NovelToon NovelToon
Si Jenius Pasar Saham

Si Jenius Pasar Saham

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pertemuan Tak Terduga dan Pengakuan Sang Tangan Kanan

Hari-hari berlalu, dan rumah kecil Ibu Ratna kini dipenuhi dengan aura baru. Buku bersampul kulit tua milik Baskara menjadi pusat perhatian. Theo, dengan semangat yang membara, menghabiskan setiap waktu luangnya untuk mempelajari isinya. Ia menyerap setiap rumus, setiap prediksi, dan setiap teka-teki yang ditinggalkan ayahnya. Kecerdasannya yang alami kini memiliki fokus yang jelas, sebuah peta jalan yang terbentang di hadapannya. Ia merasa seperti sedang membuka tabir masa lalu ayahnya, sekaligus merajut benang-benang masa depannya sendiri.

Ibu Ratna, meskipun sibuk dengan pekerjaan rumah tangganya, sering kali duduk mengamati Theo dengan senyum haru. Ia melihat putranya tenggelam dalam dunia angka dan strategi, sebuah dunia yang begitu dekat dengan mendiang suaminya. Ia percaya, ini adalah takdir. Baskara telah menyiapkan ini untuk Theo, bahkan sebelum Theo lahir.

Suatu sore, saat Ibu Ratna sedang berbelanja kebutuhan pokok di pasar tradisional yang ramai, ia melihat sesosok pria yang tampak familiar. Pria itu sedang berdiri di dekat lapak sayuran, berbicara dengan seorang pedagang. Ia adalah pria paruh baya, berwajah teduh, dan mengenakan pakaian yang sederhana namun rapi. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang mengingatkan Ibu Ratna pada kejadian di gang sempit itu.

Jantung Ibu Ratna berdebar. Mungkinkah? Ia memberanikan diri mendekat. "Permisi, Bapak," sapanya dengan suara sedikit ragu.

Pria itu menoleh, tatapannya terkejut sesaat, lalu berubah menjadi kehangatan. "Ya, Ibu? Ada yang bisa saya bantu?"

"Maafkan saya jika saya salah, tetapi... apakah Bapak yang kemarin memberikan buku itu kepada anak saya?" tanya Ibu Ratna, suaranya bergetar.

Senyum tipis tersungging di bibir pria itu. "Ah, Ibu. Benar, saya yang memberikannya. Saya melihat anak Ibu memiliki aura yang sama. Aura seorang pejuang," lanjut pria itu, matanya menatap Ibu Ratna dengan penuh pengertian. "Saya melihatnya pada anak Ibu, sama seperti yang saya lihat pada mendiang Tuan Baskara."

Ibu Ratna tertegun. "Anda mengenal suami saya? Baskara?" Ia merasa ada sesuatu yang besar akan terungkap. "Siapa Anda sebenarnya, Pak? Dan mengapa orang-orang itu mengejar Anda dan buku itu?"

Pria itu menghela napas panjang. "Namaku, sebut saja Pak Wijaya. Dan ya, aku mengenal Baskara. Kami bukan hanya kenalan, Ibu. Aku adalah tangan kanannya. Kami bekerja sama bertahun-tahun, membangun segalanya dari nol."

Ibu Ratna terkejut. Ia ingat Baskara pernah menyebutkan seorang rekan kerja yang sangat dipercayainya, seseorang yang membantunya dalam masa-masa awal kesuksesan mereka. Namun, ia tak pernah menyangka pria di depannya adalah orang itu.

"Tapi... mengapa Anda dikejar preman? Dan mengapa buku itu begitu penting bagi mereka?" tanya Ibu Ratna, rasa ingin tahunya bercampur dengan kecemasan yang kembali muncul.

Pak Wijaya menunduk sejenak, raut wajahnya berubah muram. "Itu adalah cerita panjang, Bu. Saat Baskara difitnah dan dipenjara, aku juga menjadi target. Orang-orang yang menjebaknya, mereka tidak hanya ingin menjatuhkan Baskara, tetapi juga menghapus semua jejak kesuksesannya. Buku itu... itu adalah catatan lengkap semua strategi, semua aset, dan semua orang yang terlibat dalam bisnis kami. Jika jatuh ke tangan yang salah, buku itu bisa digunakan untuk menghancurkan banyak orang, atau bahkan untuk menguasai pasar secara ilegal."

