NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 18

Dapur sederhana itu sudah mengepulkan wangi masakan setelah perdebatan kecil di depan rumah. Di meja makan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng tersaji rapi. 

Rizal yang baru selesai membersihkan diri, melirik sekilas ke dapur, tempat Nadya sibuk menyiapkan beberapa masakan. Jantungnya berdegup tak beraturan saat kembali mengingat ucapan Nadya. 

‘Terus kalau saya cemburu, Abang mau apa?!’ 

Rizal menyurai rambutnya yang masih basah, menarik napas pelan—seperti menahan sesuatu yang muncul di dadanya, kemudian kembali menatap Nadya yang masih sibuk di dapur. Netra amber laki-laki itu tertahan sejenak saat tiba-tiba Nadya mengikat rambutnya tinggi, memperlihatkan tengkuk dan leher jenjangnya. 

Ia meneguk ludah kasar, lalu menggeleng pelan—berusaha mengusir gelayar aneh yang sempat melintas di pikiran. Perlahan Rizal kembali mengangkat pandangannya menikmati diam-diam wajah manis Nadya, namun buru-buru beralih ke sekitar saat tidak sengaja netra mereka bertemu. 

“Ngapa pula, Abang belingsatan di situ, mana nggak pake baju,” celetuk Nadya begitu menyadari kehadiran Rizal. 

“Kelilipan,” kilah Rizal sambil pura-pura mengucek  matanya. 

Nadya mengernyit samar, sudut bibirnya terangkat miring. “Buruan pake baju, terus sarapan,” ujarnya, lalu berjalan menghampiri Adam yang ia tidurkan di ayunan rotan. “Kamu nggak bubuk, Ndut?” imbuhnya berceloteh dengan si anak susu. 

Senyum ceria terulas dari wajah polos Adam, tangannya sibuk di depan mulut, kakinya menendang udara. Namun, perlahan memudar saat menyadari Nadya beranjak dari sampingnya disusul tangis kecil. 

Oeekkkk! 

“Sabar, Ndut, Nad-nad cuci tangan bentar,” seru Nadya, yang langsung buru-buru mengelap tangan, lalu berlari menghampiri Adam.

Dengan penuh kasih sayang ia mengangkat Adam, menimangnya sejenak sebelum membawanya ke dalam kamar untuk menyusu. Rizal yang  baru saja akan masuk ke kamarnya tertegun sejenak saat melihat bagaimana Nadya begitu telaten mengurus Adam, batinnya bergumam lirih seiring senyum kagum di wajah tampannya.

‘Apa benar dia gadis galak yang tidak sengaja aku temui di parkiran?’ 

Sementara itu di pelataran depan, sekumpulan Ibu-ibu nampak riuh berbelanja di mobil sayur yang terparkir di halaman rumah Farida. 

“Kamu ndak bawa brokoli, Jang?” tanya Bu Harmi. 

Mang Ujang—si pedagang sayur berdecak kecil sambil merapikan barang dagangannya. “Agak mahal, Bu, nggak berani bawa saya, gampang busuk juga,” sahut Mang Ujang. 

“Besok bawakan, Jang. Brokoli sama kembang kol, setengah kilo saja, Nadya suka bener lalap sayur itu,” pesan Bu Harmi. 

“Ok. Ada lagi Bu?” Mang ujang dengan semangat mencatat pesanan dari pelanggannya. 

“Itu saja, ah … sama itu, Jang, lemon. Tiga atau empat biji gitu, Nadya suka bener bikin minuman dari lemon sama teh, apa itu namanya … lemon teh apa ... apa itu,” imbuh Bu Harmi. 

“Semua-semua kok untuk Nadya, dulu waktu anak saya masih ada nggak seperti ini!” Suara sengak Bu Sar menyela dari belakang. 

Sekumpulan Ibu-ibu sontak menoleh, ada yang langsung mencibir ada yang hanya tersenyum miring. 

Farida yang tahu betul bagaimana kehidupan Alhm. Sukma saat masih, ada menyahut dengan raut sinis. “Ya gimana Bu Harmi mau menyiapkan semua untuk Sukma, lawong yang ngatur semua Sukma sama Wak Sar sendiri.” 

