Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Dua Dunia Bertemu
Halo teman-teman... Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin ya.
Maaf sekali updatenya terlambat karena harus pulang kampung dan bersilaturahmi ke keluarga besar.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau menunggu. Selamat membaca 😊🙏
❤️❤️❤️
Pagi itu, Langit sudah berdiri di depan rumah kecil itu bahkan sebelum pintu dibuka. Ia tidak mengetuk. Hanya berdiri.
Seolah tahu seseorang di dalam akan membuka pintu untuknya.
Dan benar saja.
Pintu terbuka.
Ishani muncul dengan Iyan di pelukannya. “Kak Langit?”
Langit mengangguk sedikit. “Aku datang terlalu pagi?”
Ishani menggeleng. “Tidak. Kami juga sudah siap.” Ia membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu. Udara masih dingin.”
Langit mengangguk pelan dan melangkah masuk.
Di dalam, aroma teh hangat dan masakan pagi langsung terasa. Bu Maura keluar dari dapur sambil mengeringkan tangan dengan lap kecil.
“Kamu sudah sampai,” katanya.
Langit mengangguk. “Tidak macet.”
“Bagus. Duduk dulu. Sarapan sebentar.”
Langit sempat membuka mulut, seolah ingin menolak. Tapi matanya sempat tertuju pada Ishani yang masih berdiri sambil menggendong Iyan. Akhirnya ia hanya menarik kursi tanpa banyak bicara.
Meja makan pagi itu sederhana. Tidak banyak hidangan. Namun suasananya terasa hangat. Ishani duduk sambil mencoba makan pelan. Tangannya sesekali berhenti ketika Iyan bergerak kecil di pelukannya.
Langit memperhatikan itu tanpa komentar.
Beberapa saat kemudian, ia berkata singkat, “Sini.”
Ishani menoleh. “Apa?”
Langit mengulurkan tangan. “Aku gendong dulu.”
Ishani sempat diam. Bukan ragu, tapi lebih seperti belum terbiasa. Namun akhirnya ia menyerahkan Iyan dengan hati-hati.
Langit menerimanya dengan gerakan yang jauh lebih yakin dibanding sebelumnya. Bayi itu sempat bergerak kecil lalu diam. Tenang. Seolah mengenali sesuatu.
Bu Maura tersenyum pelan melihat itu. “Sepertinya dia sudah tahu siapa yang sedang menggendongnya.”
Ishani menatap sekilas ke arah Langit.
Entah kenapa hatinya terasa hangat.
Perjalanan ke Jakarta dimulai. Ishani duduk di depan. Iyan di pangkuannya. Langit menyetir. Sesekali tangannya refleks membantu memegangi kepala bayi itu setiap mobil melewati jalan tidak rata.
“Pelan,” kata Ishani.
Langit mengangguk.
“Jalanan berlubang.”
“Aku tahu.”
Namun kecepatan mobilnya tetap berkurang.
Sekitar satu jam perjalanan, Iyan mulai rewel. Awalnya hanya suara kecil. Lalu semakin lama semakin jelas. Ishani mencoba menepuk pelan punggungnya. “Sudah… sebentar lagi…”
Namun bayi itu justru semakin gelisah.
Langit melirik sekilas, lalu langsung mengarahkan mobil ke pinggir jalan. “Kita berhenti.”
Ishani menoleh. “Tidak apa-apa, nanti juga–”
“Kita berhenti dulu.”
Nada itu tidak tinggi. Tapi cukup membuat Ishani tidak melanjutkan kalimatnya.
Mereka duduk di bangku panjang rest area. Udara pagi sudah mulai hangat.
Ishani duduk di sisi yang agak sepi, menutupi dirinya dengan selimut kecil saat menyusui.
Langit duduk tidak jauh. Tidak menatap langsung. Namun tetap memperhatikan.
Setelah beberapa saat, Iyan terlihat lebih tenang. Ishani menggendongnya kembali.
Namun bayi itu masih sedikit gelisah.
Langit mengulurkan tangan. “Coba aku.”
Ishani langsung menyerahkan begitu saja. Dan seperti sebelumnya, begitu berada dalam pelukan Langit, Iyan kembali diam.
Ishani menghela napas panjang. “Dia pilih kasih.”
Langit mengangkat alis sedikit. “Maksudnya?”
“Kalau sama aku rewel, sama Kak Langit langsung diam.”
Langit menatap bayi itu sebentar, lalu menjawab santai. “Mungkin dia tahu siapa yang lebih mudah dipermainkan.”
Ishani langsung menoleh. “Kak Langit!” protesnya.
Langit hanya tersenyum tipis.
Bu Maura yang memperhatikan dari jauh tidak bisa menahan senyum kecilnya. Ada sesuatu yang berubah. Dan ia melihatnya dengan jelas.
Mereka tiba di Jakarta menjelang siang.
Mobil berhenti di depan rumah Langit.
Ishani sempat terdiam beberapa detik. Tidak disangka ia ternyata merindukan rumah itu.
Langit turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Ishani. Tanpa sadar, Ishani menyerahkan tas kecilnya. Dan Langit menerimanya tanpa komentar. Seolah itu sudah menjadi hal yang biasa.
