NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:758
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Pengakuan Kiano

Kiano menghela napas berat, langsung ambruk telentang di atas kasur emasnya. "Gue baru sadar, Tahi. Kayaknya gue enggak bakalan semudah itu bisa pergi dari dunia bunian ini. Meskipun lo mau bantuin gue balik ke Jakarta Barat setelah misi balas dendam lo selesai, gue tetap harus nyari dulu Pangeran Wirasada yang asli."

Kiano menatap langit-langit kamar dengan pandangan serius. "Kalau gue main pergi gitu aja, seisi istana pasti bakalan curiga. Mereka enggak mungkin lepasin gue begitu aja kalau posisinya kosong."

"Lalu, apa yang akan Anda lakukan, Tuan?" tanya Si TAHI. Perlahan, asap hitam menyelimuti tubuhnya, mengubah kembali wajah tengkorak arangnya ke wujud manusia yang berkumis melintang—yang sialnya tetap kelihatan sangar di mata Kiano.

"Bantu gue cari Pangeran Wirasada yang asli. Gue ngerasa ada yang enggak beres di istana ini," perintah Kiano, bangkit berdiri sambil menunjuk Si TAHI dengan gaya sok berwibawa, meski penampilannya yang cuma pakai kolor Upin-Ipin merusak seluruh estetika pangerannya.

"Masa seorang putra mahkota bisa menghilang begitu aja cuma gara-gara takut dijodohin massal? Enggak logis, Men! Pasti dia sengaja bersembunyi di suatu tempat, atau malah... ada yang sengaja menyembunyikannya."

"Saya siap membantu Anda. Jika bisa, jangan ditunda-tunda lagi, Tuan. Anda juga harus segera berlatih dan menerima transfer energi sihir dari saya," desak Si TAHI serius.

"Kalem sedikit kenapa, sih? Gue baru aja bisa napas, lo udah mau bikin gue bengek lagi! Seenggaknya biarkan gue mandi terus ganti baju dulu. Enggak lihat apa baju gue udah robek-robek mirip korban banjir begini?" gerutu Kiano seraya melirik kondisinya yang mengenaskan.

"Baik, Tuan. Kalau Anda sudah siap, panggil saja saya."

Wush! Bsstt!

Tubuh kekar Si TAHI seketika menguap menjadi kepulan asap hitam pekat, lalu meluncur masuk ke dalam dada Kiano, kembali bersemayam di sana.

****

Sore harinya...

Kiano duduk kaku di ruang keluarga istana, menghadap sang Prabu Raksa Buana dan Nyi Ratu Inten Dewata. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Ia sudah pasrah jika harus kena semprot dan diamuk habis-habisan oleh kedua orang tua KW-nya ini.

Sang Prabu menghela napas panjang yang sarat akan kekecewaan. "Ayah tidak menduga jika kau akan mengecewakan kami dan membuat malu kerajaan ini. Mau ditaruh di mana muka Ayah dan Ibumu ini, Wirasada?"

Prabu Raksa Buana memijit pelipisnya yang berdenyut. "Kau tahu, Wirasada? Ayah sudah bersusah payah mendatangkan para putri pilihan ke keraton kita yang berada di pinggir sungai itu. Tapi kau? Kau malah kabur dari sana!"

Sang raja kemudian membalikkan tubuh, menunjuk ke arah seorang pria tegap yang berdiri di dekat pintu. "Lihatlah Dharma! Dia yang harus menanggung semua kekacauan akibat ulahmu! Dia yang sibuk mengantarkan kembali semua putri yang kau tolak. Dia juga yang harus menerima amukan dan kekesalan dari para penguasa negeri seberang! Apa kau tidak punya rasa malu sedikit pun sebagai putra mahkota Mandala Hyang?"

"Sudah, Kakanda, sudah. Kasihan anak kita. Sepertinya Wirasada memang belum siap untuk urusan perjodohan ini," ucap Nyi Ratu Inten Dewata mencoba menengahi. Wanita itu mengusap pundak suaminya demi meredam amarah yang meluap-luap.

"Tidak usah membelanya, Dinda, apalagi terus memanjakannya! Dia sudah dewasa dan sepatutnya harus bisa bertanggung jawab atas tindakannya sendiri," potong Prabu Raksa Buana tegas.

Sang raja menatap tajam, mengunci pandangan Kiano. "Kau itu calon pewaris takhta, Wirasada! Dengar baik-baik, minggu depan..." Prabu menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan yang berat pada kelanjutannya.

"Kau harus ikut Ayah ke Kerajaan Gunung Kidul. Jika kau sudah menolak mengikuti acara kencan buta maraton kemarin, maka sebagai gantinya kau harus mematuhi perintah ini. Kau akan dijodohkan dengan salah satu putri Raja Gunung Kidul! Ayah masih memberimu sedikit keringanan; kau berhak memilih putri mana saja yang kau mau. Kebetulan, sang raja memiliki tiga orang putri."

Membayangkan nasib apesnya yang berlipat ganda, jantung Kiano rasanya langsung mencelos sampai ke dengkul.

'Gawat darurat tingkat nasional! Gue harus bisa nemuin si Pangeran Wirasada yang asli secepatnya sebelum minggu depan!' batin Kiano merana, meratapi nasibnya yang terjebak dalam lingkaran perjodohan lintas dimensi dedemit.

'Gusti... gimana ya kabar Mami sama Papi gue di Jakarta Barat? Mereka sekarang lagi nyariin gue gak, ya? Apa jangan-jangan mereka udah bikin acara tahlilan gara-gara gue ilang misterius?'

"Jawab, Wirasada! Jangan hanya diam saja!" bentak sang Prabu, membuat Kiano langsung tersentak dari lamunannya.

"Astagfirullah! Iya, Ayahanda. Wirasada bersedia menuruti perintah," jawab Kiano spontan dengan nada sesopan mungkin. Ia terpaksa memakai mode aman daripada harus berurusan dengan amukan makhluk ghaib.

"Bagus! Jangan sampai kau mengecewakan Ayah lagi. Jika hal itu sampai terjadi, maka aku tidak akan segan-segan memberikan takhta ini kepada sepupumu, Arshaka!" tegas Prabu Raksa Buana.

Pria berwibawa itu bangkit berdiri dari kursi kebesarannya. "Adinda, ayo kita pergi jalan-jalan sejenak. Kepala suamimu ini rasanya mau pecah menghadapi kelakuan anakmu."

"Dia juga anakmu, Kakanda," sahut Nyi Ratu Inten Dewata seraya ikut berdiri dan menggandeng manja lengan sang Prabu.

Sebelum melangkah pergi, Nyi Ratu menoleh ke arah Kiano dengan tatapan keibuan. "Anakku, Ibu dan Ayahmu ini mau melepas penat sejenak. Kami akan pergi bulan madu ke salah satu tempat indah untuk tiga hari ke depan. Jaga dirimu baik-baik di istana. Dharma akan selalu siap mengawalmu kalau kau ingin keluar atau jalan-jalan mencari ketenangan."

"Tapi ingat, kau jangan pernah berpikir untuk kabur lagi! Atau ular-ular naga purba peliharaan istana kita akan langsung melahapmu hingga tak tersisa!" tambah Prabu Raksa Buana dengan nada kejam yang sarat akan ancaman.

Begitu kedua orang tua KW-nya melangkah pergi, Kiano langsung melesat kembali ke kamarnya. Namun, langkah kakinya tentu saja dibayangi oleh Dharma yang mengekor di belakang. Tepat di depan pintu kamar, Kiano mendadak berbalik dan memberikan delikan tajam pada pengawalnya itu.

"Heh! Enggak usah ngikutin gue terus kenapa, sih? Tenang aja, gue enggak bakalan kabur, apalagi bunuh diri! Udah, lo pergi aja sana. Lagian Ibu kan bilangnya lo itu kerjanya ngawal gue kalau gue mau keluar istana aja. Kalau di dalam kamar juga lo ikutin, gue udah kayak buronan kelas kakap tahu enggak!" cerocos Kiano dengan nada sewot.

Dharma terdiam seribu bahasa. Sebenarnya, sedari pagi tadi hatinya sudah bergejolak ingin bertanya. Mengapa gaya bicara sang pangeran mendadak berubah drastis dan terdengar sangat aneh?

Kalau pun Pangeran Wirasada mengalami amnesia akibat stres, rasanya mustahil jika gaya bahasa dan tata krama yang diajarkan sejak kecil bisa menguap begitu saja.

"Maafkan saya, Pangeran. Saya hanya menjalankan amanat mutlak dari Baginda Prabu," ucap Dharma, menatap Kiano dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Ratu memang benar mengenai tugas saya. Namun... jujur saja saya merasa khawatir dengan kondisi Anda. Apalagi jika diperhatikan, Anda semakin ke sini semakin aneh."

Dharma mengambil satu langkah maju, membuat atmosfer di koridor depan kamar terasa sedikit mengintimidasi. "Rasanya... saya seperti sedang melihat sosok orang lain, bukan sosok Pangeran Wirasada yang saya kenal selama delapan belas tahun ini."

Wajar saja Dharma menaruh curiga yang teramat besar. Berhubung ia adalah pengawal sekaligus asisten pribadi Wirasada semenjak pangeran itu masih bayi, Dharma tahu betul luar-dalam sifat asli sang putra mahkota. Pangeran Wirasada yang asli adalah sosok yang anggun dan kaku, sangat bertolak belakang dengan pemuda di depannya saat ini yang terkesan tidak tahu malu, ajaib, dan agak pecicilan.

Kiano yang ditanya seperti itu sontak berdeham canggung. Ia terkekeh pelan, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak terasa mencekik. "Ah, lo mah ketinggalan zaman! Ini kan zaman udah modern, Dharma. Sebagai anak muda, gue juga mau dong berubah gaya sekali-sekali. Biar gaul gitu, lo tahu, kan?"

Dharma tidak bergeming. Ia justru mengambil satu langkah maju lagi, memperkikis jarak di antara mereka. "Sebenarnya... siapa kau? Jawab aku!" tuntutnya dengan suara rendah yang bergaung horor. Sorot mata pengawal itu mendadak menyala tajam, seolah siap menusuk menembus dada Kiano.

Tekanan energi ghaib dari Dharma membuat Kiano seketika gelagapan. Keringat dingin mulai merayap di pelipisnya. Ia celingukan ke kanan dan ke kiri, memastikan situasi koridor istana benar-benar sepi dan aman terkendali dari intel-intel jin lainnya.

Karena merasa sudah kepalang tanggung dan lelah berakting menjadi pangeran kaku, Kiano akhirnya meledak. Ia berkacak pinggang dengan berani.

"Kalau iya, kenapa?! Gue emang bukan Wirasada! Nama gue Kiano! Puas lo?!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!