NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 31

“Dasar kadal birahi. Semalem aja sok-sokan curhat sampe berkaca-kaca, sekarang udah kegenitan ama betina,” gerutu Nadya. Ia lalu menatap Adam yang tersenyum polos ke arahnya. “Apa loe senyum-senyum, seneng loe dapet calon Mama baru.”

Sementara itu di dalam mobil, Rizal menginjak pedal gasnya dengan ragu, pikirannya terus dipenuhi raut masam Nadya. Ia lalu mengambil ponselnya mengetik pesan singkat ke anak buahnya, Yasir.

Mobil terus berjalan pelan sampai depan rumah Hasna, Rizal menurunkan kaca, kemudian berucap sedikit berteriak. “Maaf, Has, Abang nggak jadi ke kota. Temen ngabarin rapatnya di undur lusa.”

Ia kemudian memutar kemudinya—kembali ke rumah, meninggalkan Hasna dengan raut kecewa.

Hasna berdesis lirih, senyumnya berubah getir, giginya bergemeretak. “Nadya sialan itu.”

Rizal lekas berlari ke dalam rumah begitu sampai di halaman sambil memanggil Nadya dan Adam. Napasnya sedikit terengah, raut wajahnya gelisah.

“Nad, Dam …,” panggilnya. Lalu berjalan dengan tergesa menuju kamar sang putra. “Nadya.”

Nadya yang sedang menyusui Adam tersentak seketika, dengan cepat ia mengambil kain gendong—menutupi bagian dadanya. Alis gadis itu mengerut, sorot matanya memicing pelan.

“Kok belum berangkat?” tanyanya kemudian.

Rizal mengambil napas sejenak, lalu duduk di kursi yang ada di dekat jendela. “Yasir yang Abang suruh pergi.”

Nadya terdiam, dahinya berkerut—bingung bercampur heran, bibirnya berujar tajam. “Bukannya semalem Abang bilang ini rapat penting?”

Rizal mengusap wajahnya kasar, napasnya sudah lebih teratur. Ia lalu menatap Nadya. “Rapatnya memang penting, tapi yang di rumah jauh lebih penting.”

“Dih, apaan sih, nggak jelas banget,” cibir Nadya. “Terus ngapain Abang duduk di situ? Udah sana berangkat, ntar yang mau minta tumpangan nungguin, lo?” lanjutnya.

“Kok kamu balik lagi, Zal. Perasaan tadi Ibu lihat mobilmu sudah keluar. Terus siapa yang taruh pisang di teras? Di makan ayam, lo.” Suara Bu Harmi turut menyahut dari depan pintu.

“Anahhh, Ibu nggak papasan sama Hasna?” tanya Nadya dengan raut bingung, pasalnya saat dia masuk ke dalam rumah Bu Harmi sudah berjalan arah pulang dan Hasna masih berdiri di teras, perkiraannya mereka akan bertemu.

Alis Bu Harmi mengerut tipis, kepalanya menggeleng kecil. “Ketemu di belakang rumah Wak Farida, tapi dia kaya lagi buru-buru, di tanya Wak Farida juga nyelonong aja, nggak denger kayaknya.”

Nadya menoleh tajam ke arah Rizal, tatapannya penuh selidik seolah mempertanyakan tentang sikap aneh laki-laki itu. Merasa menjadi pusat perhatian, Rizal kemudian berdehem pelan seraya beranjak dari duduknya.

“Ehm, Ibu katanya kangen sama Bulek ‘kan, main ke sana, yok sekalian ngenalin Adam ke Mbah buyut. Dari lahir Adam belum pernah ketemu sama buyutnya. Kemarin Om Joko telepon nanyain Adam udah pinter apa.” Tatapannya lalu beralih ke Nadya. “Kita main tempat sodara Ibu, rumahnya arah Kabupaten, deket laut, sekalian jalan-jalan.” lanjutnya memberi penjelasan sebelum diminta.

“Tapi, Adam ‘kan baru keluar dari rumah sakit, Zal. Apa nggak bahaya nanti kumpul orang banyak?” tanya Bu Harmi, tatapannya ke arah Nadya.

“Nggak apa-apa, Bu, aman. Adam ‘kan sakitnya bukan karena virus, tapi kelalaian orang tua. Iya ‘kan, Nad? Udah ayo Ibu siap-siap, ganti baju aja nggak usah mandi, itu Yessy dateng, kita ajak sekalian. Kamu udah mandi ‘kan Nad, tinggal Adam aja,” cerocos Rizal membuat Bu Harmi dan Nadya saling melempar pandang—kebingungan.

Kurang dari setengah jam mereka sudah siap untuk pergi ke kerabat Bu Harmi yang berada di pesisir laut, Rizal mengendarai mobilnya sedikit tergesa, sesekali mata sendunya melirik jam tangannya, jari-jarinya mengetuk kemudi, meski terlihat tenang, namun jelas ada kegelisahan di dalamnya.

Nadya yang duduk di kursi sebelah kiri menyipitkan mata, kepalanya sedikit miring, seolah mencoba memahami sesuatu yang janggal. “Abang sebenernya kenapa sih, aneh betul?”

“Aneh apanya sih, Nad. Ibu memang beberapa hari lalu bilang mau ke tempat adik perempuannya di kota, iya ‘kan, Bu?” kilah Rizal.

“Iya, tapi nggak dadakan begini juga. Ibu ‘kan mau buatin Bulekmu kue talam sama peyek kacang dulu. Kalo begini kan jadi atung-atung(istilah berkunjung dengan tangan kosong) kita, nggak bawa apa-apa, buat buyutmu juga,” sahut Bu Harmi.

“Aku juga pake baju gembel, tau mau diajak main ke laut, tadi ganti baju dulu aku Bang … Bang,” gerutu Yessy dari kursi belakang.

Rizal mengusap hidung mancungnya pelan, lalu menoleh sekilas ke arah Yessy yang duduk di belakang sambil memangku Adam. “Nanti Abang kasih uang, kamu beli baju baru minta anter anaknya Bulek.”

Wajah Yessy sontak berbinar, senyumnya langsung merekah. “Bener, ya Bang. Yess … beli baju baru, kapan lagi belum mau lebaran udah beli baju baru.” sambut gadis belia itu dengan wajah girang.

Hampir dua jam mereka akhirnya sampai di rumah kerabat Bu Harmi, Rizal buru-buru membantu sang Ibu turun, juga beberapa barang yang sempat mereka beli saat di perjalanan.

“Bu, Rizal langsung berangkat, ya? Nanti sore Rizal jemput,” ucapnya begitu semua barang sudah diturunkan.

“Lho, la kamu mau kemana?” tanya Bu Harmi yang langsung memasang raut bingung.

“Rapat ke pabrik pusat,” sahut Rizal.

Seketika air muka Nadya dan Bu Harmi berubah—kembali bingung.

“Abang bilang sudah diwakilkan Yasir?” timpal Nadya.

Rizal menggeser langkahnya, mendekat ke Nadya, lalu menyodorkan kartu ATM warna gold ke gadis itu.

“Rapat pemilik lahan mana bisa diwakilkan, Nad. Kecuali, kamu. Udah ini pegang ATM, kalo mau jajan sama belikan Yessy baju ganti. Abang mungkin agak malem sampe sininya lagi, kamu kalo mau ke pantai minta anter anaknya Bulek jangan berdua sama Yessy, ilang nanti.”

Ia lalu mengusap puncak kepala Nadya. “Abang berangkat, Bu, Rizal tinggal, ya?” Pamitnya kemudian, sambil melambaikan tangan ke arah kerabat mereka yang sudah menunggu di teras rumah.

Nadya masih terdiam di tempatnya berdiri, tatapannya kosong sesaat, seakan pikirannya tersangkut di satu titik, Hasna. Ia lalu menunduk sekilas—menutupi senyum tipis yang tergaris di wajah manisnya, kemudian kembali mendongak menatap lekat mobil Rizal yang mulai menghilang di persimpangan.

Di dalam mobil Rizal mengusap wajahnya kasar, napas lega berhembus dari bibirnya yang pucat. “Akhirnya terselamatkan sudah calon lahan dunia akhiratku.”

Ia kemudian memacu mobilnya lebih kencang, demi bisa sampai pabrik pusat sebelum makan siang. Jarak tempuh yang seharusnya memakan waktu 4 jam ia pangkas hingga kurang dari 3 jam, membuatnya terus beristighfar sepanjang jalan.

.

.

.

“Pak Rizal Wijaya, Anda di tunggu Pak Ilyas di ruangannya.”

Bersambung.

1
Samsiah Yuliana
knapa pulak ini hah,,,
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Anna: Sudah di jawab sama Andreaz.
total 1 replies
haci
kak lagii tegang kenapa ke skip 😩
Anna: Maafkan aku, Kak. 🫢
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho bari baca sedetik sdh bersambung??? macam.mana ni up nya cuma seuprit
Anna: 🫢🫢🫢🫢🫢
total 1 replies
haci
jefri or pak ilyas nii🤣
Ita Nuryani
hayo siap itu ??? bang Rizal bkal cemburu
Anna: cuma panas dingin🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
suara siapa ya.... apakah Rizal kenal??
Anna: Yang jelas bakal bikin Rizal panas dingin 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
Rizaall..... ngga kapok kena bogem lagi ya... 😄😄😄
Anna: udah ganti capitan maut.
total 1 replies
Linceu thea
😂😂 kena deh hasna
Yessi Kalila
wkwk... ketahuan aslinya Hasna... 😄
Anna: Belum semua 🫢
total 1 replies
haci
asikk gosipp kan saja wakk🤣
haci: kapannn upp kak aku bola balee dari pagiii
uda kangenn ihh 😩
total 2 replies
Ita Nuryani
mas duda yg sabar y, jaga iman 🤭
Anna: godaan yang terlalu menggoda. 😖
total 1 replies
SooYuu
waduh
SooYuu
seruuuuu! semangat up thor, selamat sudah berhasil kembali membawa cerita baru. ❤️❤️
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
SooYuu
harus nunggu beberapa bab buat liat garangnya si abang duda ini🤣
SooYuu
owalah yu sar jan😩😩
nayla tsaqif
🤣🤣 Kasihannn bang zal,, pdhl belom setahun lho puasa,, masak gk tahan!
Anna: Namanya juga Kadal. kata Nadya. 🫢
total 1 replies
Rehan Atar
binggung ngk dibaca penasaran dibaca tambah penasarann @efek bersambung rasanya pengen dimumpulin dlu sampe beberapa episode tapii mengatall tak baca lanjutannyaaa 😄😄😄
Anna: harap bersabar, jari sedang berusaha keras. 😖
total 1 replies
Ita Nuryani
hasna kena prank . gak mungkin bang Rizal gak ikut 🤣🤣
Anna: Harusnya kenak mental sih habis ini.
total 1 replies
Samsiah Yuliana
masih ajj mau cari kesempatan tu si Hasna, bang Rizal nya ajj udh ga respect ya Thor 😁🙏🙏🙏
Anna: Sebelum janur kuning melengkung ...kira-kira begitu prinsipnya.
total 1 replies
Linceu thea
yes ga tau juga tuh si hasna kalau bang rijal bakalan ikut 🤣🤣🤣 maunya ya tor
Anna: Kita kasihhh pahamm bosss ... bosss ... bossss (baca pake nada JJ) 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!