Mendengar sindiran Farida, alis lancip Bu Sar menukik tajam, ujung bibirnya berkedut sinis. “Jangan sok tau kamu, Da.” 

Farida mencebik, lengan kirinya menyikut Zaenap yang berdiri di sebelahnya. 

Dewi yang juga ikut bersama sang Mama turut sibuk memilih beberapa jajanan. Dengan santai dia mengambil lima buah risol dan dua bungkus es cendol, kemudian berujar ringan pada Bu Harmi yang sedang menotal jumlah belanjaannya. 

“Ibu, Dewi ambil ini,” serunya sambil berjalan meninggalkan mobil sayuran. 

Disusul Bu Sartini yang juga menyodorkan seplastik sayuran untuk turut dibayar Bu Harmi. “Bu Harmi, sekalian bayarin sayuran saya, saya lupa nggak bawa uang.” 

Bu Harmi menghela napas pelan, lalu meminta Mang Ujang untuk menghitung jumlah belanjaan mereka. 

Melihat itu, Farida berdecih pelan. “Cih, gitu bilang Bu Harmi nggak pernah ngasih apa-apa, belanja sayur dua puluh ribu perak aja minta bayarin.” 

“La iya, kurang enak gimana coba. Saya kalo punya anak perempuan udah saya suruh ngerayu Bang Rizal juga biar bisa numpang hidup enak ,” timpal Zaenap yang terkenal juga bermulut pedas. 

Bu Sartini sontak mendelik, satu tangannya mengacung ke arah Farida dan Zaenap. 

“Memangnya Rizal bakal mau? Rizal itu seleranya anak rumahan yang rajin dan pintar. Kalaupun dia mau cari ganti pasti yang mirip kaya Sukma, minimal kaya Dewi, atau kepepetnya si Hasna. Kalau cuma gadis kampung biasa mana mau dia, apalagi modelan anak kota yang tau nya cuma hidup enak.” Oceh Bu Sar, ia sengaja meninggikan suaranya saat melihat Nadya berdiri di teras rumah. 

Menyadari kehadiran dua pemancing emosi datang, bahu Nadya merosot, air mukanya berubah lelah. Niatnya ke teras depan ingin menghampiri Bu Harmi, namun ia urungkan begitu melihat Bu Sar dan Dewi. Dengan gontai ia kembali masuk ke dalam rumah lalu duduk di meja makan sambil menunggu Rizal yang sedang mengenakan pakaian. 

Rizal yang menyadari perubahan raut wajah Ibu susu Adam menghampiri sambil mengusap pundak gadis itu. “Kenapa tiba-tiba cemberut? Nggak dibeliin jajan sama Ibu?” 

Nadya menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Bibirnya menipis seraya mengambilkan nasi dan lauk ke piring Rizal dan miliknya. 

“Nggak usah banyak tanya, Bang. Ayo cepet makan, keburu nggak selera saya,” ujarnya kemudian. 

Alis laki-laki bermata teduh itu mengerut dalam, bibirnya bergumam, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Ia memilih lekas duduk lalu mulai menyuapkan nasi yang sudah disiapkan Nadya. 

Baru saja mereka makan beberapa suap, suara Bu Sartini memekik dari depan pintu. 

“Ya Allah, enak betul kamu jadi pembantu Nadya, jam segini udah makan, sedang Bu Harmi masih kerepotan belanja sayur dibantu Dewi!” 

Nadya memejamkan matanya sejenak, tangan kanannya menggenggam erat sendok yang dipegangnya agar tak terlempar ke muka Bu Sar. Begitupun Rizal, laki-laki itu dengan cepat mengusap punggung tangan kiri Nadya seraya bergumam pelan. 

“Jangan di dengerin, fokus habisin makananmu aja.” 

Bu Sar berjalan cepat ke meja makan, membuka tudung saji yang menutupi menu sarapan pagi itu. 

“Alangkah banyak Ibumu masak lauk, Zal. Sudah ada tempe, laju masih goreng telur dadar, sayur sop, masih ada tahu kecap sama kerupuk. Kaya mana bisa ngumpul duit kamu kalo boros begini?” Oceh wanita berambut keriting itu sambil menyomot pisang goreng yang tersisa satu potong.  