Bu Rina keluar dari dalam rumah, berjalan mendekat. “Bu Ishani…” sapanya setelah berdiri di depan Ishani.
“Bu Rina… ibu di sini?” Balas Ishani dengan nada riang.
“Iya, Pak Langit menghubungi saya. Katanya ibu akan pulang. Dia bertanya apa saya bisa melanjutkan untuk membantu ibu dan bayi Iyan…”
“Dan…”
“Saya menyanggupi.”
Ishani tersenyum lebar.
Di dalam rumah, suasananya seperti yang Ishani kenal. Rapi dan tenang.
“Kalian bisa istirahat dulu,” kata Langit.
Ishani mengangguk. “Terima kasih.”
Ishani dan Bu Maura masuk ke dalam kamar. Ia meletakkan Iyan di atas kasur. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Matanya berhenti menatap box dan lemari bayi yang sudah dirakit Langit beberapa hari sebelum ia melahirkan.
Dadanya kembali menghangat dan tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
“Isha…” Bu Maura menyentuh bahunya.
Ishani mengerjakan matanya dan tersenyum tipis.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Bu. Aku hanya merasa… bahagia,” ucap Ishani sambil menundukkan kepalanya.
Bu Maura menarik napas pelan dan mengusap rambut menantunya itu dengan lembut.
Malam itu mereka makan bersama di ruang makan kecil. Tidak banyak pembicaraan serius. Hanya hal-hal sederhana. Tentang perjalanan tadi. Tentang Iyan. Tentang kebiasaan kecil yang mulai mereka kenal satu sama lain.
Sesekali, Iyan bergerak di boks kecil di dekat meja. Langit beberapa kali menoleh ke sana. Seolah memastikan semuanya baik-baik saja.
🥀🥀🥀🥀🥀
Keesokan paginya, mereka pergi ke rumah sakit. Ruang tunggu cukup tenang.
Ishani duduk sambil menggendong Iyan. Langit di sebelahnya.
“Kalau Iyan nangis lagi, Kak Langit siap?” tanya Ishani pelan.
Langit menoleh. “Siap.”
“Tidak panik?”
Langit menghela napas. “Sedikit.”
Ishani tersenyum kecil.
Pemeriksaan berjalan lancar. Sampai dokter membuka hasilnya. “Secara umum, kondisi bayi baik.”
Ishani langsung menghela napas lega.
Namun dokter belum selesai. “Ada kemungkinan faktor risiko dari riwayat keluarga.”
Langit langsung fokus.
“Jantung,” lanjut dokter.
Ishani menunduk. Tangannya mengerat sedikit di tubuh bayinya.
“Belum pasti,” tambah dokter cepat. “Tapi perlu pemantauan rutin.”
Langit mengangguk. “Apa yang harus kami lakukan?”
Dokter menjelaskan dengan tenang.
Ishani mendengarkan. Namun pikirannya seperti tertahan di satu titik.
Jantung.
Kata itu terasa terlalu dekat.
Di luar ruangan, Ishani berhenti melangkah. Ia menatap Iyan lama.
Langit berdiri di sampingnya. “Shani.”
Ishani menggeleng pelan. “Aku tidak apa-apa.” Tapi suaranya tidak meyakinkan.
Langit tidak memaksa. Ia hanya berdiri di sana. Lalu berkata pelan, “Kita jaga sama-sama.”
Ishani menoleh.
Langit tidak menatapnya. Matanya tetap pada Iyan. Namun kalimat itu cukup. Perlahan, Ishani mengangguk.
Malam itu, suasana rumah lebih tenang dari biasanya. Iyan sudah tidur. Bu Maura juga sudah masuk kamar.
Ishani duduk di meja makan.
Langit keluar dari ruang kerjanya beberapa menit kemudian. “Kamu belum tidur?”
Ishani menggeleng. “Aku masih kepikiran.”
Langit duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup. “Takut?” tanyanya.
Ishani mengangguk pelan.
Langit terdiam beberapa detik. Lalu berkata, “Kalau itu terjadi… kita hadapi.”
Tidak ada janji besar. Tidak ada kata-kata rumit. Tapi justru itu yang membuat Ishani merasa lebih tenang.
🥀🥀🥀🥀🥀
Pagi berikutnya, mereka bersiap kembali.
Tas sudah disiapkan. Mobil sudah di depan. Ishani menggendong Iyan. Langit berdiri di dekat pintu.
“Berangkat sekarang?” tanya Ishani.
Langit mengangguk. Namun saat mereka keluar, sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang.
Pintu terbuka.
Seorang pria turun lebih dulu.
Pak Rama.
Disusul seorang wanita dengan penampilan rapi dan tatapan dingin.
Bu Lucy.
Langit langsung berhenti. Tubuhnya sedikit menegang. Ishani ikut diam.
Tatapan Bu Lucy langsung jatuh ke arah bayi di pelukan Ishani. Lalu perlahan naik ke wajah Ishani. Lama. Menilai. Tanpa senyum.
“Jadi ini perempuan itu.”
Tidak ada yang langsung menjawab. Namun suasana berubah dalam sekejap. Dan untuk pertama kalinya, dua dunia yang selama ini terpisah berdiri tepat di depan satu sama lain. Tanpa jarak.
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
Ini hanya mimpi sih ya...
Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