Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#04 Janji Bastian
“Pak Bastian, maaf saya mengganggu waktu kerja Anda. Tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Beliau sudah menunggu cukup lama di ruangan sebelah,” lapor sekretaris Bastian dengan wajah terlihat sedikit gugup dan tak tenang.
“Siapa orangnya?” tanya Bastian tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di meja kerjanya, sembari mengerutkan kening.
“Itu... anu... sebaiknya Bapak temui saja langsung. Beliau bilang ini hal yang sangat penting dan mendesak,” jawab sang sekretaris ragu-ragu, lalu segera undur diri.
Melihat reaksi sekretarisnya yang tak biasa itu, Bastian pun segera berdiri. Ia berjalan keluar ruang kerjanya menuju ruang tamu khusus yang ada di sebelah.
Lima menit kemudian...
“Siapa yang mencari saya?” tanya Bastian saat berdiri di ambang pintu, matanya menyapu seluruh ruangan itu.
Namun seketika itu juga, wajah Bastian menjadi pucat pasi. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat bertatapan langsung dengan sosok yang duduk di sana.
“Bastian... Kau mengabaikan setiap panggilan telepon dariku. Kau juga tak membalas satu pun pesan yang kukirim. Apa kau berniat lari dari kesepakatan yang sudah kita atur sebelumnya? Apa kau ingin Tuan Muda menghancurkan perusahaanmu yang sudah nyaris hancur ini sampai tak bersisa?” ucap seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam rapi. Aura berkarisma dan mengintimidasi begitu kuat terpancar darinya.
“Maaf... aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi aku benar-benar tak sempat mengangkat telepon atau membaca pesan,” jawab Bastian tergagap. Ia segera masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
“Aku tidak butuh alasanmu. Aku ke sini untuk menagih,” ucap laki-laki itu dingin, lalu melemparkan selembar dokumen tebal ke atas meja minimalis di ruangan itu.
“Apa ini?” Bastian mengambil dokumen itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menatap sekilas ke arah orang tua itu.
“Ini adalah salinan perjanjian yang kau sendiri tanda tangani setahun lalu. Dan sekarang... aku menuntut pelaksanaannya. Jika kau menolak, kau sudah tahu sendiri bukan konsekuensinya bagi perusahaan Gunawan? Ingat, tanpa bantuan kami, perusahaan ini tidak akan pernah bisa berdiri tegak dan bertahan sampai seperti sekarang,” ucapnya sambil tersenyum tipis, senyum yang terasa mengerikan dan penuh ancaman.
Siapa sebenarnya sosok laki-laki tua misterius itu? Dan perjanjian apa yang terpaksa dibuat Bastian demi menyelamatkan perusahaan Gunawan?
next
“Tunggu, Tuan! Bukankah perjanjian itu belum jatuh tempo? Waktunya masih lama,” seru Bastian, matanya menatap tajam namun penuh kecemasan ke arah orang tua itu.
“Kenapa? Apa bedanya buatku? Kau mau bernegosiasi soal waktu sekarang? Bagaimana kalau aku meminta pelaksanaannya saat ini juga, bagaimana?” jawab Hans dingin, sama sekali tak mempedulikan raut wajah panik dan tak senang yang tergambar jelas di wajah Bastian.
Bastian menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sejenak, lalu membuka lembaran dokumen tebal itu. Benar saja... itu adalah surat perjanjian yang ia buat sendiri bersama Hans Aditama, kepala keluarga Aditama, tepat satu tahun yang lalu. Saat itu, perusahaan Gunawan Group berada di ambang kebangkrutan dan hampir hilang dari peta dunia bisnis.
Flashback on
Satu Tahun Lalu
“Tuan, aku mohon... tolong bantu kami. Aku memohon, terimalah tawaran kerja sama dari perusahaan kami. Jika tidak, nama besar keluarga Gunawan dan perusahaan ini akan lenyap selamanya dari dunia bisnis. Aku benar-benar memohon pada Tuan,” ucap Bastian dengan nada memelas di hadapan Hans Aditama.
Saat itu, Hans Aditama adalah pemimpin perusahaan raksasa Aditama Group, perusahaan paling berpengaruh dan berjaya di kota itu, yang kekuasaannya tak ada tandingannya.
