NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Udara sore itu hangat, terlalu hangat untuk ukuran hari yang seharusnya biasa saja.

Cahaya jingga menembus jendela kamar dan memantul di dinding, membuat ruangan terasa seperti dilapisi warna madu. Aku duduk di ambang jendela, satu kaki tertekuk, earphone terpasang di telinga. Lagu favoritku mengalun pelan, angin sesekali meniup rambutku hingga menyentuh pipi.

Semuanya terasa tenang. Sampai suara sirene memecah suasana. Aku melepas earphone dengan cepat. Suara itu semakin mendekat—nyaring dan tergesa. Mobil pemadam kebakaran? Rasa penasaran mendorongku bangkit, aku turun ke halaman. Beberapa penjaga rumah terlihat berkumpul di dekat pagar dengan wajah serius. Dari celah pagar, aku melihat kerumunan orang di kejauhan. Lalu satu mobil pemadam kembali melintas di depan rumah.

“Pak, memangnya ada apa?” tanyaku.

“Ada kebakaran, Non,” jawab salah satu penjaga.

“Parah?”

“Katanya cukup besar. Listrik satu area dipadamkan.”

Aku langsung masuk kembali ke dalam rumah. Mencoba sakelar lampu tapi tidak menyala. Kucoba lagi, tetap gelap.

“Nara.”

Aku menoleh. Dev berdiri di ruang tengah, tangannya di saku celana, memperhatikanku dengan senyum geli.

“Kamu mau sampai besok pun, lampunya tidak akan hidup,” ujarnya santai.

“Berapa lama padamnya?” tanyaku kesal.

“Katanya besok baru normal.”

Aku menghela napas panjang. “Jadi malam ini kita gelap-gelapan?”

Dev mengangkat alisnya. “Kamu mau gelap-gelapan? Aku sih tidak.”

Aku manyun, menatapnya sinis.

“Aku ada pekerjaan yang harus selesai. Butuh listrik.”

“Lalu?” Aku menyilangkan tangan.

Ia melangkah mendekat, lalu mencubit pelan bibirku. “Lalu kita menginap di luar. Supaya aku dapat cahaya dan bisa menyelesaikan pekerjaanku.”

Aku menepis tangannya. “Aku harus ikut?”

“Tentu saja.” Ia mengacak rambutku. “Aku tidak bisa tanpamu.”

Kalimat itu membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Baiklah. Aku bersiap-siap dulu.”

“Bawa yang perlu saja,” katanya.

...***...

Kupikir kami hanya akan menginap di penginapan biasa. Ternyata Dev membawaku ke hotel yang tampak mewah dan tenang. Lobi luas dengan lampu gantung kristal, aroma wangi yang mahal, dan orang-orang berpakaian rapi berjalan santai seolah menginap di hotel adalah kebiasaan. Aku hanya berdiri di sampingnya saat ia melakukan check-in.

Kenapa orang mau menghabiskan uang sebanyak ini hanya untuk tidur semalam?

“Nara, ayo.”

Kami masuk ke lift. Angkanya berhenti di lantai tiga puluh. Lorongnya panjang dan empuk. Dev berhenti di depan pintu bertuliskan 30A.

Satu kamar?

Aku menatapnya. “Dev… hanya satu?”

“Iya.” Ia meletakkan tasnya di meja.

“Kita tidur satu kamar?”

Ia menoleh. “Kamu keberatan?”

Aku terdiam.

“Aku bisa tidur di sofa. Kamu di ranjang.”

Aku mengangguk pelan. “Baiklah.” Aku pasrah.

Aku berdiri di balkon, meminum susu cokelat kotak sambil melihat lampu-lampu kota yang berkelip. Di dalam, Dev sibuk dengan laptopnya. Rasanya aneh ketika aku kembali memikirkan berada dalam satu kamar dengan pria. Tapi aku mencoba berpikir positif, Dev orang yang baik, dia selalu melindungi ku dari apapun.

Kontrasepsi.

Ah sial. Aku teringat lagi. Dan ingatan itulah yang membuatku ragu akan afirmasi positifku padanya. Aku mulai bosan melihat gedung-gedung yang bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Lebih baik aku tidur.

Diatas ranjang aku memperhatikan Dev yang masih saja sibuk dengan laptopnya. Dan baru kusadari—ia hanya mengenakan kaus tipis dan celana boxer. Sejak kapan aku melihat Dev sesantai ini? Selama ini ia selalu rapi, terkontrol, gentleman.

“Jangan dilihat terus,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh. “Bahaya.”

Aku langsung memalingkan wajah, malu.

“Sebentar lagi selesai,” tambahnya.

“Aku tidak menunggu,” jawabku cepat.

Aku menarik selimut sampai dagu. Beberapa detik kemudian aku malah menyingkapnya lagi karena tidak bisa tidur.

“Dev… ayo main sesuatu. Aku bosan.”

Ia menutup laptopnya. “Baik. Kamu mau apa?”

Akhirnya kami bermain Ludo di ponsel. Beberapa ronde. Dan aku selalu kalah.

“Aku tidak mau main lagi. Kamu pasti curang,” keluhku.

Tidak ada jawaban.

Aku menoleh—Dev sedang menatapku.

Lama. Tatapannya berbeda, lebih dalam, lebih serius. Aku gugup dan pura-pura fokus pada layar. Tangannya tiba-tiba menyentuh pipiku, dengan lembut. Mengusap perlahan.

Kemudian jempolnya mulai mengusap bibirku, membukanya dan memasukkan jempol itu mengenai lidahku. Dadaku berdegup tidak teratur, seolah ingin melompat keluar. Aku buru-buru menepis tangannya, menghentikan aktivitasnya.

Aku menunduk malu. Tapi tangan itu kembali mengangkat daguku membuat wajahku menengadah padanya. Dev perlahan mendekat, nafasnya bertemu dengan nafasku, semakin mendekat hingga bibir kami saling bertemu. Kali ini tidak ada jeda untuk memberiku kesempatan menolak. Semua terjadi begitu cepat. Dev mulai memainkan lidahnya, sesekali memaksa ku untuk melakukan hal yang sama. Tanganku sempat menahan dadanya. Namun cengkeramanku melemah.

Beberapa detik kemudian, aku merasakan sesuatu merayap dibagian dadaku. Sesuatu telah meremas dan entah sejak kapan kancing bajuku sudah setengah terbuka. Ia memperdalam ciumannya, aku yang sedari tadi berusaha untuk menepis tangannya yang menyentuh dadaku. Namun berakhir gagal.

Sesaat kemudian dia berhenti, kecupannya beralih ke bagian leherku. Rasanya terlalu geli—refleks aku mendorongnya dan kali ini berhasil. Aku mengusap bibirku, merapikan tubuhku, mataku terlalu takut untuk melihat wajahnya.

"Nara." Tangannya meraih tanganku.

"Kamu mau melakukannya?"

Kalimat yang membuat jantungku berdebar. Aku bingung harus menjawab apa, aku hanya diam.

Tangannya kembali menyentuh daguku, saat ini wajahku kembali menengadah padanya.

Wajah itu kembali mendekat padaku, mengecup lebih dalam, lebih cepat. Tangannya kini berhasil membuka seluruh kancing bajuku, menurunkan bajuku sampai batas siku, memperlihatkan bagian dalam tubuhku.

Dia berhenti, kemudian melihatku, menatap dengan lama. Aku yang tidak bisa lagi berpikir dengan jernih hanya berusaha menyatukan kembali baju yang telah terbuka. Bahkan aku terlalu takut untuk menatapnya.

"Nara... Its okey. Ini hal biasa."

Mendengar kalimat itu aku kaget, reflek menatap dirinya.

Hal biasa?

Ada banyak sekali kalimat-kalimat yang menggantung dipikiran ku saat ini.

Tiba-tiba Dev memelukku, dengan erat. Sangat erat membuat ku merasa sesak.

"Aku mencintaimu Nara. Aku sangat menginginkan mu. Aku ingin memiliki mu seutuhnya."

Kalimat itu seharusnya membuatku merasa istimewa. Tapi entah kenapa, justru membuatku takut.

Nafasnya berat, sesak. Dev melepaskan pelukannya, menatap ku lama. Mengelus pipiku dengan lembut. Seolah-olah dia sedang menjinakkan anak anjing agar menurut pada tuannya.

Lalu kemudian, tangannya kembali membuka bajuku, aku hanya memperhatikannya—Diam mematung, rasanya tubuhku kaku. Dia melanjutkan dengan membuka bra dan kini aku sadar aku telah bertelanjang dada. Rasanya aneh, ketika kedua tangannya menyentuh bagian dadaku. Karena keanehan itu, refleks aku menoleh padanya.

Matanya tidak menatapku. Tatapan itu jatuh ke bawah, mengikuti gerakan tangannya sendiri. Seolah-olah dunia di sekitarnya menghilang dan yang tersisa hanya dorongan yang sedang ia kendalikan—atau mungkin sudah tidak lagi ia kendalikan. Wajahnya tetap tenang.

