Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
"Ayah, ibu...!" sambut Bai Dashan pada kedua mertuanya yang datang berkunjung.
"Kakak ipar pertama, kakak ipar kedua...!" sambung Bai Dashan, dilanjut menyapa para istri saudara lelaki iparnya dan lima keponakan.
"Bagaimana luka kakimu..?" tanya tuan tua Chen.
"Sudah jauh lebih baik ayah..!"
Chen Muwan keluar dari kamar anak-anaknya dengan wajah pucat, serta lingkaran mata panda.
Terlihat jelas jika wanita berusia dua puluh delapan tahun itu kurang tidur sepanjang malam selama dua hari ini guna menjaga Bai Anshu.
"Ayah, ibu, kakak...!"
Pelukan penuh kehangatan diberikan oleh nyonya tua Chen pada putri semata wayangnya.
"Kami baru mendengar dari A-Junyi semalam sekembalinya dia dari dermaga jika Shu'er tersambar petir." ucap parau nyonya tua Chen.
"Sudah tiga hari ini Shu'er tidak sadarkan diri----
Chen Muwan menjabarkan kondisi Bai Anshu dengan suara serak tercekat.
"Tidak akan terjadi apa-apa pada keponakanku, Shu'er pasti baik-baik saja." ucap menenangkan Zhang Yuwen, kakak ipar pertama Chen Muwan.
Keluarga Chen tinggal didesa Qingshan, memakan waktu perjalanan sekitar tiga puluh menit jika menggunakan kereta kuda atau gerobak keledai.
Tuan dan nyonya tua Chen, memiliki dua putra serta satu putri.
Putra pertama adalah Chen Yeping, berusia tiga puluh lima tahun. Istrinya Zhang Yuwen, tiga tahun lebih muda.
Mereka memiliki satu putra dan dua putri.
Putra pertama Chen Junyi, berusia enam belas tahun.
Putri kedua Chen Yaran, tiga belas tahun dan anak perempuan bungsu Chen Linli, sepantaran dengan Bai Anshu.
Putra kedua Chen Yongzi, berumur tiga puluh dua tahun, istrinya Li Yuning. Pasangan ini memiliki dua putra yang masing-masing berusia tiga belas dan sebelas tahun.
Putra pertama Chen Zhuan, adiknya Chen Yenji.
Keluarga Chen berprofesi petani dengan tanah garapan tiga hektare, memiliki peternakan ayam lima puluh ekor dengan memanfaatkan pekarang belakang rumah.
Kadang-kadang anggota keluarga Chen menjadi buruh serabutan di Pelabuhan Tiankeng, atau berburu jika masa pertanian libur.
Selain itu, Putra pertama Chen juga memiliki keahlian dalam kerajinan kayu dan batu, yang menjadi jalan harapan lain dalam mengais rezeki.
Sedangkan keluarga Bai, akar leluhurnya berasal dari desa Huanshan.
Tuan dan nyonya tua Bai memiliki dua anak.
Putra pertama Bai Sanlang, istrinya Li Mei. Putra pertama mereka Bai Suji, tiga belas tahun dan putri kedua Bai Lushi sepuluh tahun.
Putra kedua Bai Dashan, istrinya Chen Muwan. Putri pertama Bai Anshu, putra kedua Bai Hanzi, dan anak bungsu Bai Jinyu.
Karena kemiskin keluarga, setelah Bai Dashan menikahi Chen Muwan, tuan dan nyonya tua Bai langsung mewariskan lahan seluas delapan ratus meter yang berjarak seribu langkah dari rumah utama Bai pada putra keduanya itu.
Dengan bermodal uang tiga tael, keluarga Bai membangun tiga rumah diatas tanah tersebut dengan dikelilingi pagar kayu setinggi pinggang orang dewasa.
Rumah tua keluarga Bai sendiri terdiri dari lima bangunan, dengan saung terbuka dihalaman untuk menerima tamu.
Harta keluarga Bai cuma ladang seluas satu hektare yang diurus bersama.
Li Yuning meletakkan sekeranjang telur dan lima kati gandum hijau keatas meja, sebelum mendatangi keponakannya yang damai tertidur diranjang.
Tangan kasar akibat bekerja keras sepanjang hari dalam waktu lama itu menyentuh lembut raga Bai Anshu, lalu membenahi selimut yang membalut raga kurus keponakannya.
"Apa kalian sudah makan..?" tanya Li Yuning pada Bai Hanzi dan Jinyu.
Kedua kakak beradik mengangguk "sudah bibi kedua..!"
Chen Muwan menyajikan air bening bagi keluarganya, lalu bergabung ditepi ranjang bersama ibu dan kedua saudari ipar.
"Tubuhnya hangat, itu artinya Shu'er baik-baik saja." gumam penyemangat nenek Chen penuh harap, sembari memeriksa suhu badan Bai Anshu.
"Tahun ini cuaca tidak menentu, sampai-sampai proyek pembangunan dermaga pun di tunda." ucap kakek Chen menghela nafas.
