Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Fitnah
Sekitar satu jam setelah panggilan itu, suara langkah kaki tergesa terdengar di koridor rumah sakit. Pintu kamar Naomi terbuka tanpa ketukan.
“NAOMI!”
Suara itu langsung memenuhi ruangan. Naomi yang sedang merapikan tas kecilnya menoleh.
Di sana Jihan berdiri dengan napas sedikit tersengal, rambutnya sedikit berantakan, tapi matanya penuh kekhawatiran. Dalam satu detik, semua dinding yang Naomi bangun runtuh.
“Ji...” suaranya langsung pecah.
Jihan tidak menunggu. Ia berjalan cepat, lalu langsung memeluk Naomi hati-hati, berusaha tidak menyentuh bagian perutnya.
“Ya ampun... kamu kenapa sih?” ujar Jihan, suaranya setengah panik, setengah marah. “Kok habis melahirkan malah nangis. Emang sesakit itu? Ada apa? Kayaknya genting banget sampai suruh aku jemput. Emang Zayn kemana?”
Naomi tertawa kecil di tengah tangisnya. Jihan memang selalu cerewet seperti itu. Sikapnya masih belum berubah. Untuk pertama kalinya, ada rasa hangat yang masuk ke dalam hatinya lagi.
“Aku... minta maaf,” bisiknya.
Jihan melepas pelukan, lalu menatap wajah Naomi dari atas sampai bawah.
“Kurus,” komentarnya cepat. “Pucat. Mata panda. Fix, kamu butuh aku!”
Naomi menggeleng kecil, masih terisak.
“Duduk dulu, Say. duduk!” perintah Jihan sambil menarik kursi. “Jangan sok kuat. Kamu baru melahirkan, bukan habis lomba lari.”
Cara bicaranya yang ceplas-ceplos membuat Naomi sedikit tersenyum.
“Mana bayinya?” tanya Jihan tiba-tiba.
Naomi menoleh ke arah boks.
“Itu...”
Jihan mendekat. Langkahnya sempat terhenti ketika melihat wajah kecil Davin. Ada jeda, namun bukan jeda jijik. Bukan juga kaget berlebihan. Lebih seperti memahami.
“Ya ampun lucunya...” ucapnya pelan. Ia membungkuk sedikit, memperhatikan Davin dengan hati-hati.
“Apa ini yang bikin kamu nangis dan nyuruh aku jemput ke sini?” tanyanya pelan tanpa menoleh.
Naomi menunduk. Air matanya kembali jatuh.
“Sepenuhnya bukan karena itu...” jawabnya lirih.
Jihan menghela napas panjang, lalu berbalik.
“Ayo! Beritahu aku semuanya,” katanya tegas sambil menyilangkan tangan.
Naomi akhirnya bercerita. Dari awal pernikahan, kehamilan, sikap keluarga Hartanto dan malam persalinan. Lalu tatapan dingin dr. Ratna. Kata “rusak” yang keluar dari mulut Zayn. Hingga surat cerai yang diberikan tanpa ragu. Semua keluar seperti air bah.
Jihan tidak memotong. Tapi wajahnya berubah semakin gelap seiring cerita itu berjalan.
“APA?!”
Jihan berdiri mendadak. Kursinya sampai bergeser keras. “Dia CERAIKAN kamu karena anaknya sendiri lahir sumbing?!” suaranya naik satu oktaf.
Naomi refleks panik. “Ssst! Ji, pelan—”
“Pelan gimana?!” Jihan setengah berteriak. “Ini sudah bukan masalah kecil, Naomi! Ini masalah otak! Itu laki-laki otaknya ditaruh di mana sih? Padahal dia dokter loh!”
Naomi hampir tertawa di tengah tangisnya.
“Dan ibunya?!” lanjut Jihan tak kalah emosi. “Yang katanya dokter itu? Kok pikirannya kayak netizen julid?! Genetik-genetik, tapi empatinya nol besar!”
Naomi mengusap air matanya. “Sudah, Ji...”
“Belum!” potong Jihan. “Ini belum selesai!”
Ia mulai mondar-mandir di ruangan. “Aduh, sumpah ya, kalau aku ketemu Zayn sekarang, aku akan geprek tuh laki! Bajing--”
“Jangan!” Naomi langsung memotong, suaranya lebih tegas.
Jihan berhenti dan menoleh pada Naomi. “Kenapa jangan?” tanyanya, masih kesal. “Dia pantas dikasih pelajaran!”
Naomi menggeleng. “Aku nggak mau masalah ini makin besar.”
Jihan melotot. “Ini sudah BESAR, Naomi!” katanya dramatis. “Kamu diceraikan habis melahirkan! Itu bukan drama kecil, itu full season sinetron!”
Naomi menghela napas. “Aku cuma... capek, Ji,” katanya pelan. “Aku nggak punya tenaga buat ribut.”
Jihan terdiam. Namun hanya beberapa detik. “Ya sudah, kalau kamu capek, biar aku yang ribut!” katanya mantap.
Naomi langsung menggeleng cepat. “Jihan, serius deh. Aku tahu kamu lebay, tapi aku nggak pengen kau lebih lebay sekarang. Oke?"
"Aku nggak lebay! Orang kayak Zayn sama ibunya itu kan emang jahat. Kamu nggak bisa diam aja begini, Na! Lagian kenapa juga kau mau menutupi semuanya? Berikan alasannya padaku,” cerocos Jihan.
Naomi menatapnya. “Aku nggak mau ini jadi konsumsi orang lain,” katanya. “Aku nggak mau anakku nanti tumbuh dengan cerita buruk tentang dirinya. Ini semua demi Davin, Ji. Anakku..."
Jihan mengerutkan kening. “Tapi kan yang salah mereka,” balasnya.
“Aku tahu,” jawab Naomi. “Tapi bukan berarti aku harus balas dengan cara yang sama. Lagian sekarang aku pengen fokus pada Davin."
Hening sejenak. Jihan menghela napas panjang.
“Ya ampun...” gumamnya. “Kamu ini baik banget sih sampai bikin aku emosi sendiri.”
Naomi tersenyum tipis. “Jadi... kamu mau rahasiakan semua ini?” tanya Jihan lagi.
Naomi mengangguk. “Iya.”
Jihan mengusap wajahnya kasar. “Padahal kalau aku, sudah aku viralkan,” katanya setengah bercanda. “Judulnya: ‘Dokter Sombong Buang Istri dan Anak Sendiri’—dijamin trending!”
Naomi tidak bisa menahan tawa kecil.
“Jihan...”
“Iya, iya...” Jihan mengangkat tangan menyerah. “Aku nggak akan posting. Tapi sumpah ya, itu godaan berat.”
Ia mendekat lagi ke boks bayi. Menatap Davin.
“Hey, pejuang kecil,” katanya pelan. “Kamu tenang saja. Tante Jihan ada di sini. Kita lawan dunia bareng, ya.”
Naomi menatap mereka berdua dengan mata berkaca-kaca. Kini dia benar-benar merasa punya seseorang di sisinya. Kehadiran sahabatnya Jihan sungguh berarti.
...***...
Rumah besar keluarga Hartanto tampak megah seperti biasa. Namun di dalamnya, suasana tidak sehangat penampilannya.
Zayn duduk di ruang keluarga, wajahnya tegang. Di hadapannya, dr. Ratna duduk dengan anggun, sementara suaminya membaca koran tanpa banyak bicara.
“Kita harus antisipasi sebelum orang lain bertanya,” ujar Ratna tenang, tapi penuh tekanan.
Zayn mengangkat kepala. “Antisipasi apa lagi, Mah?”
Ratna menyilangkan kaki. “Alasan kau bercerai dengan istrimu,” jawabnya singkat.
Zayn mengernyit.
“Aku sudah pikirkan,” lanjut Ratna. “Kita bilang saja Naomi selingkuh. Hamil dengan pria lain. Itu alasan perceraian kalian.”
Zayn langsung berdiri.
“Apa?!” suaranya tegas.
“Itu solusi paling aman,” kata Ratna tanpa ekspresi. “Nama keluarga kita tetap bersih.”
“Itu fitnah, Mah!” Zayn menatap ibunya tidak percaya. “Keterlaluan!”
Ratna menatapnya tajam. “Keterlaluan?” ulangnya dingin. “Yang keterlaluan itu anakmu lahir membawa aib!”
Zayn mengepalkan tangan. “Dia tetap anakku,” katanya menahan emosi.
“Dan justru itu masalahnya,” balas Ratna cepat. “Semakin cepat kamu putus hubungan, semakin baik.”
Zayn menggeleng. “Tapi menyebarkan rumor seperti itu, aku nggak setuju.”
"Itu bukan rumor, tapi kebenaran! Anggap begitu sekarang. Dan saat ada yang bertanya, jawablah begitu!"
Ratna berdiri perlahan. Langkahnya mendekat. Setiap langkah terasa menekan. “Kamu tahu rumah sakit Hartanto milik siapa, Zayn?” sambungnya.
Zayn terdiam.
“Kamu tahu siapa yang menentukan siapa penerusnya?” lanjut Ratna.
Mata Zayn berubah. “Apa maksud Mamah?” tanyanya hati-hati.
Ratna tersenyum tipis. “Kalau kamu tidak bisa menjaga nama baik keluarga,” katanya pelan, “maka kamu tidak layak mewarisinya.”
Ancaman itu jelas. Sangat jelas. Zayn mengeratkan rahangnya. Ruangan itu mendadak terasa sempit. Di satu sisi, ada kebenaran. Di sisi lain, ada ambisi dan tekanan keluarga. Lagi-lagi Zayn dibuat goyah dan ragu pada pilihannya sendiri.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