“Perusahaan kecil kalian? Memang sudah sepantasnya lenyap. Lagipula, aku sama sekali tak butuh kerja sama dengan perusahaan sekecil itu. Apa untungnya buatku?” tanya Hans dengan tatapan dingin dan meremehkan.
“Tuan Hans, aku sadar betul perusahaan kami tak ada apa-apanya dibandingkan kekayaan dan kekuasaan Tuan. Tapi percayalah, suatu saat nanti, jika Tuan membutuhkan bantuan yang tak bisa didapatkan orang lain, aku pasti akan ada di sisi Tuan dan membantu sebisaku,” janji Bastian. Saat itu, ia benar-benar tak punya pilihan lain selain merendahkan diri.
“Apa maksud ucapanmu itu? Kau kira kau tahu sesuatu tentang keluargaku? Dan mana mungkin orang sebesar kami butuh bantuan dari orang sepertimu?” balas Hans, menatap Bastian dengan sorot mata tajam seolah sedang mengintimidasi mangsanya.
Mendengar itu, Bastian perlahan mengangkat kepalanya. Ia berani membalas tatapan dalam Hans dengan keyakinan yang tiba-tiba muncul.
“Tuan Hans... Dari ketiga putra Tuan, satu-satunya yang paling Tuan sayangi, sekaligus yang paling membuat Tuan khawatir setiap hari... pasti putra pertama Tuan yang memiliki kekurangan itu, bukan?” ucap Bastian pelan namun penuh tekanan, ada senyum mengejek tersirat di sudut bibirnya.
Hans terdiam kaku. Ia menelan ludah dengan susah payah. Hatinya seketika memanas mendengar ucapan itu, seolah ada luka lama yang baru saja dikorek.
“Apa maksudmu?! Kau berani menghina putraku?!” bentak Hans. Ia langsung berdiri dan mencengkeram kerah kemeja Bastian dengan amarah yang meledak.
“Lihatlah kenyataannya... Putra pertama kesayangan keluarga Aditama itu, mengalami kecelakaan parah beberapa tahun lalu, hingga kedua kakinya lumpuh dan tak bisa berjalan lagi. Sejak saat itu pun, emosinya menjadi sangat tak stabil. Dia tak hanya cacat fisik, tapi juga cacat mental. Aku berani jamin, tak ada satu pun gadis dari kalangan keluarga terpandang yang mau bersedia menjadi istrinya, bukan?” Bastian berbicara tenang, seolah tak peduli pada ancaman di hadapannya.
“Aku punya dua adik perempuan. Jika Tuan bersedia membantu perusahaan kami bangkit kembali dan mengangkat nama keluarga Gunawan, aku berjanji... salah satu dari adikku akan kuserahkan untuk menjadi istri putra pertama Tuan. Dengan begitu, Tuan tak perlu lagi khawatir. Meski dia memiliki kekurangan, dia tetap akan mendapatkan istri yang baik dari keluarga terpandang, layaknya seorang putra pewaris besar,” lanjut Bastian, kini tersenyum penuh kemenangan.
Hans yang mendengar kalimat itu seketika terdiam. Ia sadar betul, apa yang dikatakan Bastian adalah kebenaran pahit yang selama ini selalu mengganggu pikiran dan hatinya.
Putra pertamanya, Valen Aditama... Sejak kecelakaan itu, hidupnya berubah drastis. Tak ada wanita yang mau mendekat, apalagi bersedia hidup bersamanya yang penuh kekurangan.
“Bagaimana, Tuan Hans? Bukankah dengan begini kita akan saling menguntungkan satu sama lain?” tanya Bastian lagi.
Karena benar-benar tak punya jalan lain, dan rasa khawatir yang amat sangat besar akan masa depan putra kesayangannya itu, Hans—yang begitu menyayangi Valen—akhirnya menyetujui tawaran gila itu. Sejak hari itu, lahirlah sebuah perjanjian di atas selembar kertas bermeterai yang ditandatangani keduanya.
Bastian pun meminta waktu satu tahun sebagai batas, untuk membuktikan bahwa perusahaan Gunawan Group benar-benar akan bangkit kembali dan memiliki nama yang setara di mata masyarakat.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya