NovelToon NovelToon
Kanvas Di Balik Baluwarti

Kanvas Di Balik Baluwarti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Kerajaan
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangis di Bawah Langit Amarta

Matahari mulai naik menyinari alun-alun Amarta yang penuh sesak. Sejauh mata memandang, hanya ada lautan manusia yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Bunga-bunga melati dikalungkan di leher, panji-panji emas berkibar, dan aroma kegembiraan begitu kental. Mereka menanti momen di mana gadis yang mereka cintai—anak dari tanah mereka sendiri—akan berdiri di samping sang Raja mengenakan mahkota kebesaran. Namun, saat gerbang balkon utama terbuka, suasana berubah drastis.

Hanya Gusti Prabu Arya Wijaya yang melangkah keluar. Ia tidak mengenakan jubah pernikahan agung yang berkilauan; ia hanya mengenakan beskap hitam sederhana tanpa perhiasan, wajahnya tampak kuyu dengan mata yang sembap. Di belakangnya, Ki Ageng Suro dan Seno berdiri dengan kepala tertunduk dalam.

Massa yang tadinya bersorak-sorai seketika terdiam. Kegembiraan itu luruh seperti debu yang tertiup angin. Bisik-bisik keresehan mulai merayap dari baris depan hingga ke ujung alun-alun.

“Mana Nimas Sekar?”

“Kenapa Gusti Prabu tampak berduka?”

“Di mana Permaisuri kami?”

Arya melangkah ke tepi balkon. Ia memegang pagar pembatas dengan tangan yang bergetar. Ia menatap lautan manusia di bawahnya, rakyat yang selama ini Sekar bela dengan segenap hatinya. Arya mencoba menarik napas, namun yang keluar hanyalah hembusan napas yang berat dan pedih.

“Rakyatku… Amarta yang kucintai,” suara Arya terdengar parau melalui pengeras suara keraton, bergema hingga ke gang-gang pasar.

Ia terhenti. Tenggorokannya tercekat. Ia menunduk sejenak, menahan isak tangis yang nyaris pecah di depan ribuan mata di depannya. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia mendongak.

“Hari ini… seharusnya menjadi hari paling bahagia untuk kita semua. Hari di mana Melati mekar di singgasana. Namun…” Arya terisak kecil, air matanya jatuh membasahi pipinya. “Saat ini, Nimas Sekar… kekasih kalian, Ibu dari anak-anak kalian… sedang berjuang di ambang maut.”

Gema suara Arya memberikan gema keheningan yang menyakitkan. Rakyat terpaku, tak percaya pada apa yang mereka dengar.

“Tangan keji telah menyentuhnya,” lanjut Arya dengan suara lirih namun penuh dengan kepedihan. “Racun telah meracuni raganya di malam yang suci ini. Berkat pertolongan Tuhan, nyawanya terselamatkan, namun saat ini… ia tertidur. Ia berada dalam tidur panjang yang tak tahu kapan akan berakhir. Tabib mengatakan, hanya kemauannya sendiri—hanya sukmanya yang kuat—yang bisa membawanya kembali kepada kita.”

Jerit tangis mulai terdengar dari kerumunan rakyat. Mbok Yem jatuh terduduk di atas tanah, anak-anak didik Sekar mulai terisak memanggil nama guru mereka. Suasana yang seharusnya senang berubah menjadi lautan duka.

“Aku berdiri di sini bukan sebagai Rajamu,” ucap Arya sambil meletakkan tangannya di dada. “Aku berdiri di sini sebagai seorang pria yang hatinya hancur berkeping-keping. Aku memohon kepada kalian… kalian yang mencintainya, kalian yang pernah ia bantu, kalian yang suaranya selalu ia dengarkan… bantulah dia.”

Arya bersimpuh di balkon itu, di hadapan rakyatnya—sebuah tindakan yang meluluhlantakkan wibawa raja demi cinta. “Aku mohon, sujudlah bersamaku. Kirimkan doa paling tulus dalam relung hati kalian. Biarkan gema doa kalian menembus tidurnya, biarkan ia tahu bahwa rakyatnya menantinya untuk bangun. Sekar butuh alasan untuk kembali… jadilah alasan itu.”

Melihat Raja mereka bersimpuh dan memohon dengan air mata, ribuan rakyat di alun-alun ikut menjatuhkan diri ke tanah. Mereka bersujud masal. Suara isak tangis berubah menjadi gumaman doa yang rendah namun sangat kuat, seperti deru ombak yang tak terputus.

Pagi itu, tidak ada musik gamelan yang ceria. Yang ada hanyalah kesedihan yang menyatukan takhta dan rakyat dalam ikatan batin yang paling murni. Di dalam peraduannya yang sunyi, di tengah tidur panjangnya, seolah ada jutaan cahaya kecil dari doa rakyat yang merambat masuk, mencari jalan menuju sukma Sekar yang sedang tersesat di kegelapan. Amarta tidak sedang merayakan pernikahan, melainkan sedang berperang melawan maut melalui kekuatan doa yang paling dahsyat dalam sejarah kerajaan itu.

1
Ganendra Dimitri
bagus banget thor ceritanya
NP: Makasih ya kak
total 1 replies
Ganendra Dimitri
ceritanya menyentuh banget thor.... kapan negriku punya pemimpin kayak di cerita ini😍😍
NP: Semoga ya kak, suatu saat nanti ada pemimpin negeri yg lebih mencintai rakyatnya
total 1 replies
Esti 523
sepertinya bagus nih
NP: Semoga suka ya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!