Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Tamu yang Tidak Diundang
Sudah hampir satu minggu sejak Rubi terbangun di tubuh Rubi Casandra Dimitri.
Hari-harinya mulai terasa lebih teratur.
Pagi sarapan, berjalan-jalan di taman, membaca buku di perpustakaan, lalu beristirahat sesuai jadwal yang dibuat dokter.
Meski masih sering merindukan kehidupan lamanya, setidaknya ia sudah tidak menangis diam-diam setiap malam.
Rubi sadar satu hal.
Ia tidak bisa terus hidup dengan menyesali masa lalu.
Karena saat ini ada bayi yang bergantung padanya.
Dan apa pun yang terjadi, bayi ini tidak bersalah.
Pagi itu Rubi sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca buku.
Sebuah selimut tipis menutupi kakinya.
Cuaca di Eropa mulai sedikit dingin.
Sesekali ia mengusap perutnya yang kini semakin terlihat.
Tanpa sadar senyum kecil muncul di bibirnya.
"Aku masih nggak percaya ada bayi di sini."
Ia bergumam sendiri.
Meskipun belum pernah menjadi ibu, ada perasaan hangat setiap kali memikirkan bayi itu.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari arah pintu utama.
Tidak lama kemudian kepala pelayan masuk dengan wajah tegang.
"Nyonya muda."
Rubi mengangkat kepala.
"Iya?"
"Tamu keluarga Dimitri datang."
"Hm?"
Rubi menutup bukunya.
"Siapa?"
Ekspresi kepala pelayan berubah aneh.
Seolah tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Sekretaris pribadi Tuan Muda dan beberapa anggota keluarga besar Dimitri."
Rubi langsung duduk tegak.
Anggota keluarga?
Jantungnya mendadak berdebar.
Selama beberapa hari ini ia belum pernah bertemu keluarga Alexander.
Dari ingatan yang ia miliki, hubungan Rubi asli dengan keluarga Dimitri tidak terlalu baik.
Terutama dengan beberapa kerabat Alexander.
Mereka menganggap Rubi tidak pantas menjadi istri keluarga Dimitri.
Karena berasal dari keluarga biasa.
Bahkan ada yang terang-terangan tidak menyukainya.
"Apa mereka sering datang?"
Pelayan menggeleng pelan.
"Tidak terlalu sering."
Belum sempat Rubi bertanya lagi, suara sepatu hak tinggi terdengar mendekat.
Tak lama kemudian seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun masuk tanpa menunggu izin.
Penampilannya sangat elegan.
Gaun mahal.
Perhiasan mewah.
Tatapan tajam.
Di belakangnya ada seorang wanita muda dan dua pria yang terlihat tidak kalah angkuh.
Rubi langsung tahu.
Ini pasti keluarga Alexander.
Wanita paruh baya itu menatap Rubi dari atas sampai bawah.
Tatapannya membuat Rubi tidak nyaman.
Seolah sedang menilai barang dagangan.
"Hm."
Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Rubi tersenyum sopan.
"Selamat pagi."
Bukannya membalas sapaan, wanita itu malah duduk di sofa seberang.
"Jadi kau sudah sembuh."
Nada bicaranya dingin.
Rubi mengangguk.
"Sudah jauh lebih baik."
Wanita itu kembali mengamati Rubi.
Lalu pandangannya berhenti pada perutnya.
Setelah itu ia mendengus pelan.
Rubi mulai merasa tidak enak.
Sementara wanita muda yang duduk di sebelahnya tiba-tiba berbicara.
"Kak Alexander tidak ada?"
"Sedang bekerja."
"Oh."
Jawaban singkat itu diikuti senyum tipis yang sulit diartikan.
Entah kenapa Rubi tidak menyukai senyum itu.
Suasana terasa canggung.
Untung kepala pelayan segera menyajikan teh.
Namun ketegangan tetap terasa.
Sampai akhirnya wanita paruh baya itu kembali berbicara.
"Kudengar kau sempat demam."
"Iya."
"Karena terlalu lemah."
Rubi hanya tersenyum.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Lalu wanita itu melanjutkan.
"Seorang calon ibu harus menjaga diri dengan baik."
Kalimat itu terdengar normal.
Tetapi entah kenapa nada suaranya seperti sindiran.
Rubi mulai memahami.
Keluarga ini memang tidak menyukainya.
Atau lebih tepatnya tidak menyukai pemilik tubuh asli.
Tiba-tiba wanita muda di sebelahnya tersenyum.
"Untung saja bayinya selamat."
"Iya."
"Kalau sampai terjadi sesuatu pasti keluarga besar akan kecewa."
Rubi menatapnya.
Ada sesuatu yang terasa tidak tulus dalam perkataan itu.
Namun ia memilih diam.
Karena tidak ingin mencari masalah.
Sekitar satu jam kemudian.
Rubi mulai merasa lelah.
Perutnya juga sedikit tidak nyaman.
Namun para tamu itu masih belum pergi.
Mereka terus mengobrol sendiri seolah Rubi bahkan tidak ada di sana.
Sampai tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari pintu masuk.
Seluruh pelayan langsung menundukkan kepala.
"Tuan muda sudah pulang."
Rubi spontan menoleh.
Alexander berjalan masuk dengan ekspresi datar seperti biasa.
Namun saat melihat ruang keluarga yang penuh orang, alisnya sedikit berkerut.
"Bibi."
Alexander menyapa wanita paruh baya itu.
Ternyata benar.
Masih keluarga.
Wanita itu langsung tersenyum.
Senyum yang jauh lebih ramah dibanding saat berbicara dengan Rubi.
"Alexander."
Alexander mengangguk.
Lalu tatapannya berpindah ke arah Rubi.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup membuat Rubi merasa lega.
Entah kenapa.
Alexander berjalan mendekat.
"Kau sudah makan siang?"
Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan hening.
Rubi sendiri terlihat bingung.
"Belum."
Alexander melirik jam tangannya.
Sudah lewat pukul satu siang.
"Kau belum makan?"
"Nggak lapar."
Seketika tatapan Alexander berubah tajam.
"Kata dokter kau tidak boleh telat makan."
Rubi langsung menutup mulut.
Ups.
Lupa.
Ia tidak menyangka Alexander akan mengingat hal seperti itu.
Sementara para tamu mulai saling bertukar pandangan.
Mereka jelas terkejut.
Karena Alexander Dimitri terkenal tidak peduli pada siapa pun.
Apalagi urusan makan seseorang.
Namun sekarang?
Ia sedang memarahi istrinya karena telat makan.
Wanita muda tadi tampak tidak senang melihatnya.
Sedangkan bibi Alexander terlihat sedikit terkejut.
Alexander memanggil pelayan.
"Siapkan makan siang."
"Baik, Tuan."
Kemudian ia menoleh kembali pada Rubi.
"Kau makan sekarang."
Nada suaranya tidak bisa dibantah.
Rubi hanya bisa mengangguk pelan.
"Iya."
Untuk pertama kalinya sejak kedatangan para tamu itu, Rubi merasa ada seseorang yang berada di pihaknya.
Meski caranya memang agak menakutkan.
Setelah makan siang selesai disiapkan, Alexander malah duduk di samping Rubi.
Membuat suasana semakin aneh.
Bahkan Rubi bisa merasakan tatapan beberapa orang yang terus mengarah padanya.
Ia jadi tidak nyaman.
Namun Alexander terlihat tidak peduli.
Pria itu membuka beberapa dokumen kerja sambil sesekali memperhatikan Rubi makan.
Seolah memastikan makanannya benar-benar habis.
Rubi sampai ingin mengeluh.
"Aku bukan anak kecil."
Bisiknya pelan.
Namun ternyata Alexander mendengarnya.
"Kau juga bukan pasien yang patuh."
Rubi langsung terdiam.
Sedangkan beberapa pelayan menahan senyum.
Mereka belum pernah melihat Tuan Muda berbicara sepanjang ini dengan siapa pun.
Bahkan sekretaris pribadinya sering hanya mendapat jawaban satu kata.
Setelah selesai makan, Rubi bersandar lega.
Alexander menutup dokumennya.
"Bagaimana sekarang?"
"Sudah kenyang."
"Bagus."
Untuk sesaat suasana menjadi tenang.
Sampai wanita muda tadi kembali berbicara.
"Kak Alexander."
"Hm?"
"Aku dengar bulan depan ada acara keluarga besar."
Alexander menatapnya.
"Lalu?"
"Semua anggota keluarga akan hadir."
Wanita itu tersenyum.
"Termasuk Rubi."
Rubi langsung menoleh.
Acara keluarga?
Kenapa ia baru mendengarnya?
Alexander terlihat berpikir beberapa detik.
Kemudian mengangguk.
"Kalau kondisi kesehatannya memungkinkan."
Jawaban itu terdengar biasa.
Namun cukup membuat wanita muda itu sedikit kecewa.
Karena yang ia inginkan jelas bukan itu.
Rubi yang tidak mengerti apa-apa hanya diam.
Tetapi entah kenapa firasatnya mendadak buruk.
Sangat buruk.
Perasaannya mengatakan bahwa acara keluarga itu tidak akan berjalan sederhana.
Terutama karena sebagian keluarga Dimitri tampaknya tidak menyukainya.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Rubi sadar.
Musuhnya mungkin bukan hanya orang luar.
Tetapi juga orang-orang yang berada di dalam keluarga Dimitri sendiri.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