motor ini ada di bawah kaki kita!" Della menunjuk sebuah retakan di tengah jalan yang bentuknya menyerupai siluet orang yang sedang meringkuk.

​Saat Geri ragu-ragu hendak mencongkel aspal itu, tiba-tiba dari dalam tanah muncul tangan-tangan pucat yang sangat banyak, mencoba menangkap kaki mereka bertiga. Suara tangisan massal terdengar dari bawah tanah, seolah-olah KM 23 ini adalah kuburan massal bagi mereka yang menjadi korban "perjanjian" Buyut Tan.

​"LARI KE MOTOR! JANGAN SAMPAI KETANGKAP!" teriak Della.

​Della segera menyalakan Si Creamy. Kali ini motor itu tidak mogok, malah menderu seperti harimau yang marah. Della memacu motornya menembus sosok Sinden tadi. Saat melewati sang Sinden, Della merasakan tangan dingin yang mengelus pipinya sambil berbisik:

​"Turun ka laut, Della... teang kunci anu asli di karang hawu... (Turun ke laut, Della... cari kunci yang asli di Karang Hawu...)"

​Mereka memacu motor secepat mungkin meninggalkan KM 23. 

Di belakang, puluhan kuntilanak terbang rendah mengejar mereka, suara tawanya bersahutan memenuhi hutan karet Cikidang.

​Della tahu, perjalanan ini baru dimulai. KM 23 cuma pintu gerbang. Tujuan sebenarnya adalah Pantai Karang Hawu, tempat di mana Bibi Mei pertama kali "dihilangkan".

1
Ma Vin
bagus ceritanya,, semangat up date nya yaa kak😄😍
nhatvyo24: terimakasih ka 🙏☺️
semoga suka
total 1 replies
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!