Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: ibu Mu Melindungi Anak-Anaknya
Nyonya Mu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Bak induk ayam yang melindungi anaknya, dia menyembunyikan Nara di belakang punggungnya sembari berseru lantang, "Anakku Nara jelas bukan roh jahat!"
Namun, belum sempat gaung suaranya mereda, sebuah hantaman kasar tiba-tiba datang menerjang dari depan.
Nyonya Mu terjatuh saat sebuah dorongan keras menghantam dadanya hingga membuat dirinya jatuh terjerembap ke atas tanah halaman.
"Ibu!"
"Ibu!"
Yan Ning dan Nara berteriak bersamaan. Kedua kakak beradik itu langsung menghambur untuk membantu Nyonya Mu bangkit.
Nara mendongak dan melihat Yan Shong baru aja melangkah keluar dari rumah utama. Pria itu menatap tajam ke arah mereka bertiga dengan pandangan penuh kebencian.
"Dasar wanita pembawa sial! Kamu tidak hanya melahirkan anak cacat kemasukan roh, sekarang kamu juga mau menghancurkan Keluarga Yan?!" bentak Yan Shong berapi-api hingga ludahnya berhamburan.
Nyonya Mu yang masih terduduk lemas di tanah hanya bisa menatap suaminya dengan pandangan heran. Pria di depannya ini sekarang kelihatan begitu kejam, tidak ada bedanya dengan iblis.
Rasa sesak yang teramat sangat seketika mencengkeram dada Nyonya Mu. Dia teringat masa mudanya ketika menyerahkan seluruh hidup dan cintanya pada pria ini, tapi apa yang dia dapatkan sekarang?
Sambil memegang tangan Nara dan Yan Ning untuk bangkit berdiri, Nyonya Mu berkata dengan mata yang memerah menahan tangis, "Tega sekali kamu bicara begitu? Nara ini anak kandungmu sendiri, bagaimana bisa kamu menuduhnya sebagai roh jahat?"
"Omong kosong! Aku tidak pernah sudi punya anak perempuan pembawa sial sepertinya!" Yan Shong meludah ke tanah dengan wajah penuh kebencian.
"Kalau bukan karena kamu dan anak cacat ini, mana mungkin Keluarga Yan dikucilkan orang desa? Mana mungkin juga Abah sampai terkilir hari ini? Semua ini salahmu, wanita pembawa sial yang cuma bisa melahirkan anak haram!" carutnya tanpa belas kasihan.
Tanpa aba-aba, Yan Shong melayangkan tendangan kasarnya tepat ke arah Nyonya Mu. Hantaman keras itu mendarat bertubi-tubi hingga membuat Nyonya Mu mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Aku tidak takut mati! Sini lawan aku!" teriak Yan Ning yang tidak tahan melihat ibunya disiksa.
Anak kecil itu melompat maju, menundukkan kepala, lalu membenturkan seluruh berat badannya ke perut Yan Shong.
Karena tidak siap mendapat serangan mendadak, Yan Shong terhuyung ke belakang dan hampir aja jatuh telentang. Hal itu membuatnya seketika merasa malu sekaligus murka.
"Anak kurang ajar! Berani kamu melawan orang tua?!" raung Yan Shong gelap mata.
Dia melayangkan tamparan keras tepat ke wajah kecil Yan Ning. Suara hantaman tangan itu terdengar nyaring, seketika membuat pipi kanan anak itu memerah dan membengkak.
"Ningning!" Nyonya Mu berteriak histeris.
Dia langsung menarik Yan Ning ke dalam dekapannya, melindunginya erat-erat sembari menatap Yan Shong dengan mata menyalang merah.
"Yan Shong, dia ini darah dagingmu sendiri! Tega-teganya kamu memukulnya sekasar itu? Apa kamu sudah kehilangan akal sehat?!" jerit Nyonya Mu pilu.
"Aku juga tidak sudi jadi anaknya! Aku tidak punya ayah iblis sepertimu!" teriak Yan Ning membalas lantang. Sorot mata bocah kecil itu memancarkan kebencian mendalam yang teramat sangat kepada Yan Shong.
"Kamu—"
"Eh, tunggu dulu. Ke mana si Nara?" potong Han Ruo tiba-tiba sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman.
Semua orang spontan tersadar dari keributan dan menoleh ke sana kemari. Benar aja, Nara sudah tidak ada lagi di posisi semula.
"Kakek, apa Kakek masih ingat waktu aku umur delapan tahun? Waktu itu pipa rokok Kakek rusak, dan Nara-lah yang rela menjahit sol sepatu setiap hari demi menabung satu koin tembaga untuk membelikan Kakek pipa yang baru."
Di tengah kebingungan semua orang, suara tangisan penuh kesedihan Nara tiba-tiba terdengar menggaung dari dalam rumah utama.
"Nara!" Nyonya Mu langsung bangkit dari tanah dan berlari terhuyung-huyung menuju pintu rumah utama.
Raut wajah Yan Shong dan Han Ruo seketika berubah tegang. Mereka berdua bergegas melangkah lebar menyusul masuk ke dalam.
Di dalam ruangan, tampak Nara sedang bersujud di lantai kayu. Dia menatap Kakek Yan yang terbaring lemas dengan wajah yang dibanjiri air mata, memperlihatkan keputusasaan yang mendalam.
"Kakek, kalau aku ini memang roh jahat pembawa sial, mana mungkin selama ini aku hidup menderita seperti ini? Hidupku bahkan tidak lebih baik dari seekor binatang!" ratap Nara pilu.
Begitu melihat Yan Shong dan rombongan luar masuk, Nara mendadak bangkit berdiri. Dia membalikkan tubuhnya, menunjuk tepat ke wajah Mbah Kusno dengan pandangan menantang.
"Dan kamu, dasar dukun palsu! Bukti apa yang kamu punya sampai berani menuduhku kemasukan roh jahat?!" cecar Nara lantang.
"Kalau aku ini titisan roh jahat, lalu bagaimana dengan ayahku? Bagaimana dengan kakek dan nenekku? Apa itu artinya mereka semua juga komplotan roh jahat?!"
"Lihat! Lihat sendiri bagaimana gayanya bicaranya! Dia jelas-jelas sudah dikuasai makhluk halus!" tuduh Han Ruo dengan suara melengking tinggi demi memprovokasi keadaan.
Sebelum Nara sempat membalas, Nyonya Mu langsung maju dan memeluk erat kedua putrinya dengan napas memburu.
"Kalau kalian semua memang menganggap anakku roh jahat, sekalian aja bakar kami bertiga hidup-hidup di sini!" teriak Nyonya Mu histeris dengan air mata yang mengalir deras.
"Nara lahir dari rahimku sendiri, jadi kalau dia hantu, aku juga hantu! Bakar saja kami bersama-sama sekarang!" lanjutnya penuh keputusasaan.
Dengan rambut yang acak-acakan karena keributan tadi, Nyonya Mu mendongak menatap lurus ke dalam mata Han Ruo.
Tatapannya begitu dingin dan tajam saat dia berbisik penuh ancaman, "Bahkan kalau kami mati jadi hantu sekalipun, kami akan pastikan untuk datang menuntut balas kepada orang yang sudah membuat kami seperti ini!"