NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Detoksifikasi dan Memori yang Retak

Enam jam berlalu bagai berjalan di atas bara api bagi keempat saudara laki-laki Tenggara. Ketika jarum jam dinding rumah sakit menunjuk ke angka sepuluh pagi, mesin hemodialisis itu akhirnya mengeluarkan bunyi dengung panjang yang menandakan proses penyaringan darah tahap pertama telah selesai.

Selang-seling transparan yang tadinya dipenuhi darah keruh perlahan dibersihkan, dan cairan racun berwarna kekuningan hasil buangan ginjal buatan itu telah terkumpul di kantung pembuangan.

"Kreatinin turun ke angka aman, dan tingkat toksisitas imunosupresan di otaknya berkurang drastis," Profesor Gunawan melepas sarung tangan latex-nya dengan helaan napas yang sangat lega. Wajah lelahnya menyunggingkan senyum tipis.

"Tekanan darahnya stabil di angka 90/60. Kita baru saja melewati lubang jarum yang paling mematikan, Anak-anak muda."

Arvin langsung menyandarkan dahi ke lengan ranjang Aurora, pundaknya terguncang hebat menahan tangis kebahagiaan yang membuncah. Gavin mengusap wajahnya yang kusut dengan kedua tangan, sementara Juna dan Eros saling bertukar pandang—sebuah ketegangan yang akhirnya terangkat dari dada mereka.

Namun, Profesor Gunawan segera mengangkat tangannya, menahan euforia prematur mereka. "Tapi kalian harus bersiap. Detoksifikasi cepat pada sel otak sering kali memicu hiperaktivitas neurotransmiter. Otak Aurora yang tadinya 'tertidur' dan mengalami amnesia akibat trauma serta obat-obatan, sekarang sedang dipaksa untuk menyala kembali dengan kecepatan penuh."

"Maksud Dokter... ingatannya akan kembali?" tanya Gavin, menatap sang Profesor dengan dahi berkerut.

"Iya. Tapi ingatan itu tidak akan kembali dengan rapi. Memory-nya akan pecah dan kembali secara acak, seperti pecahan kaca yang dilempar ke dalam kepala. Dan itu... bisa sangat menyakitkan secara psikologis," jawab Profesor Gunawan serius sebelum melangkah keluar bersama tim medisnya.

Belum sempat Gavin mencerna peringatan tersebut, suara lenguhan kecil terdengar dari arah ranjang.

"Nghh..."

Aurora bergerak gelisah. Kelopak matanya bergetar hebat. Kali ini, saat mata bulat itu terbuka sepenuhnya, fokusnya tidak lagi kosong. Pupil matanya mengecil sempurna, menangkap pendar cahaya matahari pagi yang masuk dari celah gorden dengan jelas. Kebutaan sementaranya benar-benar telah hilang.

"Aurora? Lo bisa lihat gue? Ini Kak Arvin, Ra..." Arvin langsung mencondongkan tubuhnya, menatap wajah adiknya dengan binar harapan.

Aurora mengerjap-ngerjap beberapa kali. Pandangannya menangkap wajah Arvin, lalu bergeser ke arah Gavin, Juna, dan berakhir pada sosok Eros yang berdiri di ujung ranjang.

Namun, alih-alih senyuman polos atau rasa takjub karena bisa melihat kembali seperti beberapa jam lalu, ekspresi wajah Aurora perlahan-lahan berubah drastis. Matanya yang bulat melebar, bukan karena cahaya, melainkan karena rasa ngeri yang teramat sangat yang tiba-tiba menyerang seluruh sarafnya.

Pecahan memori itu menghantam otaknya tanpa ampun.

“Kenapa bukan lo aja yang mati gantiin Mama?!” Suara bentakan Arvin menggema di kepalanya, tumpang tindih dengan visual malam di mana Arvin sengaja mengunci pintu rumah utama saat badai, membiarkan Aurora kecil menggigil di luar sambil memeluk lututnya.

“Jangan pernah tunjukkan muka cacatmu di depanku. Kamu menjijikkan.” Suara dingin Eros berputar, disusul memori saat Eros menendang pintu kamarnya hingga hancur berkeping-keping tempo hari, menatapnya seolah-olah ia adalah sampah masyarakat.

