Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Wedelia
Siang itu, Angkasa tengah duduk di lantai kamarnya, bersandar pada tempat tidurnya, sambil membuka kotak kayu berisi kenangan masa kecilnya bersama Nia. Angkasa mengambil satu per satu isi kotak kayu itu —gambar-gambar hasil karya Nia dan beberapa foto lama.
Angkasa mengerutkan kedua alisnya saat melihat sebuah benda kecil berbentuk mirip cincin yang ada di dasar kotak, tertutup foto-foto lamanya saat di panti. Angkasa mengambil benda itu lalu mengamatinya. Sebuah cincin!
Cincin itu terbuat dari jalinan batang bunga rumput. Bunganya sudah layu dan mahkotanya sudah rontok jatuh di dasar kotak kayu. Angkasa mencoba mengingat tentang hari saat benda itu dibuat.
"Cincin..." gumamnya sambil masih mengamati benda itu.
Angkasa memutar bola matanya. Sepertinya, dia mengingat sesuatu. Hari terakhirnya di panti saat itu membuat wajah Nia sedikit mendung seharian. Namun, Nia masih mencoba tersenyum pada teman-temannya, menunjukkan bahwa dia akan baik-baik saja tanpa Angkasa.
Angkasa mengingatnya, senja terakhir yang dia nikmati bersama Nia sebelum dia dijemput oleh Tuan dan Nyonya Mahendra. Angkasa membuat cincin itu sore hari sebelum mengajak Nia naik ke Bukit Senja. Angkasa memetik bunga wedelia yang tumbuh subur di halaman panti dan merangkainya menjadi sebuah cincin.
Saat di atas Bukit Senja, Nia hanya terdiam, membuat Angkasa tak bisa memberikan cincin itu dan membawanya serta hingga kini. Angkasa mengembalikan cincin itu ke dalam kotak kayu lalu memasukkan semuanya kembali ke dalam kotak kayu dan menutupnya.
Setelah menyimpan kotak penuh kenangan itu, Angkasa mengambil ponselnya. Angkasa sudah akan menelepon Nia ketika satu pesan singkat dari Nia mendarat ke ponselnya.
Aku selesai kuliah jam satu
Angkasa melihat smart watchnya. Jam 12.37. Angkasa segera mengambil kunci motor sportnya dan bergegas keluar rumah menuju kampus.
'Hari ini. Harus,'
***
"Hari ini di jemput Tuan Muda Kutub Utara lagi?" tanya Bumi pada Nia. Nia mengangguk sambil menahan tawa. Wajah Bumi mendung seketika.
"Bumi, Bumi. Kan udah gue bilang," kata Rasi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Sebelum ijab qobul terucap, Bumi akan terus berjuang untuk Dunia," kata Bumi membuat Nia tertawa kecil.
"Ada-ada aja kamu, Bumi," kata Nia.
"Naaah... ketawa gitu, Dunia. Dunia jadi lebih berwarna," puji Bumi.
"Dunia yang mana nih?" tanya Rasi dengan nada meledek. Bumi mendengus kesal.
"Nggak bisa banget liat orang seneng," kata Bumi sebal.
"Bisa. Tapi bukan lo orangnya," kata Rasi sambil terkekeh. Lagi-lagi, Bumi mendengus.
Nia menangkap Angkasa sudah berjalan menuju dirinya.
"Duh, tukang ojeknya udah dateng," celetuk Bumi. Rasi langsung menyikut perut Bumi. Bumi meringis kesakitan.
"Udah?" tanya Angkasa pada Nia, dingin seperti biasa. Nia mengangguk. Angkasa melihat ke arah Bumi dan Rasi.
"Kami duluan," pamit Angkasa pada Bumi dan Rasi dengan nada datar.
Bumi dan Rasi menaikkan kedua alis mereka, tak percaya Angkasa berbicara kepada mereka. Bumi dan Rasi lalu mengangguk pelan. Angkasa menoleh ke arah Nia, memberi isyarat pada Nia untuk segera mengikutinya.
"Aku duluan ya," pamit Nia pada Bumi dan Rasi.
"Hati-hati, Dunia!" kata Bumi sambil melambaikan tangan pada Nia.
Nia tersenyum. Angkasa menoleh, menatap Bumi tajam. Rasi menurunkan tangan Bumi dengan cepat sambil tersenyum ke arah Nia dan Angkasa.
Angkasa berhenti, menunggu Nia menyamakan langkah dengannnya. Nia juga berhenti, menatap Angkasa dengan bingung.
"Ayo," kata Angkasa membuat Nia kembali berjalan di samping Angkasa.
"Udah makan?" tanya Angkasa pada Nia saat memakai helm. Nia menggelengkan kepalanya.
Mesin motor sport Angkasa menyala seketika saat Nia sudah berada di atasnya. Angkasa melajukan motornya perlahan keluar dari area parkir Fakultas Seni. Saat tiba di gerbang utama kampus, Nia heran karena Angkasa tidak mengarahkan motornya menuju kos Nia.
"Kita mau kemana?" tanya Nia pada Angkasa. Angkasa hanya terdiam. Melihat respon Angkasa, Nia memutuskan untuk diam selama sisa perjalanan.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, motor Angkasa berhenti di sebuah resto. Resto itu terlihat hangat dan elegan dengan dinding yang dilapisi panel kayu jati tua seluruhnya. Saat Nia dan Angkasa masuk ke dalam resto, aroma kayu bercampur kopi dan makanan panggang memenuhi udara. Nia dan Angkasa duduk di meja dekat jendela besar yang mengekspos area belakang resto yang menyediakan gazebo-gazebo.
Jam makan siang sudah berlalu. Suasana resto tak begitu padat. Beberapa meja terlihat kosong. Seorang pelayan mengantarkan daftar menu ke meja Nia dan Angkasa. Angkasa dan Nia menerima daftar menu tersebut lalu mulai memindai menu-menu di dalamnya.
"Sup krim jagung asap dengan garlic bread, ayam panggang rempah dengan kentang rosemary, cappuccino cinnamon," pesan Angkasa.
"Baik. Untuk Kakak, mau pesan menu yang sama?" tanya pelayan pada Nia dengan sopan dan ramah.
"Mmm... Saya lumpia bebek crispy saus plum pedas, pasta rendang parmesan sama cappuccino cinnamon, Mas," kata Nia sambil tersenyum ke arah pelayan resto.
"Baik, mohon tunggu sebentar. Pesanan segera disiapkan. Terimakasih," kata pelayan resto ramah setelah mencatat pesanan Angkasa dan Nia.
Nia tersenyum, menatap ke sekeliling resto yang terkesan mewah dan berkelas itu. Dia tidak menyangka, Angkasa akan mengajak Nia makan siang di resto seperti itu. Nia kembali melayangkan pandangannya ke arah Angkasa yang menatap keluar jendela. Nia tersenyum. Angkasa melirik ke arah Nia membuat senyum Nia memudar.
"Kenapa?" tanya Angkasa pada Nia sambil menatapnya tajam.
"Ng-nggak apa-apa," jawab Nia salah tingkah lalu mengalihkan pandangan keluar jendela. Angkasa menatap Nia yang salah tingkah itu.
"Abis makan, kita lanjut," kata Angkasa sambil menoleh, menatap kembali keluar jendela.
"Kemana?" tanya Nia sambil menatap Angkasa lagi. Angkasa menoleh, kembali menatap Nia yang juga menatapnya.
"Bukit Senja," kata Angkasa sambil menatap Nia dalam-dalam. Nia terdiam. Terpaku. Jantungnya bergemuruh.
Tak lama, pesanan Nia dan Angkasa datang satu per satu dimulai dari cappuccino cinnamon, menu pembuka lalu menu utama. Angkasa dan Nia makan dalam diam. Sesekali Nia mencuri pandang ke arah Angkasa yang begitu khusyuk menikmati makan siangnya.
Jam sudah menunjukkan jam dua siang lebih seperempat saat Nia dan Angkasa keluar dari resto dan bersiap melanjutkan perjalanan.
"Bukit Senja nanti masih panas kalo kita langsung menuju ke sana sekarang," kata Nia saat motor sport Angkasa sudah kembali melaju menyusuri jalanan. Lagi-lagi, Angkasa hanya terdiam. Nia memutuskan untuk tak lagi bersuara dan menikmati pemandangan asri sejauh mata memandang.
Maski Nia sudah mulai terbiasa dengan sikap dingin Angkasa, Nia masih belum bisa terbiasa dengan hal-hal yang Angkasa lakukan secara tiba-tiba, seperti saat ini, ketika Angkasa tiba-tiba membawanya kembali ke Bukit Senja.
'Sebenernya, apa yang kamu pikirin, Ang?'
***
ternyata aku punya tanamannya, tapi gak tau namanya😅
makasih lho thor🤭
maaf malah salfok ke bunga😅