Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Jebakan Makan Siang dan Teman yang Kurang Akhlak
Aiswa dan Elena sedang berada dalam misi negara yang sangat krusial, yaitu berburu barang diskon. Mata keduanya bergerak liar layaknya radar, mencari label merah dengan potongan harga terbesar.
"Ai, lihat! Itu diskon 70 persen! Kalau kita beli dua, rasanya kayak ngerampok tokonya secara legal," bisik Elena antusias.
Namun, sebelum Aiswa sempat menjawab, sebuah suara melengking yang sangat familier menghentikan langkah mereka.
"Tante Guruuu!"
Aiswa tersentak. Rasanya ia belum lama mendengar panggilan unik itu.
"Ai, ada bocah lari ke arah kita kayak atlet lari maraton," ujar Elena heran.
Aiswa menoleh dan matanya langsung menangkap sosok mungil yang berlari riang.
"Zianna?" gumam Aiswa kaget sekaligus senang.
Ia segera berjongkok, menyambut pelukan hangat gadis kecil itu.
"Lah, jadi yang dipanggil Tante Guru itu elo, Ai?" Elena melongo.
"Siapa nih bocah? Keponakan baru elo? Perasaan Lo kan belum punya ponakan ya."
"Bukan, El. Ini anak yang gue ceritain kemarin, yang terpisah dari bapaknya pas study tour," jelas Aiswa singkat sambil mengusap rambut Zianna.
Aiswa kembali menatap Zianna.
"Sayang, kamu sama siapa di sini?"
"Aku sama Papa, Tante Guru. Itu Papa!" Zianna menunjuk ke belakang.
Secara serempak, Aiswa dan Elena menoleh.
Sosok Devan berjalan membelah kerumunan mall dengan langkah yang seolah-olah berubah jadi slow motion. Setelan jasnya yang rapi, wajahnya yang kaku namun sangat tampan, membuat banyak pasang mata, terutama kaum hawa terpaku. Termasuk Elena, yang kini mulutnya sedikit menganga.
"Widih... gue kira bapaknya ini pria umur 40-an yang perutnya buncit, Ai. Karena Lo bilang anaknya kepisah kemaren karena bapaknya mulai pikun. Ternyata spek oppa-oppa rasa CEO. Oke juga pilihan elo, Ini sih si Aditya kalah jauh mah," bisik Elena tanpa saringan.
Aiswa menyenggol kaki Elena dengan sepatunya.
"Diam, El! Jangan malu-maluin!"
Aiswa berdiri tepat saat Devan sampai di hadapan mereka. Aroma parfum mahal langsung menyeruak, membuat Aiswa mendadak merasa kerdil.
"Halo. Kamu... yang waktu itu, kan?" tanya Devan datar.
Aiswa mengangguk canggung. Mengingat betapa ketusnya ia kemarin, rasa bersalah mulai merayap.
"Iya, Pak."
Elena menyenggol lengan Aiswa lagi, kali ini lebih keras.
"Eh, muka semuda ini dipanggil 'Pak'? Nggak cocok, Aiswa! Panggil 'Mas', atau kalau mau langsung 'Sayang' juga nggak apa-apa," bisik Elena yang masih bisa terdengar oleh telinga Devan.
Aiswa rasanya ingin menghilang ke lubang semut saat itu juga. Ia mencubit pelan lengan Elena agar sahabatnya itu berhenti bicara ngawur.
"Kemarin ucapan terima kasih saya kamu tolak," ujar Devan, memecah kecanggungan.
"Saya tidak suka penolakan. Karena kamu tidak menerima uang, saya rasa saya bisa menggantinya dengan hal lain. Makan siang bersama, misalnya?"
Tawaran itu terdengar lebih seperti perintah halus daripada ajakan. Wibawa Devan begitu menekan.
"Ayo dong, Tante Guru! Kita makan siang bareng, mau ya? Ya?" Zianna menarik-narik tangan Aiswa dengan wajah memelas yang sulit ditolak.
Aiswa menelan salivanya susah payah.
"Saya mau, tapi... teman saya harus ikut," ujarnya, mencoba mencari dukungan dari Elena.
Devan terdiam sejenak, tampak menimbang-nimbang kehadiran orang asing di antara mereka. Padahal Aiswa juga orang asing karena mereka baru bertemu dua kali. Namun, Zianna justru berceletuk ramah.
"Tante temannya Tante Guru, kan?" tanya Zianna pada Elena.
"Iya, Sayang! Aku temennya Tante Guru kamu yang paling cantik ini," jawab Elena dengan mode ramah tingkat dewa.
"Kalau begitu artinya Tante juga teman aku. Boleh dong makan bareng, ya kan, Pa?" Zianna menengadah pada Devan.
Devan akhirnya mengangguk.
"Tentu saja. Asalkan Zianna senang, saya tidak masalah," ucapnya dengan tatapan yang kembali terkunci pada Aiswa, membuat jantung Aiswa berdegup tidak keruan.
Mereka pun berjalan menuju salah satu restoran kelas atas di mal tersebut. Zianna berada di tengah, satu tangannya menggandeng Aiswa dan satunya lagi menggandeng tangan papanya. Dari belakang, mereka benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang harmonis.
Elena yang berjalan di belakang bukannya merasa ditinggalkan, malah asyik sendiri. Ia mengeluarkan ponselnya, memotret momen "keluarga" itu dari belakang secara diam-diam.
Grup WhatsApp: SEMBILAN NYAWA (SEMBI-LANN) Elena mengirim foto.
Elena: Guys, lihat! Si Aiswa beneran dapet duren runtuh. Sungguh pemandangan keluarga yang manis, bukan?
Aiswa yang tidak tahu sedang jadi bahan gosip di grup hanya bisa pasrah ditarik oleh Zianna menuju restoran yang harga menunya mungkin setara dengan gajinya mengajar selama sebulan.