Ia melanjutkan, "Aku berhasil menyelamatkan buku itu, tetapi mereka terus mencariku. Kemarin, saat aku mencoba mencari cara untuk mengembalikannya ke tangan yang tepat, aku melihat Theo. Aku melihat kecerdasan di matanya, dan aku tahu, hanya dia yang bisa mewarisi..

...****************...

... "Hanya dia yang bisa mewarisi dan melindungi apa yang telah Baskara bangun," Pak Wijaya mengakhiri penjelasannya. Ia menatap Ibu Ratna dengan tatapan yang dalam. "Aku melihat bagaimana Theo memegang buku itu, bagaimana ia bertanya tentangnya. Aku tahu, dia adalah pewaris yang tepat. Aku hanya berharap, dia bisa tumbuh menjadi seperti ayahnya, atau bahkan lebih baik lagi."

Ibu Ratna terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Pak Wijaya. Ia teringat kembali pada malam itu, saat Theo berhasil menangkap buku yang dilemparkan pria itu. Ia ingat tatapan tekad di mata putranya, meskipun ia masih kecil. Ia juga teringat pada pesan Baskara di dalam buku itu, yang ditujukan untuk putranya.

"Kau tahu tentang anakku?" tanya Ibu Ratna, suaranya sedikit bergetar. "Kau tahu dia jenius? Kau tahu dia bisa memahami hal-hal yang bahkan orang dewasa pun kesulitan?"

Pak Wijaya tersenyum. "Aku tahu, Bu. Aku sudah mengamati kalian dari jauh. Aku tahu Baskara sangat bangga padanya. Dan aku tahu, kecerdasan Theo adalah warisan yang paling berharga dari ayahnya." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih serius. "Namun, ada satu hal lagi yang perlu Ibu ketahui. Kehancuran Baskara bukanlah sekadar kecelakaan atau fitnah biasa. Ada pengkhianatan di baliknya."

Ibu Ratna menatap Pak Wijaya, jantungnya berdegup kencang. "Pengkhianatan? Maksud Anda?"

"Ya, Bu. Sahabat terdekat Baskara, Rendra," ucap Pak Wijaya, menyebutkan nama itu dengan nada penuh kepahitan. "Rendra adalah orang yang paling dipercaya Baskara. Mereka membangun segalanya bersama. Namun, Rendra memiliki ambisi yang tak terbatas. Ia iri dengan kesuksesan Baskara, dan ia melihat kesempatan saat Baskara sedang terpuruk. Rendra adalah dalang di balik semua fitnah dan..

...****************...

... "Rendra adalah dalang di balik semua fitnah dan tuduhan skema ponzi itu," lanjut Pak Wijaya, suaranya terdengar dingin. "Dia bekerja sama dengan orang-orang yang ingin menjatuhkan Baskara, demi merebut semua yang telah Baskara bangun. Dan dia berhasil."

Ibu Ratna merasa dunia berputar. Rendra? Pria yang sering ia lihat bersama Baskara, pria yang tampak begitu ramah dan bersahabat? Ia tak bisa mempercayainya. "Rendra? Tapi... dia..."

"Dia adalah ular di balik semak-semak, Bu," potong Pak Wijaya. "Dia adalah orang yang paling dekat dengan Baskara, dan justru dia yang menusuknya dari belakang. Setelah Baskara dipenjara dan hartanya disita, Rendra mengambil alih semuanya. Dia menggunakan semua aset dan jaringan yang telah Baskara bangun, memanipulasinya, dan kini..." Pak Wijaya menghela napas. "Kini Rendra adalah salah satu dari lima orang terkaya di kota ini. Dia memiliki banyak perusahaan, kekuasaan yang besar, dan reputasi yang sangat baik di mata publik. Tidak ada yang tahu kebenaran di baliknya."

Ibu Ratna merasa mual. Ia teringat betapa Baskara sangat mempercayai Rendra. Betapa ia sering berbicara tentang Rendra sebagai saudaranya sendiri. Dan kini, pria itu telah menghancurkan hidup suaminya, menghancurkan keluarga mereka, dan hidup dalam kemewahan di atas penderitaan mereka.

1
Tosari Agung
hati hati Rendra Theo dan anakmu yang belum tentu di pihakmu akan membuat serangan saham yang menukik 🤣🤣🤣🤣🤣
Rahul: aman, author akan membuat cerita semenarik mungkin🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!