NovelToon NovelToon
Janji Yang Terkubur

Janji Yang Terkubur

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jun

Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur

Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Bayang Masa Lalu yang Kembali

Hujan masih mengguyur deras, memukul kaca jendela kamar dengan bunyi yang terus-menerus, seolah tidak akan pernah berhenti. Di dalam ruangan yang gelap itu, hanya terdengar suara isak tangis Lira yang memecah kesunyian. Tangan kecilnya masih erat menggenggam tangan ayahnya yang kini sudah dingin dan kaku, air matanya mengalir deras membasahi pipi yang sudah terasa perih. Lima tahun lamanya ia memendam rasa benci, rasa kecewa, dan rasa rindu yang tertahan. Ia berpikir akan membenci ayahnya sampai akhir hayat, ia berpikir tidak akan pernah lagi peduli apa yang terjadi pada lelaki itu. Namun kini, saat kenyataan pahit datang tepat di depan matanya, saat ia menyadari bahwa semua kata kasar, semua perlakuan dingin, dan pengusiran itu ternyata semata-mata untuk melindunginya… rasa benci itu lenyap begitu saja, digantikan oleh rasa penyesalan yang luar biasa besar.

Kenapa ia tidak mau mendengarkan penjelasan ayahnya dulu? Kenapa ia terlalu keras hati untuk sekadar memberi kesempatan berbicara? Kenapa baru sekarang, saat semuanya sudah terlambat, kebenaran itu baru terungkap?

“Ayah… maafkan aku… maafkan aku, Ayah…” bisik Lira di antara tangisannya, tubuhnya gemetar hebat. “Aku jahat sekali… aku membencimu padahal kamu hanya ingin melindungiku… Maafkan aku…”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka perlahan, membuat Lira terkejut dan segera menyeka air matanya dengan kasar. Cahaya lampu dari lorong masuk menerangi sebagian ruangan, dan tampak sosok Bu Sumi berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata yang sudah bengkak karena menangis. Wanita tua itu menatap jenazah tuannya dengan pandangan sedih, lalu perlahan melangkah mendekat ke arah Lira.

“Nona…” suara Bu Sumi parau, tangannya yang keriput terulur lembut menyentuh bahu Lira. “Sudahlah, Nak… Tuanku sudah tenang sekarang. Ia sudah tidak merasakan sakit lagi.”

Lira menoleh, menatap wajah wanita yang sudah mengasuhnya sejak bayi itu. Air mata kembali menetes tanpa sadar. “Bu Sumi… Ayah pergi… Ayah pergi meninggalkanku sendirian… Padahal masih banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Masih banyak rahasia yang belum dia ceritakan dengan lengkap…”

Bu Sumi mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang. “Aku tahu, Nona. Aku sudah mendengar sebagian pembicaraan kalian tadi saat aku datang membawakan minum obat. Tuanku memang sudah lama menyiapkan diri untuk menceritakan semuanya pada Nona. Ia sering bicara sendiri di kamar, bilang ia takut Nona akan membencinya selamanya, dan ia takut tidak sempat menjelaskan apa pun sebelum ajal menjemput.”

“Bu Sumi tahu semuanya?” tanya Lira, matanya membelalak kaget. “Tahu tentang rahasia itu? Tentang bahaya yang mengancam kami? Tentang barang peninggalan Ibu yang hilang?”

Wanita tua itu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan dengan wajah yang menjadi serius. “Ya, Nona. Aku tahu sebagian besar hal itu. Aku sudah berada di keluarga ini selama dua puluh lima tahun. Aku melihat segalanya, mendengar segalanya, tapi aku tidak boleh bicara karena janji yang aku buat pada Tuanku Ardiansyah. Ia melarangku mengatakan apa pun padamu dulu, supaya kamu tetap aman. Ia bilang, jika kamu tahu terlalu banyak saat masih muda dan lemah, nyawamu akan terancam.”

Jantung Lira berdebar kencang. Ternyata bukan hanya ayahnya yang menyembunyikan kebenaran, tapi juga orang yang paling ia percayai di rumah ini. Semakin ia mendalami masalah ini, semakin ia menyadari betapa rumit dan gelapnya dunia yang selama ini ada di sekelilingnya, dunia yang dulu ia pikir penuh dengan kebahagiaan dan ketenangan.

“Kalau begitu, Bu Sumi pasti tahu siapa orang yang jahat itu? Siapa orang yang selama ini menyamar sebagai orang baik, padahal dialah penyebab semua penderitaan kita?” tanya Lira dengan nada mendesak, rasa penasarannya sudah meluap-luap.

Bu Sumi menggeleng pelan, wajahnya tampak cemas dan takut. “Maafkan aku, Nona… Aku memang tahu ada orang seperti itu, tapi Tuanku tidak pernah memberitahu siapa tepatnya. Ia bilang, semakin sedikit orang yang tahu, semakin aman aku dan kamu. Yang aku tahu hanya satu hal: orang itu memiliki kekuatan besar, punya pengaruh di mana-mana, dan sangat dekat dengan keluarga kita. Orang itu tidak akan ragu melakukan hal buruk kepada siapa saja yang berani menghalangi keinginannya.”

Lira terdiam. Pikiran buruk mulai bermunculan di kepalanya. Orang yang dekat dengan keluarga mereka… Yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar… Secara otomatis nama Tuan Handoko, ayah dari Raga, melintas di pikirannya. Selama ini dialah orang yang paling dekat dengan ayahnya, sahabat terbaik, mitra bisnis terbesar, orang yang selalu dianggap sebagai saudara sendiri. Tapi apakah benar dia orang jahat yang dimaksud ayahnya? Atau masih ada orang lain yang lebih dekat lagi, orang yang tidak pernah ia duga sama sekali?

“Lalu tentang barang peninggalan Ibu… Bu Sumi tahu benda apa itu? Di mana seharusnya barang itu disimpan?” tanya Lira lagi, berusaha mencari petunjuk apa pun yang bisa ia dapatkan.

“Tuanku pernah bilang pada aku, barang itu berbentuk sebuah kalung emas tua dengan batu permata berwarna biru tua di tengahnya. Kalung itu bukan sekadar perhiasan biasa, Nona. Di dalam liontin kalung itu, tersimpan surat perjanjian lama dan bukti-bukti penting yang bisa menghancurkan kekuasaan orang jahat itu. Ibumu dulu sangat menjaga kalung itu, selalu memakainya ke mana-mana. Namun setelah Ibumu meninggal, kalung itu hilang dari kotak perhiasannya. Tuanku Ardiansyah sudah mencari ke seluruh penjuru rumah, memeriksa semua orang yang ada di sini saat itu, tapi tidak ditemukan sama sekali. Sejak saat itu, Tuanku yakin orang jahat itu lah yang sudah mengambilnya,” jelas Bu Sumi dengan suara pelan, seolah takut ada orang lain yang mendengarnya.

Kalung biru itu… Lira masih sangat ingat dengan baik. Itu adalah perhiasan kesayangan ibunya, barang yang selalu ia pakai, bahkan saat tidur pun jarang dilepas. Ibunya pernah bilang, kalung itu adalah warisan dari nenek moyang mereka, benda yang sangat berharga baik secara materi maupun sejarah keluarga. Dulu Lira sering meminta untuk memakainya sebentar, tapi ibunya selalu menolak dengan lembut, bilang kalung itu terlalu berharga dan memiliki makna khusus, dan suatu hari nanti kalung itu akan menjadi miliknya sepenuhnya.

Ternyata janji itu benar adanya, dan kalung itu kini menjadi kunci dari segalanya.

“Jadi orang itu sudah memiliki bukti di tangannya? Lalu kenapa mereka belum melakukan apa pun sampai sekarang?” tanya Lira, bingung.

“Karena mereka belum tahu cara membuka liontin kalung itu, Nona. Liontin itu dibuat dengan kunci khusus, hanya orang yang memiliki kode rahasia keluarga yang bisa membukanya. Tanpa kode itu, mereka tidak akan bisa melihat apa yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya mereka belum berani bertindak secara terang-terangan. Mereka masih mencari-cari kode itu, dan mereka percaya kode itu ada padamu atau padaku, atau tersembunyi di suatu tempat di rumah ini,” jawab Bu Sumi, matanya menatap sekeliling ruangan dengan waspada. “Itulah sebabnya Tuanku sangat khawatir saat kamu kembali ke sini. Kehadiranmu membuat orang itu pasti akan segera bergerak. Mereka akan mengawasimu, bahkan mungkin akan mencoba mencelakaimu demi mendapatkan apa yang mereka inginkan.”

