NovelToon NovelToon
Sunyi Yang Berisik Season 2

Sunyi Yang Berisik Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Misteri / Horor
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: kucing samge

Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.

Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.

Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: "TITIK DIAM YANG BERGEJALA" part 4

Jay melihat ke arah pembaca dan bilang: “Kalau kamu merasa takut sama sesuatu yang tidak kamu mengerti, coba aja duduk santai dan kasih mereka kesempatan ya. Terus jangan lupa bawa snack—semua masalah jadi lebih mudah kalau perut kenyang!”

Suaranya terdengar jelas dan hangat, seperti seorang teman yang sedang memberikan nasihat baik. Dinda yang kini sudah duduk di sebelahnya mengangguk perlahan, tangan kecilnya masih memegang sisa snack jagung bakar yang belum habis. Rara berdiri di belakang mereka, wajahnya terpancarkan senyum yang lega setelah sekian lama melihat anak itu menangis dan takut.

“Benar banget Mas Jaya. Kalau perut sudah kenyang, pikiran jadi lebih jernih untuk memahami sesuatu yang tidak kita tahu.” ujar Rara dengan suara lembut, sambil melihat ke arah makhluk gaib yang kini sudah terlihat lebih tenang dan ramah.

Makhluk gaib yang mengelilingi kamar mulai bergerak perlahan, tubuh mereka yang tadinya kompleks kini telah berubah menjadi bentuk yang lebih lembut dan menyenangkan dipandang. Beberapa di antaranya memiliki bentuk seperti bunga yang sedang mekar, yang lain seperti burung kecil dengan sayap tipis yang bersinar. Mereka mulai mengelilingi Jay dan Dinda dengan gerakan yang lambat dan anggun, seolah sedang menari untuk merayakan kedamaian yang baru saja tercapai.

Di luar rumah, batas antar dimensi yang semula retak mulai pulih perlahan—suara desisan yang tadinya menusuk telinga kini telah hilang, digantikan oleh getaran yang lembut yang merambat ke seluruh Desa Cemara. Suara bisik yang sebelumnya sulit dijangkau dari setiap sudut desa berubah jadi nyanyian yang lembut dan merdu, terdengar seperti suara banyak orang yang bernyanyi bersama-sama di kejauhan.

Jay berdiri perlahan, lalu mengajak Dinda untuk keluar rumah bersama-sama. Anak itu mengangguk dengan senyum, tangan kecilnya masih erat menggenggam ujung bajunya. Mereka melangkah keluar melewati pintu rumah yang terbuka lebar, dengan lantai kayu yang kini tidak lagi mengeluarkan bunyi kresek yang mengganggu. Udara di luar sudah tidak lagi dingin dan menusuk tulang—malah terasa hangat dan menyegarkan, dengan aroma bunga liar yang menyebar ke seluruh udara.

“Lihat Dinda, desa ini mulai kembali tenang.” ujar Jay sambil menunjuk ke sekeliling desa.

Di kejauhan, rumah-rumah yang tadinya tampak kosong mulai terlihat lebih hidup. Cahaya samar mulai menyala dari dalam beberapa rumah, seolah ada orang yang baru saja menyalakan lilin atau lampu. Pagar bambu dengan pola melingkar yang sama seperti di rumah Dinda mulai menyala dengan cahaya kebiruan yang lembut, satu per satu menyala berurutan seperti rantai yang terhubung.

“Mereka juga mulai bangun ya Mas Jaya?” tanya Dinda dengan suara penuh rasa ingin tahu.

“Ya Dinda. Mereka adalah bagian dari Desa Cemara yang sama seperti kita. Hanya saja mereka terlalu takut untuk bangun dan menghadapi hal-hal yang tidak mereka mengerti.” Jay menjawab sambil melihat ke arah buku tua yang kini sudah berada di tangannya, menyala dengan cahaya yang semakin terang.

Tulisan baru muncul di halaman buku itu: SUARA NYANYIAN INI AKAN MEMBAWA DAMAI KEMBALI KE DESA CEMARA. SEMUA TITIK DIAM YANG TERSEMBUNYI AKAN MUNCUL DAN BERBERSAMAAN.

Jay mengangguk lalu mulai berjalan ke arah tengah desa, dengan Dinda yang mengikuti di sebelahnya dan Rara di belakang mereka. Makhluk gaib mulai mengikuti mereka dengan gerakan yang anggun, beberapa di antaranya bahkan mulai bernyanyi bersama dengan suara yang lembut dan merdu. Suara nyanyian itu semakin kuat dan jelas, terdengar seperti paduan suara yang indah yang menyebar ke seluruh desa.

Saat mereka sampai di tengah desa, sebuah halaman kosong yang dikelilingi oleh pagar bambu dengan pola melingkar yang lebih besar dari yang lain muncul di hadapan mereka. Pagar itu menyala dengan cahaya kebiruan yang sangat terang, seolah menjadi sumber cahaya bagi seluruh desa. Di tengah halaman itu, terdapat sebuah batu besar dengan simbol yang sama seperti yang ada di buku Jay dan di dinding rumah Dinda.

“Ini tempat berkumpulnya orang-orang Titik Diam dulu kan Mas Jaya?” tanya Dinda dengan mata yang penuh kagum.

“Ya Dinda. Tempat ini disebut ‘Pusat Hubungan’—tempat di mana semua Titik Diam bisa bertemu dan saling membantu.” Jay menjawab sambil mendekat ke arah batu besar itu.

Saat Jay menyentuh batu itu dengan tangannya, cahaya kebiruan mulai menyebar ke seluruh halaman. Makhluk gaib yang mengikuti mereka mulai berkumpul di sekitar batu itu, dan suara nyanyian mereka menjadi semakin merdu. Di kejauhan, beberapa sosok mulai muncul dari dalam rumah-rumah—mereka adalah orang-orang dari Desa Cemara yang selama ini bersembunyi karena takut akan makhluk gaib.

Mereka mendekat dengan hati-hati, beberapa masih tampak takut tapi mulai merasa tenang setelah mendengar suara nyanyian yang indah. Salah seorang wanita dengan wajah tua yang penuh kedalaman mendekat ke arah Jay dan Dinda.

“Kamu adalah keturunan dari orang yang pernah membawa damai ke desa ini bukan?” tanyanya dengan suara lembut tapi tegas.

Jay mengangguk. “Ya Bu. Kakek saya pernah tinggal di sini sebelum pindah ke Desa Wening.”

Wanita itu tersenyum dengan senyum yang lega. “Akhirnya kamu datang juga. Desa ini sudah menunggu kedatanganmu selama sangat lama.”

Saat itu juga, lebih banyak orang mulai berkumpul di halaman itu. Anak-anak mulai bermain bersama dengan makhluk gaib yang kini sudah terlihat sangat ramah, sementara orang dewasanya mulai saling berbicara dan mengenal satu sama lain. Suara nyanyian dari makhluk gaib semakin merdu, digabung dengan suara tawa dan percakapan orang-orang yang bahagia.

Di langit desa Cemara, bulan yang tadinya tertutup awan mulai muncul dengan jelas. Cahaya bulan menyinari seluruh desa, bersatu dengan cahaya kebiruan dari pagar bambu dan batu besar di tengah halaman. Batas antar dimensi yang sudah pulih sepenuhnya mulai mengeluarkan kilauan yang indah, seolah menjadi jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda.

Jay melihat ke arah sekelilingnya, melihat wajah-wajah yang bahagia dan makhluk gaib yang hidup rukun bersama manusia. Dia kembali melihat ke arah pembaca dengan senyum yang lebar.

“Lihat kan? Semua masalah jadi lebih mudah kalau kita mau memberi kesempatan dan tidak takut untuk memahami.” ujarnya dengan suara yang penuh kebahagiaan.

Buku tua di tangannya kembali terbuka, menampilkan tulisan terakhir untuk bab ini: DESA CEMARA TELAH KEMBALI KE KEADAAN SEMULA. DAMAI YANG HILANG SUDAH KEMBALI, DAN SEMUA YANG TERHUBUNG AKAN SELALU BERSAMA.

Suara nyanyian yang lembut masih terdengar bergema di seluruh Desa Cemara, membawa harapan ke setiap sudut rumah dan pagar bambu yang Kini menyala rata. Jay melihat ke arah Dinda yang sedang bermain bersama anak-anak desa lainnya, sambil memegang bungkusan snack yang sudah habis sebagian.

“Sudah cukup untuk hari ini ya Mas Jaya?” tanya Rara dari belakang, wajahnya terpancar senyum lega.

“Ya Rara. Sudah cukup bagus untuk awal mula.” Jay menjawab sambil melihat ke arah buku yang kini mulai mereda cahayanya, tulisan terakhir muncul dengan jelas: ꏂꉣ꒐ꇙꄲ꒯ꏂ 1 ꇙꏂ꒒ꏂꇙꋬ꒐. ꒯ꋬꂵꋬ꒐ ꇙ꒤꒯ꋬꁝ ꀘꏂꂵꃳꋬ꒒꒐ ꀘꏂ ꒯ꏂꇙꋬ ꉔꏂꂵꋬꋪꋬ.

Di langit desa, bulan mulai muncul dengan jelas—bersama cahaya kebiruan dari pagar bambu yang saling terhubung. Suara nyanyian makhluk gaib pun semakin pelan menyatu dengan irama malam yang tenang.

Jay mengangkat tangan kecil Dinda, lalu berkata: “Kita pulang ya Dinda? Besok kita bisa main lagi bareng anak-anak desa lainnya.”

Dinda mengangguk dengan senyum ceria. Mereka berjalan menuju rumah Dinda, dengan langkah yang semakin ringan. Di luar rumah, batas antar dimensi sudah tampak utuh sepenuhnya—seolah tidak pernah rusak sama sekali.

Suara nyanyian yang lembut masih terdengar bergema jauh, membawa kedamaian yang abadi bagi semua yang tinggal di Desa Cemara.

(AKHIR EPISODE 1)

1
EvhaLynn
Lari Mbak🏃‍♀️
EvhaLynn
oh pantesan🤭
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
baik benar Jay
リズキ・サントソ
👍👍
リズキ・サントソ
santoso 🗿
T28J
gimana nyanyinya, hihihihihi....
Pengabdi Uji
tp klo g galak gpp jg
Pengabdi Uji
kumpulan paracenayang khh🫣
Pengabdi Uji
hmm pantess trnyta?emg ky spesial itu
Pengabdi Uji
hooh pantes ajaa ya trnyta g mngancam
Pengabdi Uji
ini knp dy?? apa di pngaruhi
Tati Hartati
keren banget kak
M. T🌻
keren thor👍
Jing_Jing22
Seperti reuni makhluk halus dan para tuannya.
Jing_Jing22
Cantik loh tulisannya.
Jing_Jing22
Kalau kamu kan udah terbiasa Jay berbeda dengan Dinda
Sishrye
takut nya kalau tetiba makhluk itu berubah jadi jahat
~SasMaya ✧
Thor, baca adegan ini .. jadi inget film Shinbi house ... pemberantas makhluk-makhluk
Sishrye: oh iya bener juga ya kak. btw aku juga sering liat film itu di net tipi😂
total 1 replies
~SasMaya ✧
aelah si Jay, cikinya pasti ga ketinggalan 😂
Mingyu gf😘
mereka ini orang jawa ya ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!