Sesekali aku merintih pelan ketika jemarinya mencengkeram terlalu kuat, meninggalkan rasa nyeri yang bercampur dengan sesuatu yang sulit kujelaskan. Kupikir ia akan berhenti saat mendengar suaraku. Namun yang terjadi justru sebaliknya—rintihanku seperti menyulut sesuatu dalam dirinya. Gerakannya menjadi lebih yakin, lebih gigih, seolah suaraku bukan permintaan jeda, melainkan dorongan untuk melanjutkan.

"Dev."

Aku berusaha menyingkirkan tangannya yang masih sibuk dengan dadaku.

Tiba-tiba ia menunduk, mengecup dadaku dengan tergesa—bukan lagi lembut seperti sebelumnya, melainkan penuh desakan yang membuatku terkejut. Sentuhannya berubah lebih dalam, lebih berani, seolah ia sedang menegaskan sesuatu yang tidak sempat ia ucapkan. Napasku langsung berpacu dengan detak jantungku sendiri. Udara terasa menipis. Aku ingin mengatakan sesuatu, apa saja, tetapi suaraku hilang begitu saja di tenggorokan.

Beberapa detik kemudian, tubuhku terjatuh ke atas ranjang karena tak lagi kuat menahan berat tubuhnya yang condong ke arahku. Kasur berderit pelan, ia tetap berada di sana, tenggelam dalam dorongan dan hasratnya sendiri, seolah lupa bahwa aku masih mencoba mengejar napasku yang tersengal.

Sampai akhirnya ia berhenti dan bangkit sedikit dari tubuhku. Aku masih berusaha mengatur napas, terlalu gugup untuk menatap wajahnya. Tiba-tiba lampu padam.

Gelap menelan kamar, menyisakan cahaya tipis dari balkon. Dalam remang itu, aku hanya melihat siluetnya—berlutut di atasku, bayangannya bergerak saat ia melepaskan pakaian yang masih tersisa di tubuhnya.

Jantungku berdegup keras. Aku tahu, malam ini tidak akan berhenti di sini.

Haruskah aku menolaknya?

Atau pasrah dan ikut menikmatinya karena alasan mencintai?

Kepalaku penuh, aku tidak bisa berpikir. Tubuhku kaku, bahkan mulutku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata.

Dalam remang cahaya balkon, aku melihatnya berdiri di hadapanku—tanpa lagi jarak, tanpa lagi penghalang. Hanya siluet tubuhnya yang tegas, garis-garis bayangannya terlihat jelas di tengah gelap. Jantungku berdegup semakin keras. Tangannya bergerak turun, jemarinya menyentuh pinggangku lalu mulai menarik celanaku perlahan. Rasa panik tiba-tiba menyeruak, bercampur malu yang membakar wajahku.

“Dev.”

Aku segera menahan tangannya, menggenggam pergelangannya sebelum ia melanjutkan.

Tangannya langsung terhenti saat kugenggam. Dev tidak memaksa. Ia justru merangkak perlahan mendekat, menunduk, mengecupku sekilas—bukan lagi tergesa, melainkan lebih hati-hati, hingga akhirnya berhenti tepat di depan wajahku. Dalam remang cahaya, napasnya terasa hangat di kulitku.

“Nara… are you okay?” suaranya lebih rendah sekarang, tidak lagi mendesak, melainkan mencari kepastian.

Aku tetap diam. Wajahku kupalingkan ke samping, menatap gelap di sudut kamar. Aku tidak berani menatap matanya—takut jika tatapan itu akan membuatku goyah, atau lebih buruk lagi, membuatku tak mampu berkata tidak.

"Kita sudah sama-sama dewasa. Seharusnya hal seperti ini tidak akan menjadi masalah."

Tangannya merapikan helai rambutku yang menutupi wajah.

"Kamu juga sudah pernah melakukannya. Ini bukan pertama kalinya." suaranya lembut berusaha merayuku.

Hal biasa? Tidak menjadi masalah? Apakah seorang Dev seperti itu?

Hanya kalimat-kalimat itu yang ada dikepala ku saat ini.

"Nara, jika kamu tidak menjawab apapun pun. Aku akan menganggap kamu mau melakukannya."

Kali ini nadanya tegas.

Dia mengangkat tubuhnya dan kembali pada celana ku. Belum sempat dia membukanya tangannya ku kembali menahannya.

"Dev, tapi kita kan belum menikah?"

Dia diam seperkian detik, "Yang tidak ingin menikah kan kamu, Nara."

Deg. Aku terdiam.

Benar. Aku menolak lamarannya waktu itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!