“Mah, kami lagi mau makan, bisa tidak nanti saja ngomongnya?” sahut Rizal dengan suara tertahan. 

Bu Sar menoleh cepat, tatapannya menusuk ke arah Nadya yang masih menyelesaikan makannya. “Mama itu cuma nanya, Zal. Kamu semenjak ada perempuan itu kenapa jadi sewot sekali dengan Mama!” 

Rizal menggeleng pelan, lalu memilih fokus menghabiskan makananya. Ujung matanya melirik sesaat langkah Bu sar yang berjalan menuju kamar sang putra. Baru saja Rizal hendak memberitahu Adam baru saja tidur, suara melengking Bu Sar lebih dulu menggema dari dalam kamar. 

“Anahhhh, Nadya! Di mana pula otak kamu itu!” 

Bersambung. 

Keributan apalagi yang akan dibuat Bu Sar? Kita tunggu besok, ya pemirsa. Siapin batu, manatau Nadya butuh bantuan. Wkwkwkwkkwk ... Jangan lupa like, komen dan pencet ingatkan update. Kalau kalian suka karya saya, boleh kasih bintang lima dan follow akun saya.

Salam anak Sumatera

Anna🌴

1
haci
aku anterrr padud😩
Anna: Tercium maksud lain🙄
total 1 replies
Yuyun Harti
semangat update kak author
Anna: karna kamu aku semangat 🫶
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
pak ilyas ini bener2 iblis berwujud manusia anak swndiri aja mau dia embat
Anna: kira-kira di kasih azab apa enaknya?
total 1 replies
Samsiah Yuliana
knapa pulak ini hah,,,
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Anna: Sudah di jawab sama Andreaz.
total 1 replies
haci
kak lagii tegang kenapa ke skip 😩
Anna: Malem, Kakk ... malem. Buru-buru amat pengen cepet pagi. 🫢🫶
total 3 replies
Ratih Tupperware Denpasar
lho lho bari baca sedetik sdh bersambung??? macam.mana ni up nya cuma seuprit
Anna: 🫢🫢🫢🫢🫢
total 1 replies
haci
jefri or pak ilyas nii🤣
Ita Nuryani
hayo siap itu ??? bang Rizal bkal cemburu
Anna: cuma panas dingin🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
suara siapa ya.... apakah Rizal kenal??
Anna: Yang jelas bakal bikin Rizal panas dingin 🫢
total 1 replies
Yessi Kalila
Rizaall..... ngga kapok kena bogem lagi ya... 😄😄😄
Anna: udah ganti capitan maut.
total 1 replies
Linceu thea
😂😂 kena deh hasna
Yessi Kalila
wkwk... ketahuan aslinya Hasna... 😄
Anna: Belum semua 🫢
total 1 replies
haci
asikk gosipp kan saja wakk🤣
haci: kapannn upp kak aku bola balee dari pagiii
uda kangenn ihh 😩
total 2 replies
Ita Nuryani
mas duda yg sabar y, jaga iman 🤭
Anna: godaan yang terlalu menggoda. 😖
total 1 replies
SooYuu
waduh
SooYuu
seruuuuu! semangat up thor, selamat sudah berhasil kembali membawa cerita baru. ❤️❤️
Anna: 🫶🫶🫶🫶🫶
total 1 replies
SooYuu
harus nunggu beberapa bab buat liat garangnya si abang duda ini🤣
SooYuu
owalah yu sar jan😩😩
nayla tsaqif
🤣🤣 Kasihannn bang zal,, pdhl belom setahun lho puasa,, masak gk tahan!
Anna: Namanya juga Kadal. kata Nadya. 🫢
total 1 replies
Rehan Atar
binggung ngk dibaca penasaran dibaca tambah penasarann @efek bersambung rasanya pengen dimumpulin dlu sampe beberapa episode tapii mengatall tak baca lanjutannyaaa 😄😄😄
Anna: harap bersabar, jari sedang berusaha keras. 😖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!