Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Drttt... Drttt...
Ponsel di atas meja bergetar, memecah keheningan ruangan. Arka melihat nama yang tertera di layar, Ayah.
Tanpa menunda, ia segera menggeser tombol hijau.
"Halo, Yah. Assalamualaikum," ucap Arka dengan suara rendahnya yang khas.
"Waalaikumussalam, Arka," sahut suara berat di seberang sana. "Lagi sibuk di rumah sakit?"
"Baru saja selesai visitasi pasien, Yah. Ada apa?" tanya Arka.
Terdengar helaan napas sejenak sebelum Yuda kembali berujar, "Ar, nanti malam kamu sama Lilis bisa pulang ke rumah?"
Dahi Arka sedikit berkerut. "Bisa, Yah. InsyaAllah. Tapi tumben sekali, ada apa, Yah?"
"Ibumu... dia rindu sekali pada kalian. Katanya rumah terasa sepi kalau tidak ada kamu dan menantunya itu," jawab Yuda dengan nada yang terdengar sedikit dipaksakan.
Mendengar itu, firasat Arka mulai tidak enak. "Ibu baik-baik saja kan, Yah?"
"Tadi malam sebenarnya sempat demam. Mungkin karena terlalu banyak pikiran. Tapi sekarang sudah mendingan, sudah mau makan sedikit. Makanya, kalau kalian pulang, mungkin perasaannya bisa jauh lebih baik," jelas Yuda.
Arka terdiam sejenak. Ia tahu ibunya adalah sosok yang kuat, dan jika sampai demam karena rindu atau pikiran, berarti ada sesuatu yang benar-benar mengusik hati sang ibu.
"Iya, Yah. Nanti setelah jam praktek selesai, Arka langsung jemput Lilis dan kami segera ke sana. Ayah tolong jaga Ibu dulu, ya," tutur Arka menenangkan.
"Iya, Ar. Ayah tunggu kalian di rumah. Hati-hati di jalan nanti. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Arka mematikan sambungan telepon. Ia memijat pangkal hidungnya pelan. Masalah tampaknya mulai berdatangan dari berbagai arah.
Tok!! Tok!! Tok!!
Suara ketukan pelan di pintu itu membuyarkan lamunan Arka. Ia segera memperbaiki posisi duduknya dan kembali memasang wajah profesional yang tenang.
"Permisi, Dokter Arka," suara lembut seorang wanita terdengar dari balik pintu.
Pintu terbuka sedikit, menampakkan sosok Rania, salah satu perawat yang bertugas di bagian poli hari itu. Ia masuk dengan langkah yang sopan, membawa sebuah nampan kecil.
"Masuk. Ada apa, Sus?" tanya Arka singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
Rania tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat ke meja kerja Arka. "Oh, tidak ada hal darurat, Dok. Ini... saya bawakan kopi untuk Dokter. Tadi saya lihat Dokter sepertinya kelelahan setelah visitasi pasien."
Arka melirik sekilas ke arah cangkir kopi yang mengepulkan uap tipis itu. Aroma kafein yang kuat memenuhi ruangan.
"Oh, taruh saja di sana," jawab Arka dingin, tangannya memberi isyarat ke sudut meja.
"Baik, Dok. Saya permisi kembali ke depan kalau begitu," ucap Rania dengan nada sedikit kecewa karena tanggapannya yang singkat, namun ia tetap menjaga kesopanannya.
Arka hanya mengangguk tanpa suara. Begitu pintu tertutup kembali, ia menatap kopi itu sejenak.
......................
Matahari mulai condong ke ufuk barat, membiaskan warna jingga yang hangat di langit sore. Di dalam kamar, Lilis sedang merapikan beberapa helai pakaian ke dalam tas kecil, sementara Arka baru saja selesai mengenakan kemeja kasualnya.
"Kita menginap di rumah Ayah nggak apa-apa, kan?" tanya Arka sambil memperhatikan istrinya dari pantulan cermin.
Lilis menoleh lalu tersenyum manis. "Nggak apa-apa, Mas. Aku malah senang kok. Di sini rumah kita cuma berdua, kalau di sana kan ramai, ada Ibu sama Ayah juga."
"Nanti kita tambah personil kita sendiri biar rumah kita nggak sepi lagi. Kamu mau berapa? Dua, tiga, atau empat?" goda Arka dengan bisikan rendah yang membuat bulu kuduk Lilis meremang.
Lilis sontak mencubit pelan lengan Arka yang melingkar di perutnya. "Mas ini ngawur aja! Sedikasihnya Allah saja, Mas," sahut Lilis.
Arka terkekeh pelan sebelum mencium puncak kepala istrinya. "Iya, Sayang. Apa pun yang terbaik menurut-Nya."
Mobil Arka mulai membelah jalanan kota yang cukup padat di sore hari itu. Di sepanjang perjalanan, Lilis tampak terdiam, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran.
"Mas... Ibu sebenarnya kenapa?" tanya Lilis memecah keheningan di dalam mobil.
Arka menghela napas, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi dengan perlahan. "Aku nggak tahu pasti, Sayang. Tapi Ayah bilang Ibu demam mulai dari semalam. Katanya mungkin karena terlalu banyak pikiran."
"Semoga Ibu baik-baik saja, ya, Mas. Semoga cuma demam biasa karena kelelahan," ucap Lilis dengan nada penuh doa. Arka hanya mengangguk pelan, fokus membelah kemacetan sore demi segera sampai ke rumah orang tuanya.
Tak lama kemudian, mobil Arka memasuki gerbang rumah keluarga Yuda. Suasana rumah tampak cukup tenang. Yuda belum pulang dari pabrik bersama Kenan, adiknya Arka, yang kini memang sedang belajar membantu mengelola bisnis keluarga. Sementara itu, di dalam rumah, Tiara sedang memasak sendiri karena ibunya sedang beristirahat, ditemani suara riuh rendah dari Zayn dan Aira yang sedang bermain di ruang tengah.
"Assalamualaikum," ucap Arka dan Lilis serentak saat memasuki rumah.
Zayn yang pertama kali menyadari kehadiran mereka langsung bangkit dari mainannya. "Waalaikumussalam! Wah, Bang Arka sama Kak Lilis datang!" seru Zayn senang. Lilis segera mendekat dan menyapa keluarga satu per satu, memberikan senyum hangat pada Zayn dan Aira yang tampak antusias.
Arka celingukan mencari keberadaan ayahnya. "Ayah belum datang?" tanya Arka pada adiknya, Zayn.
"Belum Bang, masih di pabrik sama Bang Kenan," jawab Zayn.
Arka kemudian menoleh ke arah Lilis, wajahnya menyiratkan keinginan untuk segera memastikan kondisi sang ibu. "Aku mau ke kamar Ibu dulu, kamu mau ikut?" tawar Arka pada istrinya.
Lilis melirik ke arah dapur, ia merasa tidak enak jika membiarkan Tiara mengurus makan malam sendirian di saat ibu mertuanya sakit. "Mas aja duluan. Aku mau bantu Tiara masak dulu sebentar, kasihan dia sendirian di dapur," jawab Lilis lembut.
Arka mengerti sikap perhatian istrinya tersebut. "Ya sudah, sini tasnya Mas bawa ke kamar," ucap Arka sambil mengambil alih tas jinjing Lilis, lalu bergegas menuju lantai atas untuk menemui ibunya yang sedang terbaring sakit.
suka aja sama ceritanya.