BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎
Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.
Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Fajar Kemenangan dan Kepingan Teka-Teki yang Lengkap
Cahaya fajar menyusup hangat ke dalam kamar safe house, membawa ketenangan yang luar biasa setelah malam yang mencekam. Di atas ranjang minimalis itu, Rani perlahan membuka matanya. Rasa aman langsung menyelimuti hatinya begitu merasakan lengan kekar Riko masih melingkar posesif di pinggangnya.
Monolog batin Rani bergetar penuh haru. 'Rumah mewahku boleh saja runtuh menjadi abu karena ledakan semalam. Tapi di dalam dekapan pria ini, aku tahu aku telah menemukan tempat berlindung yang paling kokoh.'
Drrt... Drrt...
Ponsel taktis Riko di atas nakas bergetar keras. Riko langsung terjaga dengan insting elangnya yang tajam. Dia menyambar ponsel tersebut, mendapati panggilan dari Kepala Tim Hukum Pratama Corp yang bekerja sama dengan Kepolisian Pusat. Riko mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang, lalu menarik Rani mendekat agar bisa mendengarkan bersama.
"Tuan Riko, Ibu Rani, kami membawa kabar kemenangan mutlak pagi ini," ujar suara di seberang telepon dengan nada tegas. "Hendra Wijaya telah resmi ditahan. Dia ditemukan pingsan di lokasi ledakan akibat hantaman di rahangnya. Bukti sidik jari pada detonator pipa gas dan rekaman perimeter semalam sudah lebih dari cukup untuk menjebloskannya ke penjara atas pasal percobaan pembunuhan berencana!"
Rani menghela napas lega, meremas jemari Riko dengan erat. "Lalu bagaimana dengan perusahaannya?"
"Saham Wijaya Group hancur lebur ke titik nol pagi ini karena kepanikan pasar. Otoritas Keuangan juga telah membekukan seluruh aset mereka. Tidak hanya itu, Paman Broto juga ikut terseret! Aliran dana darurat dua ratus miliar yang dia berikan kepada Hendra terbukti sebagai korupsi dana internal. Paman Broto saat ini sedang dijemput paksa oleh pihak kepolisian!"
Mendengar laporan itu, Riko tersenyum puas. Pengkhianat yang dulu meremehkan dan menghancurkannya, kini tumbang seketika. "Pastikan mereka membusuk di sana," perintah Riko dingin sebelum mematikan sambungan.
.
.
.
.
Berapa bulan pun berlalu setelah kejadian hendra membakar rumah rani,selama berapa bulan ini rani dan riko memilih untuk bersembunyi dari sisa2 antek hendra dan juga menghindari kejaran wartawan yang mengepung jakarta pasca ledakann
D isuatu hari setelah mereka merasa keadaan sudah mulai aman dari ganguan antek² hendra Riko dan Rani memilih untuk kembali ke ibu kota,di perjalanan mereka berhenti di sebuah kedai kopi
Namun, ketenangan mereka terusik saat seorang pria tua bertopi laken dan berjas usang mendekati meja mereka. Riko mengernyitkan alisnya, mengenali wajah itu. "Pak Salim? Mantan Kepala Auditor Pratama Corp?"
Pak Salim mengangguk pelan, wajahnya tampak penuh rasa bersalah. Dia duduk dan langsung meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja. "Tuan Riko, saya sudah lama mencari Anda untuk menyerahkan ini. Ini adalah bukti audit asli tiga tahun lalu yang sempat dilenyapkan dari sistem saat perusahaan Anda hancur."
Riko menatap tajam map tersebut, sementara Rani ikut condong ke depan karena penasaran.
"Apa isi dokumen ini, Pak?" tanya Riko berat.
"Dokumen ini membongkar aliran dana gelap sistematis yang menghancurkan Pratama Corp tiga tahun lalu, Tuan. Kebangkrutan Anda bukan karena kelalaian manajemen biasa, melainkan sabotase tingkat tinggi," ujar Pak Salim dengan suara bergetar. "Haris... dia tidak bertindak sendiri saat menggelapkan dana perusahaan Anda. Haris adalah orang dalam yang disuap dan dimanfaatkan oleh Hendra Wijaya dan Paman Broto. Paman Broto yang membuka celah hukumnya, Hendra yang menyuntikkan dana hitam untuk mengunci saham Anda, dan Haris yang mengeksekusinya dari dalam hingga Pratama Corp kolaps."
Mendengar nama Haris disebut bersama Hendra dan Paman Broto, rahang Riko mengeras, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Jadi, bajingan-bajingan itu bersekutu sejak tiga tahun lalu untuk merancang kehancuranku... Haris benar-benar menjual kesetiaannya pada mereka."
Rani menangkup tangan Riko, mencoba menenangkan amarah suaminya. Dia teringat kembali alasan mengapa dia mengajak Riko menikah kontrak—murni karena dia panik ingin melarikan diri dari perjodohan paksa yang diatur ibunya dengan Hendra.
Rani menatap Riko dengan mata berbinar penuh arti. 'Ternyata takdir se bercanda ini. Aku mengajakmu nikah kontrak hanya untuk menghindari Hendra, tanpa tahu bahwa kamulah pria yang dihancurkan oleh persekutuan gelap Hendra, Paman Broto, dan Haris di masa lalu. Dan sekarang, kepingan teka-teki itu sudah lengkap.'
Riko menoleh, menatap Rani. Emosinya yang sempat memuncak perlahan mereda begitu melihat tatapan cemas namun mendukung dari wanita di sampingnya. Dia membalikkan tangannya, menggenggam erat jemari Rani.
"Bukti dari Pak Salim ini adalah senjata pamungkas kita, Rani," ujar Riko, suara baritonnya kembali tenang dan penuh perhitungan. "Hendra dan Paman Broto sudah tumbang di tangan polisi, tapi itu baru langkah awal. Dengan dokumen audit ini, aku akan memburu Haris sampai ke akar-akarnya dan merebut kembali aset Pratama Corp yang mereka jarah tiga tahun lalu."
Rani tersenyum bangga melihat ambisi elang pemangsa Riko telah kembali sepenuhnya. "Dan kontrak pernikahan kita tinggal satu bulan lagi, Riko. Aku akan mendukungmu sampai Pratama Corp kembali ke puncak masa kejayaannya."
Riko menatap mata Rani dengan tatapan dalam yang sarat akan janji tersirat. "Pernikahan kontrak ini yang menyelamatkanku, Rani. Dan aku tidak akan melepaskan kontrak ini... sampai aku benar-benar siap membangun kerajaan bisnisku kembali, berdampingan secara terhormat dengan Rani Group milikmu. Tunggu sampai aku mengembalikan kejayaanku."
Rani mengangguk pasti, merasakan getaran komitmen yang kuat dari pria di hadapannya. Di tengah kedai kopi yang sunyi itu, di atas meja yang dipenuhi bukti konspirasi masa lalu, mereka berdua merapatkan barisan—bukan lagi sekadar mitra kontrak yang terpaksa, melainkan dua sekutu terkuat yang siap mengguncang dunia bisnis Jakarta.
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