NovelToon NovelToon
Hidayat Bersaudara

Hidayat Bersaudara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:680
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Kabar Baik dan Masalah Baru

Setelah kepergian Bima, suasana di bengkel Hidayat Bersaudara terasa agak hening dan berat. Guntur masih kelihatan emosi, napasnya naik turun menahan kesal mendengar ancaman-ancaman Bima tadi. Ali malah diam saja, matanya menatap kosong ke arah jalanan berdebu, pikirannya melayang memikirkan nasib mereka ke depan. Cuma Faris yang masih tenang, dia menghitung-hitung uang tebal pemberian Bima tadi dengan gerakan pelan dan hati-hati. Jumlahnya memang lumayan besar, jauh lebih banyak dari penghasilan mereka selama berbulan-bulan, tapi rasanya ada yang mengganjal di hati. Uang itu didapat bukan dari rasa terima kasih, melainkan dari rasa kalah dan dendam seseorang.

"Sudah lah, jangan dipikirin terus omongan dia," buka Faris pelan sambil menyodorkan sebagian uang itu ke arah Guntur. "Nih, Gun. Kamu simpan sebagian ini, nanti sore beliin obat-obatan sama makanan bergizi buat Bapak. Beliau kan masih belum pulih benar sakitnya. Sisa uangnya kita sisihkan, sebagian buat nambah stok onderdil yang kurang, sebagian lagi kita tabung sesuai janji kita, buat nanti bangun tempat belajar sama bengkel kecil buat anak-anak yang nasibnya sama kayak kita."

Guntur menerima uang itu, dilipatnya rapi dan dimasukkan ke saku baju. "Iya Bang, aku ngerti. Cuma ya gitu... rasanya nggak ikhlas aja nerima uang dari orang kayak dia. Takutnya ada sialnya, ada masalahnya nanti."

Faris menepuk bahu adiknya itu sambil tersenyum tipis. "Uang itu barang mati, Gun. Yang bikin baik atau buruk itu pemiliknya sama cara pakainya. Kita terima ini karena kita udah kerja keras, udah kasih keringat sama pikiran sampai habis. Ini hak kita, rezeki kita. Anggap aja Tuhan kasih lewat jalan yang nggak disangka-sangka. Yang penting hati kita bersih, niat kita baik, insyaallah berkah."

Obrolan mereka terhenti saat terdengar suara langkah kaki agak tergesa dari luar. Menjulur kepala seorang bapak-bapak, tetangga sebelah rumah mereka, Pak Hadi. Beliau terkenal ramah dan sering kasih kerjaan ke bengkel kecil ini kalau ada kendaraan warga yang rusak ringan. Wajah Pak Hadi kelihatan senang banget, matanya berbinar-binar.

"Wah, kebetulan banget ada bertiga di sini!" seru Pak Hadi sambil masuk pelan-pelan. "Kabar bagus nih, Nak Faris! Kabar soal kehebatan kalian benerin motor mewah milik Mas Bima itu udah menyebar ke mana-mana lho! Satu kampung, bahkan sampai pasar kota udah pada ngomongin. Katanya motor yang udah dianggap mati suri aja bisa kalian hidupkan lagi, bahkan lebih bagus dari aslinya."

Faris terkejut dikit, dia sama sekali nggak nyangka berita itu bakal secepat ini menyebar. "Ah, Bapak ini bisa aja. Kami cuma ngerjain semampu kami kok, nggak ada hebat-hebatnya."

Pak Hadi malah menggeleng kuat. "Jangan rendah diri gitu dong. Orang-orang itu sampai takjub lho. Banyak yang bilang, ternyata anak-anak Hidayat ini punya ilmu yang nggak dimiliki orang lain. Nah, kebetulan sekali, ada beberapa kenalan saya, pengusaha-pengusaha kecil di kota, mereka punya kendaraan-kendaraan tua, truk-truk angkutan barang, sama motor operasional yang udah rusak parah, nggak ada bengkel yang mau benerin karena dianggap ribet dan rugi. Mereka dengar nama kalian, langsung minta saya antarkan ke sini. Katanya mau titip benerin semuanya ke kalian."

Mata Guntur sama Ali langsung melebar senang. Ini kabar yang luar biasa banget. Selama ini mereka cuma nerima kerjaan ringan atau kendaraan warga biasa. Kalau dapat kepercayaan dari pengusaha-pengusaha itu, berarti penghasilan mereka bakal jauh lebih pasti, dan nama bengkel makin terangkat.

"Beneran, Pak? Mereka mau percaya sama kita?" tanya Ali nggak percaya.

"Beneran dong! Mereka bilang, orang yang bisa akali mesin rumit kayak punya Mas Bima, pasti jagonya luar biasa kalau urusan mesin-mesin tua yang sederhana tapi bandel. Nanti sore atau besok pagi kendaraannya bakal diantar ke sini. Jumlahnya lumayan banyak lho, sampai tujuh unit lebih," jelas Pak Hadi panjang lebar.

Faris tersenyum lebar banget kali ini, matanya bersinar penuh harap. "Terima kasih banyak ya, Pak Hadi. Terima kasih udah percaya sama kami. Kami janji bakal kerjain sebaik mungkin, nggak bakal nyia-nyiakan kepercayaan ini."

Setelah Pak Hadi pamit pulang, suasana di bengkel langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Kesal sama kekhawatiran gara-gara Bima tadi langsung hilang lenyap diganti semangat yang membara. Guntur sama Ali langsung sibuk bersihin tempat kerja, merapikan tumpukan barang, nyiapin alat-alat, seolah energi mereka kembali berkali-kali lipat.

"Bang, denger nggak tuh?! Kita bakal ngerjain kendaraan-kendaraan perusahaan! Ini kesempatan emas banget lho! Kalau puas, mereka pasti bakal langganan terus sama kita!" seru Guntur sambil nyapu lantai makin semangat.

"Iya Bang, berarti omongan Abang bener ya. Apa yang Bima anggap jelek, malah jadi jalan rezeki kita yang lebih besar," timpal Ali sambil ngelap meja kerja sampai kinclong.

Tapi Faris tetaplah Faris, dia nggak gampang terbawa euforia. Dia menatap kedua adiknya dengan tatapan serius. "Iya, ini rezeki besar, tantangan besar juga. Tapi ingat ya, ini berarti kita makin kelihatan, makin banyak orang tahu. Itu artinya, mata-mata orang kayak Bima juga makin gampang ngawasin kita. Kalau ada kesalahan dikit aja, atau ada hal yang nggak beres, mereka bakal langsung nyerang dan ngerusak nama kita."

Guntur sama Ali langsung diam, mengangguk paham.

"Kerjain semuanya dengan teliti, jujur, dan rapi kayak biasa. Kita buktiin ke semua orang, nggak cuma bisa benerin motor mewah, tapi kita lebih jago dan lebih telaten kalau urusan kendaraan yang dipakai buat cari nafkah orang lain. Itu jauh lebih mulia nilainya," pesan Faris tegas.

Siang itu berlalu dengan persiapan matang. Tapi saat sore mulai menjelang, ada kejadian kecil yang bikin hati Faris agak gelisah. Saat Guntur pergi ke toko onderdil buat beli perlengkapan, dia pulang dengan wajah bingung.

"Bang... aneh nih. Biasanya penjual onderdil di kota itu ramah banget sama kita. Tapi tadi pas aku beli barang, dia ngomong kalau ada beberapa suku cadang tertentu yang stoknya mendadak kosong, padahal kemarin-kemarin masih banyak. Dia bilang ada orang yang pesan borongan semua buat keperluan proyek katanya. Dan barang-barang yang kosong itu kebetulan banget barang-barang yang paling sering kita butuhin buat kendaraan tua nanti."

Faris mengerutkan keningnya dalam-dalam. Perasaannya yang tajam langsung menangkap sesuatu yang nggak beres. Dia teringat tatapan mata Bima, teringat ancaman-ancamannya.

"Jangan-jangan... ini ulah dia ya Bang? Dia tahu kita bakal banyak kerjaan, dia mau bikin kita susah cari barang, biar kita telat selesai, biar kita kelihatan nggak becus di depan pelanggan baru kita?" tebak Ali pelan dengan suara gemetar.

Faris diam cukup lama, tangannya mengepal kuat. Ternyata benar dugaan dia. Permusuhan ini belum selesai, baru saja dimulai. Bima memang nggak bakal diam saja melihat mereka makin maju. Dia mau ngalangin jalan dari segala arah.

"Tenang aja," kata Faris pelan tapi penuh tekad. "Dia bisa tupok stok di satu tempat, tapi dia nggak bakal bisa tupok seluruh kota, seluruh provinsi. Kalau barang di sini nggak ada, kita cari ke tempat lain, kita cari lewat kenalan jauh. Dia mau main kotor? Kita jawab sama kerja keras dan kepintaran kita. Masalah suku cadang jangan jadi penghalang. Kita akali lagi, kita modifikasi lagi, kayak kita akali sensor motor dia dulu. Ingat, kita punya otak dan tangan yang bisa bikin apa aja yang nggak ada."

Matahari mulai terbenam, langit berubah jadi merah jingga. Di balik keindahan itu, badai masalah mulai berarak mendekat. Tapi di bengkel kecil itu, tiga saudara itu berdiri tegap. Masalah suku cadang hanyalah rintangan kecil. Mereka siap menghadapi apa saja, demi keluarga, demi masa depan, dan demi membuktikan kalau nasib buruk bukan berarti akhir segalanya, tapi justru awal dari perjuangan yang luar biasa. Besok hari baru bakal datang, membawa kendaraan-kendaraan yang harus diperbaiki, sekaligus membawa pertarungan baru yang jauh lebih berat.

1
falea sezi
semangat nanti q kirim hadiah
falea sezi
author orang mana
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Sidoarjo
total 1 replies
falea sezi
bima kn otaknya kosong🤣 cm ngandalin harta orang tua nya aja😒
Ilham
BG jangan gantung gtu cerita nya npa bg
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Siap Kak Ilham
😌 Jangan khawatir… cerita ini nggak bakal jadi ,gantungan kunci doang, bakal lurus sampai garis finis persis di lintasan balap Nanti bab-babnya menyusul cepat kok 😂
total 1 replies
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut bg👍
Ilham
lanjut BG jangan gantung bg
Ilham
lanjut bg
Ilham
lanjut BG cerita dari awal mantap bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!