🖊SEQUEL MENIKAHI SUAMI TIDAK NORMAL.
Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML031~ Ica Dikeluarkan Dari Sekolah
"Kak, habis ini aku mau ke sekolah, firasatku nggak enak."
"Iya, kita ke sekolah setelah ini."
Disisi lain di sekolah, Ziya dan Axan baru saja kembali dari kantin, saat melewati kantor sekolah terdengar suara ribut antara wali murid dengan sejumlah guru yang ada di ruangan.
"Kenapa tuh?" tanya Ziya pada Axan.
"Entah,"
"Ini semua gara-gara kamu, Ziya!" Ica datang dan langsung menyerang Ziya.
Ziya menahan tangan Ica yang mau mencakarnya.
"Jangan ganggu Ziya!" Axan langsung menendang kaki Ica hingga terjatuh di lantai.
"Kamu kan yang nyuruh Kepala Sekolah biar aku di keluarkan?!"
Ziya menggeleng.
"Aku nggak ngelakuin itu, Ca."
"Bohong!" Ica hendak menyerang Ziya lagi namun dengan cepat Axan menendang wajah Ica.
"Kalian menindasku!"
Ziya mencoba menenangkan Axan, wajah itu terlihat tenang namun kakinya tidak segan memberi kenang-kenangan di tubuh Ica.
"Ada apa ini kenapa ribut-ribut?!" Wali kelas 1 datang.
"Bu, Ziya dan Axan menindasku. Lihat, aku ditendang." Ica memperlihatkan pipinya yang kemerahan.
"Axan, apa benar?"
"Saya hanya melakukan tindakan melindungi diri, Bu. Ica yang memulainya." jawab Axan tanpa rasa takut.
Tidak berselang lama orang tua Ica dan pak kepala sekolah ikut keluar dan melihat keributan diluar ruangan.
"Kamu apakan anak saya?!" Ibu Ica tidak terima, ia langsung memeluk Ica.
"Bu, aku di tendang."
"Dasar anak nakal!" tangan Ibu Ica hendak menampar Axan namun dicegah oleh kepala sekolah.
"Anda membela anak yang sudah melakukan kekerasan pada temannya? Sulit di percaya! Saya sumpahin sekolah ini sepi dan ditutup!"
"Sumpah anda akan berlaku jika anda yang disakiti, Bu. Tapi sumpah itu akan kembali pada anda karena anda tidak bisa menjaga mulut." ucap Axan dengan tenang.
Semua staff guru yang mendengar hanya bisa diam mematung saat kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut seorang anak kecil.
"Dasar anak sialan!" Ibu Ica hendak memukul Axan namun tertahan oleh kedatangan seseorang.
"Siapa yang berani menyakiti anakku?" Syeera tiba, langkahnya dipercepat saat melihat anaknya sedang mendapat ancaman, semua orang menoleh ke arah Syeera.
"Siapa kamu?!" tanya Ibu Ica.
"Aku Ibunya Axan, jangan berani menyentuh anak saya." jawabnya tegas.
"Bukan, anda bukan Ibu saya." Axan menolak mengakuinya.
"Axan, ini Bunda. Tempo hari Bunda kesini, kita bicara di gerbang sana."
Axan mundur selangkah agar tidak terlalu dekat dengan Syeera. Hati Syeera bagai dicabik-cabik saat Axan mengatakan hal itu.
"Oh jadi kamu Ibunya?"
"Ajarin itu anakmu, nggak punya etika sekali dia."
Pak Alex dan Alena tiba, tali batin memberi reaksi, Axan langsung menoleh ke koridor dan melihat Pak Alex dan Alena yang sedang berjalan ke arahnya.
"Papa."
Axan membelah kerumunan staff guru.
"Xan.." Alena mempercepat langkah, Axan langsung berlari ke pelukan Alena.
"Perempuan itu datang lagi." ucapnya.
Alena menggendong Axan dan menepuk pundaknya dengan pelan.
"Mama? Om?" Ziya ikut mendekat.
"Ada apa ini?" tanya Pak Alex.
Kepala sekolah mendekat dan menjelaskan apa yang terjadi.
"Om, Ica duluan yang mulai. Xan cuma belain Ziya, Xan nggak salah." bela Ziya.
"Biar ku lihat seperti apa orang tuanya ini." Pak Alex berjalan mendekat ke arah orang tua Ica, Syeera terdiam saat melihat wajah asli Pak Alex.