Kedua putra Chen dan Bai Dashan mengangguk setuju.
"Hujan deras dengan petir di musim panas kali ini lebih sering turun, banyak pohon tumbang juga akibat badai angin." Chen Yongzi menimpali.
Ditengah obrolan, kakek-nenek Bai serta keluarga putra pertama Bai datang bergabung.
Perbincangan hangat dengan terselip kecemasan tercipta, berlanjut makan malam bersama, sebelum keluarga Chen pamit pulang kedesa Qingshan.
Tungku penerangan dinyalakan, sebab mereka tidak memiliki minyak untuk pelita apa lagi lilin.
Beruntung, rumah itu banyak memiliki rongga untuk ventilasi udara. Jadi asap dari anglo penerangan tidak mengepul didalam ruangan.
"Pergilah tidur, malam ini biar aku yang menjaga putri kita." titah Bai Dashan pada sang istri.
Chen Muwan menggeleng lemah "aku akan menemanimu."
Bai Dashan menghela nafas panjang tanpa daya.
"Kalau begitu tidurlah..!" ucap pria dengan fitur wajah tampan nan tegas itu, menepuk sisi kosong tempat tidur disebelah putrinya.
Chen Muwan patuh, berbaring pelan memeluk raga Bai Anshu.
Bai Hanzi dan Jinyu sudah terlelap lebih dulu diranjang lainnya.
Kamar tiga bersaudara memang menjadi satu, sebab dua rumah tersisa digunakan untuk dapur sekaligus ruang makan dan gudang pangan.
Satu rumah lainnya adalah kamar Bai Dashan dan Chen Muwan, sedangkan untuk menerima tamu menggunakan beranda dapur.
Rintik hujan kembali menyapa, suara binatang malam meraung lantang menciptakan gema merdu membelah kesunyian.
Udara pegunungan yang dingin semakin menggigit, sebab hujan perlahan makin menderas.
Ditengah kantuk yang mendera raga Bai Dashan, kelopak mata Bai Anshu bergoyah lirih, sebelum terbuka sempurna secara perlahan.
Bai Anshu merotasi sekitar, sebelum pandangannya jatuh ke sang ayah yang duduk tertidur dikursi sebelah ranjang.
Sudut bibir Bai Anshu saling menarik, menciptakan guratan senyuman ranum yang manis.
Bai Anshu menoleh, wajah teduh sang ibu langsung terbingkai kornea lentiknya.
Kedua tangan Bai Anshu keluar dari selimut. Dibawah cahaya redup anglo lentera, untaian batu bintang lima warna melingkar indah dipergelangan tangannya.
"Ajaib, semua ini nyata..!" bisik girang gadis remaja itu.
Jari telunjuk yang dililit batu bintang Bai Anshu masukkan mulut, air suci mengalir sejuk membasahi kerongkongannya.
Tubuh lesu itu kembali bugar, penuh energi serta jauh lebih ringan seperti kapas awan.
Bai Anshu menggerakkan tangan, mengaplikasikan tehnik yang telah ia pelajari selama koma.
Asap putih tipis menguar dari telapak tangan, menandakan jika kekuatan itu sungguh ia miliki. Tiga tahun yang diucapakan Xingxing ternyata bukanlah mimpi.
Setelah puas mengorek pikiran sembari mengagumi berkah yang ia peroleh, Bai Anshu menyentuh tangan kedua orangtuanya.
"Ayah, ibu...!"
Bai Dashan sontak saja terjingkat bangun, begitu juga Chen Muwan.
Bai Anshu tersenyum "ayah, ibu...!"
"Shu'er, putriku..!" seru Dashan dan Muwan bebarengan.
"Ya Dewa, terimakasih...!" ucap Haru penuh syukur Bai Dashan.
Chen Muwan memeluk erat raga sang putri "Shu'er, akhirnya kau bangun. Terimakasih sudah mau kembali."
Tangis tergugu Chen Muwan hadirkan, sebagai luapan haru kebahagiaan.
Bai Dashan mengusap kepala sang putri, dengan dua garis airmata mengalir dipipi.
Pelukan Bai Muwan terurai, matanya menelisik wajah dan tubuh putri semata wayangnya.
"Apa ada yang sakit..? katakan, bagian mana ditubuhmu yang terasa tidak nyaman..?" cecar Chen Muwan.
Bai Anshu menggeleng "aku baik-baik saja ibu, tidak ada yang sakit."
"Sungguh...?" balas serempak Bai Dashan dan Chen Muwan.
Bai Anshu mengangguk mantap "bahkan tubuhku jauh lebih baik dari sebelum tersambar petir."
Dahi Bai Dashan mengkeret tipis, netra Chen Muwan menyipit. Keduanya bertukar tatapan dengan ekspresi tak biasa.
Pergerakan tercipta diranjang lainnya, kakak beradik lelaki terjaga dari tidur lelap mereka.
"Kakak...!"
"Kakak pertama...!"