Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Lima Ratus Juta untuk Meninggalkan Suamiku
Suasana kamar mendadak terasa menyesakkan.
Naya berdiri mematung di dekat ranjang, sementara matanya terpaku pada tas hitam yang baru saja dilemparkan ke hadapannya.
Di dalam tas itu terdapat uang tunai lima ratus juta rupiah.
Jumlah yang bahkan belum pernah ia bayangkan sepanjang hidupnya.
Namun yang membuat jantungnya berdebar bukanlah uang itu.
Melainkan selembar dokumen yang tergeletak di atasnya.
Surat perceraian.
Tangannya perlahan bergetar.
Di hadapannya berdiri Nyonya Dahlia dengan tatapan dingin yang penuh penilaian.
Wanita itu tampak elegan dan berwibawa, tetapi sorot matanya membuat Naya merasa seolah dirinya hanyalah debu yang tidak berarti.
"Ambil uangnya," ujar Dahlia tenang.
"Lalu tinggalkan kehidupan anakku."
Naya menelan ludah.
"Nyonya, saya tidak pernah menginginkan uang keluarga ini."
"Kalau begitu lebih mudah."
Dahlia menyilangkan kedua tangannya.
"Tandatangani surat itu dan pergi."
Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Naya.
Ia berusaha menahannya.
"Saya tidak menikah dengan Tuan Adrian karena uang."
Dahlia tertawa kecil.
Namun tawa itu terdengar lebih seperti ejekan.
"Lalu karena cinta?"
Naya terdiam.
Pertanyaan itu membuat dadanya berdenyut aneh.
Cinta?
Tidak.
Setidaknya bukan pada awalnya.
Pernikahan ini terjadi karena keadaan.
Karena pengkhianatan Kesya.
Karena ancaman yang menimpa ibunya.
Karena takdir yang memaksanya berjalan ke pelaminan sebagai pengganti.
Namun entah sejak kapan, setiap perhatian kecil Adrian mulai meninggalkan jejak di hatinya.
Cara pria itu mengobati lukanya.
Cara pria itu membelanya dari penghinaan.
Dan cara pria itu mulai memperlakukannya dengan berbeda.
Semua itu perlahan menghancurkan dinding yang selama ini ia bangun.
"Kamu tidak menjawab."
Suara Dahlia kembali terdengar.
Naya mengangkat wajahnya.
"Saya menghormati Tuan Adrian."
Jawaban itu membuat Dahlia mendengus.
"Menghormati tidak cukup untuk menjadi istri keluarga Wijaya."
Wanita itu melangkah mendekat.
"Kamu tidak memiliki latar belakang yang setara."
"Tidak memiliki pengaruh."
"Tidak memiliki apa pun yang bisa membantu masa depan Adrian."
Setiap kalimat terasa seperti tamparan.
Namun Naya memilih diam.
Karena sebagian dari perkataan itu memang benar.
Dia hanyalah perempuan biasa.
Bukan pewaris perusahaan.
Bukan anak konglomerat.
Dan bukan wanita yang selama ini diharapkan berdiri di samping Adrian.
"Tandatangani sekarang."
Dahlia menyodorkan sebuah pulpen.
"Nyonya..."
"Sebelum kesabaranku habis."
Tangan Naya perlahan meraih dokumen itu.
Matanya membaca satu per satu isi surat perceraian tersebut.
Setiap kata membuat dadanya semakin sesak.
Aneh.
Bukankah ini yang seharusnya ia inginkan?
Kebebasan.
Kesempatan untuk memulai hidup baru.
Kesempatan meninggalkan semua luka yang pernah ia alami di rumah ini.
Lalu kenapa hatinya justru terasa sakit?
Air mata jatuh tanpa bisa dicegah.
Dahlia memperhatikannya tanpa belas kasihan.
"Kamu menangis karena kehilangan kesempatan hidup mewah?"
Naya menggeleng pelan.
"Bukan itu."
"Lalu apa?"
Untuk beberapa saat Naya terdiam.
Kemudian ia mengangkat kepalanya.
Tatapan yang biasanya selalu dipenuhi ketakutan kini perlahan berubah.
"Apa saya boleh bertanya satu hal, Nyonya?"
Dahlia menyipitkan mata.
"Apa?"
"Jika saya pergi, apakah Tuan Adrian benar-benar akan bahagia?"
Pertanyaan itu membuat wanita tersebut terdiam sesaat.
Namun hanya sesaat.
"Itu bukan urusanmu."
"Tapi saya istrinya."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Bahkan Naya sendiri terkejut mendengarnya.
Dahlia langsung menatapnya tajam.
"Kamu mulai melupakan posisimu."
"Saya tidak melupakan apa pun."
Suara Naya bergetar.
Namun ia memaksa dirinya tetap berdiri tegak.
"Saya hanya tidak ingin menjadi seseorang yang pergi karena dibayar."
Wajah Dahlia langsung berubah dingin.
"Kamu menolak?"
Naya menunduk sesaat.
Lalu perlahan menggeleng.
"Saya tidak bisa menandatanganinya."
Keheningan memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya, Dahlia terlihat benar-benar marah.
"Kamu berani menentangku?"
"Saya hanya mempertahankan harga diri saya."
Tampar!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Naya.
Tubuhnya terhuyung.
Bibirnya pecah hingga mengeluarkan sedikit darah.
Air mata langsung mengalir.
Namun kali ini bukan karena takut.
Melainkan karena kecewa.
"Aku sudah memberimu kesempatan baik."
Suara Dahlia bergetar karena amarah.
"Ternyata kamu sama serakahnya dengan perempuan lain."
Naya memejamkan mata.
Dadanya terasa sakit.
Tetapi sebelum Dahlia sempat berkata lebih jauh, suara mesin mobil terdengar dari halaman depan.
Keduanya menoleh bersamaan.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki tergesa menaiki tangga.
Langkah yang sangat dikenali Naya.
Jantungnya langsung berdetak kencang.
Cklek!
Pintu kamar terbuka.
Sosok Adrian muncul di ambang pintu dengan wajah dingin yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Tatapannya langsung jatuh pada pipi Naya yang memerah.
Lalu beralih pada surat perceraian di atas ranjang.
Dan akhirnya berhenti pada ibunya sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak dewasa, Adrian menatap Dahlia bukan sebagai seorang anak.
Melainkan sebagai seseorang yang baru saja menyakiti wanita yang ingin ia lindungi.
"Bu..."
Suara Adrian terdengar rendah.
Namun cukup membuat seluruh ruangan membeku.
"Apa yang sedang Ibu lakukan kepada istriku?"