NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Penutup Jaring

Hari yang sudah ditunggu akhirnya tiba juga, dan pagi itu langit cerah bersih tanpa awan gelap yang menggantung seperti hari-hari sebelumnya. Sekitar pukul sembilan pagi, dua orang petugas berwenang datang ke kantor Surya Abadi ditemani oleh Faris Arjuna dan satu orang saksi yang sudah disiapkan sebelumnya. Mereka membawa surat perintah resmi yang tertera jelas tanda tangan dan cap lembaga, jadi tak ada ruang buat berdebat atau menolak kedatangan mereka. Faris Arjuna berjalan di samping dengan gaya santai seperti biasa, tangan kanan memasukkan ke dalam saku celana, tangan kiri memegang batang rokok yang belum dinyalakan, matanya melirik sekeliling dengan tenang seolah sudah tahu betul apa yang akan ditemukan di dalam sana.

Begitu pintu ruang kerja utama dibuka, Rusdi tertegun berdiri di tengah ruangan, wajahnya pucat pasi dan matanya melotot tak percaya melihat siapa yang datang. Dia sudah berusaha menebak-nebak sampai tengah malam tadi, mengira masih punya waktu setidaknya beberapa hari lagi buat melarikan diri atau memindahkan sisa barang yang tersembunyi, tapi ternyata jaring sudah ditutup lebih cepat dari yang dia bayangkan. Kakinya terasa berat tertancap di lantai, mulutnya terbuka sedikit tapi tak ada satu kata pun yang keluar, seolah semua kata pembelaan sudah hilang tertelan ketakutan yang meluap-luap.

Selamat pagi Mas Rusdi,” sapa Faris Arjuna duluan dengan nada bicara yang tetap santai dan tak ada nada sombong sedikitpun, cuma tegas dan jelas. “Kita sudah sampai di tahap terakhir ini ya, nggak perlu bingung atau cari alasan macam-macam lagi. Semua yang kita butuhkan sudah ada di depan mata, tinggal disusun rapi saja supaya jelas bagi siapa pun yang melihatnya.”

Petugas berwenang lalu menyampaikan maksud kedatangan mereka dengan nada resmi tapi sopan, meminta akses ke semua ruangan, lemari penyimpanan, dan arsip yang ada. Faris Arjuna yang sudah hafal seluk-beluk tempat itu langsung menunjuk ke arah lemari pojok yang terkunci ganda, juga ke pintu samping yang selama ini dipakai lewat diam-diam. “Di sana biasanya disimpan berkas-berkas yang dianggap rahasia, dan di balik tumpukan barang di sudut belakang itu ada ruang kecil yang dipakai buat menaruh barang sebelum dipindahkan lewat jalan belakang,” ujar Faris Arjuna dengan tenang, seolah sedang membuka peta yang sudah dia hafal luar kepala.

Begitu lemari dan ruang kecil itu dibuka, semuanya terlihat jelas tanpa perlu disembunyikan lagi: ada tumpukan berkas yang tulisannya pakai kode-kode aneh, ada catatan terpisah yang isinya beda jauh dengan yang sudah diserahkan, ada juga sisa barang yang kualitasnya jauh di bawah standar tertutup rapat di dalam karung bekas. Faris Arjuna melangkah mendekat, mengambil satu per satu benda itu sambil bicara pelan tapi cukup terdengar oleh semua orang di ruangan itu.

Lihat ini Bu Viona, Pak petugas, semuanya ada di sini kan? Dari catatan yang beda, sampai barang yang sengaja ditukar kualitasnya. Nggak ada yang dibawa lari atau dimusnahkan semuanya, karena mereka pikir tempat ini aman dan tak ada yang tahu. Padahal sejak awal Faris Arjuna sudah bilang, kalau niatnya salah, tempat seaman apa pun nggak akan bisa menyembunyikan selamanya.”

Rusdi akhirnya berusaha mengeluarkan suara yang terbata-bata dan lemah, tangannya bergerak sedikit memohon: “Mas Faris Arjuna, tolong beri saya kesempatan terakhir saja, saya akan ganti semua kerugian yang ada, saya janji nggak akan mengulanginya lagi…”

Faris Arjuna menggeleng pelan sambil tersenyum miring gaya sengklek khasnya, lalu menjawab dengan nada yang tenang tapi tegas tak terbantahkan. “Mas Rusdi, kesempatan itu sudah diberikan berkali-kali sejak hari pertama kita sepakat bekerja sama. Waktu itu kami minta berkas rapi, kami minta keterangan jelas, kami kasih waktu tiga hari buat meluruskan sendiri sebelum melapor ke siapa pun. Kalau waktu itu kamu berhenti dan jujur, mungkin jalannya bisa beda. Tapi kamu malah anggap itu tanda lemah, malah makin berusaha menutupi dengan cara yang lebih licik, sampai akhirnya menumpuk sendiri semua bukti ini sampai setinggi ini. Sekarang bukan soal mau memaafkan atau tidak lagi, tapi soal apa yang sudah kamu tulis dan lakukan sendiri, semuanya sudah ada tertulis dan terlihat nyata.”

Dia melanjutkan bicara sambil menunjuk ke arah tumpukan barang dan kertas yang sudah disusun rapi oleh petugas: “Ini yang saya bilang dari awal ya Bu Viona, jaring itu dipasang terbuka sedikit saja supaya ikan yang kelaparan bisa masuk dengan sendirinya. Kalau pintunya ditutup rapat dari awal, mungkin dia cuma berputar di luar dan cari jalan lain. Tapi dibiarkan terbuka sedikit, dia merasa aman, merasa menang, sampai masuk makin dalam dan tak sadar jalan keluarnya sudah perlahan hilang. Nanti pas dia sadar, sudah terlambat untuk mundur lagi.”

Saat petugas mulai memasukkan semua barang bukti ke dalam kotak tertutup dan mencatat satu per satu nomornya, Rusdi hanya bisa menunduk dalam dengan wajah penuh penyesalan yang datangnya sudah sangat terlambat. Tak ada lagi senyum manis, tak ada lagi janji-janji indah yang dulu sering keluar dari mulutnya, cuma rasa hampa yang menyadari bahwa semua keuntungan yang dia kejar dengan susah payah itu akhirnya berubah jadi beban yang menjeratnya kuat-kuat.

Faris Arjuna berdiri di pinggir ruangan, menyandarkan bahunya sedikit ke dinding sambil mengamati semuanya dengan tenang. Dia tak merasa senang melihat orang lain jatuh, tapi dia juga tahu ini adalah konsekuensi yang memang harus diterima. “Begitulah aturannya Bu Viona,” ujarnya pelan hanya untuk didengar Viona yang berdiri di sampingnya. “Orang yang serakah selalu mengira dia bisa mengakali aturan, padahal dia cuma mengakali dirinya sendiri sampai akhirnya terperangkap dalam lubang yang dia gali dengan tangannya sendiri. Hari ini jaringnya sudah tertutup rapat, tak ada yang bisa lolos lagi, dan semuanya berjalan sesuai rencana tanpa perlu kita repot berbuat apa-apa yang melanggar aturan.”

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!