“Jangan menyentuh barang-barangku dengan tangan kotormu.” Suara Juna yang datar namun menusuk ulu hati, teringat saat Juna membiarkan robot mainannya sengaja menabrak kaki Aurora hingga memar tanpa mau meminta maaf.

Dan memori tentang Gavin... Abang keduanya yang memilih pergi ke wilayah barat. Memori terakhir yang diingat Aurora tentang Gavin adalah ketika pria itu mengemas kopernya tiga tahun lalu. Sebelum melangkah keluar pagar, Gavin sempat menatap Aurora yang berdiri di balik pilar dengan baju pelayan yang lusuh. Saat itu, Gavin tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak menolongnya, tidak memeluknya, melainkan hanya menatapnya dengan pandangan dingin dan abai, lalu berbalik pergi meninggalkannya di rumah neraka itu sendirian.

"K-Kalian..." suara Aurora keluar, bukan lagi parau, melainkan bergetar hebat dipenuhi ketakutan yang histeris.

"Ra? Ini gue, Arvin..." Arvin mencoba meraih tangan Aurora.

"JANGAN SENTUH!" Aurora menjerit histeris. Ia menarik tangannya dengan kasar hingga selang infus di punggung tangannya tertarik dan mengeluarkan darah segar.

Gadis itu bergerak mundur dengan cepat hingga punggungnya membentur papan kepala ranjang rumah sakit. Ia menekuk kedua lututnya di depan dada, memeluk dirinya sendiri dengan tubuh yang gemetar hebat seumpama daun kering ditiup angin.

"Pergi... hiks... pergi..." tangis Aurora pecah, suaranya melengking ketakutan, memenuhi ruang VIP yang sunyi. "Kak Arvin jahat... Kak Arvin mau aku mati... Kak Eros... Kak Eros mau pukul aku lagi? Juna... jangan lihat aku kayak gitu..."

Mata Aurora yang basah oleh air mata kemudian terkunci pada Gavin yang berdiri kaku di samping kasur. "Kak Gavin... Kak Gavin juga sama... Kakak pergi dan biarkan aku sendirian di sana... Kalian semua benci aku... Kalian semua mau aku mati karena aku bunuh Mama... hiks... pergi!"

Gavin mematung, dadanya serasa dihantam godam seberat berton-ton. Air matanya menetes perlahan. Penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah karena ia memilih bersikap apatis dan pergi tiga tahun lalu, mengira dengan menjauh ia bisa tenang, tanpa memikirkan bagaimana nasib adik bungsunya yang ia tinggalkan sendirian menghadapi kekejaman Papa dan saudara-saudaranya.

"Ra... enggak, Ra. Kakak di sini sekarang. Kakak nggak akan pergi lagi..." Gavin mencoba melangkah maju satu langkah dengan tangan terbuka, mencoba menenangkan.

"JANGAN DEKAT-DEKAT!" Aurora berteriak semakin kencang, menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, matanya terpejam erat-erat dalam serangan panik yang luar biasa.

"Aku mau pulang ke kamar bawah... Kamar bawah gelap tapi nggak ada kalian... Di sini menakutkan... Papa... Kak Eros... semuanya mau bunuh aku... hiks... tolong..."

Di luar pintu kaca yang sedikit terbuka, Bramantyo Tenggara yang sejak tadi mengintip dari kejauhan, perlahan-lahan merosot jatuh ke lantai koridor. Mendengar putrinya menjerit ketakutan menyebut namanya sebagai sosok pembunuh yang menakutkan, membuat sisa-sisa harga diri pria perkasa itu hancur tak berbekas.

Keempat abang Tenggara itu berdiri mematung di sekeliling ranjang, tidak berani melangkah maju, tidak pula sanggup mundur. Kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan palsu saat Aurora hilang ingatan, kini berubah menjadi ruang sidang pengadilan batin yang paling kejam. Aurora telah mengingat mereka. Ia telah mendapatkan kembali matanya untuk melihat, namun hal pertama yang ia lihat adalah wajah para monster yang telah menghancurkan masa kecilnya.

1
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!