NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22 Lomba Anak, Mama, Dan Papa

Aula sekolah berubah jauh lebih ramai setelah penampilan anak-anak selesai. Teriakan orang tua bersahut-sahutan. Anak-anak berlarian ke sana kemari. Guru-guru sibuk mengatur jalannya perlombaan berikutnya.

Di tengah keramaian itu, Sae berdiri dengan nomor peserta menempel miring di dada seragamnya. Wajahnya masih datar seperti biasa. Namun kedua tangannya masuk ke saku celana dengan cara yang terlalu santai untuk anak yang baru saja diumumkan ikut lomba estafet keluarga.

Guru menghampiri. "Sae, nanti satu tim sama Papa dan Mama ya."

Sae mengangguk, lalu menunjuk Ren.

"Papa."

Kemudian menunjuk Anjani. "Mama."

Anjani langsung tersedak udara sendiri. Di sebelahnya Ren menghela berat.

Sementara guru tersenyum. "Cocok kok."

"Cocok dari mana?" tanya Ren datar.

Guru tertawa. "Kelihatan keluarga."

"Penglihatan Ibu perlu diperiksa."

"Papa."

"Hm."

"Yang sopan," tegur bocah kecil itu.

Anjani buru-buru menahan tawanya.

Di sisi lain, Bella yang duduk bersama Cintya langsung memutar bola mata. "Menyebalkan."

Cintya tersenyum lembut. "Kenapa?"

"Mereka sok akrab. Padahal itu 'kan mama aku," jawab Bella kesal.

Cintya tersenyum sembari mengusap lembut kepala anak itu. "Bella 'kan punya Mama Cintya sekarang."

Bella mengangguk. "Iya. Lagian Mama Cintya lebih seru."

Tak lama kemudian lomba dimulai. Estafet keluarga yang terdiri dari anak, ayah, dan ibu.

Guru meniup peluit. "PESERTA SIAP!"

Ren melirik Sae. "Jangan jatuh."

Sae menoleh. "Jangan kalah."

Dahi Ren berkedut. "Kamu bicara sama siapa?"

"Papa."

"Berani sekali."

"Fakta."

Anjani buru-buru menyela sebelum mereka berdebat sampai acara wisuda.

Peluit berbunyi. Tongkat estafet sudah berada di tangan Sae. Anak itu melesat dan semua orang langsung melongo. Dia lari seperti sedang dikejar tagihan kredit panci. Cepat sekali. Kaki kecilnya nyaris tidak menyentuh tanah.

Guru olahraga sampai berkedip dua kali. "Dia lari apa teleportasi?"

Bella juga berlari cepat, tapi Sae sudah unggul jauh.

Beberapa detik kemudian Sae tiba di depan Ren. Tangannya mengulurkan tongkat.

"Papa."

Ren menerimanya, lalu berlari sangat cepat. Panjang langkahnya menghabisi jarak dengan mudah. Wajahnya tetap datar. Tidak ngos-ngosan, seakan sedang berjalan ke ruang rapat. Padahal para ayah lain mulai megap-megap seperti ikan yang dipindahkan ke daratan.

Guru kembali melongo. "Pak Ren ternyata atlet?"

"Tidak." Salah satu staf sekolah menggeleng. "Itu wajah orang yang sedang marah."

Dan tak lama kemudian, Ren sampai di titik pergantian berikutnya. Anjani sudah menunggu. Wajahnya terlihat sedikit tegang. Bukan karena lomba, tapi karena ia tidak pernah menyangka akan melakukan hal beginian bersama Ren Aksara. Pria itu biasanya terlihat lebih cocok menandatangani kontrak miliaran daripada ikut lomba sekolah.

Ren mengulurkan tongkat dan Anjani langsung meraupnya dengan cepat. Jari mereka sempat bersentuhan.

Anjani langsung berlari, sama sekali tidak menyadari apa pun. Sedangkan Ren membeku, meski sentuhan itu sebentar namun cukup untuk membuat dadanya seperti ditendang sesuatu.

Pria itu langsung mengerutkan dahi. Tidak suka karena jantungnya tiba-tiba bertingkah seperti karyawan baru yang salah masuk ruang direktur.

"Lari, Tante!" teriak Sae.

Di sela larinya Anjani tertawa. "Aku lagi lari ini!"

"Kurang cepat," teriak Sae lagi.

"Kamu pikir Tante motor?"

Setelah itu Sae menoleh mencari keberadaan Ren. Di saat itu juga ia langsung menyipitkan mata, mengamati ayahnya dengan teliti. Seperti ilmuwan yang baru menemukan fenomena langka.

Ren menoleh dan langsung menyadari kalau dirinya sedang ditatap aneh Sae.

"Apa?"

Sae tetap menatapnya. "Telinga Papa merah."

"Biasa aja."

"Tidak."

"Papa bilang biasa."

"Tidak."

Ren mulai kesal. "Fokus lomba."

"Aku fokus."

"Bagus."

"Aku fokus ke telinga Papa."

Dahi Ren berkerut, frustasi dengan telinganya sendiri. Andai bisa ditukar, ia akan menukarnya dengan telinga karet anti berubah warna.

Sae menarik Ren agar mau sedikit menunduk. Tangan kecilnya menyentuh dahi Ren, kemudian turun ke dada, lalu mengangguk kecil. Seolah baru menyelesaikan penelitian ilmiah.

"Suhu tubuh meningkat. Detak jantung abnormal. Apakah Papa sakit?"

Ren menarik napas sangat panjang. "Kalau kamu diam satu menit."

"Hm."

"Papa belikan es krim."

Sae langsung menggeleng. "Tidak."

Ren sedikit heran. Biasanya cara itu berhasil.

Lalu Sae berkata datar. "Aku lebih penasaran dengan telinga Papa."

"Tutup mulutmu."

Ren berpaling. Fokusnya kembali ke Anjani secara otomatis. Tatapannya mengikuti perempuan itu sampai garis akhir. Rambutnya tampak berantakan, pipinya memerah, senyumnya merekah. Suara tawa Anjani terasa lebih berisik daripada seluruh aula sekolah. Bukan karena keras, tapi karena terlalu jarang terdengar.

Mereka akhirnya menang juara satu. Sae berdiri di podium kecil masih minim ekspresi.

Guru menyerahkan hadiah. "Senang, Sae?"

"Saya sudah menduga."

Guru terdiam. Anjani langsung menutup wajah. Sementara Ren memijat pangkal hidung. Anak itu benar-benar tidak tahu cara terdengar rendah hati.

Namun yang lebih mengejutkan, lomba berikutnya mereka menang lagi, lagi, dan lagi. Seakan tiga orang itu memang diciptakan untuk satu tim, padahal bahkan belum seminggu saling mengenal.

Saat lomba memindahkan bola, Sae mengatur strategi. Saat lomba menyusun balok, Anjani menemukan cara tercepat. Saat lomba tarik tambang keluarga, Ren menarik talinya seperti sedang menyeret masalah hidup keluar dari inti bumi. Tim lain langsung kalah.

Guru olahraga sampai menatap Ren dengan ngeri. "Pak..."

"Hm."

"Bapak sering olahraga?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kuat sekali?"

Ren diam sebentar. "Lagi kesal."

Guru tidak bertanya lagi karena takut.

Sementara itu di sisi lain, Bella semakin diam. Awalnya ia kesal, lalu jengkel, lalu tidak nyaman. Dan sekarang, dadanya mulai terasa aneh karena sejak tadi ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Anjani terlalu banyak tertawa. Dan itu bukan karena dirinya. Bukan juga karena Satriya. Bukan karena keluarga mereka, melainkan karena Sae dan Ren yang jelas-jelas orang lain.

"Papa...," panggil Bella.

Satriya langsung menoleh. "Hm?"

Bella menunjuk jauh ke arah lapangan. Di sana Anjani sedang jongkok mengelap keringat di wajah Sae menggunakan tisu. Anak itu diam saja, tidak protes. Bahkan membiarkan, padahal terkenal dingin dan sulit didekati.

"Kenapa Mama ketawa terus?"

Satriya ikut melihat, lalu membeku. Dia juga baru sadar, sejak pertengkaran, sejak pengusiran, sejak semua kekacauan di rumah, belum pernah sekali pun dia melihat Anjani tertawa seperti itu.

Sementara Cintya masih tampil cantik dan anggun. Namun, senyumnya terasa sedikit kaku, karena ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai harapannya. Anjani seharusnya hancur, kesepian, menyesal, menderita. Bukan malah bersinar seperti itu.