"Aku yang meminta sekolah mengeluarkan anak kalian, ada masalah?"
Ayah Ica mengepal kedua tangannya dan maju menjadi tameng untuk anak dan istrinya.
"Masih bisa kau bertanya ada masalah? Ini jelas sangat masalah. Apa hak mu mengeluarkan anakku dari sini? Kau tidak ikut mengeluarkan biaya untuk anakku!"
Pak Alex melipat kedua tangan didepan dada, tatapan tajam ia berikan untuk lawan bicara di depannya.
"Aku tidak suka ada bibit busuk di tempat kaki anakku berpijak."
Staff guru kompak menutup mulut dengan tangannya karena terkejut mendengar balasan Pak Alex.
"Sialan kau!" umpat ayah Ica dengan tangan yang siap menghantam Pak Alex namun berhasil ditepis oleh Pak Alex.
"Aku tidak memaksa pihak sekolah untuk mengeluarkan anakmu, aku hanya memberi pilihan. Keluarkan anakmu atau sekolah ini di tutup."
"Bajingan!"
"Uhukk!" Ayah Ica terbatuk sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak.
"Kepala sekolah, mau sampai kapan membiarkan mereka membuat keributan disini?" tanya Pak Alex.
Kepala sekolah segera memanggil satpam.
"Antar mereka keluar." Kepala sekolah memberi perintah.
"Baik, Pak."
"Ziya, awas! Aku akan balas dendam!" teriak Ica saat dipaksa keluar oleh Satpam.
"Maaf membuat keributan, silahkan kalian bekerja kembali." ucap Pak Alex, anehnya staff guru bahkan sang kepala sekolah patuh, mereka bubar meninggalkan pak Alex dengan Ziya, Axan, Alena dan Syeera.
"Om..." panggil Ziya sambil menoel jari tangan Pak Alex.
"Iya?"
"Om keren banget!" puji Ziya.
"Terima kasih."
"Oh iya, ini Tante yang ngaku Mamanya Xan, Om."
Pak Alex beradu tatap dengan Syeera.
"Halo, salam kenal Pak Alex."
"Siapa?" tanya Pak Alex dengan ketus.
"Emmm sebaiknya kita bicara di tempat lain." usul Syeera.
"Kami sibuk, jangan buang-buang waktu."
Syeera menghela napas saat lawan bicaranya sulit dihadapi dengan sikap lembut dan ramahnya.
"Alena, apakah kamu sudah menyampaikan apa yang kita bahas kemarin?" tanya Syeera, Alena hanya mengangguk.
"Saya rasa anda ingin saya mengatakan ulang maksud dan tujuan saya."
"Axan anakku, tidak ada yang bisa merebutnya. Semoga kau pintar memahami perkataanku." pungkas Pak Alex, ia mengajak Ziya, Alena dan Axan pergi meninggalkan Syeera.
Syeera tidak terima, ia mengejar mereka berempat sampai di depan kelas Ziya dan Axan.
"Habis ini kalian mau ada pelajaran lagi kan?" tanya Alena, Ziya dan Axan mengangguk.
"Kalau begitu sekarang kalian masuk dulu ke kelas. Kami akan menunggu di mobil, setelah keluar dari kelas langsung tunggu di pak Satpam, jangan kemana-mana."
"Siap, Mama."
"Baik, Tante."
Alena menurunkan Axan dari gendongannya, dua bocah itu segera menuju bangku masing-masing.
"Alena." panggil Syeera.
"Aku sudah menceritakan semuanya padamu, kenapa kamu tidak mendukungku?" tanya Syeera.
Pak Alex menarik tangan Alena untuk menjauh dari ruang kelas 1, Syeera pun mengikuti mereka berdua.
"Apa kau tidak bisa mendengar?" tanya Pak Alex.
"Tentu saja pendengaranku normal." jawab Syeera.
"Kalau begitu aku tidak perlu mengulangi perkataanku tadi."
Syeera mencoba meraih tangan Pak Alex, Alena terkejut begitupun dengan Pak Alex. Baru saja kulit mereka bersentuhan, Pak Alex langsung melotot dan menepis kasar tangan Syeera.
Raut wajah Syeera tidak dapat disembunyikan, ia terkejut bercampur rasa takut saat Pak Alex tanpa ragu bersikap kasar padanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu risih." ucap Syeera dengan nada lemah.
"Cih," Pak Alex hanya berdecih, ia kembali menarik tangan Alena dan pergi ke luar sekolah.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin