Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resonansi di Ambang Pagi
Malam di RS Pendidikan Surabaya merambat pelan, menyisakan bunyi ritmis dari bedside monitor yang memantau kondisi Arlo. Devan duduk di sofa kecil sudut ruangan, memangku laptopnya. Meski raganya di sana, otaknya masih memproses data medis Arlo secara berulang sebuah mekanisme pertahanan diri seorang ahli bedah saraf yang tidak bisa berhenti menganalisis risiko.
Kania sudah tertidur dengan posisi duduk, kepalanya bersandar di sisi ranjang Arlo. Jemarinya masih bertautan dengan tangan kecil putranya. Melihat pemandangan itu, Devan menutup laptopnya perlahan. Ia berdiri, mengambil selimut cadangan, dan menyampirkannya ke bahu Kania dengan gerakan yang sangat presisi agar tidak membangunkan istrinya.
"Tidur yang nyenyak, Kania," bisiknya nyaris tak terdengar. "Sistemmu butuh recovery."
Gelisah yang tidak biasa membuat Devan melangkah keluar ruangan untuk mencari udara segar di selasar rumah sakit. Surabaya di jam tiga pagi tidak sedingin Jakarta, namun angin laut yang menyelinap lewat ventilasi memberikan sensasi lembap yang khas.
Di ujung lorong, ia melihat sosok familiar. Dokter Hanif, rekan sejawatnya yang merupakan spesialis anak senior di Surabaya, sedang memeriksa catatan medis di nurse station.
"Belum tidur, Dok?" sapa Hanif dengan logat Jawa Timuran yang kental namun ramah. "Putramu stabil, kok. Hasil CT-nya bersih. Kamu ini dokter bedah saraf paling tenang yang pernah saya kenal di seminar nasional, tapi tadi siang saya lihat kamu lari di IGD seperti mau mengejar pencuri."
Devan tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya pada pilar rumah sakit. "Teori dan praktik adalah dua kutub yang berbeda, Hanif. Di ruang operasi, saya adalah pemegang kendali penuh. Tapi saat Arlo yang terkapar, saya hanyalah sebuah variabel yang tidak berdaya. Semua logika medis saya seolah tertutup oleh kabut emosional."
Hanif tertawa kecil, menepuk bahu Devan. "Itu namanya manusiawi, Devan. Surabaya ini kota yang keras tapi jujur. Dia sedang mengujimu, apakah kamu datang ke sini hanya untuk membawa ilmu Jakarta, atau untuk menaruh hatimu di sini. Sepertinya kamu memilih yang kedua."
"Saya hanya mencoba menjaga apa yang paling berharga bagi saya," balas Devan datar, namun matanya memancarkan ketegasan.
"Oh ya, soal kejadian di kampus tadi siang... berita tentang 'Dosen Killer yang Lari Maraton' sudah menyebar di grup WhatsApp dosen. Kamu bakal punya banyak penggemar baru besok pagi," goda Hanif sebelum pamit melanjutkan visitemya.
Devan hanya menggelengkan kepala. Reputasinya sebagai dosen yang kaku mungkin sudah hancur, namun ia merasa lebih ringan.
Sinar matahari mulai mengintip dari balik gedung-gedung tinggi Surabaya saat Arlo terbangun sepenuhnya. Kondisinya jauh lebih baik. Nafsu makannya kembali, dan yang paling penting, tidak ada tanda-tanda defisit neurologis.
"Papa, Arlo mau es krim," rengek bocah itu saat Devan membantu menyuapkan bubur rumah sakit yang hambar.
"Arlo, secara klinis, suhu dingin bisa memicu vasokonstriksi yang mungkin membuat pusingmu kembali. Setelah kita pulang dan diobservasi 24 jam lagi, Papa akan pertimbangkan," jawab Devan dengan gaya bicaranya yang masih sangat 'dokter'.
Kania yang baru saja kembali dari kamar mandi untuk mencuci muka, tertawa mendengar itu. "Dok, dia minta es krim, bukan minta diagnosis. Kasih aja nanti kalau sudah di rumah."
"Saya hanya menjaga parameter pemulihannya, Kania."
Tiba-tiba, pintu kamar rawat terbuka. Beberapa mahasiswa koas yang kemarin ikut ujian lisan berdiri di ambang pintu dengan ragu-ragu. Mereka membawa keranjang buah yang sangat besar.
"Permisi... Dokter Devan?" panggil salah satu mahasiswa, yang kemarin hampir menangis saat ujian.
Devan memperbaiki posisi kacamatanya, auranya kembali berubah menjadi formal dalam sekejap. "Ya? Kenapa kalian di sini? Jam stase kalian seharusnya sudah dimulai sepuluh menit yang lalu."
Mahasiswa itu gemetar, namun tetap maju. "Kami... kami ingin menjenguk putra Dokter. Kami dengar kemarin ada kondisi darurat. Dan kami ingin minta maaf kalau kemarin jawaban kami kurang memuaskan."
Kania menahan tawa melihat wajah kaku suaminya yang sedang dipuja-puja oleh para mahasiswanya sendiri.
Devan terdiam sejenak. Ia melihat keranjang buah itu, lalu beralih pada wajah-wajah lelah namun tulus dari para calon dokter di depannya. "Letakkan di sana. Dan untuk ujian kemarin... saya anggap kalian lulus karena keberanian kalian datang ke sini menghadapi saya di luar jam kantor. Tapi jangan harap ada keringanan di ujian praktikum minggu depan."
Para mahasiswa itu bersorak tertahan, berterima kasih berkali-kali sebelum berpamitan dengan cepat karena takut Devan berubah pikiran.
"Lihat?" Kania mendekati Devan setelah para mahasiswa itu pergi. "Dokter nggak se-seram yang Dokter pikirkan. Mereka sayang sama Dokter."
"Mereka hanya takut saya tidak meluluskan mereka, Kania. Itu murni kalkulasi strategis," bantah Devan, meski ada gurat bangga di wajahnya.
Sore harinya, Arlo diperbolehkan pulang. Perjalanan kembali ke rumah terasa berbeda. Jika kemarin adalah perlombaan melawan maut, hari ini adalah perjalanan penuh syukur.
Sesampainya di rumah, Mbak Siti menyambut dengan tangis lega. Devan tidak memarahi asisten rumah tangganya itu. Ia justru memberikan arahan medis yang sangat rinci tentang prosedur keamanan di taman belakang.
Malam itu, setelah Arlo tertidur di kamarnya yang nyaman, Devan dan Kania duduk di balkon lantai dua, menatap kerlap-kerlip lampu kota Surabaya.
"Kania," panggil Devan pelan.
"Iya, Dok?"
"Tentang posisi senior yang kamu ambil di kantor hukum itu... saya ingin kamu tetap melanjutkannya."
Kania menoleh kaget. "Tapi kejadian Arlo kemarin—"
"Kejadian Arlo adalah anomali statistik. Kita tidak bisa membiarkan ketakutan merusak rencana masa depan kita. Kamu memiliki kapabilitas yang luar biasa dalam mediasi, dan saya tidak ingin potensi itu redup hanya karena proteksi berlebihan saya. Kita hanya perlu menyesuaikan sistem dukungan kita. Saya sudah menghubungi agen keamanan rumah untuk memasang sensor di area tangga dan kolam," jelas Devan panjang lebar.
Kania terdiam, matanya berkaca-kaca. "Dokter beneran nggak keberatan?"
"Saya justru akan merasa bersalah jika kamu berhenti. Tim yang kuat adalah tim yang kedua anggotanya bisa berkembang. Saya akan menyesuaikan jadwal operasi saya agar lebih banyak berada di rumah saat kamu ada sidang besar. Itu adalah optimalisasi sumber daya yang paling logis."
Kania memeluk lengan Devan, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Makasih ya, Dok. Kadang aku lupa kalau di balik rumus-rumus medis itu, Dokter adalah pendukung nomor satuku."
"Saya adalah suami kamu, Kania. Itu adalah fungsi utama saya dalam hidup, jauh sebelum menjadi dokter atau dosen."
Sesaat sebelum mereka masuk ke dalam untuk beristirahat, Devan meletakkan tangannya di perut Kania yang mulai sedikit membuncit.
"Bagaimana dengan 'penghuni baru' di sini? Apakah dia memberikan sinyal gangguan malam ini?" tanya Devan lembut.
Kania tersenyum manis. "Dia tenang banget malam ini. Sepertinya dia tahu kalau Papanya sudah berhasil mengamankan rumah."
Devan merasakan tendangan halus dari dalam sana. Sebuah resonansi kehidupan yang membuat detak jantungnya sendiri ikut melambat dengan damai.
"Selamat datang di tim keluarga Dirgantara, kecil," bisik Devan pada perut istrinya. "Di sini, sistemnya mungkin kadang kacau, suhunya mungkin panas, dan Papamu mungkin terlalu kaku. Tapi saya pastikan, variabel kasih sayang di sini tidak akan pernah mencapai titik nol."
Surabaya malam itu terasa tidak lagi asing bagi mereka. Kota ini bukan lagi tempat pelarian atau sekadar mutasi kerja. Surabaya telah menjadi saksi bagaimana sebuah keluarga yang terbiasa dengan logika kaku Jakarta, belajar untuk bernapas dengan ritme yang lebih manusiawi, lebih hangat, dan jauh lebih kuat.