Di tengah lapangan, Sae menengadah pada Anjani. "Tante."

"Hm?"

"Tante cantik kalau ketawa."

Anjani langsung tertawa lagi. "Kamu dapat jurus gombal dari mana?"

Sae menunjuk Ren.

"Itu bukan," Ren langsung menyangkal. Demi Tuhan, dia bahkan tidak tahu cara bersikap manis dengan wanita. Dia memang diciptakan kaku dari masih bentukan kecebong.

"Tuh 'kan bohong."

"Jangan fitnah."

"Genetik. Sifat ayah turun ke anak."

Ren menutup mata. Anak ini benar-benar musuh bebuyutan yang lahir dari DNA-nya sendiri. Dan di tengah tawa Anjani yang kembali pecah. Perempuan itu terlihat benar -benar bahagia.

Dan entah kenapa, pemandangan itu jauh lebih sulit diterima oleh Satriya daripada kekalahan lomba mana pun.

*

*

*

Acara sekolah akhirnya selesai menjelang siang. Anak-anak mulai pulang bersama orang tua masing-masing. Guru-guru sibuk membereskan perlengkapan acara. Lapangan yang tadi ramai perlahan mulai lengang.

Sae berdiri di samping Anjani sambil memegang sertifikat juara satu. Wajahnya masih datar seperti papan pengumuman sekolah, padahal beberapa menit lalu dia baru memenangkan hampir semua lomba yang diikutinya.

"Tante."

"Hm?"

"Aku antar pulang."

Anjani tersenyum kecil. "Nggak usah."

"

Kenapa?"

"Nanti ngerepotin."

Sae diam sebentar, lalu bertanya datar. "Tante tahu perbedaan direpotkan dan menemani?"

Anjani berkedip. "Hm?"

"Aku sedang menemani."

Anjani langsung kehilangan jawaban. Anak ini kadang berbicara seperti motivator yang terjebak dalam tubuh bocah enam tahun.

"Tapi Tante bisa pulang sendiri."

"Tapi aku tetap mau antar."

"Lho?"

"Aku keras kepala," jawab Sae tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Anjani menghela napas. "Ternyata mirip seseorang."

Sae menunjuk Ren. "Iya."

Ren yang sedang berjalan beberapa langkah di depan mereka menoleh. "Tidak perlu bangga."

"Aku tidak bangga."

"Lalu?"

"Aku pasrah."

Mereka sampai di area parkir. Mobil-mobil mulai keluar satu per satu.

Saat itulah sebuah suara lembut terdengar.

"Pak Ren."

Langkah Ren berhenti. Cintya berdiri beberapa meter dari sana. Senyum profesionalnya langsung terpasang sempurna.

Ren menoleh sekilas. "Hm."

Cintya tersenyum semakin manis. "Maaf mengganggu sebentar."

"Kamu sudah mengganggu."

Anjani refleks menunduk menahan tawa. Sae juga terlihat sedang berusaha keras tidak tersenyum.

Namun, Cintya sudah terbiasa menghadapi karakter Ren. Ia tetap tersenyum. "Saya cuma mau tanya sedikit soal proyek Aurora."

Aurora. Nama kampanye terbesar perusahaan Ren tahun ini. Nilainya miliaran. Dan hampir semua orang di industri tahu itu.

Ren memasukkan satu tangan ke saku celana. "Tanya."

"Saya dengar model utama yang sebelumnya keluar ya?"

"Ya."

"Saya pikir mungkin perusahaan masih mencari pengganti."

Ren diam.

Cintya melanjutkan hati-hati. "Kalau memang masih dibutuhkan... saya siap membantu." Kalimatnya terdengar profesional, sopan, dan masuk akal.

Namun, semua orang di sana tahu maksud sebenarnya. Cintya sedang menawarkan dirinya sebagai model utama.

Beberapa detik hening.

Sorot mata Ren sulit ditebak, lalu ia menjawab singkat. "Sudah ada."

Senyum Cintya sedikit membeku. "Oh... Sudah dipilih?"

"Ya."

Mata Cintya refleks membesar sedikit. "Siapa?"

Ren tidak menjawab. Ia hanya melirik singkat ke satu arah. Lirikan itu jatuh tepat pada Anjani. Jantung Cintya langsung mencelos. Ren tidak bilang Anjani yang akan menjadi model utamanya, tapi asumsinya terlalu liar.