Darah Lira terasa mengalir dingin di seluruh tubuhnya. Ternyata bahaya itu sudah begitu dekat, bahkan sudah mengawasinya sejak ia melangkahkan kaki masuk ke rumah ini kemarin. Ia tidak tahu bahwa kepulangannya bukan hanya untuk mengurus pemakaman ayahnya, tapi juga berarti ia sudah masuk ke dalam perangkap besar yang sudah dipasang orang jahat itu bertahun-tahun lamanya.

“Kalau begitu… apa yang harus aku lakukan, Bu Sumi? Aku sendirian, aku tidak punya kekuatan apa pun, aku tidak punya orang yang bisa aku percayai. Bagaimana aku bisa menghadapi orang sejahat itu?” tanya Lira dengan nada putus asa.

Bu Sumi mengulurkan tangan, menggenggam kedua tangan Lira dengan erat. “Kamu tidak sendirian, Nona. Ada aku, aku akan selalu ada di sampingmu dan membantuku sebisa mungkin. Dan ada satu orang lagi yang bisa kamu percayai sepenuhnya, orang yang sudah berjanji pada Tuanku Ardiansyah untuk melindungimu sampai nyawa terakhirnya.”

Mata Lira berkedip bingung. “Siapa?”

“Raga Adhitama,” jawab Bu Sumi tegas.

Nama itu membuat jantung Lira berdegup kencang lagi, rasa hangat bercampur rasa sakit langsung menyelimuti dadanya.

“Tuanku Ardiansyah sudah bicara panjang lebar dengan Mas Raga beberapa hari sebelum sakitnya memburuk. Ia minta tolong pada Mas Raga untuk menjagamu, melindungimu dari segala bahaya, dan membantu kamu mengungkap semua kebenaran. Mas Raga menerima permintaan itu dengan sepenuh hati, Nona. Ia bilang, itu adalah kewajibannya, bukan hanya karena janji pada ayahmu, tapi karena cinta yang ia miliki padamu,” tambah Bu Sumi, nada suaranya penuh kelembutan.

Lira terdiam seribu bahasa. Selama ini ia berpikir Raga sudah membencinya, sudah melupakannya, atau sudah percaya semua fitnah buruk yang dulu beredar tentang dirinya. Ia berpikir Raga sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri, jauh dari masalah keluarga Ardiansyah yang penuh kekacauan ini. Tapi ternyata, selama lima tahun ia pergi, Raga tidak pernah pergi. Ia tetap di sana, tetap menunggu, tetap mencintai, dan bahkan sudah bersiap menjadi pelindungnya tanpa Lira ketahui sama sekali.

“Tapi… Ayahnya Raga… Tuan Handoko… Apakah bukan dia orang jahat yang dimaksud Ayah?” tanya Lira ragu, rasa curiganya masih belum hilang sepenuhnya.

Bu Sumi menggeleng pelan. “Aku tidak tahu pasti, Nona. Tapi satu hal yang aku yakin: Mas Raga tidak ada hubungannya dengan kejahatan apa pun. Ia orang yang baik, jujur, dan tulus. Ia sering datang ke sini diam-diam saat kamu pergi, hanya untuk menanyakan kabarmu pada aku, atau sekadar duduk diam di taman tempat kalian dulu sering bermain. Ia bahkan pernah bertengkar hebat dengan ayahnya hanya karena membela nama baikmu. Jika Mas Raga tahu apa yang dilakukan ayahnya, aku yakin dia pasti akan berpihak pada kebenaran, bukan pada keluarganya sendiri.”

Kata-kata itu membuat hati Lira sedikit lega, meskipun rasa ragu masih tersisa di sudut hati yang paling dalam. Bagaimanapun juga, darah lebih kental daripada air. Apakah Raga benar-benar akan memilih dia, orang yang sudah lama ia tinggalkan, dibandingkan ayah kandungnya sendiri? Itu adalah pertanyaan besar yang belum bisa dijawab oleh siapa pun.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang keras terdengar dari luar kamar, membuat kedua wanita itu terkejut dan menoleh bersamaan.

“Permisi… Nona Lira? Apakah kamu ada di dalam?” suara berat dan tegas terdengar dari luar pintu, suara yang sangat dikenal oleh Lira.

Itu suara Pak Darto, kepala pelayan yang bekerja di rumah ini sejak lama, orang yang selalu terlihat dingin, kaku, dan sangat patuh pada perintah siapa pun yang menjadi pemilik rumah.

