"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Sore itu matahari mulai miring ke barat, Aqeela, Wulandari, dan Meysa berdiri di dalam toko kosmetik yang cukup besar di pusat perbelanjaan dekat kampus. Rak-rak berjejer rapi, lampu-lampu terang menyoroti setiap produk dengan warna-warni yang menggoda.
Aqeela seperti anak kecil yang masuk toko permen. Tangannya bergerak cepat, mengambil satu per satu produk dari rak, membaca labelnya lalu menyimpannya ke keranjang belanjaan yang mulai penuh.
"Inini yang aku bilang," seru Aqeela sambil menunjukkan sebuah lipstik merah marun. "Warnanya bagus, tahan lama, dan sekarang diskon empat puluh persen!"
Wulandari mengambil lipstik itu, mengoleskannya ke punggung tangannya. "Bagus sih. Tapi kamu jangan borong semua, Qeela. Nanti dompet kamu isinya nangis semua."
"Ah, aman. Aku kan sudah mempersiapkan semuanya sejak sebulan lalu." ujarnya
Meysa hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya. Ia ikut memegang beberapa produk, membaca harganya, lalu mengembalikkan ke tempatnya dengan rapi. Jujur, ia tidak terlalu paham dengan dunia make up. Di kampung dulu, ia hanya menggunakan bedak tabur dan lipstik murahan sekadarnya.
"Cha, kamu coba ini," kata Wulandari sambil melemparkan sebuah foundation. "Cocok buat kulitmu."
Meysa menangkapnya."Ah... nanti aja, Lan. Aku lihat-lihat dulu."
Namun saat hendak membaca kemasan foundation itu, mata Meysa melihat sesuatu dari balik jendela kaca toko. Dua sosok berjalan beriringan di trotoar luar pusat perbelanjaan. Salah satunya tinggi, berpostur tegap dengan jaket hitam Rangga. Dan di sampingnya, seorang gadis dengan rambut panjang terurai, mengenakan dress biru muda.
Aqeela yang sedang asyik memilah kuas make up juga melihat ke arah yang sama. Wajahnya berubah, matanya membelalak, dan ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Astaga,"
Wulandari menoleh, lalu ikut membeku. "Itu Rangga sama Emily kan? Mereka berdua?"
Meysa tidak menjawab. Ia hanya menatap lewat kaca, melihat bagaimana Rangga berjalan menyesuaikan langkahnya dengan Emily. Sesekali ia menoleh, seolah mendengarkan ucapan Emily yang sedang bercerita
"Ini sudah jam pulang," gumam Wulandari. "Mereka pulang bareng?"
"Aku nggak nyangka mereka bisa akrab secepat itu. Baru beberapa hari Emily pindah, wahhh pasti di kampus besok ada gosip niih"
Meysa mengalihkan pandangannya. Ia menggenggam foundation di tangannya lebih erat, lalu meletakkannya kembali ke rak tanpa membeli. "Yuk, kita lanjut belanja. Jangan pikirkan mereka," ucapnya pelan.
*
Rangga baru saja keluar dari gedung fakultas setelah menyelesaikan urusan dengan sekretariat BEM. Ia melambat saat melihat Emily sedang berdiri di dekat motor matic-nya, merogoh tas mencari kunci.
"Emily," panggil Rangga, sambil melambaikan tangannya.
Emily menoleh,"Hai. Kamu belum pulang?"
Rangga berjalan mendekat, kedua tangannya di saku celana."Kamu pulang naik motor?"
"Iya. Apartemenku nggak terlalu jauh kok, dari sini!"
Rangga menawarkan untuk pulang bareng "Kamu mau pulang bareng gak sama aku? Aku bawa mobil. Nanti kamu bisa nitip motor kamu di parkiran, besok ambil lagi."
Emily terkejut, dengan bibirnya mengembang dalam senyum yang manis. "Kamu yakin? Nggak merepotkan?"
"Enggak."
Emily terdiam sesaat, lalu mengangguk. "Baiklah. Kalau kamu tidak keberatan. Aku titip motornya di sini dulu."
Rangga mengantarkan Emily ke parkiran mobil, membukakan pintu untuknya. Emily duduk di kursi penumpang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan terkena angin.
Mobil mulai melaju pelan meninggalkan kampus. Di dalam, suasana terasa hangat. Emily membuka ponselnya, lalu mengetik sesuatu.