"Kalau begitu... selamat ya."

Senyum Cintya masih ada, namun kali ini terlihat sedikit dipaksakan.

Ren mengangguk singkat, kemudian membuka pintu mobil. "Sae."

"Hm."

"Pulang."

Sae langsung menarik tangan Anjani. "Tante ikut."

"Aku belum bilang iya."

"Aku sudah."

"Tidak begitu caranya."

"Tapi berhasil."

Dan benar saja, beberapa detik kemudian Anjani benar-benar ikut berjalan menuju mobil.

Cintya berdiri mematung, memperhatikan mereka pergi. Sae terus berada di dekat Anjani. Ren yang terkenal dingin itu bahkan bersedia datang ke acara sekolah hanya karena ada Anjani. Dan semakin dipikirkan, semakin tidak nyaman rasanya.

Mobil hitam mewah itu akhirnya pergi, meninggalkan area parkir, meninggalkan Cintya yang masih berdiri di tempat. Tak lama kemudian. Satriya dan Bella menghampiri. Bella masih membawa medali peserta. Wajahnya cemberut sejak tadi.

"Tante?"

Cintya tersentak, lalu buru-buru tersenyum.

Satriya mengernyit. "Ada apa?"

"Nggak apa-apa kok."

Namun, Satriya malah curiga karena Cintya menjawab dengan cepat.

"Kenapa wajahmu begitu?"

Cintya menunduk ragu-ragu, seakan tidak ingin membicarakannya, padahal sebenarnya ia tahu persis apa yang sedang ia lakukan.

"Aku cuma sedikit sedih."

Satriya langsung bertanya. "Karena apa?"

Cintya menghela napas kecil. "Model utama kampanye Aurora."

Satriya tahu itu proyek besar karena Cintya beberapa kali cerita. "Kenapa?"

"Aku gagal dapat posisi itu."

Bella langsung berseru. "Kenapa?"

Cintya tersenyum tipis. "Ya mungkin memang belum rezeki."

Namun beberapa detik kemudian ia menambahkan pelan. "Tadi Pak Ren bilang penggantinya sudah ada."

Satriya mengangguk. "Lalu?"

Cintya terdiam sebentar, kemudian berkata sangat hati-hati. "Entahlah....Aku mungkin salah lihat."

"Tapi?"

"Tadi waktu bilang sudah menemukan model utama..." Cintya menunduk. "Pak Ren sempat melihat ke arah Kak Anjani."

Satriya langsung mengeras.

Bella membelalak. "Mama?"

Cintya buru-buru menggeleng. "Eh, belum tentu ya. Tapi...Aku nggak tahu."

Nyatanya racun paling berbahaya memang selalu dibungkus dengan kata 'Aku nggak tahu.' Karena justru itulah yang membuat orang lain mengisi sendiri bagian yang kosong.

Bella langsung cemberut.

"Jahat."

Cintya menoleh. "Hm?"

"Mama merebut punya Tante."

Satriya langsung mengepalkan rahang.

Bella melanjutkan dengan polos. "Tante Cintya kan pengen jadi model utama."

Dan kalimat sederhana itu berhasil menyalakan kembali bara yang belum benar-benar padam di dalam diri Satriya.

Pria itu tertawa sinis. "Ternyata begitu."

Cintya buru-buru menggeleng. "Mas, jangan berpikir macam-macam."

Akan tetapi Satriya sudah terlalu jauh, karena dalam kepalanya sekarang hanya ada satu kesimpulan 'Anjani mencari perhatian Ren. Merayu seperti wanita murahan demi mendapat posisi penting. Mengalahkan Cintya dengan cara licik.'

Sementara jauh di depan sana, di dalam mobil Ren, Anjani sama sekali tidak tahu bahwa namanya baru saja kembali dijadikan alasan untuk menambah kebencian orang-orang yang dulu ia sebut keluarga.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Seperti biasa, pasti memerah karena melihat bidadari 😃
Ayuwidia
Winda ini mengingatkan aku sama mahasiswi yg cinta berat sama Sagara
Anna
ceritanya bagus dan lucu nya pas
Kafire deweh
kepentok cinta janda kembang🤣🤣🤣🤣
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!