Bu Sumi segera melepaskan genggaman tangannya pada Lira, wajahnya kembali tampak waspada. “Nona, lebih baik kamu tenangkan dirimu dulu. Aku akan membukakan pintu.”

Bu Sumi berjalan menuju pintu, lalu membukanya sedikit. Di sana berdiri Pak Darto dengan wajah datar dan tatapan mata yang tajam, mengenakan seragam hitam yang rapi. Di belakangnya, tampak ada beberapa orang laki-laki yang tidak dikenal, berdiri tegap dengan wajah yang serius.

“Ada apa, Pak Darto?” tanya Bu Sumi dengan nada dingin.

“Maaf mengganggu, Bu Sumi. Saya datang atas perintah Tuan Handoko Beliau baru saja mendengar kabar duka bahwa Tuanku Ardiansyah telah berpulang. Beliau datang sekarang juga untuk melayat, dan sekaligus mengurus segala urusan warisan dan harta peninggalan almarhum, karena beliau adalah satu-satunya sahabat terdekat dan juga wali yang ditunjuk dalam surat wasiat lama,” jawab Pak Darto dengan nada formal, matanya sesekali melirik ke arah dalam kamar, mencari sosok Lira.

Mendengar nama Tuan Handoko, darah Lira seketika mendidih. Pria itu datang begitu cepat, bahkan belum satu jam sejak ayahnya meninggal. Dan apa urusannya dengan harta warisan? Apakah dia sudah tidak sabar ingin mengambil semua kekayaan keluarga Ardiansyah?

Rasa curiga yang tadinya samar kini semakin kuat dan nyata.

“Katakan pada Tuan Handoko, Nona Lira sedang tidak enak badan dan sedang berduka. Beliau belum bisa menerima tamu sekarang,” kata Bu Sumi tegas, mencoba menolak.

Namun suara berat orang lain terdengar dari balik bahu Pak Darto, suara yang sangat akrab di telinga Lira.

“Tidak apa-apa jika Lira sedang berduka, Bu Sumi. Saya mengerti sekali perasaannya. Tapi sebagai sahabat lama ayahnya, saya harus datang dan memberikan penghormatan terakhir, juga untuk menenangkan hati keponakan saya yang sedang kesusahan ini.”

Tuan Handoko melangkah maju, masuk ke dalam pandangan mereka. Wajahnya yang tampan dan berwibawa itu tersungging senyum lembut dan penuh keprihatinan, namun di balik senyum itu, ada kilatan mata yang dingin dan tajam, seolah ada maksud tersembunyi di balik setiap kata yang diucapkannya. Di sampingnya, berdiri sosok pemuda tinggi besar yang wajahnya tertutup sebagian oleh bayang-bayang lorong, namun saat ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah dalam kamar, jantung Lira seketika berhenti berdetak sesaat.

Itu Raga Adhitama.

Pemuda yang selama lima tahun ini selalu menghantui mimpi dan ingatannya, pemuda yang menjadi satu-satunya orang yang ia cintai seumur hidupnya, kini berdiri tepat di sana, hanya berjarak beberapa langkah darinya. Wajahnya tampak lebih dewasa, lebih tampan, namun juga tampak lebih lelah dan penuh beban dibandingkan terakhir kali Lira melihatnya dulu. Matanya yang hitam dan dalam itu langsung terkunci pada mata Lira, penuh dengan rasa rindu, rasa sakit, dan kekhawatiran yang bercampur menjadi satu.

Di saat yang sama, Tuan Handoko melangkah masuk perlahan ke dalam kamar, matanya menatap jenazah sahabat lamanya di atas tempat tidur, lalu perlahan beralih menatap Lira dengan senyum yang semakin melebar namun terasa sangat menakutkan.

“Lira, Nak… Akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Tuan Handoko dengan suara lembut namun menusuk. “Selamat datang kembali ke rumahmu… atau mungkin sebaiknya aku katakan, selamat datang kembali ke tempat yang akan menjadi milikku selanjutnya.”

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada sangat pelan, hanya bisa didengar oleh Lira saja, dan kalimat itu membuat bulu kuduk Lira berdiri merinding. Di hadapannya sekarang berdiri musuh terbesar yang mungkin menjadi dalang dari semua kejahatan, dan di sampingnya berdiri orang yang paling ia cintai, orang yang tidak tahu harus berdiri di pihak mana.

Perang besar yang dikhawatirkan ayahnya, akhirnya benar-benar dimulai saat itu juga.

 

(Bersambung ke Episode 3)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!