"Kamu lapar nggak, Ga?" tiba-tiba Emily bertanya. "Eh, maaf, aku boleh panggil kamu Ga?"
Rangga tersenyum kecil. "Boleh."
"Oke deh, eh nanti di perjalanan aku mau beli makan buat kamu. Bawalah ke rumah."
"Eh?" Rangga menoleh sekilas.
"Iya. Sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah mau mengantarku pulang." Emily tersenyum manis, matanya berbinar.
Rangga tidak bisa menolak. Ada sesuatu dari senyum Emily yang membuatnya ingin terus melihatnya. "Baiklah. Nanti kita mampir ke tempat makan favoritku."
Emily bertepuk tangan kecil. "Yay! Aku jadi penasaran makanan favoritmu apa?"
*
Setelah hampir satu jam berkeliling di toko kosmetik, keranjang Aqeela sudah penuh. Isinya bukan hanya lipstik, tapi juga foundation, bedak tabur, kuas, spons, dan beberapa produk perawatan kulit yang katanya "wajib dimiliki setiap perempuan".
"Kamu tahu, Qeela? Dompet kamu saat ini menjeri-jerit" ledek Wulandari.
"Ah, biarin. Ini investasi buat penampilanku" balas Aqeela.
Meysa hanya tersenyum kecil. Ia sendiri hanya membeli satu lipstik warna nude dan sebuah bedak tabur. Itu pun setelah pikir-pikir berkali-kali karena takut uang sakunya habis sebelum akhir bulan.
Setelah selesai membayar, mereka bertiga keluar dari toko. Perut Aqeela tiba-tiba berbunyi.
"Laper," ucap Aqeela sambil memegang perutnya. "Yuk, kita makan dulu sebelum pulang. Ada kafe baru di sebelah toko ini."
"Aku juga mulai laper sih." timpal Wulandari sembari memegang perutnya.
"Ayo." ajak Meysa.
Kafe itu tidak terlalu besar, tapi cukup ramai. Meja-meja kayu ditata rapi, dan aroma kopi bercampur dengan wangi roti panggang yang0memenuhi ruangan. Sebagian besar kursi sudah terisi oleh pasangan mahasiswa atau kelompok kecil yang asyik mengobrol.
"Di pojok sana masih ada yang kosong," kata Wulandari sambil menunjuk meja kosong dekat jendela.
Mereka berjalan menuju meja itu. Meysa duduk menghadap ke dinding, sementara Wulandari dan Aqeela duduk berseberangan di sisinya.
Seorang pelayan datang, memberikan tiga lembar menu. Aqeela langsung sibuk membaca daftar makanan dengan mata berbinar. Wulandari memilih es kopi susu dan kentang goreng. Meysa masih sibuk menelusuri menu, matanya bergerak dari daftar makanan ke daftar harga, menghitung satu per satu.
Tapi saat matanya melirik ke samping, ke arah kursi sebelah kanan yang berjarak hanya dua meja dari tempat mereka duduk, jantung Meysa berhenti berdetak sejenak.
Rangga dan Emily.
Mereka duduk berdua di meja kecil dekat jendela. Rangga menyandar santai di kursinya. Emily di hadapannya sedang menceritakan sesuatu dengan gerakan tangan yang lucu, membuat Rangga tertawa lagi. Kali ini tawanya terdengar jelas, bahkan sampai ke meja Meysa.
Meysa tidak pernah mendengar Rangga tertawa seperti itu. Selama hampir sebulan tinggal satu apartemen, yang ia dengar hanyalah perintah, teguran, atau keheningan. Tidak pernah tawa. Tidak pernah canda.
Hatinya teriris perlahan.
"Cha? Cha!" panggil Wulandari.
Meysa tersadar. "Eh... iya?"
"Aku tanya pesan apa, kok kamu malah melongo? Ada apa?" Wulandari menoleh mengikuti arah pandangan Meysa.
Wajah Wulandari langsung berubah. Aqeela ikut menoleh, dan mulutnya terbuka sedikit.
"Waw, benar-benar luar biasa mereka," tutur Wulandari
Mereka terus menatap dua orang yang sedang asyik berbincang, seperti sudah mengenal dekat satu sama lain..
Sementara Wulandari mempotret keduanya, tanpa sepengatahuan siapapun..
"Asyik, pasti rame nih besok dikampus."batinnya
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey