NovelToon NovelToon
Gadis Manja Vs Pria Urakan

Gadis Manja Vs Pria Urakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy / Romantis / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.

Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.

Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.

Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.

Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.

Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.

Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4. penilaian tentang Chris

Maya terdiam sejenak, tangan kanannya masih memeluk tas kecilnya sambil menatap Chris dengan ekspresi canggung. Matanya menyipit curiga, dan bibirnya sedikit mengerucut, tanda pikirannya sedang penuh pertimbangan.

“Kalau aku ikut camping, nanti aku tidur sama siapa? Aku bahkan nggak kenal anak-anak klub kamu.”

"It's easy. Aku bisa nemenin kamu tidur kalau kamu mau." Chris tersenyum penuh arti kepada Maya.

"Ish! Aku serius!" Maya mencubit bahu Chris.

Chris terkekeh pelan, lalu berkata. "Satu tenda diisi dua sampai tiga orang. Kamu bisa pilih mau tidur sama siapa."

Maya tetap kelihatan tidak yakin. Lalu menyipitkan matanya menatap Chris. "Kalau anggota klub nya cowok semua, aku nggak mau ikut!"

"Ya enggaklah. Ada kok cewek. Banyak malah. Bahkan, ada yang bukan anak dari klub, tapi dia ngebet banget buat gabung. Tenang saja, atau kamu bisa satu tenda sendirian kalau mau. Atau nanti aku kenalin kamu duluan ke temen-temen cewek di klub. Mereka baik-baik kok," kata Chris lagi.

Maya menggigit bibir, lalu menunduk sedikit. Hatinya masih diliputi rasa ragu. Baginya, tidur satu tenda dengan orang yang tidak dikenal bukan hal mudah. Bukan soal takut, tapi soal kenyamanan. Dan saat ini, kenyamanan adalah hal yang paling ia pertimbangkan.

Maya menatap Chris dengan ekspresi serius, kedua lengannya bersedekap di depan dada. Ia sudah cukup lama diam, membiarkan Chris menunggu jawabannya sambil berjuang menahan harapannya sendiri. Maya mendesah pelan, lalu akhirnya mengangguk. “Oke,”

Chris langsung menegakkan badan, matanya berbinar. Tapi belum sempat ia bereaksi lebih jauh, Maya mengangkat satu jari, memberi tanda bahwa pembicaraan belum selesai.

“Aku mau ikut, tapi ada satu syarat.”

Chris langsung mengangguk cepat. “Apa aja, sebut aja. Apa syaratnya?"

Maya menatapnya tajam. “Kalau aku ngerasa bosan atau nggak nyaman dan pengin pulang, kamu harus langsung nurut dan antar aku pulang hari itu juga. Nggak ada kata ‘nanti dulu’, nggak ada ‘sebentar lagi’. Aku bilang pulang, ya pulang. Gimana?"

Chris sempat terdiam cukup lama, menatap Maya dengan sedikit bingung. Hingga laki-laki itu akhirnya mengangguk setuju. “Deal,” jawab Chris akhirnya, meski dalam hatinya ia sedikit was-was. “Tapi kamu harus kasih kesempatan dulu sebelum bilang mau pulang, ya?”

Maya menganggukkan kepalanya setengah hati. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada sikap dan senyum Chris kepadanya. Merasa ada sesuatu yang disembunyikan dan direncanakan oleh pemuda itu.

"Udah malem. Masuk, gih." Chris melepaskan genggaman tangannya dan membantu Maya membuka pintu gerbang.

"Habis ini kamu mau kemana?" tanya Maya.

"Kenapa? Kamu mau ikut aku pergi?" goda Chris.

Maya membuang wajahnya jauh-jauh dari tatapan Chris. "Nggak!"

"Eits, kamu nggak mau kasih ciuman selamat malam sama aku dulu?" Lagi-lagi Chris menahan tangan Maya dan menggodanya.

"Ish, nggak mau!" Maya menjauhkan wajah Chris dari wajahnya.

Chris hanya tertawa melihat reaksi Maya.

"Wan'an, Honey." Chris melambaikan tangannya pada Maya. Ucapan selamat malam yang telah menjadi kebiasaan wajib bagi laki-laki itu untuk diberikan kepada Maya setiap malamnya.

"Selamat malam," balas Maya seraya berjalan pergi meninggalkan Chris untuk masuk ke dalam rumahnya.

Sebelum benar-benar masuk ke dalam, Maya sempat menoleh dan melihat wajah Chris yang humoris masih menatap dirinya.

...****************...

Nur Amalia, biasa dipanggil Lia, berdiri di ambang pintu kamar Maya, adik satu-satunya dengan tangan yang menggenggam cangkir teh hangat. Wajahnya tenang, tapi matanya menatap adiknya lekat-lekat, seolah sedang menyusun kata-kata agar tak terdengar menghakimi.

"Dek, katanya minggu ini kamu mau camping ya?" Wanita dengan rambut hitam pendek sebahunya masuk ke dalam kamar sang adik.

Maya yang sedang duduk di lantai sambil merapikan tas, menyadari kedatangan seseorang. Ia mendongak pelan, lalu menatap Lia dengan dahi berkerut. "Iya," jawab Maya singkat.

Lia tersenyum tipis, lalu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Ia meletakkan cangkirnya di nakas, lalu bertanya dengan lembut, "Sama siapa ke sananya?"

"Sama temen." Maya tahu arah pertanyaan itu. Ia tahu betul kalau ia menyebut nama Chris, maka ekspresi kakaknya pasti langsung berubah jadi tidak setuju. Karena Maya tahu, jika kakak perempuannya tidak begitu menyukai pemuda itu. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa sang kakak begitu dingin jika bertemu dengan Chris.

"Christian kan?" Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan jitu dari Lia membuat Maya merengut diam.

Lia mendengus kecil, tapi tidak memaksa. Maya tetap menunduk, menyembunyikan sedikit rasa bersalah. Ia bukannya ingin bohong, hanya… ia tahu, jika ia jujur, pembicaraan ini akan jadi panjang dan rumit. Dan untuk sekarang, ia belum siap menghadapi nada keberatan dari kakaknya.

“Maya... kamu pacaran sama Chris, ya?”

Maya terdiam beberapa detik. Pertanyaan Lia itu mengarah ke hal pribadi, dan Maya tidak suka itu.

“Nggak. Dia cuma temen. Kakak apaan sih tanya begituan!"

Lia menatap adiknya sejenak, lalu menghela napas pelan. “Tapi kayaknya dia deket banget sama kamu. Beda dari temen-temen yang lain.”

Maya menunduk, tak langsung membantah. Tapi sebelum ia sempat berkata apa pun, Lia melanjutkan.

“Dia dari Jakarta, kan?”

Maya mengangguk pelan. “Iya. Memangnya kenapa?”

Lia menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. “Bukan apa-apa, cuma... orang Jakarta itu kadang pergaulannya jauh berbeda dengan kita. Pergaulan anak-anak seperti Chris itu terlalu bebas. Kakak cuma takut kamu kebawa cara mereka.”

Menurut Maya, cara pikir kakaknya kadang terlalu sempit dan kolot. Hanya karena Chris berasal dari Jakarta, langsung dicap nggak baik, terlalu bebas, dan suka main-main. Padahal, selama ini, Chris justru yang paling perhatian. Dia mungkin usil, cuek, mesum, dan kadang nyebelin… tapi dia juga yang selalu ada ketika Maya butuh. Bahkan Maya masih ingat, kakaknya selalu bilang cowok Jakarta itu kebanyakan playboy.

Jujur saja, saat sepupu laki-laki Maya bernama Teguh, mengenalkannya dengan Chris, ia juga sempat berfikiran sama dengan sang kakak. Chris terlalu mudah menebar senyum ke semua perempuan. Bahkan saat pertama kali berkenalan, Chris sudah berani menggodanya.

Maya sempat membenci dan menjauhi Chris. Namun entah kenapa, laki-laki itu malah semakin sering muncul di hadapannya. Maya semakin tidak nyaman dengan Chris, saat tahu bahwa apa yang paling ia benci semua ada pada diri Chris. Clubbing, merokok, dan tato. Walaupun tato Chris tidak begitu banyak dan mencolok, tapi tetap saja Maya tidak menyukainya.

Maya langsung menoleh, menatap Lia dengan wajah serius. “Chris nggak gitu. Selama ini dia baik. Walau penampilannya terlihat urakan."

Lia mengangguk perlahan, tak ingin memancing perdebatan. “Kakak ngerti. Kakak cuma pengin kamu hati-hati. Kadang orang yang keliatannya baik, bisa ninggalin luka juga kalau kita lengah dan nggak siap.”

Maya menggigit bibirnya, hatinya sedikit menghangat karena perhatian kakaknya, meskipun ada nada khawatir di baliknya.

“Tenang aja, Kak. Aku tahu batas.”

Lia mengangguk, lalu tersenyum tipis. “Kakak harap begitu. Dan satu lagi, dia memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita, Dek. Ingat itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!